
Carla melewati malam bersama ketakutan dan kesedihan. Matanya sulit untuk merapat, sementara wajah Aro terus bermain pada lensanya yang berwarna hitam terang dan bulat besar.
Mata bening itu tidak hentinya mengeluarkan air jernih yang menggambarkan luka hatinya. Kemudian ia terbayang akan semua perkataan Marlon.
'Sa-saya tidak tahu, Nyonya muda. Yang jelas, Aro tengah melindungi Anda dari kemarahan tuan Jordi. Sebaiknya, anda masuk ke dalam kamar dan menguncinya rapat-rapat! Jangan lupa untuk mematikan listrik agar setelah tuan besar kembali, ia berpikir bahwa Anda sudah terlelap. Dengan cara seperti itu, tuanku tidak akan mengganggu apalagi menyiksa Anda.'
'Apa Anda ingin semakin membahayakan nyawanya? Saat ini, ia pasti sudah disiksa, hanya untuk melindungi Anda. Mohon mengertilah, Nyonya!'
Kalimat-kalimat dari mulut Marlon selalu bergema di telinga Carla dan itu membuatnya merasa bersalah dan semakin terpuruk di dalam kesendirian.
Setelah melewati waktu yang menyeramkan karena waktu memang terus berputar dengan sendirinya, Carla terbangun dari tidur sejenak yang tidak ia sengaja. Matanya terbelalak dan ingatannya kembali kepada Aro. Dengan mengangkat tubuh sangat cepat, Carla berlari ke arah yang tidak ia ketahui demi mencari sosok Arogan.
Suara tapak kaki lincah terdengar pada lantai papan penginapan mewah. Entah dimana yang lainnya, semua terasa hampa dan tampak sepi. Carla merasa seperti diasingkan ke tempat yang jauh dari manusia lainnya dan kehidupan.
Setibanya di ruang tengah, Carla semakin meningkatkan kecepatan gerakan kakinya. Ia tidak perduli akan kemarahan tuan Jordi yang mungkin saja akan segera menghabisinya. Tiba-tiba, mulut Carla ditutup oleh sebuah tangan yang terasa besar dan dingin.
Tubuh Carla tertarik ke belakang dan jantungnya berdetak begitu kencang. Lalu dengan cepat, ia membalik tubuh. Carla hanya ingin tahu tentang siapa yang berniat untuk menyekapnya.
Gerakan tiba-tiba Carla tersebut, membuat Aro tidak menyadarinya. Aro pikir, Carla hanyalah gadis lemah yang tidak berdaya dan kurang memiliki respon tubuh yang baik.
Saat mereka saling menatap jaraknya hanya sebatas lima jari. Carla akhirnya mengetahui bahwa tangan besar itu adalah milik Aro. Ketika berhadapan, mata mereka saling bertemu, sinyal jantung dalam rasa cinta pun, berkedip manja dan saling menyahut.
Aro menurunkan tangannya dari bibir Carla yang ranum. "A-Aro?" ucap Carla yang merasa senang karena masih dapat melihat teman bicaranya tersebut.
"Kamu, bagaimana keadaan kamu?"
"Marlon menolong dan mengobati saya dengan baik. Anda tidak perlu khawatir!"
"Tidak perlu khawatir kamu bilang?" tanya Carla dengan nada tinggi. "Bahkan saya hampir tidak bisa tidur semalaman."
"Sittt."
"Ayo saya bantu ke kamar!"
"Tidak perlu, Nyonya. Sebaiknya anda kembali ke dalam kamar Anda saja!"
"Tidak mau ... ." Aro menatap Carla yang tampak manja subuh ini. "Saya antar dulu, lalu mengganti pakaian kamu dengan yang kering. Setelah itu baru kembali ke kamar saya titik."
"Hah, baiklah," sahut Aro yang tidak mampu berdebat saat ini. Lagipula, tuan besarnya sedang bersenang-senang di tempat lain dan biasanya akan pulang ketika matahari terbenam kembali.
Carla langsung memapah Arogan yang lemah. Di kamar ujung, Carla membaringkan tubuh kekar Aro menyamping. Saat itu, Carla tidak mengetahui apa yang terjadi pada punggung Aro dan Aro pun tidak berniat untuk memberitahukannya.
Lagipula, menurut Arogan, luka berat itu hanya akan membuat Carla semakin merasa bersalah dan menderita. 'Tak lama, Carla ingin membantu Aro mengganti pakaiannya, namun Marlon datang dan Aro memohon kepada Carla untuk kembali ke dalam kamarnya serta beristirahat.
Bersambung.