Romeo Roman

Romeo Roman
19



Sebagai bentuk komitmen untuk membantu meringankan beban mental dan psikososial para ibu dan anak yang terdampak gempa bumi di Lombok, NIVEA berinisiatif menggagas program dukungan kesehatan mental dan psikososial bagi ibu dan anak di Lombok.


NIVEA melihat figur ibu memiliki peran sentral dalam keluarga, sehingga melalui program ini NIVEA membantu pemerintah mewujudkan program Indonesia Tangguh Bencana.


"Di NIVEA, kami menyadari bahwa ibu adalah perempuan luar biasa yang akan melakukan apa pun dalam kemampuannya untuk merawat keluarga. Karenanya, ibu menjadi fokus perhatian dalam program NIVEA Sentuhan Ibu yang bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, baik itu akademisi, pemerintah, perangkat desa, dan institusi lainnya. Terapi berpasangan antara ibu dan anak dilakukan guna meningkatkan bonding dan empati yang menjadi salah satu faktor sukses dari program ini, yang terbukti dapat meminimalisir gejala kecemasan dan stress, yang secara umum mampu meningkatkan kesehatan mental para ibu dan anak yang terdampak bencana," ujar, Marketing Manager Nivea Skin Care Diana Riaya.


Diikuti oleh 168 ibu dan anak, program ini menunjukkan hasil positif terhadap perubahan kesehatan mental para ibu dan anak yang terdampak bencana gempa bumi pada tahun 2018 lalu. Hasil intervensi menunjukkan para ibu menjadi lebih menghargai hubungan antara ibu dan anak melalui komunikasi dan sentuhan.


Selain itu ada penurunan tingkat kecemasan dan stress yang dibuktikan melalui mood sheet (kuesioner untuk mengukur suasana hati) yang diisi oleh para ibu sebelum dan sesudah intervensi.


Terdapat pula peningkatan pada aspek bonding antara ibu dan anak. Secara umum, lebih dari 85% penerima program merasa lebih baik setelah mengikuti program NIVEA Sentuhan Ibu.


Program ini menggunakan metode yang dirancang khusus yang didasari oleh kekuatan sentuhan ibu melalui terapi/intervensi kesehatan mental dan psikososial, yaitu Mindfulness Therapy dan Play Therapy.


Berdasarkan laporan yang disampaikan oleh OHCC Udayana, hasil penilaian awal menunjukkan terdapat 168 ibu yang mengalami depresi, kecemasan dan stres tingkat ringan hingga tinggi, serta 109 anak yang merasakan kecemasan pascagempa.


Dengan hasil kajian psikologis dan analisa lapangan tersebut, mereka terbagi menjadi dua kelompok intervensi, yaitu kelompok target yang terdiri dari 128 pasang ibu dan anak, serta kelompok suportif yang terdiri dari 35 pasang ibu dan anak. Kedua kelompok ini telah menerima intervensi terapi sesuai kebutuhan masing-masing.


"OHCC Udayana memberikan apresiasi yang tinggi terhadap program kerja sama ini sebagai bentuk dari pengabdian universitas kepada masyarakat sebagaimana termasuk dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Selama program intervensi ini berlangsung, kami juga melibatkan berbagai institusi di Nusa Tenggara Barat, di antaranya RSJ Mutiara Sukma, Kantor Dinas Layanan Sosial Mataram, UIN Mataram, hingga kader dan organisasi pemuda setempat. Program ini menunjukkan perubahan positif kesehatan mental para ibu dan anak yang terdampak bencana. Tidak hanya itu, program ini dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dasar kebencanaan yang dapat menjadi kajian dan pembelajaran bagi civitas akademik," tutur Dr. Ni Nyoman Sri Budayanti, Sp.MK(K), Ketua One Health Collaborating Center Udayana.


Home Berita Daerah Jawa Timur Internasional Kolom Blak blakan Fokus Hoax Or Not Foto Most Popular Pro Kontra Suara Pembaca Infografis Video Indeks


Home / detikNews / Berita Jawa Timur


Rabu 30 Oktober 2019, 16:32 WIB


Situs Kumitir di Mojokerto Diyakini Jadi Tempat Pendharmaan 2 Raja Singosari


Enggran Eko Budianto - detikNews


Mojokerto - Struktur bata merah berbentuk talud kuno atau tembok penguat tanah di Situs Kumitir diperkirakan mengelilingi sebuah kompleks bangunan suci. Bangunan yang diduga berbentuk candi itu diyakini menjadi tempat pendharmaan 2 raja Singosari pada abad 13 masehi.


Saat ini ekskavasi difokuskan pada struktur talud yang ditemukan di lahan pembuatan bata merah Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Mojokerto. Tembok kuno yang telah digali sepanjang 100 meter. Ketebalannya mencapai 140 cm. Sementara tingginya lebih dari 120 cm.


Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim Wicaksono Dwi Nugroho mengatakan, talud ini diperkirakan dibangun mengelilingi sebuah kompleks bangunan suci. Pihaknya masih mencari tembok sisi utara, barat dan selatan.