Romeo Roman

Romeo Roman
Rahasia



Kaki jenjang melangkah hati-hati ke dalam kamar tidur Arogan. Carla memperlihatkan wajah boneka miliknya bersama mimik yang dipenuhi dengan kebodohan.


Ia memang sengaja berbohong dan menutupi semua informasi yang baru saja ia dengarkan dengan telinganya sendiri, hanya untuk membuat situasi antara dirinya dan Aro tetap nyaman.


Carla tiba di belakang Aro dan ia terdiam ketika melihat luka menganga di bagian punggung laki-laki yang sudah membuat hatinya bergetar hebat tersebut.


"Cepat sekali kamu kembali, Marlon? Jangan bilang ada masalah?!" kata Aro tanpa membalik wajah karena obat yang diberikan Marlon sudah mengebaskan tubuhnya, demi mengurangi rasa sakit dan akhirnya Aro tidak mampu merasakan tubuhnya.


Namun, tetesan air yang berasal dari mata Carla dan terjatuh di punggung Aro, dapat menyadarkan laki-laki bertubuh kekar tersebut, bahwa orang yang bersamanya bukanlah Marlon.


"Nyonya?"


"Ma-maafkan saya!" pinta Carla yang menyadari bahwa air matanya sudah menyisakan rasa perih pada luka lebar di punggung Arogan.


"Apa yang Anda lakukan di sini? Bukankah seharusnya Anda sudah kembali ke dalam kamar?"


Carla memutar tubuh Aro dan berdiri di depannya dengan wajah yang tertunduk. "Saya tahu, itu pasti perih dan apa yang dilakukannya kepadamu? Kenapa sekejam itu? Kamu sudah bekerja sangat lama dan mengorbankan jiwa raga," oceh Carla tanpa henti, seolah ia tidak bisa menerima semua yang ia lihat saat ini.


Aro menutup mulutnya rapat-rapat. Sepertinya ia sulit, bahkan tidak bersedia untuk menjawab pertanyaan seperti ini. Saat itu, Carla mengangkat wajahnya dan memberanikan diri untuk mempertanyakan hal yang sama, sekali lagi.


"Saya tidak ada tempat untuk pulang, tidak punya rumah untuk dikunjungi, dan tidak memiliki saudara untuk menyandarkan diri."


"Sebaiknya Anda segera kembali ke kamar! Terutama, jika Anda menginginkan keselamatan bagi saya!" Aro mengusir Carla secara halus dan itu lebih dari cukup menggores hati Carla.


"A-apa?" Carla seakan tidak percaya dengan bahasa Aro tersebut. Halus, namun sangat membunuh. "Maaf jika kehadiran saya hanya mempersulit hidupmu. Saya berjanji, mulai detik ini, tidak akan melakukannya lagi. Permisi," ujar Carla dengan mata yang berkaca-kaca dan bibir bergetar.


Ketika mendengar ucapan Carla tersebut, tiba-tiba Aro dapat merasakan sakit yang sama. Baru kali ini, Aro merasakan jantungnya teriris karena ucapan dari wanita yang baru saja ia kenali kurang lebih 30 hari.


Aro mengangkat wajahnya, namun Carla sudah bergerak cepat untuk meninggalkan dirinya. Keinginan Terakhir Carla pun tidak tersampaikan. Sebab, Carla tidak sanggup mendengar Aro yang mengusirnya untuk menjauh.


Dengan langkah cepat setengah berlari, Carla kembali ke dalam kamarnya. Ia menjatuhkan tubuh mudanya di atas tempat tidur dalam posisi tengkurap, lalu menangis sejadi-jadinya.


Carla kembali terbayang luka lebar di punggung Aro dan kata-kata terakhir dari bibirnya. Sambil menggenggam alas kasur, Carla berjanji, tidak akan menyusahkan Aro lagi. Apalagi sampai menangis di hadapannya.


"Papa, mama, sedang apa?" tanya Carla sambil menghisap air hidungnya. Carla bersedia menerima semua penderita ini hanya untuk keselamatan papa dan kesehatan mamanya.


Namun tanpa sepengetahuan Carla, tuan Jordi sudah membantai seluruh anggota keluarga. Hanya satu yang tersisa karena sempat melarikan diri, yaitu pembantu di keluarga Aksara yang berusia 43 tahun.


Bersambung.