
Dengan langkah lambat, dan Carla berjalan di atas susunan papan kayu yang begitu rapi cantik dan apik. Ini adalah penginapan yang sempurna bagi sepasang pengantin baru. Namun sayangnya, Carla tidak dapat merasakan semua itu dan hanya air mata sajalah yang terus mengalir deras tanpa henti.
"Ha ha ha ha ha." suara tawa bergantian terdengar di ruangan televisi.
Saat itu, Carla tahu bahwa yang berada di dalam sana adalah sang suami bersama perempuan murahan lainnya dan mereka tengah bersenang-senang sambil melakukan perbuatan tercela lainnya.
Carla begitu marah dan sakit hati atas sikap tuan Jordi tersebut, tapi bukan karena ia cemburu. Melainkan karena merasa tidak dihargai dan hanya dijadikan bahan permainan demi menyakiti hati papanya, Bayu Aksara.
Padahal, tuan Jordi sudah puas menghabisi harta keluarga Carla untuk memuaskan hatinya. Tapi sepertinya semua itu belum cukup untuk membuatnya senang dan bahagia.
"Nyonya, Anda tidak perlu memikirkan hal yang bisa menyakiti hati Anda! pinta Aro dengan suara yang lembut seolah ia memahami ekspresi wajah Carla yang kecewa.
"Apa? Bahkan saya tidak mendengar apa-apa," jawab Carla tegang dengan tatapan dingin. "Ayo pergi dari sini!" Aro menundukkan kepala hingga punggungnya sambil mengikuti langkah Carla.
Setibanya di ujung penginapan, antara papan dan salju yang sudah menutupi permukaan tanah, Aro langsung turun dan menundukkan tubuhnya hingga lutut Aro menyentuh salju dingin. Ternyata ia berniat untuk memasangkan sepasang sepatu di kaki indah milik Carla.
Sontak, sikap Aro tersebut membuat Carla dingin. Bukan karena salju dan udara malam saat ini, melainkan perasaan dihargai sebagai seorang perempuan.
"Silakan, Nyonya!" ucap Aro ketika kaki Carla tidak kunjung masuk ke dalam sepatu khusus milik masyarakat Jepang tersebut.
"Terima kasih," jawab Carla yang cepat merespon Aro kali ini.
Carla dan Aro mulai menapaki kaki di atas tumpukan salju yang lembut dan dingin. Keduanya saling tersenyum sambil memandang ke arah yang berbeda, dengan kaki yang terus melaju dan meninggalkan penginapan mewah, namun terasa seperti di neraka itu.
"Pohon-pohonnya ditutupi salju, mereka pasti sangat kedinginan. Tapi itu lebih baik daripada harus diselimuti debu dan kotoran akibat polusi udara dan sengatan matahari yang jahat," kata Carla yang sebenarnya ingin mengatakan tentang keadaannya yang lebih buruk daripada nasib pohon-pohon tersebut.
"Aro, saya ingin berjalan lebih jauh lagi. Apa kamu bersedia menemani saya? tanya Carla tanpa menatap Aro dan saat itu, Aro langsung melangkah lebih dulu sebagai tanda bahwa ia menyetujui permintaan dari nyonya mudanya tersebut.
"Apapun yang anda inginkan, Nyonya."
"Apa yang kamu sukai, Aro?" tanya Carla yang memulai pembicaraan karena tidak ingin berdiam diri saja.
"Anda."
"Apa?"
"Tidak. Maksud saya, kalau Anda? Sebab, saya tidak tahu apa-apa selain berkelahi dan membunuh."
"Benarkah? Menurut saya, kamu pandai memperlakukan wanita dengan baik," puji Carla yang dapat merasakan kehangatan hati Aro.
"Saya tidak tahu, Nyonya. Selama ini, saya hanya seorang diri. Saya hanya mengikuti kata hati saya saja," jawab Aro yang tampak malu.
"Saya percaya, siapapun wanitanya, dia akan sangat bahagia. Walaupun keras, kamu bukan tipe laki-laki yang suka main tangan dan kasar terhadap wanita," puji Carla tanpa henti.
"Saya-saya tidak tahu, Nyonya. Lagipula, mana ada wanita yang bersedia hidup dengan laki-laki seperti saya."
Carla dan Aro terus bercakap-cakap ringan hingga tawa tergambar jelas di bibir keduanya.
Bersambung.