Romeo Roman

Romeo Roman
Tebakan Marlon



Aro yang sudah biasa terluka, berjalan tenang dan beraturan ke arah ruang kesehatan. Di sana, berada seorang dokter yang memang bekerja sepanjang waktu untuk tuan Jordi. Dia adalah salah seorang pria yang frustasi dan lebih memilih menutup diri untuk dunia luar dan menjadi budak bodoh.


Marlon, ia selalu berada bersama tuan Jordi dan Aro dimanapun mereka berada. Bagi Marlon, tuan Jordi adalah tempat untuknya meminta apapun demi bersenang-senang. Tidak tanggung-tanggung, terkadang Marlon meminjam uang dalam jumlah besar (di atas 500 juta) hanya untuk bahagia.


"Marlon," sapa Aro sambil memperlihatkan tangannya yang berlubang dan dilumuri darah. "Bisa bantu saya?"


"Ya ampun. Ada serangan? Bagaimana bisa? Tuan bilang kita aman."


Aro diam tanda menjawab. Iya, itulah dirinya. Sangat berbeda sekali jika dibandingkan dengan ketika ia berada bersama Carla. Bahkan jika perlu, ia lah yang akan berceloteh sepanjang waktu.


"Aro, jawab dong?!"


"Tidak ada."


"Tapi kondisi tangan kaki buruk sekali."


"Ini hanya luka kecil. Perban saja!"


"Gila kamu. Ini hanya luka kecil, perban saja!" Marlon mengulangi perkataan Aro dengan wajah kesal dan mengejek. "Coba lihat! Ini bahkan mengenai tulang besar. Jian tidak dikerjakan secara tepat dan benar, tanganku ini akan busuk, lalu diamputasi dan ... ."


Aro menghentikan celotehan Marlon dan menyumpal mulutnya dengan kain kasa basah yang berada di atas di atas meja bersama alkohol dan gunting khusus. Kemudian Aro menatap tajam dan dingin, tanpa ada rasa sakit sedikitpun.


"Sebenarnya, terbuat dari apa kamu?" tanya Marlon yang berpikir, jika ia jadi Aro, pastinya sudah pingsan atau meraung histeris gara-gara luka seberat itu. Kemudian, Marlon mulai mengobati Aro yang masih menatap tajam dan kaku.


Setelah 40 menit menjahit luka Aro, "Sudah selesai," kata Marlon sembari menghapus peluh yang berada di dahinya dengan tangan kanan yang dilapisi sarung tangan plastik tebal. "Apa kamu masih tidak ingin jujur kepada saya?"


"Apa pentingnya?"


"Kaku, tentu saja penting. Jangan-jangan ada musuh dalam selimut."


"Saya ingin jawaban!" Marlon mulai ngotot karena penasaran.


"Nyonya muda, ingin mengakhiri hidupnya."


"Apa? Apa tuan besar tahu? Dan apa yang ia lakukan, serta apa hubungannya denganmu, hingga kamu seperti ini?"


"Saya menahannya dan semua ini terjadi begitu saja."


Marlon memajukan wajah dan menatap Aro dalam-dalam. Ia juga memicingkan kedua mata demi mengetahui kebenaran mengenai firasatnya.


"Apa?" tanya Aro dengan tatapan kejamnya.


"Kenapa kamu begitu perduli? Bukankan dia bukan wanita pertama yang ingin bunuh diri setelah bersama tuan besar?"


"Saya tidak tahu." Aro berdiri sambil mengepal kedua tangannya.


"Dengar! Kamu harus rajin membersihkan dan mengganti perbannya! Datanglah kemari setiap hari!"


"Baiklah." Aro berdiri dan meninggalkan Marlon, tanpa mengucapkan terima kasih.


"Aro!" panggil Marlon cukup keras dan Aro menghentikan langkahnya, tanpa menatap Marlon. "Jangan sampai jatuh cinta! Rasa itu bisa membunuhmu. Saya sudah merasakannya."


Aro kembali melangkah dan meninggalkan ruangan Marlon. Sepanjang kakinya bergerak, Aro mulai berpikir keras. Apakah Marlon benar? Apakah ia tengah jatuh cinta? Apa itu cinta? Dan kenapa? Agh, saya adalah senjata pembunuh milik tuan Jordi. Tidak mungkin itu terjadi. Kata Aro tanpa suara, sambil membuang pikiran yang tidak mungkin baginya tersebut.


Bersambung.