
Tiga hari setelah kejadian yang mengiris hati tersebut. Carla berusaha menghilangkan semua rasa dan juga asa di dalam jiwanya. Sambil duduk di muka cermin, ia menghias diri karena malam ini tuan besar akan membawanya untuk ke pesta dansa.
"Setelah ini apa?" tanyanya pada diri sendiri. "Air mata, darah, atau rasa kecewa?" Carla menarik bibir dan tersenyum. Ia tengah mengejek dirinya sendiri.
Gaun merah panjang yang terbuat dari bahan sutra sudah dipersiapkan untuknya. Sepertinya ia bukan akan menghadiri pesta biasa. Mungkin tuan rumah yang menjamu adalah para Raja atau kumpulan perdana Mentri.
"Permisi, Nyonya muda." Seorang asisten masuk untuk mengantarkan satu set perhiasan yang mahal. Ia juga bekerja untuk mengoreksi dandanan nyonya muda yang tidak bersedia dihias oleh siapapun. "Silakan."
"Letakkan saja di sana!" tunjuk Carla ke arah tempat tidurnya.
"Saya ditugaskan untuk ... ." Carla yang sudah mengerti pekerjaan asisten tersebut tidak ingin mempersulit pekerjaannya. Carla langsung berdiri sambil meminta gaun yang berada di gantungan tidak jauh dari pintu lemari.
"Bantu saya untuk mengenakannya!"
"Terima kasih untuk pengertian Anda, Nyonya muda." Asisten tersebut menundukkan kepala dan segera membantu Carla untuk mengenakan gaun malam yang indah, dengan potongan dada rendah.
Setelah sepuluh menit, "Anda terlihat istimewa seperti biasanya," puji asisten tersebut sambil tersenyum dan menatap Carla dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Istimewa bagi siapa?" tanya Carla dalam senyum sambil menatap. "Kamu tidak tahu apa-apa."
"Maafkan kelancangan saya, Nyonya," sahutnya sambil menunduk karena takut salah ucap dan dihukum hingga air mata tidak lagi bisa mengalir.
"Sudahlah! Ambilkan perhiasannya!" titah Carla dengan suara lembut, tanpa kebencian. "Dimana tuan Jordi?"
"Ada di ruang tamu sedang menghangatkan diri. Beliau tengah menunggu Anda."
"Pergi dan katakan kepadanya kalau saya sudah siap."
"Tidak. Saya masih punya kaki untuk berjalan sendiri."
"Maaf, Nyonya."
"Pergilah!"
"Baik," jawabnya dengan kepala dan tubuh yang tertunduk.
Setelah merasa siap, Carla kembali menatap cermin. Ia seperti Cinderela yang berada di dalam komik khas anak-anak. Hanya saja bedanya, kisah hidupnya ini adalah nyata dan luka yang ia dapatkan benar-benar berdarah.
Tidak, saya tidak boleh meratap apalagi menangis. Jangan menyusahkan orang lain lagi! Perintah otak pada jiwanya. Ayo Carla, bergerak! Sebelum ia membunuhmu.
Carla keluar dari dalam kamarnya dan ketika tiba di depan pintu, ia melihat Aro berada di sudut kamarnya sedang berdiri dengan wajah yang pucat.
Carla melirik sejenak untuk menghilangkan rasa rindunya. Aro pun melakukan hal yang sama. Kecantikan Carla, kembali merusak ketenangannya, namun Aro berusaha untuk bersikap sewajarnya.
Tanpa menoleh, Carla melanjutkan langkahnya untuk menemui tuan Jorda. "Selama malam, saya sudah siap."
Tuan Jordi tersenyum dengan mata yang berbinar-binar. Ia seperti sedang melihat bintang di langit. Carla tampak sempurna malam ini dan ia suka. 'Tak lama, tuan Jorda bertepuk tangan sambil mendekati Carla. Lalu ia menyapu bibir wanita mudanya tersebut.
"Mari kita berangkat sekarang juga!" titahnya sambil menyodorkan lengan kiri Carla agar ia menyelipkan tangannya. "Setelah pesta ini, persiapan dirimu untuk malam yang menyiksa!" bisik tuan Jordi yang menginginkan percintaan berat kepada Carla.
Tanpa bisa menolak, Carla menganggukkan kepala. Bibirnya tersenyum, namun matanya menangis. Tubuhnya mengikuti, tapi hatinya menolak.
Bersambung.