
Setelah lebih dari 30 menit melangkah, Carla mulai kedinginan. Ia menggosok kedua tangan, lalu meniupnya beberapa kali untuk mendapatkan kehangatan.
Aro yang paham bahasa tubuh Carla tersebut, langsung menghentikan langkahnya dan menatap Carla. Kemudian dengan cepat, ia menutupi kepala Carla dengan menarik topi dari jaket bulu angsa yang sudah Carla kenakan.
Aro juga menarik kedua sisi tali yang ada pada topi bulu tersebut dan mengikatnya lembut di antara bawah dagu dan leher Carla. Pada saat yang bersamaan, mata keduanya bertemu dan saling menatap.
"Hangat," ujar Carla. "Saya tidak tahu kalau jaket ini ada topinya," sambung Carla sambil terus menatap Aro.
"Anda tidak akan tahu, jika tidak memperhatikannya, Nyonya," sahut Aro sambil terus merapikan sisi topi agar tidak ada udara yang mampu menghampiri leher dan kuduk Carla.
"Bagaimana mungkin kamu bisa menjadi seseorang yang jahat?" tanya Carla yang mulai menyadari sikap lembut Arogan tersebut.
Jari tangan Aro terhenti karena perkataan Carla, "Sa-saya, saya tidak tahu, Nyonya," jawab Aro yang masih menatap mata indah milik Carla. Kemudian Aro memegang kepalanya cukup kuat, "Saya tidak bisa mengingat apapun, kecuali wajah tuan Jordi, semua pelatihan, dan juga perintahnya."
Aro yang memiliki mata safir nan indah, layaknya keturunan bangsawan, membuat Carla terpanah. Ia sangat ingin tahu apa yang terjadi pada laki-laki yang berada di hadapannya tersebut. Semua itu karena antara sikap, perbuatan, dan juga pekerjaannya terasa begitu berseberangan. Carla yakin, Aro bukanlah orang jahat.
"Anda masih ingin berjalan-jalan, Nyonya? tanya Aro dengan suara yang lembut seperti biasanya dan saat itu, Carla langsung mengangguk. Namun kedua kaki Carla sudah terasa dingin dan kaku karena malam ini, cuaca cukup buruk.
Aro terpaksa mengajak Carla keluar dari kamar dan penginapan karena tahu bahwa gadis tersebut begitu menderita berada di sana. Namun ternyata, kondisi udara di luar juga tidak baik untuk kesehatan serta stamina Carla.
Baru saja Carla hendak melangkahkan kaki kanan, tanpa sengaja ia menyandung kaki kirinya dan tumbuh Carla pun langsung hilang keseimbangan serta condong ke depan, hampir terjatuh. Namun dengan cepat, Aro menangkap Carla dengan memegang pinggangnya pada posisi tubuh yang sedikit menunduk.
Tanpa sengaja, bibir Carla menempel sempurna pada bibir Aro. Mata keduanya terbelalak, tapi tidak ada satupun di antara mereka yang mundur ataupun menjaga jarak. Seolah mereka sama-sama terkejut, namun suka dengan apa yang baru saja terjadi.
"Maaf, saya tidak sengaja," ujar Aro setelah tiga menit menikmati bibir Carla yang menempel pada bibirnya.
"Sebaiknya kita pulang saja, Nyonya. Besok siang, kita bisa mengulanginya kembali," rayu Aro yang khawatir pada Carla.
Carla mengangguk, "Baiklah, saya mengerti." Lalu Carla berusaha untuk melangkah dan membalik arah untuk pulang.
Namun, kali ini kedua kakinya benar-benar kaku. Aro pun langsung membungkukkan tubuhnya dan menjadikan dirinya kuda tunggangan untuk Carla.
"I-ini?"
"Silakan, Nyonya!"
"Terima kasih ... ."
"Tidak masalah."
"Tapi saya berat."
"Hidup saya jauh lebih berat, Nyonya. Jangan ragu, saya punya kuda-kuda yang sudah terlatih sempurna."
"Baiklah," sahut Carla yang langsung naik ke punggung Aro dan mengalungkan tangan pada lehernya.
Bersambung.