
Carla menatap dalam-dalam mata Aro yang tampak menyembunyikan sesuatu darinya. Penasaran tapi Carla tidak mungkin memaksa Aro untuk mengatakan semua peristiwa kepada Carla atau sekedar menjawab pertanyaan darinya.
Carla menunduk dan merasa terusir, "Baiklah, maaf sudah mengganggu."
Aro menelan air liurnya yang terasa berat, dalam-dalam. Sebab, sesungguhnya ia tidak bermaksud untuk menjauhkan dirinya dengan Carla. Seandainya bisa dan boleh, ia ingin sekali meletakkan kepala pada kedua kaki Carla, lalu terlelap hingga pulas.
"Maaf ... ." Aro tampak menyesal dengan kepala yang tertunduk. "Marlon, tolong antarkan Nyonya muda!"
"Saya mengerti," sahutnya pada permintaan Arogan. "Mari, Nyonya!" ajaknya dengan kepala yang tertunduk.
Setibanya di depan pintu kamar Aro, "Cukup sampai di sini. Saya tidak buta dan masih sangat hafal jalan ke arah kamar saya."
"Tapi ... ."
Carla meninggalkan Marlon dan berjalan sangat cepat. Langkahnya yang menghentak, memperlihatkan kekesalan hatinya. Marlon hanya menghela napas panjang, karena hanya dia yang memahami situasinya.
Marlon menutup pintu kamar dan kembali ke sisi Aro, "Aro, apa yang kamu lakukan? Bukankah kamu yang sudah mengajarkan dan sering memperingati saya tentang semuanya?"
"Tidak ada hal berarti yang saya lakukan, Marlon. Seperti yang diperintahkan tuan besar, saya mengajak nyonya muda jalan-jalan di sekitar penginapan. Hanya saja, malam tadi beliau kedinginan dan sulit untuk berjalan. Saya memutuskan untuk membantu dengan menggendongnya. Saya melakukan kesalahan dan pantas dihukum. Seharusnya saya tidak menyentuh nyonya muda," jelas Aro yang mulai banyak bicara.
Pada saat Aro menjawab pertanyaan Marlon, Carla menghentikan langkahnya dan memutuskan untuk kembali ke kamar Aro sekedar untuk membantu atau apapun. Sebab, hati Carla tidak tenang dan ia merasa bahagia ketika berada di sisi Arogan.
"Bodo amat, biar saja dia mengusir saya sekali lagi," kata Carla sambil membalik arah langkahnya.
"Kesalahan? Itu bukan kesalahan namanya. Kenapa tuan besar selalu saja bersikap buruk kepadamu? Padahal, kamu sudah memberikan seluruh hidup bahkan nyawamu untuknya."
"Saya tidak tahu, Marlon. Mungkin karena saya hanyalah seorang budak." Aro menepuk pundak Marlon yang terlihat marah serta kecewa pada sikap tuan Jordi yang selalu semena-mena.
"Sudahlah!" sahut Aro sembari menghela napas panjang.
"Kamu bahkan hampir mati tadi malam," sambung Marlon yang masih merasakan sesak di dada. "Coba, seandainya saya tidak menemukan kamu? Dua Serigala bahkan sudah menumpuk dan hampir memangsamu."
"Marlon, terima kasih untuk itu."
Apa? tanya Carla tanpa suara. Sebenarnya apa yang terjadi pada Aro? Carla menghentikan langkahnya dan memutuskan untuk mendengarkan pembicaraan antara Aro dan Marlon.
"Berhentilah mengomel! Ini tidak seperti kamu. Sebaiknya, segera bereskan lukanya!"
"Tapi, mau sampai kapan seperti ini? Aro, kamu sudah sering menyelamatkan nyawa saya. Di sini, kamu satu-satunya orang yang berbicara kepada saya."
"Marlon!"
"Ba-baiklah, maaf." Marlon membuka baju Aro sehingga perutnya yang kotak-kotak dan tersusun rapi tampak jelas. "Hem."
"Jangan mengeluh! Lakukan saja!"
"Ini akan sangat sakit, Aro. Punggungmu tercabik bahkan terkoyak. Dia mencambukmu berapa kali ha?"
"Marlon! Kecilnya volume suaramu!"
Marlon membubuhkan obat yang sudah ia pirik sejak tadi, tanpa menjawab perkataan dari Aro. Ia sudah mempersiapkan semua obat ketika berada di dalam kamar. Saat itu, tubuh Aro langsung menggelepar, namun ia tidak bersuara. Aro memang sudah biasa menahan rasa sakit setengah mati.
Bersambung.