Romeo Roman

Romeo Roman
Tawaran Sang Pengawal



Laki-laki berbibir hitam duduk sambil menikmati acara televisi. Liburan kali ini, tuan Jordi hanya ingin bersenang-senang dan melupakan semua urusannya. Ditemani dua orang wanita bayaran yang mengenakan pakaian setengah telanjang, ia terlihat bahagia dan selalu tertawa keras.


Sebiji anggur disuapi ke dalam mulutnya yang selalu mengangga. Di saat yang bersaman, tangannya yang liar terus saja menyentuh bagian mana pun yang ia sukai dari kedua wanitanya.


Malam ini, tampaknya ia tidak ingin ditemani Carla, mungkin karena masih marah atas penolakan gadis itu sebelumnya. Sebagai seorang suami, tuan Jordi sama sekali tidak mengetahui apa yang hampir saja terjadi pada istri mudanya. Ia hanya bersenang-senang dan menganggap bahwa Carla akan baik-baik saja demi menjaga kedua orang tuanya tetap aman.


"Sayang, minumannya! Ambilkan yang paling mahal dan memabukkan!" perintahnya pada wanita satunya, yang sejak tadi memijat kedua kaki tuan Jordi.


"Iya, Sayang. Segera."


Di dalam kamar, Carla menuliskan sebuah puisi sendu tentang hidupnya. Masa muda gadis itu direnggut paksa dan kini ia seperti tinggal di dalam sangkar emas.


Di depan orang-orang dan kolega tuan Jordi, ia harus tersenyum rapi tanpa beban. Seolah hidupnya begitu indah, bergelimang harta, dan bahagia. Namun kebenarannya sangat berbeda, seperti langit dan bumi, bahkan ia ingin mati disetiap detiknya.


Suara ketukan pintu lamban dan terdengar tenang mengusik konsentrasi Carla, namun ia tidak melarang siapapun untuk masuk. Wajahnya yang indah seperti purnama dimalam hari pun, terus saja menatap torehan kertas putih yang hampir penuh dengan segudang perasaannya.


"Nyonya Muda, apa anda tidak ingin keluar untuk bersenang-senang?" tanya Aro yang memang diperbolehkan mengajak Carla berjalan-jalan, namun hanya sebatas penginapan di sisi gunung Fuji yang tuan Jordi sewa selama tiga bulan.


Carla menghentikan gerakan tangannya sejenak, kemudian ia menatap Aro yang hanya berdiri di sisi pintu yang sudah terbuka lebar. Lalu tatapan mata Carla terfokus pada bagian tangan Aro yang sudah diperban. Tanpa menjawab, Carla melanjutkan aktivitasnya.


"Bulannya sangat indah dan langitnya begitu penuh dengan bintang." Aro menyambung ucapannya, seakan ia sangat ingin mengajak nyonya mudanya bersenang-senang di luar (Carla tidak pernah keluar dari kamar ataupun penginapan).


"Apa kamu tidak takut jika saya kembali menyakitimu?"


"Pergilah!"


"Setuju," sahut Aro dan Carla merasa cukup kesal dalam pasrah. Mungkin ia memang ditakdirkan untuk sendiri. "Tapi jika bersama Anda," timpalnya.


Carla terhenyak, tiba-tiba saja ada desiran murni di dalam hatinya. Apa ini? Saya belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Seperti ketakutan yang indah, kata Carla tanpa suara sembari mengangkat wajahnya.


"Baiklah."


Carla meletakkan pulpen dan buku yang sudah ia tutup di atas meja. Kemudian ia berjalan ke arah Aro yang tampak


baik-baik saja, meskipun terluka serius. Ketika jarak keduanya begitu dekat dan mereka saling menatap, hati Aro bergetar dan ia langsung menunduk guna menyembunyikan perasaannya.


"Di luar dingin, Nyonya. Silahkan dipakai," kata Aro sambil menyelimuti tubuh muda Carla dengan jaket bulu angsa tebal berwarna putih yang begitu halus dan wangi.


Carla menatap pundaknya. Ia berpikir, bagaimana mungkin, orang yang kejam seperti Aro, masih memiliki hati? Sementara laki-laki yang lainnya seperti binatang tanpa etika (tuan Jordi).


"Silakan, Nyonya!"


"Terima kasih."


Bersambung.