Romeo Roman

Romeo Roman
Awal Kehancuran



Laki-laki matang, duduk dengan mengangkat kaki kanan yang ia timpa di atas kaki kirinya. Sambil menggoyang-goyangkan ujung sepatunya, ia mengisap cerutu mahal dan beraroma khas yang berat. Sementara tangan kirinya disandarkan pada kursi sofa milik keluarga Bayu Aksara.


Mata Jordi Armen tajam menatap kolega bisnisnya yang sudah tumbang akibat ulah dan akal piciknya. Tujuannya hanya satu yaitu mengintai dan menginginkan anak gadis keluarga Aksara yang tampak molek, tinggi, dan berkulit halus seperti seorang model kenamaan.


"Saya tidak suka basa-basi. Jika ingin mendapatkannya suntikan dana dari saya, serahkan dia!" Jordi menunjuk jelas ke arah Carla Mirela, putri satu-satunya milik keluarga Aksara.


"Tidak, Tuan besar. Mohon jangan seperti itu!" pinta tuan Bayu dengan tubuh yang sudah sangat merendah. "Putri saya masih terlalu muda, bahkan ia harus menyelesaikan sekolahnya hingga bangku kuliah," jelasnya dengan bibir yang bergetar.


"Pa ... ." Carla mendekat dan tubuhnya terasa dingin karena ketakutan. "Carla nggak mau, Pa. Pleaseee!" mohon Carla hampir menangis sembari memeluk papanya.


"Tuan-tuan, maaf. Nyonya, Tuan. Penyakit jantung beliau kambuh, sekarang pingsan di dalam kamarnya," kata bibi sambil berlari ke arah ruang tamu yang isinya juga sudah berkurang karena disita.


"Ya Tuhan, bagaimana ini?" jawab tuan Bayu yang sudah bingung karena tidak memiliki apapun untuk dijual atau digadaikan demi membawa istri tercintanya ke rumah sakit. "Maafkan saya, Tamara," ucap tuan Bayu sambil menciumi jari-jari tangan istrinya yang tampak pucat dan kaku.


Tidak ... Mama tidak boleh dibiarkan seperti ini, kata Carla di dalam hatinya sambil berdiri di ujung pintu dan menangis tanpa suara.


Dengan sigap, tanpa pikir panjang, Carla berlari ke arah ruang tamu dan bersujud di bawah kaki tuan Jordi, "Om, tolong mama Carla. Apapun akan Carla lakukan demi mama. Please!"


"Saya hanya ingin satu hal saja, yaitu kamu. Silakan pikirkan sendiri! Toh, kamu sudah mendengarkan pembicaraan antara saya dan papa kamu."


Carla menatap penuh harap ke arah tuan Jordi. Namun yang ia dapatkan hanyalah tatapan tidak perduli dari laki-laki bertubuh besar tinggi tersebut. Kemudian ia kembali melihat ke arah kamar, di mana mamanya tengah sekarat.


"Baik, Om. Carla ikut Om Jordi dan akan melakukan apapun. Tapi tolong, selamatkan mama dan bantu papa!" pintanya sambil meneteskan bulir-bulir air mata yang tampak bening.


"Sepakat?!"


Carla menunduk, lalu mengangguk. "Sepakat," jawabnya dengan bibir yang bergetar hebat.


"Kalau begitu, silakan tanda tangan pada surat perjanjian ini!" perintah tuan Jordi sambil melempar pulpen di atas meja kaca berukuran besar, hingga suaranya terdengar nyaring di telinga Carla.


*****


Satu bulan kemudian, Jepang dalam nuansa dingin bersalju. Tuan Jordi berjalan ke arah Carla. Setibanya di dalam bilik kayu yang tampak elegan, ia meminta gadisnya untuk menari erotis sembari mengenakan pakaian tipis.


Carla tidak suka, namun ia berusaha untuk mengikuti perintah laki-laki yang sudah membeli dirinya dengan sejumlah uang yang mampu mengobati mamanya dan menjadikan modal bagi papanya untuk bangkit serta berusaha kembali.


Tampaknya tuan Jordi ingin menghabiskan waktu bercinta bertiga dan Carla merasa jijik untuk melakukannya. Hingga diakhir tarian, Carla diminta untuk memberikan sentuhan mesra pada wanita lain yang hadir bersama mereka.


"Tidak!" tolak Carla tegas. "Anda boleh melakukan apa saja kepada saya, tapi tidak untuk hal menjijikkan seperti ini."


Pack-pack.


Tamparan kuat mendarat dikedua sisi pipi Carla yang merona. "Siapa kamu berani mengatakan hal seperti itu kepada saya? Kamu pikir, kamu adalah satu-satunya?" tuan Jordi menampar sekali lagi, hingga hidung Carla mengeluarkan darah segar.


"Saya tidak suka, saya jijik, saya benci," kata Carla tanpa memperdulikan tamparan berikutnya. "Anda memang tidak memiliki hati."


Tubuh tuan Jordi bergetar hebat, "Sebaiknya kamu pergi dari sini sekarang, sebelum saya membunuhmu!" Tuan Jordi mendorong tubuh mungil Carla dengan keras, hingga dahinya membentur kayu keras di ujung pintu.


"Auh," keluh Carla sembari memegang dahinya. Kemudian dengan cepat, ia membuka pintu dan berlari keluar.


Brack.


Carla menabrak seseorang, tapi ia tidak terjatuh. Laki-laki itu berhasil menangkap tubuh Carla dan menahannya.


"Anda baik-baik saja, Nyonya?" tanya Aro, pengawal terbaik tuan Jordi sambil menatap baju kemeja putih miliknya yang sudah ternodai oleh darah dari lubang hidung Carla, ketika menangkapnya.


Belum sempat Carla menjawab, tubuhnya hilang kendali dan otaknya melemah. Tiba-tiba saja Carla menghilang dan Aro memutuskan untuk menggendong Carla kembali ke dalam kamarnya.


Sebelum meninggal bagian depan kamar tuan Jordi, Aro terlebih dahulu menatap pintu kamar tuan besarnya. Lalu kembali memperhatikan si malang Carla yang sudah terluka dengan pakaian tipis tembus pandang, hingga dapat memperlihatkan bentuk tubuhnya.


"Apa yang terjadi kepada Anda, Nyonya?" tanyanya yang tidak mengharapkan jawaban sambil membawa tubuh muda Carla ke dalam kamar.


Aro mengurus Carla seperti seorang perawat yang handal. Padahal ia terkenal sebagai sosok yang keras, begis, kejam, dan juga jahat. Namun ketika sedang bersama Carla, tiba-tiba saja sikap dinginnya mencair dan ia juga merasakan sakit yang sama, saat Carla menderita.


Bersambung.


Novel ini sedang direvisi, mohon bersabar jika ingin membaca.