
Salju berwarna putih yang dingin, seolah menjadi saksi mati dari perasaan dua insan yang beku karena takdir. Walau begitu, mereka bisa tersenyum malam ini, seolah dunia memberikan kesempatan kepada keduanya untuk lepas dari rantai api kehidupan yang kejam.
Di atas punggung Aro, Carla tersenyum simpul. Bahkan pelukan kedua tangannya pun semakin erat terasa di leher Arogan. Berat, tapi Aro suka dan ia ingin susana yang menyenangkan seperti ini, bisa lebih lama dan panjang ia rasakan.
"Bagaimana pendapatmu tentang musim dingin?" tanya Carla yang ingin merasakan napas hangat Arogan di sekitar wajahnya. "Kamu boleh menjawab apa saja, tidak harus benar."
"Sebenarnya saya benci musim dingin, Nyonya. Sebab, ia dimulai terlalu awal dan berakhir terlalu terlambat. Kehadirannya hanya diharapkan dan disukai oleh orang-orang yang memiliki mantel tebal dan sepatu salju. Tidak bagi mereka yang hanya memiliki sehelai pakaian usang dan robek dibanyak bagiannya," ujar Aro yang menjawab lebih panjang daripada pertanyaan Carla. Selain itu, jawaban Aro tersebut membuat Carla terbungkam sekaligus tersentuh.
"Heeemh."
"Tepatnya, musim dingin dicintai oleh mereka yang memiliki pakaian hangat dan bergaya untuknya!"
"Kata-kata kamu itu, dalam sekali arti dan maksudnya. Saya yakin, jika kamu adalah orang kaya raya, kamu pasti akan menjadi pria yang dermawan."
"Tidak, Nyonya. Saya hanya seorang pembunuh."
"Apa kamu suka saat melakukannya?"
Aro menggeleng, "Itu seperti menancapkan duri salak tepat di dada dan tidak pernah bisa ditanggalkan. Sakitnya jauh lebih lama, bahkan abadi."
Carla merebahkan kepala pada pundak Aro. Hanya ada satu kata yang ia rasakan saat itu, ialah nyaman. Kemudian, Carla memutuskan untuk tidak mempertanyakan apapun kepada Aro dan hanya menikmati kenyamanan perasaannya saja.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 35 menit, Aro dan Carla tiba di muka penginapan. Aro yang sama sekali tidak melihat ke depan, sehingga ia tidak mengetahui bahwa tuan Jordi sudah berada di hadapannya sambil memasang wajah masam dan marah.
"Tuan ... ."
Tuan Jordi hanya menatap dengan matanya yang besar dan berapi-api. Saat itu, Carla turun dari punggung Aro perlahan dan bergerak mendekati tuan Jordi.
"Kami hanya ... ." Carla berniat untuk menjelaskan. Namun tamparan keras langsung mendarat di wajahnya yang mungil dan mulus.
Tubuh Carla terlempar dan terjatuh di atas salju yang dingin. Ia sulit bergerak, hanya tangannya saja yang tampak memegang wajahnya yang sudah terkena pukulan.
Tiba-tiba saja, Aro merasakan sakit yang lebih kuat daripada Carla. Kemudian dengan cepat ia menyatukan lutut di atas salju dan memohon pengampunan untuk Carla.
"Saya mohon, Tuan besar. Hancurkan saja saya, tapi jangan menyakiti Nyonya muda. Sayalah yang bersalah karena meminta beliau untuk ikut, hanya demi membahagiakan hatinya lewat alam," jelas Aro dan tuan Jordi langsung menendang kepala Aro dengan kakinya yang keras.
"Sejak kapan kamu diperbolehkan untuk berbicara? Budak tetap saja menjadi budak. Jika saya memintamu untukmu menggonggong, baru kamu boleh melakukannya."
"Maaf, Tuan Saya bersalah," jawab Aro yang ingin menyelamatkan Carla.
Aro adalah orang yang tahu persis akan tabiat tuan Jordi. Laki-laki kejam tersebut akan berhenti menyakiti targetnya, jika amarahnya sudah dilampiaskan kepada orang lain.
"Bawa dia! Saya akan membuat perhitungan," perintah tuan Jordi pada pengawal lainnya dan saat itu, Aro diseret dan dibawa ke tempat lain yang Carla tidak ketahui. "Dan kamu perempuan murahan, pergi ke kamar kamu sekarang juga!"
Bersambung.