
Sekitar 30 menit dalam ketakutan dan kecemasan yang besar, Aro menatap Carla tanpa henti. Ia ingat bagaimana gadis ini sempat merawatnya beberapa hari ketika tengah tengah sakit dan diasingkan. Bahkan ia harus tinggal dan hidup di kandang kuda tiga Minggu yang lalu.
Saat itu, satu-satunya orang yang berani mendekat, mengantar makanan, dan obat, serta menyentuh Aro adalah Carla. Dengan tangan yang lembut, Carla menggantikan pakaian Aro dan mengelap tubuhnya yang basah serta kotor.
"Sttt," rintih Carla sembari menyentuh wajahnya.
Pada saat yang bersamaan, selimut yang Aro pasangkan untuk menutupi tubuhnya, bergeser dan Aro pun kembali menaikkannya hingga kebatas dada.
"Ayo minum dulu, Nyonya muda!" Aro mengangkat gelas kaca ukuran sedang ke dekat bibir Carla.
Carla menggeleng lambat, matanya berkaca-kaca dan air bening terlihat menetes pada parit kecil diujung sisi kedua matanya. Ia tampak begitu menderita dan tidak sanggup lagi menahan deritanya.
"Tidak, jangan menangis!" pinta Aro yang tidak tahan melihat tetesan air bening itu mengalir cepat. "Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda?" Aro menegakkan tubuhnya dan menatap Carla dalam.
"Tolong, habisi nyawa saya!" pinta Carla sambil menantang mata Aro. Untuk pertama kalinya, hati Aro bergetar dan ia merasa takut. Biasanya, membunuh adalah hal yang biasa ia lakukan dan bukanlah pekerjaan yang sulit. "Saya, mohon!"
Aro menggeleng kecil, "Tidak, Nyonya. Itu tidak mungkin."
Carla memiringkan wajah dan menatap Aro. "Kamu takut kepadanya?"
"Anda adalah wanita kesayangan tuan besar. Mana mungkin saya bisa ... ."
"Wanita kesayangan?" Carla menyeringai dan menertawakan dirinya sendiri. "Kesayangan ... ya ampun."
Aro menunduk dan mulai iba, "Maaf."
"Silakan keluar dari ruangan ini! Tinggalkan saya dengan semua keputusan saya sendiri!"
"Baik, Nyonya. Tapi saya mohon ... jangan macam-macam." Aro berbicara halus dan lembut. Padahal selama ini, ia tidak suka melakukannya. Bahkan ia lupa cara berkata yang baik. "Permisi, jika butuh apapun ... ." Belum tuntas perkataan Aro, Carla sudah membuang wajahnya. Aro pun memahami isyarat tersebut, bahwa Carla hanya ingin sendiri.
Dengan langkah berat, Aro meninggalkan kamar Carla. Ia memang memiliki akses bebas untuk keluar masuk ruangan pribadi milik Carla. Semua itu karena tuan besar memberikan wewenang lebih kepadanya, sebagai kepala pengaman.
Arah kakinya tertuju pada ruang pribadi milik tuan Jordi. Ketika ia hendak mendekat ke arah pintu, Aro mendengar tuan besarnya tertawa sambil mengerang kenikmatan di dalam ruangan tersebut.
Matanya terbelalak dan hatinya langsung menyadari tentang apa yang telah terjadi. Mungkin nyonya Carla menolak untuk melakukannya bertiga dan tuan Jordi marah besar hingga memukulnya.
Sambil memegang kepala dengan kedua tangan, Aro memperbaiki pandangannya yang berkunang-kunang. Saat itu jantungnya pun berpacu begitu cepat, seolah mengarahkannya kembali kepada nyonya Carla.
"Aaah, tidak," katanya sambil menggelengkan kepala dan berlari cepat ke arah kamar nyonya Carla.
Aro bergerak seperti angin, tubuhnya terasa begitu ringan dan ia langsung mendobrak pintu kamar nyonya Carla. Pada saat yang bersamaan, ia melihat nyonya mudanya sudah mengangkat sebuah belati tinggi dan siap menghujam ujungnya pada jantung.
Aro kembali berlari karena melihat nyonya Carla tidak merubah arah ayunan belatinya. Dengan cepat, ia memeluk dada nyonya muda karena sudah tidak lagi mampu menghentikan laju belati yang telah mengayun cepat ke arah dada.
Crat.
Darah segar keluar dari tangan kanan Aro dan membuat Carla terdiam dengan ekspresi wajah sangat terkejut. Ia tidak menyangka, upayanya gagal kali ini dan malah menyakiti orang lain.
"Aro, apa yang kamu lakukan?" tanya Carla yang masih berada di dalam pelukan Arogan.
"Melindungi nyawa saya, Nyonya."
"Apa?" Carla kemudian terdiam. Ia seolah dapat menangkap maksud lain dari perkataan Aro barusan dan itu membuatnya melemah serta menghentikan keinginannya.
Carla menatap aliran darah yang deras. Lalu dengan tangan yang gemetaran, ia berusaha untuk mengobati luka besar tersebut. Namun ini tidak mudah karena luka bekas belati tersebut begitu dalam. Saat itu, Aro menyadari sesuatu, yaitu nyonya Carla sungguh-sungguh ingin mengakhiri hidupnya.
"Saya tidak bisa mengobati lukanya. Kamu harus ke dokter sekarang juga!" pintanya dengan mata yang penuh dengan air. Sementara Aro masih dapat melihat lekuk tubuh Carla yang sangat indah dari balik lingerie tipis berwarna putih.
"Tidak. Saya tidak mungkin meninggalkan Anda dalam posisi seperti ini. Jika saya pergi, saya akan kehilangan Anda."
"Tidak-tidak. Saya berjanji, saya tidak akan melakukannya lagi." Carla tidak mampu membendung air mata. "Saya mohon, Aro!" pintanya dengan tubuh yang tampak lemah dan kepala tertunduk.
"Baiklah, tapi ... ." Carla menutup mulut Aro dengan ujung jari telunjuknya. "Pergilah!"
"Baik, Nyonya."
Bersambung.