
Kini wanita cantik itu masih duduk termenung diatas ranjangnya. Menggenggam erat jaket kulit yang beberapa menit lalu di berikan kepadanya.
"Nggak mungkin," gumam Lona sembari mengendus kembali jaket yang memiliki aroma tidak asing baginya.
Kembali menggelengkan kepalanya Lona menepis dugaan konyolnya jauh-jauh. Lagipula ibu penjual martabak tadi mengatakan ini jaket anaknya, alasannya memberikan jaket dan martabak karena kapan hari Lona pernah membantu seseorang dan ini adalah imbalannya.
Jika ditanya siapa jelas Lona tak ingat, karena baginya menebarkan kebaikan tidak harus memandang bulu atau siapa dia.
Sudahlah, daripada ia bertambah pusing lebih baik melahap martabak yang kini sudah melambai-lambai untuk disantap.
Gigitan demi gigitan terus memanjakan lidahnya, sesekali mengusap perutnya. "Enak ya dek, dedek suka kan?"
.
.
.
Saat matahari belum muncul dengan sempurna, bahkan diluar sana masih sedikit gelap nan dingin, tetapi Lona sudah mengenakan pakaian olahraganya dan keluar dari rumah untuk berjalan-jalan pagi.
Pada masa kehamilan tuanya ini dokter menyarankan untuk sering berjalan agar proses persalinannya lancar. Ini semua ia lakukan demi manusia yang sangat ingin ia temui, yaitu anaknya yang saat ini menendang-nendang dengan kencang.
"Anakku sayang aktif sekali..." perasaan haru dan bahagia tidak bisa ia tahan, sembari menyusuri jalan ia terus mengajak buah hatinya berbicara.
Telapak kaki tanpa sandal itu terus melangkah, memijak aspal yang dinginnya terasa menembus tulang.
Dan tanpa Lona sadari sepasang telapak kaki besar mengikuti langkahnya dari belakang. Terus memperhatikan Lona dengan langkahnya yang terlihat lebih susah berjalan dengan perutnya sebesar itu.
"Apakah aku menyusahkanmu?" Baru kali ini Exel memperhatikan orang hamil dan ternyata tidak semudah yang ia bayangkan, ia jadi kasihan sendiri melihat Lona seperti itu.
Terharu sekali melihat perjuangan Lona agar anaknya bisa lahir ke dunia. Kemana-mana dengan perut besar itu, ditambah ia sama sekali tidak berguna untuk Lona dan anaknya.
"Mau sampai kapan lo ngikutin Lona yang nggak ada capeknya," ucap Juna terengah-engah. Berjalan mengikuti Exel yang tengah membuntuti Lona.
"Lo masa kalah sama ibu hamil sih." Exel melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Juna. "Tulang lo udah pada keropos semua jangan-jangan," ejeknya.
"Ya kan gue udah lama nggak olahraga, kalau tulang jangan ditanya lagi lah..."
"Maksudnya?"
"Gue akhir-akhir ini sering encok," lanjut Juna terkikik sendiri.
Setelah sekian lama akhirnya Lona pulang dengan membawa beberapa kantong jajanan pasar yang ia beli sehabis jalan-jalan pagi ini.
Exel dan Juna tetap memantau dari kejauhan sampai Lona memasuki rumah.
"Gue mau ngontrak disini," ucap Exel menatap rumah minimalis berlantai dua yang ada tulisan 'di kontrakkan' depannya.
"Apa?"
"Iya gue mau mantau Lona lebih deket lagi, cepet hubungi nomornya kalau perlu beli aja sekalian. Gue malah nggak enak kalau nginep di rumah Juney terus."
.
.
.
Dan benar saja hari ini juga Exel mengesahkan rumah yang berada di seberang jalan rumah Lona, menjadi atas namanya.
"Not bad," ucapnya setelah melihat-lihat rumah minimalis itu.
"Ckckck..." Juna menggelengkan kepalanya setelah melihat tingkah bodoh Exel. Sahabatnya itu langsung membayar tanpa melihat terlebih dahulu bagaimana kondisi dalam rumah.
"Apa perlu cari pembantu sekalian ya?" ucap Exel sembari menjatuhkan tubuhnya di sofa lembut yang berbahan dasar bludru, matanya tetap tertuju pada rumah seberang jalan.
Termenung sejenak setelah mendengar kata-kata itu, kemudian Exel menoleh pada Juna. "Gue mau cepet-cepet nemuin Lona dan berusaha ngajak dia balik ke Jakarta lagi."
Menepuk-nepuk pundak Exel sembari mengangguk. "Tapi sayangnya nggak semudah itu bro..."
"Gue tau dan gue bakal usaha sampai titik darah penghabisan," ucapnya dengan mantap.
Berdehem sejenak sebenarnya Juna tidak ingin mematahkan semangat sahabatnya, tetapi ia juga harus berpikir realistis. "Dan jangan lupa kalau saat ini perusahaan lo lagi mau berdiri tegak menyaingi bisnis daddy mu. Sebentar lagi lo bakal dikenal banyak orang seperti apa yang lo impi-impikan sejak kecil."
Benar wi
Kini mata tajam itu menunduk mengingat ada dua hal yang harus diperjuangkan yaitu cintanya dan perusahaan. Pasalnya kini ia harus berkeliling kota bahkan negara karena banyak perusahaan luar negeri yang melirik perusahaan miliknya.
Mau sampai kapan dunia tidak berpihak pada diriku.
.
.
.
Kaki keriput nan hitam yang setiap hari terbakar matahari mengayuh dengan semangatnya. Pak Seno selalu berbicara dengan Lona dengan bibir yang terangkat, menandakan keramahan orang asli Jogja itu.
"Mbak Lona jangan capek-capek ya sebentar lagi kan mau melahirkan."
"Siap Pak Seno." Turun dari becak dan dibantu laki-laki paruh baya itu.
Sepasang mata tajam terus mengawasi dengan pikiran yang berkecamuk. Apakah pantas wanita dengan perut sebesar itu pergi bekerja.
Melihat ruko kecil yang dimasuki Lona, ia yakin wanita keras kepala itu benar-benar tengah mengelabui dirinya. Ia kira Lona akan kembali memimpin perusahaan besar, namun ia salah wanita licik itu justru memilih ruko kecil ini untuk persembunyiannya.
.
.
.
Melepas kacamata silindernya bersamaan dengan helaan nafas panjang. Lona memang benar-benar harus menyerah dengan tumpukan pekerjaan ini. Semakin bertambahnya usia kandungannya semakin melelahkan, padahal baru duduk sebentar.
Suara pintu kaca yang terbuka membuatnya menoleh. "Ada apa Fara?" tanyanya saat karyawannya itu tampak sumringah memasuki ruangannya.
"E..e.. itu jemputan mbak Lona sudah datang." Senyuman di bibir Fara tak kunjung pudar.
"Jemputan?" tanya Lona penasaran, tadi pagi pak Seno mengatakan ada acara keluarga sore ini dan tidak bisa menjemputnya.
"Dalas?" tanya nya lagi memastikan, tapi ini belum akhir pekan kenapa Dalas kesini.
"Ayo mbak Lona cepat." Tidak menjawab pertanyaan Lona justru Fara cepat-cepat meninggalkan ruangan agar Lona cepat menyusulnya.
"Aneh.." gumam Lona menggelengkan kepalanya, tangannya meraih tas dan memasukkan ponselnya.
Berdiri dan meraih jaket rajut Lona berjalan meraih handle pintu untuk membukanya.
"Yeay...Selamat mbak Lona..!" Suara nyaring dari seluruh karyawannya membuat Lona terlonjak. Bukan, bukan itu yang membuat jantungnya mau copot saat ini. Tapi sosok yang kini tengah berdiri tegap di hadapannya. Lona sampai mundur selangkah dengan wajah pucatnya.
.
.
.
Terimakasih untuk semua yang sudah nungguin up lagi, maaf ya gais kemarin sibuk ngurusin skripsian. Belum sempet lihat grup,komen,dan dm yang masuk❤️