
Suasana malam hari di pedesaan begitu tanang, sayup-sayup terdengar suara jangkrik yang memecah keheningan malam, udara terasa dingin menyegarkan. Langit cerah berhiaskan bintang-bintang yang sinarnya berkilauan.
Di warung tenda tengkleng pinggir jalan ini kepulan putih berterbangan menaburkan aroma dari gurihnya tengkleng khas Jogja.
Srupp...
Satu sendok berisi kuah tengkleng itu di sruput dengan nikmat, hingga bibir Lona menjadi belepotan. Namun hal itu sama sekali tidak mengusiknya, terus melanjutkan makan hingga sehelai tisu hinggap di bibirnya.
Sontak menatap pada laki-laki di hadapannya yang sibuk membersihkan sisa makanan di bibirnya.
"Tidak apa-apa Dalas," ucap Lona merebut tisu itu dan membersihkan bibirnya sendiri.
"Santai saja nona." Tetap dengan cool lalu lanjut makan.
Lona menggelengkan kepalanya, manusia kaku itu menyuruhnya untuk santai. Haha, hampir saja Lona ingin melempar tulang tengkleng ini padanya, yang tidak bisa santai selama ini siapa.
"Nona, kenapa?" tanya Dalas saat Lona tersenyum sendiri.
"Dalas, kamu tuh yang santai dikit, ini aku udah kayak makan sama robot loh."
Dalas sedikit terkejut saat Lona mengatakan itu, memang sejak hamil wanita itu menjadi lebih jujur dan blak-blakan, tapi tetap saja ini seperti bukan Lona yang ia kenal.
"Maksud nona?"
"Panggil nama saja, aku risih kalau kamu panggil seperti itu di depan umum."
"Maaf nona, saya tidak bisa." Sedikit membungkukkan kepalanya.
Kedua mata Lona menyipit menatap laki-laki itu. "Lalu kenapa kamu bisa memanggil Vanilla dengan sebutan nama? apa bedanya?"
"Panggil namaku saja, dan aku akan memanggilmu kakak seperti dulu," lanjut Lona saat Dalas hanya terdiam.
"Saya benar-benar tidak bisa nona." Menatap dalam-dalam wanita yang bertambah cantik saat pipinya bertambah bulat akhir-akhir ini.
Panggilan nona adalah benteng pertahanan untuk saya, agar lebih tahu diri dan tidak lagi larut dalam perasaan bodoh ini.
"Terserah!" sahut Lona dengan kesal.
"Apakah nona bahagia tinggal disini?" Tanpa Dalas bertanya ia seharusnya sudah tahu jawabannya.
"Ya Dalas, kenapa?"
"Tidak apa-apa nona."
Saya akan berusaha lebih keras lagi agar laki-laki itu tidak menemukan keberadaan anda.
Exel cukup gigih dalam melacak keberadaan Lona, membuat Dalas harus memutar otak lebih keras akhir-akhir ini. Berbagai cara telah ia lakukan untuk melabuhi Exel yang cukup pandai dan licik.
.
.
.
Di sofa ada Gemilang dan Juna yang sedang asik bermain PS, sedangkan ia duduk di karpet bawah bersama Ben.
"Jadi gimana katanya lo udah nemuin Lona?" tanya Gemilang yang tak mengalihkan pandangannya dari layar LCD dengan tangan yang sibuk menekan-nekan stik.
Kepulan asap keluar dari mulut Exel dan berterbangan. "Dia di Indonesia."
"Apa?!" sahut Ben dan Juna serentak.
"Jauh-jauh lo ke LA bolak-balik, ternyata dia di Indonesia." Ben berkacak pinggang tak terima.
"Memangnya dia dimana sekarang, Jakarta?" tanya Juna yang masih beradu dengan Gemilang.
Menghela nafas panjangnya, Exel bersandar pada sofa. "Ya itu dia masalahnya gue nggak tau."
Ingin sekali Ben menampol manusia di sampingnya ini, sedikit tidak waras memang semenjak di tinggal istrinya. "Terus kenapa lo sok tau, beg*!"
"Sembilan bulan ini Lona hanya melakukan penerbangan ke Singapura, lalu ke bandara Juanda Surabaya, setelah itu gue nggak tahu." Lemas, letih, lesu ia seperti dikelabui oleh wanita itu. Banyak hotel dan tempat di LA yang direservasi atas nama Lona, namun hasilnya nihil.
Apa wanita itu tak tahu betapa susahnya melacak keberadaannya. Bahkan butuh waktu sembilan bulan untuk mengobrak-abrik LA dan seisinya. Tapi kini Exel yakin Lona tidak ada disana dan apalagi ini, bandara di Surabaya, ia yakin ini juga jebakan.
"Apa perlu kita cek bis, kereta, dan kendaraan umum lainnya," tawar Gemilang.
Exel menggeleng, ia taruh putung rokoknya pada asbak. "Kalau Lona orang biasa mungkin nggak akan habisin waktu sembilan bulan buat ngobrak-abrik LA, juga mainnya terlalu bersih gue yakin ada seseorang di balik itu."
"Apa jangan-jangan pak Leon?" Ben tampak ikut berpikir.
"Bukan, gue yakin bukan." Melihat sikap Leon padanya yang selalu hangat ia yakin bukan Leon dalangnya. Exel sedang mencurigai seseorang sekarang ini.
Gemilang menaruh stik PS nya saat permainan seri, kemudian menghampiri Exel dan menepuk pundaknya. "Terus lo mau gimana?"
"Sial, curang lo Gem." Juna yang sedang bersemangat-semangatnya malah permainan di pause oleh manusia menjengkelkan itu.
"Gue mau istirahat bentar..." Exel kini berkata dengan pasrah, yang penting Lona baik-baik saja itu sudah cukup baginya.
Ben memijit punggung kekar Exel. "Gue juga nggak tega lihat lo bolak-balik sana sini."
Ya, bukan hanya mencari Lona, Exel baru saja menggarap bisnis besar di Malaysia dan setiap minggu harus berputar kesana-kemari mengelilingi tiga negara sekaligus.
"Gue seneng kalau gue sibuk." Karena hanya sibuklah yang akan mengalihkan dirinya dari semua masalah, ia sedang mencari tujuannya hidup di balik kata sibuk itu.
"Tapi ini udah kelewat batas Exel, lo bukan robot," ucap Juna yang tengah memikirkan sesuatu. "Gimana kalau lo ikut gue aja nenangin pikiran," lanjutnya.
"Kemana?"
"Lo ambil cuti aja jangan kerja terus, udah sembilan bulan lo nggak libur, gue takut lo stres nantinya terus tiba-tiba down masuk RS kaya kemarin." Juna berkata dengan serius dan mendapatkan anggukan dari teman-temannya.
"Rumah nenek gue adalah tempat ternyaman untuk penyembuhan mental," jawab Juna membayangkan suasana pantai yang ombaknya melambai-lambai.
"Lo pikir gue gila," sentak Exel tak terima.