
Secarik kertas binder berwarna merah muda Exel buka perlahan. Bubuhan tinta hitam dengan tulisan latin membentuk rangkaian kata.
........................
Hai kak,
Saat kamu membaca tulisan ini mungkin aku sudah berada di negara lain, tidak setanah air lagi denganmu.
Ya, seperti yang Danu katakan bahwa aku sekarang berada di LA untuk melanjutkan S3.
Sebelumnya semua keputusanku ini semata-mata bukan karena pertengkaran kita kemarin, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah.
Aku benar-benar minta maaf karena tidak ijin terlebih dulu padamu, karena saat ini statusku masih istri sah mu. Juga sampaikan maafku pada Dady, Mami, Bunda, dan semua keluarga besarmu karena aku tidak sanggup untuk berpamitan. Untuk perceraian serahkan semuanya pada Danu.
Jaga kesehatanmu jangan lupa makan, kurangi rokokmu juga.
Oh ya satu lagi, mungkin juga aku akan menetap di Singapura kedepannya. Jadi berbahagialah aku tidak akan mengganggumu lagi.
......................
"Bahagia?" lirih Exel seraya meremas lembaran kertas itu. Baru saja akhir-akhir ini ia ingin menata hidupnya lebih baik dengan kehadiran Lona.
Sebenarnya banyak perubahan semenjak ia menikah. Tidak lagi mabuk-mabukan, tidak bermain dengan wanita juga pulang menjadi tepat waktu.
Tapi saat wanita itu pergi, akankah Exel menemukan kata bahagia yang baru saja hendak ia rajut dan kembali menjadi kusut.
Pada sofa di ruang tengah ini ia bersandar. Memijat pelipisnya yang kini berdenyut nyeri. Hanya suara televisi dan detikan jam yang menemaninya di dalam rumah besar yang kini terasa kosongnya.
.
.
.
Dughh!
Satu tonjokan keras melayang pada pipi Exel. Laki-laki dihadapannya yang sedarah dengannya ini matanya di penuhi oleh kilatan api saat menjelaskan permasalahannya dengan Lona.
Setelah beberapa hari menenangkan dirinya sendiri, Exel baru menghadap Dady nya.
Tangan Erfan masih mengepal kuat, wajahnya berubah menjadi merah padam dengan emosinya yang meletup-letup.
"Dady merasa gagal membesarkanmu menjadi seorang laki-laki." Erfan terduduk lemas di sofa.
"Maafkan aku Dady," ujar Exel menunduk, memegangi ujung pipinya yang kini semerah tomat, juga sedikit darah pada ujung bibirnya.
Erfan menghela nafasnya berkali-kali. "Dady dan Mami mu memang pernah gagal, tetapi sebagai kepala rumah tangga Dady dulu sudah memperjuangkan Mami mu hingga tetes darah penghabisan. Tapi apa ini Exel?! istrimu keluar dari rumah malam-malam tanpa kamu mengejarnya, kamu hanya pasrah saat Lona mengatakan ingin bercerai dan kini dia pergi ke LA pun tidak kamu cari."
Ruang kerja Erfan malam ini menjadi suram dengan udara dinginnya.
"Mau bagaimanapun kamu adalah seorang kepala rumah tangga. Rumah tangga bagaikan kapal, meskipun banyak badai, angin, sekalipun hiu yang menerjang, tidak akan goyah jika nahkodanya handal. Mana tanggung jawabmu sebagai laki-laki Exel." Suara Erfan terdengar menggelegar memenuhi seisi ruangan.
Exel tak berani berbicara apapun, membiarkan Erfan menumpahkan segala emosinya. Karena mau bagaimanapun ia paham bahwa ini semua salahnya.
"Ini semua karena Dady juga," ucap Erfan dengan pandangan kosongnya. "Seharusnya Dady memberimu contoh yang baik. Maaf jika kamu harus menanggung kecewa atas perceraian Dady dan Mami mu."
Kali ini Exel mendekat, duduk di sebelah Dady nya yang tampak sedih karena ulahnya. "Ini semua tidak ada hubungannya dengan itu Dad, murni semuanya atas kesalahan Exel sendiri."
Sedangkan dua wanita tampak menguping di depan pintu kayu itu. Brina dan Erina merasa cemas mendengar teriakan Erfan dan tak seorangpun berani berbicara jika Dady nya sedang emosi.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka dengan tiba-tiba. Exel muncul darisana dan betapa terkejutnya mereka melihat darah pada ujung bibirnya.
"Exel, ya ampun nak." Brina bunda tirinya itu hampir mau menangis setelah melihat apa yang Erfan lakukan pada putranya. "Sakit ya, ayo bunda obati." Mengusap pelan pipi Exel.
"Sebenarnya apa yang terjadi nak." Brina tahu Erfan tidak akan semarah itu jika Exel tidak melampaui batas. "Kamu mabuk lagi, judi, tawuran atau main perempuan lagi?" Khawatir sekali dengan anak laki-lakinya yang begitu bandel ini.
"Enggak bundaku tersayang. Lebih baik sekarang bunda tenangkan Dady dulu, aku juga masih ada janji di luar." Mencoba terus tersenyum menenangkan bundanya.
"Tapi itu luka kamu-"
Cup.
Satu kecupan singkat Exel layangkan pada dahi Brina. "Aku bisa sendiri Bun," lanjutnya lalu mengusap rambut Erina yang hanya terdiam menatapnya. "Aku pamit dulu ya."
"Kenapa lagi Rin kakakmu itu," ucap Brina memandangi punggung Exel yang sudah menjauh.
"Bunda aku mau ikut kakak aja, kasihan dia." Brina tercengang melihat air mata keluar dari mata Erina dengan derasnya. Dua saudara yang biasanya bertengkar itu tampak manis jika ada satunya yang tengah terluka.
"I-iya."
.
.
.
"Kakak!" teriak Erina saat Exel hendak membuka pintu mobil. Baru saja Exel akan menoleh namun badannya sudah di hantam oleh pelukan adiknya.
"Aku mau ikut kakak," rengeknya yang justru membuat Exel tertawa kecil. Mengingatkan dirinya pada Erina kecil yang selalu menangis jika ia hendak berpergian.
"Nanti kakak beliin mainan, kamu di rumah saja nggak usah ikut," candaan Exel agar adiknya tidak bersedih.
Memukul pelan dada kakaknya yang menyebalkan. "Nyebelin, udah sakit masih aja nyebelin."
"Siapa yang sakit sih Rin." Mencubit pipi Erina yang masih saja menggemaskan.
"Itu," ucapnya menunjuk bibir Exel.
"Masalah kecil, kamu kayak nggak pernah lihat kakak babak belur aja." Ya, dulu waktu kakaknya SMA seringkali babak belur bahkan lebih parah daripada ini. Tapi tetap saja Erina kasihan dan tidak tega melihatnya.
"Biar aku obatin dulu kak, nanti infeksi takutnya."
"Nggak usah, cepetan masuk rumah gih," usir Exel.
"Lalu siapa yang mau ngobatin, kak Lona pergi dari rumah kan." Memalingkan wajahnya saat merasa ia salah berbicara.
"Kamu tahu?" tanya Exel.
"Vanilla masuk di kampus ku kak."
Exel yang sudah paham hanya mengangguk. "Kakak mau ketemu sama teman-teman kakak, kamu masuk aja. I'm okay Rin," lanjutnya meyakinkan Erina bahwa ia baik-baik saja.
"Oh ya, besok kakak mau ke Singapura untuk menemui keluarga Lona, kamu mau oleh-oleh apa?" Selain untuk Erina, Exel tidak tahu uangnya yang menggunung mau di buat apa. Karena sekarang juga tidak ada yang harus ia tanggung jawabi kehidupannya.
"Aku mau kak Lona kembali, boleh?"
.
.
.
Follow Ig ku ya @blueskyma_1
Makasih like dan komennya๐๐๐