Remarried

Remarried
Ch 20 ~ Sendirian



"Pokoknya kalau ada apa-apa kamu harus segera telepon Momy. Dady mu juga sudah menyiapkan supir yang akan stand by dua puluh empat jam." Elena menyeret koper besarnya menuju teras rumah.


Sedangkan wanita cantik disebelahnya terus mengusap perutnya dan mendengarkan wejangan-wejangan Momy nya.


Di teras rumah terlihat Leon dan Vanilla yang sudah berpakaian rapi. "Selamat pagi sayang." Leon memberikan kecupan singkat pada dahi Lona yang baru keluar dari rumah.


"Pagi Dady." Tersenyum cerah secerah sinar matahari pagi ini.


"Dedek nggak rewel kan?" tanya Leon mengusap perut buncit yang menggemaskan itu.


"Aman Dady, dedek kan anak baik."


Leon mendekati perut Lona untuk berbicara dengan cucunya. "Dedek opa pergi sebentar ya, nanti kalau mau keluar nggak boleh nyusahin Momymu."


"Aduh jadi nggak sabar banget pengen ketemu dedek." Vanilla ikut mengusap-usap perut gembul kakaknya.


"Sabar sebentar lagi aunty." Kini malah Lona mencubit pipi Vanilla. "Jangan keseringan dugem," bisiknya dengan jahil.


"Kok kak Lona tahu-?" ucapnya dengan mata yang membelalak. Tidak diragukan lagi pasti Dalas si manusia jujur itu yang menyebarkan ini semua.


"Tahu apa?" tanya Leon yang tak paham.


"Bukan apa-apa Dady, ayo cepat berangkat." Merangkul tangan Leon agar segera berpijak darisana.


"Hati-hati ya disini, satu minggu lagi setelah urusan di Bogor selesai kita segera kesini untuk menemani persalinanmu." Dengan berat hati Elena harus meninggalkan anaknya yang sedang hamil tua.


"Momy tenang saja, everything be okay." Mengatakan seolah-olah ia sudah siap untuk bertempur di ruang persalinan, padahal di dalam hati kecilnya ada ketakutan yang tidak bisa ia ungkapkan.


Tetapi demi malaikat kecilnya, ia rela mempertaruhkan semuanya, bahkan nyawanya sekalipun.


"Titip salam buat nenek ya," ucap Elena melambaikan tangannya saat akan memasuki mobil.


Mengangguk dengan seulas senyum Lona kembali mengusap perutnya. "Sekarang tinggal kita berdua," ucapnya sendu.


Namun tiba-tiba saja pergerakan dari dalam perut yang cukup kuat membuat Lona sedikit terkejut. "Mom nggak sedih kok." Mungkin sang buah hati dapat mendengar perkataannya dan ia tidak boleh sedih karena telah memiliki makhluk paling berharga dalam hidupnya.


.


.


.


Malam ini Lona kembali sendirian di tempat yang ramai oleh manusia. Mulutnya sibuk mengunyah sosis bakar, sedangkan tangan yang satunya lagi sudah menenteng beberapa jajanan.


Matanya terus melihat kesana-kemari, banyak penjual makanan juga wahana permainan di pasar malam ini.


"Dedek nanti naik itu juga ya kalau sudah besar." Memberikan elusan kecil di perut besar yang ia balut dengan hoodie over size. Rasanya senang sekali membayangkan nanti anaknya akan merengek minta naik komidi putar bersamanya.


"Lona kamu sendiri saja?" tanya seorang yang membuat Lona menoleh pada sumber suara.


Sosok wanita cantik berambut ikal yang sebaya dengannya itu tersenyum hangat padanya.


"Hari ini kan terakhir pasar malamnya di kampung kita Na, sayang kalau nggak cari camilan." Terkikik ketika melihat tangan Lona yang sudah dipenuhi beberapa plastik makanan.


Memukul pelan bahu Juney. "Kamu nyindir aku ya Ney." Tetap melanjutkan makan sosis meskipun di ledek oleh tetangga depan rumahnya itu.


"Hahaha, gapapa wajar kok Na, namanya juga bumil." Gemas sekali dengan ibu hamil satu ini yang tingkahnya selalu lucu.


"Kamu sendirian," ucap Lona melirik sekitar. "Dimana adik kamu si Jane?"


"Aku sama orang banyak kok, ada Jane, suami aku, kembaran aku sama temennya sama nenek juga ikut. Mau ikut rombongan kami, mereka lagi makan bakso kikil di ujung sana."


Menggeleng cepat, "nggak Ney aku sudah hunting semua jajanan, mau pulang aja." Menunjukkan kantung plastiknya.


"Na, kamu itu lagi hamil besar jangan kemana-mana sendiri kenapa sih," ucap Juney penuh kekhawatiran. "Biar aku anter pulang ya?" tawarnya kemudian.


Ini juga yang membuat Lona semakin betah di kota istimewa ini, banyak orang yang peduli dan sayang kepadanya. Padahal jika dipikir-pikir ia baru beberapa bulan ini mengenal Juney. "Nggak usah Ney, kan deket."


"Bawa mobil?"


"Nggak Ney, aku jalan kaki. Kata dokter suruh banyakin jalan sebelum lahiran." Menghabiskan sesuap terakhir sosis bakar berlumur saus miliknya.


"Ya kan juga nggak malem-malem gini Na, besok pagi juga bisa."


"Udah-udah aku nggak papa Ney, kamu cepetan gabung sama mereka takutnya ditungguin." Mengusir pelan wanita cerewet di hadapannya.


"Iya sih, kamu juga keluarnya malam terus lagi hamil gede gini." Juney sangat hafal jika mobil Lona keluar di malam hari pasti untuk mencari makanan. "Suami kamu mana lagi?"


"Suami?" tanya Lona sedikit bingung.


"Itu yang tinggi, item manis, pakai jas setiap hari."


"Ngawur kamu, udah dibilangin dia saudara tiri aku." Seperti itulah jawaban Lona saat semua orang menuduh bahwa Dalas adalah suaminya.


"La abisnya suami kamu nggak pernah kelihatan." Juney melipat bibirnya saat merasa salah berbicara. Para tetangganya juga sangat penasaran kenapa suami Lona tidak pernah kesini, juga Lona yang selalu sensitif jika ditanya tentang hal itu.


"Dia kerja di luar negeri," ucap Lona mengalihkan pandangannya, senyumnya menghilang begitu saja. "Aku duluan ya Ney, sudah malam," pamitnya tanpa menunggu jawaban dari Juney.


Menapakkan kakinya sendirian, langkah demi langkah terus menyusuri jalan sepi pedesaan ini. Sandal jepit miliknya menginjak daun kering bersamaan hembusan angin yang membawanya terbang.


Ia dekap erat sosok mungil yang berada dalam perutnya agar tak kedinginan, sampai ia terperanjat saat merasakan sesuatu hinggap pada tubuhnya.


Jaket kulit berwarna hitam itu melingkupi punggungnya, yang membuat langkah kakinya terhenti saat menghirup aroma maskulin seseorang yang begitu ia kenali.


Jantungnya berdegup kencang hingga tubuhnya membeku, enggan untuk menoleh ke belakang, bahkan Lona lupa caranya untuk berlari dari ketakutan ini.


.


.


.