
Bandar udara Changi Singapura di jatuhi hujan deras sore ini. Laki-laki dengan kacamata hitam itu menarik kopernya dengan tangan satunya yang sibuk dengan ponselnya.
Sampai tanpa ia sadari sosok berbadan tegap itu juga sibuk dengan ponselnya, hingga keduanya bertabrakan badan.
"Aduh!" pekik laki-laki itu saat badannya terpental satu langkah ke belakang. Sampai menyadari bahwa yang menabraknya adalah sosok yang tidak asing.
"Danu?"
"Pak Exel?"
Saling terkejut sama lain saat bertatap mata.
"Kamu ngapain disini?" tanya Exel terheran-heran, ini masih di hari kerja jadi sangat tidak mungkin Danu kesini karena urusan pribadi.
"Sa-saya itu pak. . . ehmm."
Mencurigakan, itulah yang dipikirkan oleh Exel saat melihat Danu yang tampak panik saat bersitatap dengannya.
"Saya habis mengantarkan dokumen penting untuk pak Leon," jawab Danu mengangguk lalu tersenyum kecut.
"Yakin tidak ada urusan lain?" Seperti biasa sorot mata tajam itu selalu mengintimidasi setiap orang yang ditatapnya.
Danu tampak bingung menjawabnya, namun suara panggilan membuat ia terselamatkan. "Itu pesawat saya mau berangkat pak," ucapnya menunjukkan tiket yang sejak tadi ia genggam. "Saya harus segera pulang ke Indonesia untuk menyerahkan dokumen."
"Terserahlah," sahut Exel mengedikkan bahunya. Melangkah lebih dulu ke arah yang berlawanan dengan Danu.
.
.
.
"Thank you, sir." Exel keluar dari taksi dan melemparkan senyuman pada sang supir taksi yang mudah membaur itu.
Kemudian mendongak menatap bangunan bertingkat dengan pagar yang begitu tinggi mengelilingi area rumah besar itu.
Sedangkan di dalam rumah itu semua anggota keluarga tampak berkumpul. Menghibur wanita yang mencobanya bangkit dari kesedihannya.
Meja ruang tengah di penuhi oleh bermacam-macam makanan juga camilan khas Indonesia. lidah yang sudah merasakan pekatnya bumbu nusantara memang akan terus ketagihan.
"Mau liburan?" tawar Leon pada putrinya sembari mengunyah molen pisang renyah itu.
"Kemana?" sahut wanita itu sembari menerima suapan klepon dari Momy nya. Ledakan dari gula merah yang lumer benar-benar memanjakan lidahnya. Untung saja Danu sigap saat Lona begitu ingin menikmati makanan Indonesia ini.
"Dubai? Paris? all you want sayang."
"Aku tidak ingin berlibur ke luar negeri Dad. Lebih baik aku segera ke Jogja saja untuk menyiapkan semuanya. Lagipula disana aku bisa bekerja dan berlibur setiap hari." Membayangkan itu membuat hatinya senang.
Merintis cabang perusahaan yang masih kecil di sana, juga menikmati keindahan kota Jogja setiap harinya. Memulai hidup barunya di kota ketenangan itu.
"Yakin tidak mau disini saja nak." Elena, Momy Lona tampak khawatir dengan keputusan putrinya. "Di sini kamu bisa bekerja dengan Dady mu, setiap hari bertemu Momy."
Tersenyum mengusap tangan Elena. "Aku tidak bisa meninggalkan Indonesia Momy, dan aku sangat ingin tinggal di pedesaan. Lagipula disana kan aku tinggal bersama nenek."
Kemudian Elena mengangguk pasrah. "Nenekmu pasti senang kamu mau menemani nya disana... ini habiskan klepon mu, sejak kapan kamu menyukai makanan manis seperti ini."
Baru saja Lona hendak menjawab, namun getaran ponselnya membuat ia segera meraih benda pipih itu.
"Angkat dulu siapa tahu penting," ucap Leon.
"Yes Dad." Menaruh bantal yang sebelumnya ada dipangkuan nya lalu berdiri menuju kamarnya di lantai atas.
Wanita paruh baya berlari tergopoh-gopoh menuju ruang tengah. Bi Ratih ART yang mereka bawa dari Indonesia itu hampir kehabisan napasnya.
"Ada apa bi?" tanya Leon ikut panik melihatnya.
"Ada tamu pak, i-itu.."
"Siapa bi?" Elena berdiri.
"Suaminya non Lona," jawab bi Ratih yang membuat Leon dan Elena saling berpandangan.
Sedangkan di lantai atas Lona menutup rapat-rapat pintunya dan menguncinya. Lalu berlari kecil menuju balkon untuk melihat siapa yang masih berdiri di teras rumah.
"Iya Nu dia disini," jawab Lona mengakhiri panggilan teleponnya dan matanya tertuju pada laki-laki yang masih menempati utuh di hatinya.
Hanya bisa memandanginya saja, ia pun berharap ini adalah untuk yang terakhir kalinya agar ia bisa cepat-cepat melupakan Exel dan menata kembali hidupnya.
Tapi kenapa Exel kesini di hari kerjanya yang super sibuk?
.
.
.
Kini Exel sudah duduk dihadapan kedua orangtua Lona. Mencicipi secangkir teh hijau yang beberapa menit lalu di persiapkan untuknya.
"Santai saja Exel," ucap Leon saat melihat menantunya itu sedikit gugup dan canggung dalam situasi seperti ini.
"Maafkan aku Dad, Mom, karena tidak bisa memperlakukan Lona dengan baik hingga dia memilih pergi."
Leon mengangguk. "Sebenarnya sangat di sayangkan untuk itu semua. Karena Dady begitu menyukaimu Exel, saat melihat dirimu Dady seperti melihat diri sendiri di waktu muda, gigih dalam bekerja, nakal saat di luar itu wajar namanya saja laki-laki. Tapi Dady bertobat setelah Lona datang di kehidupan Dady. Namun kembali lagi pada perasaan masing-masing, Dady tidak bisa memaksa mu ataupun Lona."
Berbeda dari kebanyakan ayah yang lainnya Leon benar-benar sosok ayah yang sangat open minded, mungkin karena ia tumbuh dan besar di negara barat jadi menurutnya tidak sepantasnya ikut campur terlalu jauh tentang rumah tangga putrinya. Membebaskan segala kehidupan anak-anaknya namun juga tetap mengawasi.
"Momy kecewa denganmu." Elena angkat bicara. "Padahal Momy sudah menganggapmu sebagai anak sendiri, kamu tahu sendiri kan Momy tidak memiliki anak laki-laki dan berharap kamu yang jadi anak Momy." Berbeda dengan Leon, kini ia menumpahkan segala kesalahannya.
"Ya Momy aku adalah sumber kesalahan dari semua ini. Berharap Momy dan Dady memaafkan ku adalah hal yang hampir mustahil. Jadi, apakah aku perlu berlutut agar Momy dan Dady memberi sedikit saja maaf untukku yang telah menyakiti hati Lona, juga agar aku bisa kembali ke Indonesia dengan tenang." Baru saja Exel hendak berdiri, namun Leon sudah mendahuluinya, menepuk pundak Exel.
"Tidak perlu, cukup dengan kamu kesini dan meminta maaf saja Dady sudah senang, kamu menunjukkan kelaki-lakian mu."
Tetapi itu tidak akan membuat Exel lega. Berdiri mendekati Elena lalu duduk di karpet bawah kaki wanita yang tengah menangis itu. "Maafkan Exel Momy." Mencium tangan Elena meskipun mertuanya itu terus memukul kecil pada bahunya.
"Kamu jahat sekali Exel. . hiks."
Bersamaan dengan itu wanita cantik yang tengah melihat cctv ruang tengah juga di derai air mata melihat kejadian di sana.
"Ya dia memang sangat jahat dari dulu Momy, tapi kenapa hatiku tak juga berpindah."
...****************...
Like, komen, and vote 💋