Remarried

Remarried
Ch 19 ~ Tidak Menginginkan



Haha cuti? liburan? itu hanya membuang-buang waktu saja. Malah sekarang laki-laki yang dianjurkan untuk berlibur itu dengan giatnya membolak-balik laman kerjasama antar perusahaan.


Bahkan pagi ini ia sudah duduk di bangku pesawat eksekutif untuk ke luar kota. Mana bisa ia bersantai sedangkan pundi-pundi uang melambai-lambai padanya.


"Ini kopi tanpa gulanya pak," ucap seorang pramugari menaruh secangkir kopi dan tak di gubris oleh Exel.


"Taruh situ saja kak." Rey assisten pribadi laki-laki itu yang menjawab.


"Kita disana berapa hari Rey?" Tetap fokus pada lembaran kertas.


"Tiga hari saja pak, setelah itu bapak bisa langsung beristirahat." Melihat laki-laki yang sedang flu itu memaksakan diri untuk bekerja membuat Rey sedikit kesal, pasalnya tidak ada yang bisa menasehati Exel yang keras kepala.


Mengangguk paham dan langsung meminum kopi itu. "Rey obat flu saya kamu bawa?"


"Bapak jangan ngawur ya, kan abis minum kopi mana boleh minum obat." Mengatakannya seolah-olah ia sedang memarahi anaknya.


Mendengus kesal Exel memalingkan wajahnya. "Saya bos kamu ya," ucapnya mengingatkan siapa tahu Rey sudah lupa akan hal itu. Mana cerewet sekali seperti ibu-ibu.


.


.


.


Mobil Alphard yang dikemudikan oleh Dalas itu berhenti di pelataran rumah joglo. "Kamu yakin mau kembali ke Jakarta malam ini?" tanya Leon di bangku depan yang baru saja melepas sabuk pengamannya.


"Iya Dad, ada pekerjaan penting yang harus segera di tangani." Menjawab dengan seulas senyuman.


Leon menepuk pundak Dalas yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri dengan bangga. "Jangan terlalu memforsir dirimu, jika lelah beristirahatlah."


Wanita yang berada di bangku belakang ikut menyahut. "Ya Dalas, jaga kesehatanmu, akhir-akhir ini kamu sibuk mengurus perusahaan dan menjaga Lona."


"Kalau buat perusahaan sama kak Lona, kak Dalas nggak kenal kata capek Momy." Vanilla gadis kecil itu berkata dengan penuh sindiran. Mungkin diantara semua anggota keluarganya ialah yang paling peka akan perasaan Dalas selama ini.


"Vanilla.." lirih Dalas menoleh ke belakang.


Senang sekali melihat Dalas kesal seperti ini. Vanilla merentangkan kedua tangannya keatas, tubuhnya pegal-pegal sehabis perjalanan jauh. "Ayo kita turun, aku sudah sangat merindukan kakakku tersayang." Tetap tersenyum diakhiri juluran lidah pada Dalas.


"Dasar..." gumam Dalas tersenyum saat melihat mereka hendak memasuki rumah dengan Vanilla yang meminta gendong Dady nya seperti masih bayi.


Sedangkan di dalam rumah itu, Lona dan nenek tengah duduk di kursi kayu ukir dengan posisi kaki Lona yang dipangku nenek untuk di pijat.


"Sudah mulai bengkak ya?" ucap seorang wanita yang begitu Lona kenali.


"Momy.." panggilnya dengan bersemangat dan hendak beranjak namun terhenti saat Elena memberi tanda stop.


"Biar Momy saja yang kesitu." Setelah menaruh satu paper bag besar di meja, Elena segera menghampiri Lona dan memeluknya.


"Dia sudah susah tidur, sama kakinya bengkak," sahut nenek saat Elena mencium tangannya. "Kayak kamu dulu."


"Itu kan hal yang wajar buk, yang penting sehat, makannya banyak." Leon mengusap rambut Lona dengan sayang.


"Jadi nggak sabar ketemu sama dedek bayi." Vanilla yang sudah memeluk neneknya hanya memperhatikan kedua orangtuanya yang sangat menyayangi kakaknya.


Ya, sebenarnya baru beberapa bulan ini hubungan mereka membaik saat drama besar awal kehamilan Lona.


Flashback


Lona mendekap erat perutnya yang pada saat itu kehamilannya sudah memasuki bulan ke lima, mencoba menutupi nya dengan jaket meskipun itu hal yang sia-sia.


Leon sudah berkacak pinggang dengan mata yang memerah. "Sudah lima bulan!" ujarnya lagi dengan intonasi tinggi.


"Dady ini orangtua kamu lo Lona, anak macam apa yang tidak memberitahu orangtuanya saat ia sedang mengandung." Menggelengkan kepalanya tak percaya melihat perut Lona yang sudah besar.


Sedangkan Elena sudah terduduk lemas dengan isak tangisnya. Tentunya sangat kecewa saat Lona menutupi kehamilannya selama ini.


"Kenapa Lona? apa alasannya menutupi semua ini," sentak Leon lagi.


Lona menunduk dalam. "Aku hanya tidak mau Dady dan Momy menyuruhku rujuk dengan Exel jika kalian tahu jika aku hamil."


"Astaga!" desah Leon begitu frustasi.


"Hamil muda itu masih rentan-rentannya," ucap nenek yang membantu Elena untuk berdiri. "Jadi nenek hanya bisa diam saat cucunya mengancam akan bunuh diri jika nenek mengatakan pada orangtuanya."


"A-apa?" Elena tak paham dengan jalan pikiran putrinya yang sejak kecil begitu cerdas ini, kenapa memiliki pemikiran seperti itu.


"Maafkan aku Momy." Berkata dengan penuh penyesalan, saat itu ia sedang hancur-hancurnya mencoba untuk tetap waras demi anaknya. "Maafkan aku yang lebih mengedepankan ego dan perasaan tanpa berpikir dengan otak yang jernih."


"Sekarang kamu sudah bisa berpikir jernih kan. Meskipun kamu tidak mau kembali bersama dengan Exel, tetapi dia ayah dari anak kamu yang harus tahu akan semua ini." Kali ini Leon mencoba untuk lebih tenang. Meraih ponsel pada sakunya. "Biar dia terbang kesini juga malam ini."


"Tidak Dady!" teriak Lona yang sudah bersimpuh di hadapan Leon. "Aku mohon jangan beritahu dia."


"Ilona Tanesa.." geram Leon mencoba bersabar.


"Aku mohon Dady." Pipi bulat wanita itu sudah di penuhi oleh buliran air mata dengan tatapan memohonnya.


"Kamu harus memikirkan perasaan anakmu juga Lona. Bagaimana nanti dia tumbuh tanpa seorang ayah disisinya." Mendekati Lona dan berjongkok agar bisa mengusap air mata itu.


"Aku benar-benar ingin pergi darinya Dady hiks... terlalu sakit saat mengingat semua, lagipula dia juga tidak menginginkan anak ini."


"A-apa maksudmu Lona?"


Flashback off