
"Sudah hampir malam, ayo makan dulu." Elena memilih mengakhiri perbincangan panjang mereka yang tak terasa luar sana sudah mulai menggelap.
Dari yang Elena tangkap dari perbincangan itu intinya, Exel ingin Lona bahagia melakukan apa yang ia inginkan dan karena Exel masih ragu dengan perasaannya sendiri, ia takut menyakiti Lona lebih dalam.
Jadi menurut Leon dan Elena biarkan mereka mencari jati diri tanpa kehadiran masing-masing. Kadang justru itu bisa menguatkan rasa, tapi kembali ke mereka berdua lagi semua ada di tangan mereka.
Takdir tidak pernah salah menentukan, sejauh apapun keduanya melangkah ke arah yang berlawanan jika garis kehidupan menyeret mereka untuk kembali, siapa yang tahu.
"Aku mau segera ke hotel saja Momy," jawab Exel merasa sungkan atas apa yang telah terjadi kedua orangtua Lona masih berbaik hati padanya.
"Momy tidak menerima penolakan Exel." Segera berdiri untuk menyiapkan makanan di ruang makan.
"Kamu nginep disini saja," sahut Leon meraih ponsel di hadapannya. "Biar Dady suruh pak Rony mengantar koper mu ke lantai atas."
"Ta-tapi Dad."
"Sudahlah anggap saja ini permintaan yang belum kamu penuhi selama kamu jadi mantu Dady."
Memang benar, mungkin hanya sekali saja ia menginap disini setelah pernikahannya dengan Lona, jadi Exel bisa berkata apa selain menjawab iya.
"Makanannya sudah siap, Dad ajak Exel untuk ke meja makan, Momy mau ganti baju sebentar." Elena yang baru saja dari dapur langsung naik ke lantai atas. Tujuannya adalah kamar putrinya yang kini tertutup dengan rapat.
Tok..tok..
"Nak, Lona... buka sebentar ini Momy."
Pintu itu terbuka perlahan, menampilkan sosok dengan rambut berantakan, bibir pucat yang bersembunyi di balik senyum palsunya itu.
Elena memilih untuk masuk ke kamar Lona, menutup pintu lalu menuntun putrinya untuk duduk di sisi ranjang.
Merapikan rambut Lona yang berantakan itu. "Mau makan apa? ayo makan."
Lona menggeleng lemah. "Aku tidak mau bertemu dengannya Momy."
"Baiklah Momy paham, biar bawakan makanan ke kamar saja kalau begitu. Makan yang banyak Lona, akhir-akhir ini kamu begitu pilih-pilih makanan, cukup hatimu saja yang sakit tubuhmu jangan sampai." Mengusap rambut anaknya dengan penuh sayang.
"Aku mau nasi ayam hainan saja Momy," rengek Lona yang masih seperti bocah enam tahun di mata Elena.
"Tapi bi Ratih sudah masak banyak sayang. Ehmmm... kamu beneran nggak mau ketemu Exel?"
"Nggak Momy."
"Tetapi Dady mu menyuruhnya untuk menginap disini malam ini. Kasihan dia, ini sudah malam jadi biar Exel menginap di kamar sebelah."
Bisa apa Lona selain pasrah dan mengangguk.
.
.
.
"Terimakasih Momy, makanannya enak banget." Exel mengusap bibirnya dengan selembar tisu setelah menghabiskan beberapa makanan penutup.
"Ya Exel Momy senang jika kamu menikmatinya."
"Dia tidak makan Mom?" tanya Leon yang dapat dimengerti oleh Elena.
"Oh iya, hampir saja lupa." Elena menengok pada bi Ratih yang sedang sibuk di dapur. "Pak Rony mana ya bi, saya mau minta tolong untuk belikan nasi ayam hainan."
"Pak Rony ke bengkel Bu, ambil mobilnya non--"
"Ya, yasudah bi." Potong yang Elena cepat sebelum bi Ratih keceplosan.
"Biar aku belikan Momy sekalian mau keluar beli rokok." Exel tiba-tiba menawarkan diri. "Di dekat mini market depan kompleks kan?" Ingat Exel yang dulu pernah kesana.
"I-iya Exel, apa tidak merepotkan." Jelas Elena merasa sungkan.
"Tidak Momy, memangnya untuk siapa?"
Leon dan Elena saling berpandangan, bingung hendak menjawab apa. Tidak mungkin kan mereka mengatakan itu untuk Lona.
.
.
.
Beberapa jam kemudian laki-laki itu kembali dengan membawa kantong plastik. Setelah mencari udara segar Exel memutuskan untuk kembali ke rumah itu.
Dari kejauhan sepasang mata tak bosan-bosan menunggu pesanannya datang, mungkin lebih tepatnya si pembawa pesanannya. Dari balkon Lona mengintip laki-laki yang sialnya masih terlihat tampan meskipun dari kejauhan.
Langkah tegapnya yang benar-benar cool, di tambah jaket hoodie kebesaran dengan topi yang menutupi rambutnya itu. Di pastikan kaum hawa akan benar-benar khilaf jika menatapnya. Tetapi kali ini ia tidak boleh goyah dengan keputusan yang sudah ia pikirkan dengan matang-matang.
Exel naik ke lantai atas saat melihat Elena juga tengah berdiri disana, menghampiri wanita yang baru selesai menelepon itu.
"Ini Momy, di taruh mana." Exel menyodorkan kantong berisi nasi ayam hainan yang ia beli tadi.
"Biar Momy yang mengurusnya, kamu istirahat saja di kamar sebelah." Elena menunjuk kamar kosong di samping kamar Lona.
Exel tampak menggaruk kepalanya, ragu ketika hendak mengatakan sesuatu. "Bolehkah aku tidur di kamar Lona, Momy. Sekali ini saja."
Mengerjap-ngerjapkan matanya Elena kembali bingung harus berkata apa. "I-itu Exel, masalahnya kuncinya terbawa Lona ke LA dan Momy masih belum memanggil tukang kunci untuk membetulkannya."
"Oh," ujar Exel dengan sorot mata kecewanya. Sebenarnya malam ini ia ingin melepas rindu pada Lona untuk yang terakhir kalinya. "Iya tidak apa-apa Momy, aku ke kamar sebelah saja."
.
.
.
Gelap malam dengan hembusan angin tidak membuat Exel beranjak dari balkon. Menghisap rokok lalu menghempaskan ke udara kepulan-kepulan putih yang terbang di bawa angin.
Beberapa menit lalu ia sudah mencoba untuk memejamkan matanya, namun mengapa susah sekali untuk benar-benar terlelap, jadi ia memilih untuk merokok di balkon kamar.
Setelah menikmati gelap malam di temani seputung rokok, ia kembali memasuki kamar. Memilih mandi agar tubuhnya segar dan cepat terlelap. Besok pagi-pagi ia harus sudah berangkat ke Jakarta, rencana liburannya gagal karena rapat mendadak di perusahaan Dady nya.
Setelah mengusap tubuhnya dengan handuk, Exel yang hanya mengenakan celana boxer itu menjatuhkan tubuhnya pada ranjang. Kebiasaannya adalah bertelanjang dada saat tidur.
Pada pukul tengah malam saat laki-laki itu sudah tertidur dengan lelap. Pintu kamar terbuka perlahan, kaki telanjang wanita itu perlahan mendekatinya, duduk di sisi ranjang dengan berhati-hati.
Memandang sosok rupawan dihadapannya, Lona tidak bisa menahan diri untuk menghampirinya. Mengusap lembut rambut tebal milik Exel.
"Untuk yang terakhir kalinya.." lirih Lona bergabung dalam selimut tebal yang nyaman itu.
Menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Exel yang penuh kehangatan. "Aku rindu," bisik Lona dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Melingkarkan tangannya pada tubuh berotot suaminya.
Biarkan malam ini Lona meminta sedikit saja kehangatan dari laki-laki ini, karena mungkin esok ia akan benar-benar kehilangan kehangatan ternyaman ini.
Cukup lama Lona memeluk tubuh Exel dan menghirup aroma maskulin yang begitu candu.
Namun matanya membulat saat merasakan pergerakan, buru-buru menjauhkan tubuhnya dengan posisi terlentang.
Kini tubuhnya benar-benar membeku saat tangan besar itu hinggap pada perutnya. Memberanikan diri untuk menoleh pada Exel yang ternyata masih terpejam, membuat Lona bernapas lega.
Ia genggam tangan besar itu di atas perutnya. "Terimakasih untuk ayam hainan nya, aku menyukainya. Bukan, lebih tepatnya anak kita yang menyukainya." Tersenyum kecut menatap langit-langit kamar.
"Curang! kenapa dia nyaman sekali saat dekat dengan Dady nya." Lona benar-benar tidak bisa menjauhkan tubuhnya.
"Sekali lagi terimakasih hadiah terindahnya. Setelah memiliki makhluk mungil dalam tubuhku aku tidak lagi membutuhkan apapun dan bisa pergi dari hidupmu dengan tenang."
Jika aku tidak bisa memiliki hati dan ragamu, buah hati yang kamu berikan sudah cukup untuk pergi dari rasa sakit yang kamu berikan selama ini.
Aku benar-benar sudah cukup dengan ini semua dan tidak akan lagi menganggu kehidupanmu seperti benalu.
...****************...
Semangat dukungan nya gas pol ya biar mikirnya juga bisa gaspol😂😚