Remarried

Remarried
Ch 21 ~ Jemput Paksa



Juna mengangguk-anggukkan kepalanya saat menikmati alunan musik jazz di dalam mobilnya. Tersenyum penuh kemenangan saat berhasil menjemput sasarannya.


Sedangkan laki-laki di sampingnya ini terus mengomel sejak tadi. "Bisa-bisanya lo ngikutin gue. Gue mau fokus kerja ya nggak ada libur-liburan."


Alih-alih mendengarkannya Juna malah memutar volume speaker nya semakin keras. "Gue nggak mau lo kena gangguan mental!" teriak Juna bersamaan dengan kerasnya musik.


Memijit pelipisnya Exel lebih baik menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya sejenak.


"Mau ke dokter?" tanya Juna saat melihat hidung sahabatnya memerah juga bibir yang pucat.


"Nggak usah," jawabannya yang sudah terpejam.


Hingga beberapa saat kemudian mobil Juna berhenti di sebuah rumah berlantai dua dengan tiang kayu di setiap sudutnya.


"Bangun udah sampek," ucap Juna sembari memfoto Exel dan mengirimkannya ke grup Unfaedah, agar para sahabatnya tau jika misinya berhasil untuk mengajak laki-laki ini berlibur.


"Lo gila ya," ucap Exel saat melihat rumah di depan matanya. "Kita nginep di hotel aja."


"No, no, no.." Melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil, Juna benar-benar tidak menerima bantahan kali ini.


"Juna," panggil wanita sepuh (tua) yang baru saja keluar dari rumah.


"Nenek..." Juna segera menghampiri dan memeluk sosok yang begitu ia rindukan.


Bukannya membalas pelukan neneknya justru menjewer telinga cucunya. "Udah berapa lama kamu nggak kesini anak nakal."


"Aw!" teriak Juna saat merasakan panas di telinganya. "Aduh nenek Juna kan masih sibuk." Memeluknya sekali lagi dan akhirnya sang nenek luluh.


"Kamu itu ya, udah satu-satunya cucu laki-laki, tinggalnya juga paling jauh lagi." Terus menggerutu karena lama tidak di kunjungi oleh sang cucu.


Dan tidak ada pilihan lagi untuk Exel kecuali keluar dari mobil itu. Membuka kacamata hitamnya dan tersenyum ramah pada nenek.


"Oh ya nek, ini Exel teman Juna dari Jakarta." Memperkenalkan laki-laki itu pada neneknya.


"Bagus banget Jun," puji nenek yang tak melepaskan pandangannya saat Exel mencium tangan keriput itu.


"Bagus?" tanya Exel yang tak paham.


"Bagus itu artinya jelek," sahut Juna yang mendapatkan pukulan di lengannya.


"Ngawur kamu itu, bagus itu artinya ganteng." Nenek mengacungkan jempolnya. "Ayo masuk cah bagus.."


.


.


.


Tidak ada jawaban malah Exel semakin menelusupkan kepalanya di bantal nyaman itu, entah sudah berapa lama ia tertidur tapi rasanya tetap kurang dan kurang.


"Makan dulu gih." Mengguncang-guncang kakinya lebih keras.


"Apasih," gerutu Exel yang masih memejamkan mata dan tidak beranjak.


"Cepetan mandi abis itu gue kenalin sama saudara gue, kita makan malem bareng-bareng udah ditunggu dari tadi. Gue tunggu lima menit ya nggak pakek lama." Meninggalkan kamarnya yang sejak tadi di kuasai oleh sahabatnya itu.


Berdecak malas, Exel akhirnya bangun dan meraih handuk yang berada di centelan kamar.


.


.


.


"Mana temen kamu kok belum keluar juga," gerutu wanita cantik memainkan rambut ikalnya yang tergerai.


"Sabar kenapa sih." Menatap malas pada sang rival, pasalnya sudah lima kali ini wanita cerewet itu terus menanyakan hal yang sama.


"Orangnya ganteng Ney," sahut nenek yang baru saja menaruh sebakul nasi di meja makan. "Kayak bintang film."


"Paling juga gantengan saya nek." Laki-laki yang semenjak tadi terdiam menyuarakan isi hatinya, kesal saat istrinya berantusias untuk bertemu dengan teman Juna.


"Bisa cemburu juga lo Do." Juna terkikik melihat hal itu. "Tenang aja istri lo yang biasa-biasa aja ini nggak akan menarik perhatian Exel."


"Kurang ajar!" Juney baru saja hendak melempar centong nasi pada saudara kembarnya yang selalu mengajaknya berperang.


"Aduh, aduh, kalian ini sudah besar masih saja bertengkar terus." Nenek geleng-geleng kepala. "Lihat itu cucu nenek satunya." Menoleh pada sosok cantik yang tengah menikmati serabi.


"Sudah cantik, anteng, pintar, nggak neko-neko." Mata nenek memancarkan kebanggaan saat menatapnya.


Jane, anak terakhir dari ketiga bersaudara itu memang sosok yang berbeda dari kedua saudaranya. Ia lebih kalem ditambah sempurna dengan cantiknya yang natural.


"Juna, kenalin temen kamu sama Jane." Nenek begitu bersemangat dan duduk di sebelah Jane. "Sebentar lagi kan Jane lulus kuliah jadi..."


"Nenek.." bantah Juna terhenti saat pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sosok gagah tinggi dengan rambut basahnya juga wajah yang segar sehabis mandi.


.


.


.