
Kakinya tiba-tiba menjadi kaku terasa berat untuk di gerakkan, dengan jantung yang berdegup lebih kencang, namun jiwanya begitu lemah.
"Lo kenapa?" Juna yang baru saja datang berlari kecil menuju Exel yang tubuhnya limbung dan hendak terjatuh.
Segera menangkap tubuh kekar itu dari belakang, dilihatnya keringat dingin sudah membasahi pelipisnya. "Lo sakit?" tanya Juna khawatir.
"Jun-juna.." lidahnya benar-benar kelu untuk sekedar berkata-kata.
"Ada apa?"
Telunjuk Exel menunjuk rumah di seberang jalan dan diikuti oleh bola mata Juna. "Kenapa? nggak ada apa-apa." Hanya rumah joglo besar yang pintunya tertutup rapat-rapat.
Perlahan kesadaran Exel terenggut hingga tubuhnya ambruk dan tak bisa Juna tahan.
.
.
.
"Tekanan darahnya rendah, demamnya tinggi.." Tangan Jane baru saja menyentuh dahi dengan suhu panas melebihi tiga puluh sembilan derajat tersebut.
"Kita bawa ke klinik saja." Juney ikut panik memperhatikan sosok yang tengah tergeletak di ranjang itu.
Juna sendiri bingung, bolak-balik mengecek ponselnya menunggu jawaban dari Gemilang, pasalnya Exel sangat sensitif terhadap obat-obatan dan ia hanya berani memberikannya obat dari dokter pribadinya.
"Tunggu sebentar lagi saja, kalau nanti demamnya masih belum turun kita ke klinik ya mas Juna." Jane menyentuh tangan kakaknya yang tengah panik.
"Iya, biar dia istirahat dulu saja. Jane kamu bikinin bubur buat dia, biar dia makan yang lembut-lembut dulu saja soalnya Exel juga ada asam lambung."
"Ya ampun mas Juna." Jane menutup mulutnya mengingat tadi pagi Exel meminum kopi. "Tadi pagi kak Exel minum--"
"Iya-iya aku paham, dia memang keras kepala tidak pernah memperdulikan kesehatan sendiri." Tapi sebenarnya Juna juga masih penasaran dengan apa maksud Exel menunjuk rumah di seberang jalan tadi.
"Ya sudah aku buatkan bubur dulu." Jane beranjak untuk berdiri dan meninggalkan kamar itu.
"Juna.." Juney yang tetap memperhatikan Exel.
"Hmm."
"Temen kamu kayak lagi ada masalah, banyak pikiran kayaknya." Kasihan sekali menatap laki-laki yang dari luarnya tidak kekurangan suatu apapun itu tapi dalamnya sedang retak berkeping-keping.
"Dia lagi ada masalah sama istrinya."
"Istri?!"
Juna sontak membungkam mulut kembarannya yang suaranya seperti petir di musim hujan.
"Diem, nanti dia keganggu."
"Ja-jadi dia udah punya istri?" Melotot tak percaya saat di perhatikan lagi ada cincin di jari manisnya.
"Mata lo buta," sahut Juna kesal.
"Ya maap kan aku cuma merhatiin wajahnya saja," jawab Juney begitu polos
Menghela nafas sembari mengedikkan bahu, saat ini Juna ingin sekali menenggelamkan kembarannya itu ke rawa-rawa.
"Nenek Tami yang tinggal di seberang jalan belum pindahkan?" tanya Juna.
"Belumlah, emang kenapa?"
"Nggak papa.." Juna baru saja hendak beranjak.
"Nenek Tami sekarang tinggal sama cucunya, aku jadi ada temen gosip deh."
Mengurungkan langkahnya, Juna kini mendekati kembarannya si biang gosip itu. "Cucu? siapa?"
"Dia sudah bersuami, hamil besar jadi lo nggak perlu kenal." Menonyor pelan jidat saudaranya yang hingga kini masih belum juga menikah itu.
"Selain itu siapa lagi yang tinggal disana?" tanya Juna menelisik, cukup penasaran dengan apa yang Exel lihat. Tidak mungkin kan laki-laki itu hanya berhalusinasi saja, Exel masih waras kan?
"Ya nggak ada nenek Tami sama Lona aja."
Mendengar nama yang tidak asing itu membuat Juna membelalakkan matanya. Menarik tangan Juney untuk keluar dari kamar menuju ruang tengah. Lalu Juna buru-buru mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto.
"Lona yang ini bukan?" Nama Lona begitu jarang, dan mungkin saja kan itu adalah orang yang sama hingga membuat Exel tidak sadarkan diri, jadi itu kesimpulan yang Juna dapat.
.
.
.
Mata tajam penuh kharismatik itu sekarang terlihat lemah, perlahan terbuka dengan sayu.
"Udah mendingan belum?" tanya Juna yang sedari tadi tidak beranjak dari samping Exel.
Memejamkan matanya sejenak saat merasa pusing di kepalanya. "Hmm.."
"Lo makan dulu, abis itu minum obat."
Sesaat kemudian kesadarannya benar-benar pulih Exel langsung beranjak duduk. "Jun.. Juna gue tadi lihat."
Mengangguk mengerti tapi justru Juna menyodorkan semangkuk bubur yang masih hangat itu pada Exel. "Makan dulu."
"Apa itu hanya halusinasi gue ya," gumam Exel memijit pelipisnya saat mengingat hal tadi.
"Lo makan dulu biar perut lo ke isi dan bisa bedain mana yang nyata mana yang halu." Juna terlihat lebih serius dari biasanya. "Atau mau gue panggilin Jane biar di suapin."
"Nggak-nggak," bantah Exel cepat dan segera merebut bubur itu. "Udah sore ya?" tanyanya saat melihat arah luar jendela sudah mulai gelap.
Setelah membiarkan laki-laki itu mengisi perut dan meminum obat, kini Juna duduk berhadap-hadapan dengan Exel di kamar itu, tampak gelisah semenjak tadi.
"Udah bisa berpikir jernih kan?" tanya Juna menatap Exel yang sudah lebih baik daripada sebelumnya.
Mengangguk dan menatap jendela yang menampilkan langit yang dipenuhi oleh bintang-bintang mungil.
"Jadi lo tadi itu nggak sedang berhalusinasi."
Exel menatap Juna dengan bingung. "Maksud lo apa?"
"Emang lo tadi pagi lihat apa?" Juna bertanya balik.
Terdiam sesaat dengan helaan nafas beratnya. "Lona, gue udah beberapa kali berhalusinasi lihat dia. Apa gue perlu ke psikiater ya?"
"Nggak kok, lo belum gila, mungkin sedikit lagi aja depresi.."
"Gue nggak bercanda Jun."
"Gue juga serius, siapin mental lo karena wanita yang lo lihat tadi pagi di rumah seberang bener-bener Lona." Kalimat yang sedari tadi Juna tahan saat melihat laki-laki itu tak berdaya.
"Gue udah pastiin sendiri," imbuh Juna saat Exel hanya terdiam seribu bahasa.
Menggeleng lemah, Exel masih tidak percaya meskipun ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Ta-tapi tadi dia i-itu.."
"Hamil? dan kemungkinan itu anak lo." Juna benar-benar berkata apa adanya, tidak menutupi sedikitpun informasi yang ia dapat dari Juney.
Exel berdiri dengan tangan yang mengepal. "Gue harus temuin dia Jun."
"Jangan sekarang," ucap Juna segera menghalangi langkah Exel. Memaksa laki-laki itu untuk duduk kembali.
"Tapi Jun--" Mencoba untuk memberontak namun ditahan kembali oleh Juna.
"Kendalikan dulu dirimu, baru temui Lona."
"Tapi itu benar anakku kan Jun, tidak mungkin anak orang lain kan?"
Kini Exel berada diambang ketakutannya atas apa yang akan terjadi. Memang dirinyalah sumber masalah atas semua yang terjadi.
"Jangan sakiti tubuh lo sendiri," ucap Juna tiba-tiba melihat Exel yang wajahnya sudah memerah.
"Lo kalau galau pasti nyakitin tubuh lo sendiri, jadi gue nggak akan biarin lo sendiri malam ini. Cukup terima aja semuanya yang udah terjadi dan berpikir lebih jernih lagi, gue akan cerita semua informasi yang gue peroleh dari Juney."
.
.
.
Maaf gaes kelamaan up nya, abis liburan xixi 🥰🥰🥰🥰