
Gemerlap sorot lampu berwarna warni, nyaringnya alunan musik, serta rasa pahitnya alkohol sedikit membuat Exel lupa akan masalahnya. Sengaja memesan ruang VVIP untuk berkumpul malam ini.
Duduk bersama ketiga sahabatnya yang kini hanya menatap kearahnya. Gemilang, Ben, dan Juna melongo saat beberapa botol minuman itu tidak juga menumbangkan Exel.
"Sudah beberapa bulan pensiun sekalinya come back gak mabuk-mabuk." Ben geleng-geleng kepala bahkan satu gelas sloki pun ia belum habis.
"Ada masalah apa sih dia?" bisik Juna menyenggol lengan Ben.
"Mau cerai," jawab Ben lirih sembari melirik manusia di hadapannya itu.
"Bukannya Exel nggak cinta juga sama Lona, terus masalahnya di mana." Juna berkata dengan santainya hingga yang jadi bahan pembicaraan pun menoleh padanya.
"Gue bener kan?" tanya Juna terang-terangan pada Exel.
"Dia pasti udah cinta sama Lona," sahut Gemilang menyindir. Lalu mendekati Exel, menepuk bahu laki-laki itu. "Jujur saja sama kita."
Exel menggeleng lemah, ia letakkan gelas sloki yang sudah kosong itu pada meja kaca di hadapannya.
"Gue nggak paham sama perasaan gue sendiri. Lo tahu sendiri kan gue pacaran seumur hidup baru sekali langsung tujuh tahun, sama Jen itupun temen gue dari kecil. Terlalu lama menaruh hati padanya, ditinggalkan, dan mati rasa. Jadi, kalian berharap gue tau apa itu cinta?" Sorot mata laki-laki itu kosong, seperti bingung dengan dunianya saat ini.
"Gue takut akan lebih menyakiti Lona saat gue nggak bisa kasih apa itu cinta sama dia."
Lagi-lagi Gemilang memberi tepukan kecil pada sepupunya yang mengenaskan ini. Ia paham perasaan Exel, saat ia sudah mulai mencoba membuka perasaannya pada Lona, wanita itu juga pergi.
"Mau peluk?" tawar Gemilang yang begitu geli di dengarkan manusia disana, juga sebenarnya hanya untuk penenang saja.
"Dih, najis." Exel menjauhkan tangan Gemilang darinya merasa risih sendiri.
Pukul 23.30 mereka keluar dari bar yang semakin malam semakin bertambah ramai itu.
"Masukin ke mobil gue aja," ucap Gemilang pada Ben yang tengah memapah Exel, laki-laki itu sudah tidak sanggup berjalan sendiri.
Setelah Exel duduk di sampingnya, ia hanya mengamati sosok yang terlihat kacau itu. Laki-laki itu matanya masih terbuka meskipun sudah setengah sadar.
"Lo bisa bohongin siapapun tapi lo nggak bisa bohongin gue." Gemilang mulai melajukan mobilnya.
Memang bisa dibilang dirinya lah tempat di mana Exel berkeluh kesah selama ini, karena Exel bukan type yang bisa terbuka dengan keluarganya.
"Lo cinta kan sama Lona." Sekali lagi pertanyaan itu menghunus Exel yang masih dengan tatapan kosongnya.
"Ya Gem."
Gemilang mengerem mendadak saat mendengar jawaban Exel. "Ha?"
"Aku mungkin telah menaruh hatiku padanya, entah sejak kapan tapi kehadirannya sangat terasa untuk hidupku." Memegangi kepalanya yang mulai berputar akibat alkohol yang ia minum.
"Terus kenapa nggak lo kejar? suruh Lona batalin perceraian kalian." Melajukan mobilnya lagi dengan pelan.
Exel menggeleng lemah. "Gue sadar terlalu banyak luka yang gue tinggalin di hati Lona. Karena perlakuan gue ke dia masih sama, gue juga nggak mau dia tersiksa lebih jauh karena nunggu perubahan gue yang lambat ini. Biar dia pergi mencari kebahagiaan."
"Lo rela kalau dia sama yang lain?"
"Asal dia bahagia kenapa nggak. Apapun itu gue ikut takdir aja sekarang, udah capek banget gue hidup." Berkata dengan lemas dan tak bertenaga.
"Hussst... jangan ngawur lo kalo ngomong." Menatap sinis manusia di sampingnya ini.
"Gue bener-bener nggak ada semangat buat hidup Gem."
.
.
.
Exel sudah tampak lebih segar daripada kemarin. Setelah mandi dan berganti pakaian ia lebih terlihat sebagai manusia waras.
Mengenakan celana jeans juga jaket hoodie nya, siang ini ia sudah siap terbang ke Singapura, tinggal memakai sneaker nya saja.
Ketukan pada pintu kamarnya membuat Exel mengernyit, ia tinggal disini sendiri dan hanya keluarganya yang bisa memasuki rumah ini.
"Iya," sahut Exel saat selesai mengaitkan tali sneaker nya.
"Ini Mami." Pintu terbuka menampilkan sosok wanita yang masih cantik meskipun sudah berumur.
Exel berdiri segera mencium tangan maminya. "Tumben mami siang-siang kesini?"
Tidak menjawab Retha malah memeluk anak semata wayangnya. Tiba-tiba terisak di pelukan Exel yang kini tingginya jauh diatasnya. "Dady mu memukuli mu sayang?"
Mengusap punggung Retha agar maminya itu tenang. "Exel nggak papa kok Mami, itu balasan yang setimpal dengan apa yang aku perbuat."
Retha melepaskan pelukannya, menuntun anaknya agar duduk di sofa. "Ayo sini cerita sama Mami, Mami nggak akan marah kok apapun keputusan kamu." Ya, karena merasa bersalah pada Exel di masalalu kini Retha begitu memanjakan putranya.
"Lona meminta untuk bercerai Mi, dan itu semua karena aku."
"Exel, sebenarnya yang tidak mau memiliki anak itu kamu atau Lona?" Pertanyaan yang selama ini Retha tahan akhirnya keluar juga.
"Ke- kenapa Mami bertanya seperti itu." Sedikit terkejut, karena memang hanya dirinya dan Lona lah yang seharusnya mengetahui hal itu.
"Kamu tahu kan Mami sangat ingin memiliki cucu, dan dengan menjengkelkannya Mami menemukan satu dus kond*m di kamar kalian." Wajah Retha terlihat kesal saat mengingat itu semua, usahanya untuk memiliki cucu selama ini sia-sia.
"Mami tidak sengaja masuk ke sini, karena waktu itu pintunya terbuka," imbuh Retha menjelaskan.
Melongo mendengar perkataan Maminya, rasa bersalah menusuk-nusuk hatinya.
"Tapi Mami kesal dan Mami pesankan saja kond*m yang bolong supaya Mami dapat cucu."
"Apa?" Exel hampir tidak percaya dengan perkataan Maminya.
"Sudah satu bulan lalu, dan Lona belum juga hamil berarti memang belum rejeki karena anak itu tidak kalian inginkan."
"Mami..." panggil Exel saat Retha terus memalingkan wajahnya.
"Nggak papa, Mami ngerti nggak usah merasa bersalah." Menggenggam tangan kekar Exel.
"Sebenarnya aku juga sudah ingin memiliki anak."
Retha mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya saat Exel berkata seperti itu.
"Aku baru saja ingin mengatakannya pada Lona, ingin mengajaknya makan malam romantis di restoran Jepang dekat kampus kita dulu." Menghela nafas dengan senyuman palsunya.
"Tapi malamnya kita bertengkar dan Lona mengatakan segala isi hatinya yang membuatku merasa sedih dan bersalah. Setelah itu aku benar-benar merasa menjadi manusia paling jahat karena begitu terlambat rasaku, perlakuan, juga perkataanku Mi."