
"Malam semuanya," sapa Exel menghampiri mereka di meja makan.
"Eh nak Exel, ayo sini duduk," ucap nenek mempersilahkan.
"Sini," sahut Juna menepuk kursi kayu kosong di sebelahnya. Exel segera duduk diantara mereka.
"Kenalin ini saudara kembar gue Juney." Juna menunjuk wanita yang masih terpaku atas keindahan Tuhan yang satu ini namun segera sadar saat suaminya menginjak kakinya.
"Ha-halo Exel."
"Halo..." balas Exel kemudian berbisik pada Juna. "Baru tahu gue lo punya kembaran, tapi kok nggak mirip."
"Banyak yang bilang gitu, ya karena emang gue ganteng sih," jawab Juna lanjut menunjuk laki-laki di samping Juney. "Kalau ini Edo suaminya Juney, sekaligus temen SMP gue dulu disini."
"Edo.." Laki-laki berkacamata itu mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Exel.
"Dan yang terakhir." Juna menatap sosok di hadapannya. "Namanya Jane, adik gue yang paling cantik."
Jane tersenyum sekilas pada Exel lalu menundukkan wajahnya saat melihat paras rupawan laki-laki itu.
"Dia kuliah di Surabaya mau lulus S1 kedokteran dan lanjut S2 sebentar lagi."
"Sudah kenalannya, nanti saja biar kenalan sendiri," ucap nenek sembari mengambil piring. "Ayo makan nak Exel."
.
.
.
Pagi ini Exel sudah bangun lebih awal, padahal matahari masih belum menampakkan sinarnya.
Duduk di meja makan bersama secangkir kopi hitam pekat yang beberapa detik lalu baru ia sesap.
"Pas kopinya?" tanya nenek yang sudah bergelut dengan alat masak.
"Pas nek, terimakasih kopinya."
"Mau kemana hari ini, pantai, air terjun, atau Malioboro?" Sembari menggoreng ikan nenek terus mengajak Exel berbicara. Raut wajah tampan itu memberi sinyal bahwa ada suatu beban yang tengah di pikul olehnya.
"Mau mancing saja sama Juna nek hehe."
"Jauh-jauh ke Jogja cuma mau mancing ikan?" Nenek tertawa mendengar itu.
"Nenek mas Juna nggak bisa di bangunin." Jane yang baru saja datang terdiam seketika saat melihat ternyata Exel juga berada disana.
"Mas mu kan memang nggak bisa bangun pagi Jane. Edo belum kesini?"
"Belum, mbak Juney juga nggak angkat telpon," ucapnya dengan lembut, seperti itulah gaya bicara gadis itu.
"Memangnya ada apa?" tanya Exel tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Itu Jane mau belanja ke pasar beli bahan makanan untuk berbagi ke anak yatim tapi dia nggak bisa bawa sepeda motor jadi harus merepotkan kakak-kakaknya." Nenek mematikan kompor. "Nak Exel bisa bawa sepeda motor?"
"Tolong antar Jane ke pasar bisa?"
"Jane jalan kaki saja ke rumah mbak Juney Nek, biar diantar mas Edo." Merasa sungkan bersama laki-laki yang asing baginya. Lagipula rumah mbak Juney juga tidak jauh dari sana.
"Bisa kok, ayo Jane aku antar."
"Yasudah sana Jane jangan nolak."
.
.
.
Sepeda motor Vespa matic yang di kendarai Exel itu sudah di penuhi dengan beberapa kantong plastik yang berisi sayuran dan bahan masakan lainnya.
Sedangkan wanita yang duduk di belakang juga sibuk dengan tas besar belanjaannya.
"Kenapa Juna tidak tinggal disini bersama kalian?" tanya Exel memecah keheningan yang sejak tadi merasa canggung.
"Katanya mas Juna terlalu banyak kenangan di kota ini kak, dan tidak semua menyenangkan." Tangannya berpegangan kuat pada jok belakang agar tidak bersentuhan dengan Exel.
"Maksudnya?" tanya Exel tidak paham.
"Dulu sebelum kuliah di Surabaya aku juga nggak paham apa maksud mas Juna, tapi setelah aku jauh dari kota ini aku paham betul. Jogja dan kenangannya kadang begitu menyakitkan jika diingat-ingat karena orangtua kami sudah pergi dan meninggalkan begitu banyak kenangan disini."
"Oh, maaf.." Merasa sungkan saat menjadikan suasana melow.
"Ini rumah Juney?" tanya Exel memberhentikan motornya di depan pagar rumah tingkat dua.
"Iya kak, itu mobil mas Juna." Menunjuk mobil Juna yang sudah berada di halaman rumah.
Saat hendak masuk Exel melihat mobil Alphard yang tidak asing baginya. Tapi mana mungkin, paling ia hanya salah lihat. Segera memasuki rumah saat pagar sudah di buka oleh Juna.
"Rajin banget pagi-pagi udah ke pasar." Menampilkan deretan gigi putihnya saat melihat wajah kesal Exel.
"Gara-gara lo," lirih Exel segera memasuki rumah itu, karena kata Jane ia dan Juney akan masak besar dan akan di bagikan pada anak yatim di panti asuhan.
"Ya maap..." Mengedikkan bahunya memilih langsung mengambil semua kantung belanjaan untuk di taruh di rumah saudara kembarnya.
Juna mengikuti Jane yang masuk ke dalam rumah, namun Exel yang hendak mengikuti mereka tersentak saat matanya melihat seseorang di seberang jalan.
"Lo-lona," lirih suaranya tercekat. Tubuhnya terasa lunglai, tidak berdaya saat melihat wanita yang ia cari-cari selama ini. Kepalanya berputar-putar saat ia hendak melangkah. Mengucek-ngucek matanya takut ini hanya halusinasinya saja.
.
.
.
Yuk gas lagi😁❤️