Remarried

Remarried
Ch 12 ~ Merelakan



Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi, cobalah untuk...


Tut.


Sudah beberapa kali sejak tadi malam Exel mencoba menghubungi wanita itu tapi hasilnya nihil. Ia hanya ingin memastikan bahwa Lona baik-baik saja sekarang.


Melempar ponselnya pada ranjang empuknya hingga terpental, Exel segera membuka jendela kamarnya.


Matanya menyipit tatkala sang surya pagi ini menyapanya secara langsung.


Setelah tertegun beberapa saat, ia memilih untuk segera meraih handuknya dan menuju kamar mandi.


.


.


.


Langkah kaki tegap dan berwibawa itu memasuki bangunan menjulang tinggi, perusahaan HCC group. Tentu semua karyawan sudah tau siapa laki-laki itu.


Exel Mawardi Utama yang merupakan menantu dari presiden director disini. Yang mungkin kedepannya juga ikut andil dalam perusahaan ini.


"Wah ganteng banget suami Bu Lona, gagah dan berwibawa, mau nangis gue lihatnya."


"Senyumnya ada lesung pipinya."


Beberapa karyawati tampak terpesonanya dengan ketampanan seorang Exel. Mungkin ia lebih pantas menjadi model cover boy daripada pemimpin perusahaan yang biasanya rata-rata sudah berumur.


Exel hanya menanggapinya dengan seulas senyum, tetap fokus pada tujuannya, yaitu lantai teratas di gedung ini yang merupakan ruangan Lona.


Semua staf di departemen atas juga tampak terkejut melihat sosok Exel berada disini. Mereka tampak berdiri dan menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat.


"Pak Exel?" Danu hampir tidak percaya ia ada disana. Segera menutup semua berkas yang ada di mejanya, lalu menghampiri laki-laki itu.


"Apa kabar, Nu?" tanya Exel yang terus berjalan menuju pintu besar diujung sana.


"Ba-baik pak." Berlari kecil untuk menyeimbangkan langkahnya dengan Exel. "Pak Exel tapi itu pak--"


"Biar aku yang memastikan sendiri. Lona pasti tidak mau menemui ku ya. Sebentar saja setelah itu aku akan pergi," jelas Exel memegang handle pintu seperti kristal itu.


Matanya menyapu seluruh ruangan. Elegan, mewah, dan benda-benda disana hampir semua terbuat dari emas.


Namun fokusnya kini pada sosok perempuan yang tengah duduk di kursi kerja dengan posisi memunggungi dirinya.


Hentakan demi hentakan semakin memangkas jarak diantara keduanya. Membuat ujung bibir wanita itu terangkat setelah mengetahui ada seseorang yang mengunjunginya pagi ini.


"Lona.." panggil Exel yang sudah berdiri di depan meja.


Kursi eksekutif itu berputar perlahan, membuat Exel membulatkan matanya saat melihat siapa sosok di sana.


"Vanilla?" panggil Exel pada gadis setengah bule berambut pirang disana.


Tersenyum dengan deretan gigi putihnya. Vanilla segera berdiri, meletakkan tablet yang sejak tadi ia bawa.


"Apa kabar kak Exel?" tanyanya berbasa-basi pada kakak iparnya yang mungkin sebentar lagi akan menjadi mantan kakak iparnya.


Meskipun sedikit terkejut, namun bukan itu titik fokus Exel. "Lona di mana?"


Menyilangkan kedua tangannya, Vanilla mendekati laki-laki itu. "Bukankah kakak suaminya, kenapa tanya aku." Tersenyum jahat, senang sekali melihat laki-laki ini dengan ekspresi bodoh seperti ini.


Berbeda dengan keluarganya yang menerima Exel dengan baik. Vanilla tidak pernah suka dengan laki-laki ini. Exel terlalu membuat banyak luka di hati kakaknya.


"Aku serius Van." Sorot mata tajam mengintimidasi gadis remaja ini.


"Yang jelas kak Lona nggak disini," ujar Vanilla menunjuk papan nama diatas meja.


...Chief Executive Officer...


Di buat terkejut lagi, saat bukan nama Lona yang terpampang di sana. Melainkan sosok laki-laki Exel kenal sebagai tangan kanan Leon, yang sudah dianggap sebagai anak sendiri.


"Pak, lebih baik kita bicara di luar saja," ucap Danu yang gugup karena mengetahui betapa tidak sukanya seorang Vanilla pada laki-laki itu.


Exel mengangguk, tidak ada gunanya ia berhadapan dengan Vanilla gadis berusia dua puluh tahun yang emosinya masih belum stabil itu.


Baru saja Exel dan Danu melangkah hendak keluar, tiba-tiba saja muncul sosok dari balik pintu itu.


Andalas Pradana, laki-laki itu sama terkejutnya dengan Exel. Namun ia menutupinya dengan senyuman tipis dan menundukkan kepalanya.


Tidak mau basa-basi, Exel langsung melewati laki-laki seperti robot yang dulu selalu mengawasi Lona dimana pun, kapan pun. Karena ia merasa tidak seakrab itu untuk membalas senyumnya.


.


.


.


Dua cangkir kopi panas baru saja pelayan letakkan pada meja kaca. Suasana kafe teras di seberang jalan HCC Group ini tampak ramai di jam makan siang ini.


Dua laki-laki itu duduk saling berhadap-hadapan. Exel melonggarkan dasi yang terasa seperti mencekik lehernya. Berbeda dengan Exel yang santai, Danu justru terlihat gelisah.


"Santai saja," ucap Exel meraih kopi yang masih mengepul tadi. "Minum dulu," lanjutnya menyesap kopi kental yang meresap kedalam lidahnya.


"Iya pak," jawab Danu sungkan.


"Jadi, dimana Lona?" tanya Exel langsung pada intinya.


Danu tampak menghela nafasnya. "Bu Lona sudah terbang ke Los Angeles tadi malam pak."


Jantung laki-laki itu bagai ditikam pisau yang begitu lancip. Tercengang mendengar jawaban Danu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya.


"Apa?"


"Bu Lona melanjutkan studi S3 nya disana pak. Seperti yang bapak lihat tadi, mulai sekarang perusahaan di sini di handle oleh pak Dalas." Menjelaskan dengan berhati-hati.


"S3?" ulang Exel lagi.


"Dia masih berstatus sebagai istriku, kenapa tidak meminta ijin padaku dulu." Exel terheran seolah semua ini sudah terencana entah sejak kapan.


"Ehmm..." Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Danu bingung harus menjelaskannya bagaimana. "Untuk perceraian bapak dan bu Lona saya yang akan mengurus semuanya."


Mungkin ini adalah keputusan besar dari Lona yang harus ia pahami, setelah menyakitinya seperti itu ia tak merasa sangat tidak pantas untuk menahannya untuk tetap disini.


Untuk permintaan maafnya, jadi Exel merelakan Lona pergi untuk mencari makna kata bahagia yang tidak Lona dapatkan dari dirinya.


Biarkan Lona terbang kemanapun ia mau, Exel juga belum paham dengan perasaannya sendiri. Daripada menyakitinya lebih dalam, lebih baik memang seperti ini saja.


Asalkan Lona baik-baik saja, sekali lagi ia tidak apa-apa.


"Oh ya, ini dari Bu Lona pak." Secarik amplop berwarna merah muda Danu letakkan di meja.


.


.


.


Info update follow IG @blueskyma_1