
Menikmati keindahan kota gudeg di pagi hari benar-benar kedamaian hati yang luar biasa. Ini hobi baru Lona, naik becak untuk bekerja agar dapat merasakan sejuknya angin pagi di kota ketenangan ini.
"Mbak Lona dedek mau sarapan apa pagi ini?" tanya pak Seno tukang becak langganannya. "Nasi pecel mbok yem?" ucapnya lagi.
Mengusap perut buncitnya Lona tertawa kecil mendengar pak Seno yang sudah hafal kebiasaannya. "Hari ini libur dulu pak, tadi pagi dedek sudah minta soto nambah dua kali."
Ya bagaimana badannya tidak mengembang di masa kehamilan yang memasuki bulan ke sembilan ini nafsu makannya terus meningkat, tapi tidak apalah inikan juga untuk anaknya.
"Nggak papa mbak wajar," sahut pak Seno terkikik. "Yang tidak wajar itu makan soto nambah satu kuali hahaha..."
Becak pak seno berhenti di ruko dua lantai yang tidak terlalu besar. Membantu Lona untuk turun, dengan perut besarnya itu sudah susah sekali untuk bergerak.
"Terimakasih pak seno," ucap Lona saat berhasil turun darisana, kemudian membawa tas selempang dan beberapa dokumen.
"Kenapa nggak cuti saja sih mbak, kan sudah mulai susah jalannya." Jujur saja siapa yang tega jika melihat perempuan hamil besar masih sibuk bekerja.
"Sebentar lagi mungkin pak, saya juga bingung kalau di rumah mau ngapain, di kantor saya cuma duduk kok anak-anak gak bolehin saja kerja berat."
Baru saja di bicarakan, dua wanita tampak keluar dari ruko itu. Fara dan Risma mengambil alih tas dan juga dokumen Lona.
"Makasih ya pak seno." Risma menggandeng tangan Lona untuk masuk kedalam.
"Mbak Lona ini sudah dibilangin kalau ada apa-apa mending suruh kita saja." Fara kasihan sekaligus kesal melihat bosnya yang malah semakin giat bekerja padahal sedang hamil tua.
"Iya-iya." Lona yang setiap hari diomeli mereka karena hal itu hanya bisa pasrah.
.
.
.
Setelah berkutat dengan komputernya Lona memilih mengakhirinya di jam 3 sore ini. Mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang. "Dedek capek ya, ayo kita pulang saja ya."
"Mbak Lona, ini buat dedek." Satu kantong plastik bening berisi rujak buah segar Bagus berikan pada Lona. Ini salah satu yang membuat Lona sangat betah menetap disini, semua karyawannya begitu perhatian padanya.
Menerima rujak itu dengan perasaan berbunga. "Makasih Gus, kamu tahu saja kalau dedek lagi pengen yang seger-seger."
"Saya kalau lihat rujak keinget mbak Lona terus," jawab Bagus dengan gurauannya. "Oh iya mbak, itu sudah ditunggu di depan."
"Pak seno?" tanya Lona yang sudah sibuk mengunyah mangga muda dengan lahapnya.
"Itu mas ganteng." Bagus menutup mulutnya dengan tangan gemulainya.
Mendengar itu membuat Lona merasa khawatir segera mengusap perutnya dan membatin amit-amit. Ya tidak apa kepribadian setiap orang memang berbeda tapikan ia sedang hamil.
"Yasudah aku pulang dulu ya Gus." Meraih tasnya dan segera keluar dari ruangan. Para pegawainya tampak masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, ia memang sering pulang terlebih dahulu jika sudah pukul tiga.
"Guys aku duluan ya." Lona melambaikan tangan pada mereka. Memang hanya sembilan orang karyawannya tapi selalu kompak dan ramai di jam istirahat.
"Cie udah di jemput," ledek Fara saat melihat sosok laki-laki yang baru saja memasuki ruko dan menghampiri Lona, sontak semua mata menoleh.
"Ayo kita pulang nona." Seperti biasa laki-laki itu selalu bersikap formal padahal sudah dianggap keluarga sendiri oleh keluarganya.
"Ayo," jawab Lona dengan mata yang mendelik kearah karyawannya saat tatapan mereka penuh dengan ledekan dan segera berjalan mendahuluinya.
Semua orang tak bisa menahan tawanya melihat ekspresi lucu wajah Lona. Ibu hamil itu selalu kesal saat karyawannya meledeknya bahwa Dalas adalah selingkuhannya. Karena Lona sendiri mengatakan bahwa suaminya kerja di luar negeri dan malah Dalas yang sering menjemputnya.
"Kalian penasaran nggak sih sama suaminya mbak Lona yang nggak pulang-pulang itu."
Sedangkan di luar Dalas dan Lona sudah menaiki mobil dengan mesin yang menyala. Senyuman tipis terselip dalam bibir Dalas saat wanita di sampingnya tidak berhenti mengunyah.
"Ini kan belum akhir pekan, kamu ngapain disini las?" tanya Lona dengan mulut penuhnya, memang biasanya Dalas dan Vanilla berkunjung ke Jogja di hari sabtu dan minggu saja untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.
"Ada kerjaan di Semarang nona, jadi saya sekalian mampir."
Tak lama kemudian mobil Dalas berhenti di depan rumah joglo modern dengan pelataran yang luas. Seorang wanita berambut putih terlihat sedang menyiram tanaman di teras.
"Loh Dalas disini juga?" tanya nenek begitu senang ketika melihat laki-laki yang sudah ia anggap sebagai cucunya itu.
"Iya nek." Dalas mencium tangan nenek dan dibalas dengan pelukan.
"Kalau tahu kamu kesini tadi nenek masakin bacem kesukaan kamu."
Menghela nafasnya, jika sudah seperti ini Lona hanya dianggap angin. "Untung Dalas nggak ngabarin, kalau ngabarin bisa-bisa makan bacem seminggu penuh," sindir Lona memasuki rumah.
Nenek dan Dalas saling berpandangan lalu tersenyum melihat tingkah lucu Lona yang pencemburu selama kehamilannya ini.
.
.
.
"Sudah aku bilang aku nggak tahu!" Vanilla menghentak-hentakkan kakinya begitu kesal saat manusia satu ini terus mengikutinya beberapa bulan ini.
"Lona tidak kuliah di LA kan, jadi kamu pasti tahu dimana dia?"
Tidak peduli semua menatap kearahnya karena teriakan Vanilla, di jam pulang kuliah ini Juna mencoba menyelam sambil minum air. Yaitu menemui Vanilla untuk menanyakan Lona sekaligus modus menjemput Erina agar Exel mengijinkan.
"Heh cowok mesum!" teriak Vanilla tiba-tiba membuat Juna membelalakkan matanya.
"Jangan sembarangan kalau ngomong," ucap Juna begitu panik saat semua orang menghampiri mereka, bisa-bisa ia di sangka mencabuli bocah cerewet ini.
"Sialan," umpat Juna lalu berlari dari sana.
"Kapok kan lo." Tersenyum jahat saat Juna panik seperti itu.
Juna menuju mobilnya yang untungnya juga tidak jauh darisana, terus mengumpat saat Erina tidak bisa dihubungi sejak tadi.
"Telpon Exel ajalah.."
"Halo..." jawab Exel yang baru saja menginjakkan kakinya di tanah air. Masih di bandara dengan assiten pribadinya yang berjalan di belakangnya.
"Lo dimana?"
"Di bandara ini baru nyampek."
"Jangan bilang lo ke LA lagi, udah berapa kali lo kesana selama sebulan ini?"
Ya, awalnya Exel hanya ingin melihat Lona dari kejauhan saja tidak lebih tapi siapa sangka data Lona tidak ada di dalam satupun universitas di LA. Membuatnya penasaran apa alasan Lona berbohong kepadanya untuk semua ini.
"Nggak Jun, gue ada urusan bisnis di Malaysia."
"Erina dimana kok gak angkat telpon?"
"Dia lagi ke Bandung ada acara keluarga, kenapa?... jangan bilang lo di kampusnya sekarang."
Mendengar itu Juna sedikit panik, takut Exel mengetahui modusnya selama ini. "Gue nyamperin Vanilla lagi, gue tanyain itu anak biar ngaku."
"Sudah cukup Jun, nggak usah."
"Ke-kenapa?"
"Gue udah tahu dimana Lona sekarang."
Tut.
...****************...