Remarried

Remarried
Ch 24 ~ Pasar Malam



Tetesan air mata membasahi kelopak mata laki-laki itu, mendengarkan Juna yang terus berbicara tentang Lona membuatnya benar-benar menjadi seorang pecundang. Tentang bagaimana Lona berjuang sendiri di saat kehamilannya.


"It's okay bro, everything will be okay." Juna hanya bisa mengatakan itu saat melihat betapa pilunya tangis Exel. Bertahun-tahun bersahabat dengannya, mungkin ini kali pertamanya melihat Exel menangis seperti ini.


"Gue hampir kehilangan tujuan buat lanjutin hidup Jun, bahkan gue pengen mati konyol karena mati-matian bekerja.."


Menepuk-nepuk pundak sahabatnya. "Lo sekarang punya tujuan buat hidup lo, dan sayangi diri lo sendiri untuk menyayangi anak dan istri lo."


"Gue mau ketemu dia Jun."


Entah sudah berapa kali Exel mengatakan kalimat itu, membuat Juna jengah. "Gini, sekarang kan lo lagi sakit dan Lona hamil, gue takutnya dia ketularan, ibu hamil rentan sama virus."


"Oh ya?" tanya Exel seperti orang bodoh.


Baru Juna hendak membuka mulut, namun pintu kamar terbuka dengan tiba-tiba. "Mas Juna.. hmm maaf lupa ngetuk pintu."


Exel hanya menunduk saat Jane mendorong pintu itu, mengusap matanya karena air mata sialan ini begitu menyedihkan sekali.


"Kenapa?" sahut Juna langsung beranjak mendekati Jane.


"Cari makan ke pasar malam yuk, sudah lama nggak jalan-jalan sama mas Juna." Memegang lengan berotot kakaknya, dengan mata mata memohon seperti anak kecil.


"Dimana dek?"


"Di lapangan deket sini mas, yang sebelah masjid."


Juna menengok pada Exel. "Lo nggak papa gue tinggal?" tanya nya sok perhatian.


"Udah, pergi saja." Menyandarkan tubuhnya pada sofa dengan mata yang terpejam.


"Kak Exel sudah mendingan kan?" tanya Jane mengintip laki-laki itu saat Juna menghalangi pandangannya.


"Sudah kok Jane."


"Kenapa nggak ikut saja kak." Exel memang sudah terlihat lebih baik daripada pagi tadi yang wajahnya begitu pucat. "Kasihan di rumah sendirian," ucap Jane lagi saat menatap Juna.


Benar, Juna juga takut sahabatnya melakukan hal yang tidak-tidak setelah mental dan badannya sedang kurang sehat.


"Ayo lo ikut saja sambil cari udara segar."


.


.


.


Riuh pikuk lapangan di penuhi dengan wahana permainan anak kecil juga berbagai jajanan khas kota istimewa ini .


Exel berjalan mengikuti keluarga ini yang terus kesana kemari untuk menikmati udara segar malam ini.


Juna dan nenek berjalan paling depan untuk mencari hidangan makan malam yang katanya paling mereka rindukan, Jane gadis kecil itu di tengah dan sudah memeluk boneka Teddy bear yang beberapa menit lalu ia dapatkan dari mesin capit, sedangan Edo dan Juney bergandengan tangan tepat di hadapan Exel.


Ya, sering kali ia merasa seperti ini, sendiri di tempat yang dipenuhi oleh puluhan manusia. Hanya saja ia merasa sepi saat tidak ada satupun manusia yang melihat kearahnya.


Sampai suatu ketika matanya terpaku menatap manusia paling berbeda di depan sana. Gemuruh di dadanya semakin terasa saat semua titik fokus dalam dirinya tertuju padanya. Daster selutut yang di balut dengan hoodie kebesaran, rambutnya terombang-ambing oleh angin serta bibirnya yang terus mengunyah membuat Exel sekarang tersadar apa itu cinta.


Tidak bisa di definisikan memang, tapi jika di tanya apa itu cinta? jawabannya adalah dia. Dia adalah seseorang yang memiliki sejuta makna dalam hidup Exel.


Mendadak Juna berlari kecil dan menabrak tubuhnya membuyarkan sejuta lamunannya.


"Jangan hampiri dia." Wajah Juna sudah panik, takut Exel tidak bisa mengendalikan diri. Namun di luar dugaan Exel hanya mengangguk dengan sorot mata yang terus menatap Lona.


Namun Juna menyipitkan matanya saat Juney malah menghampiri Lona. "Kita pergi aja darisini.." Menarik lengan Exel yang malah berdiri dengan kokoh dan tidak tergerak sedikitpun.


"Gue cuma pengen lihat dia dari kejauhan, rindu banget Jun.."


Juna kini yang tidak bisa berkata-kata, menepuk pundak Exel dan kembali menghampiri nenek, Jane, dan Edo. "Kita pesen bakso kikil dulu aja yuk," ajaknya mendahului mereka semua.


Kini Exel memberanikan diri untuk lebih mendekat. Bersembunyi dibalik gerobak penjual martabak manis itu.


"Mau rasa apa mas?"


Ibu-ibu dengan rambut sebahu itu menyodorkan menu dari berbagai rasa martabak manis itu.


Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Exel terpaksa menerimanya. "Rasa keju, kejunya extra tanpa susu ya Bu." Tersenyum sekilas saat ia masih mengingat martabak favorit Lona.


Kembali memperhatikan sosok yang kini sendirian dengan beberapa kantong plastik di tangannya sesekali mengusap perut buncitnya.


"Kamu sendirian?" gumam Exel yang menjadi sedih. Sampai wanita itu melangkahkan kakinya, buru-buru Exel mengikutinya.


Langkah kaki kecil dan lamban itu, sampai kapan ia akan sampai pada tujuannya, di tengah kegelapan malam ini. Tapak kakinya yang hanya di sinari oleh lampu jalan 5 Watt di tengah jalanan sepi tak berpenghuni ini.


Berani sekali wanita ini, tidak kah dirinya butuh sosok pelindung? sosok yang selalu berdiri tegap di belakangnya seperti dirinya saat ini.


Oh iya Exel hampir saja melupakan semua dosa-dosanya. Memangnya wanita mana yang akan minta di lindungi oleh orang yang sudah membuat sakit hatinya, seseorang yang menjadi sumber kekecewaan-kekecewaannya selama ini.


Langkah demi langkah semakin terasa dingin yang menusuk pori-pori kulit, angin-angin yang berterbangan membuat Exel khawatir dengan Lona dan sosok mungil di perutnya. Bagaimana jika mereka kedinginan dan menggigil?


Sampai Exel mendengar langkah kaki di belakangnya. Ibu-ibu itu hendak mengomel, namun Exel dengan sigap segera membungkam mulutnya dan menarik ibu penjual martabak itu di balik pohon.


"Maaf Bu, jangan teriak," bisik Exel menatap Lona di depan sana.


Membuang tangan Exel dan menunjukkan martabak yang tadi laki-laki itu pesan. "Belum dibayar!" geramnya dengan suara lirih.


"Maaf.. maaf.." Meraih dompet dalam sakunya, lalu mengambil lima lembar uang seratus ribuan.


"Banyak amat mas."


.


Jaket kulit berwarna hitam itu melingkupi punggung Lona, yang membuat langkah kakinya terhenti saat menghirup aroma maskulin seseorang yang begitu ia kenali.


Jantung Lona berdegup kencang hingga tubuhnya membeku, enggan untuk menoleh ke belakang, bahkan Lona lupa caranya untuk berlari dari ketakutan ini.


Memaksakan diri untuk menoleh dengan perlahan setelah beberapa saat.


"Ati-ati mbak jangan jalan sendirian malam-malam begini."


Mengerjap-ngerjapkan matanya, Lona bertambah bingung saat ibu-ibu dengan rambut sebahu yang tidak ia kenali ini menyodorkan plastik yang berisikan martabak manis.


"Jaketnya buat mbak aja biar nggak kedinginan, sama ini tolong di terima martabak manis full keju tanpa susunya."


"Maksud ibu?" Lona masih tidak paham dengan semua ini.


.


.


.


Makasih udah sabar nunggu 🥰🥰