Reincarnation Of The Light Family'S Windsword Mage

Reincarnation Of The Light Family'S Windsword Mage
Episode 33 - Pesta Perjamuan Kerajaan Ernk (XIV) Pasrah yang akan terjadi



...Pesta Perjamuan Kerajaan Ernk (XIV)...


...Pasrah yang akan terjadi...


Beberapa jam kemudian…


Setelah mengalami pertarungan yang cukup sulit untuk di angan dan perkiraan, akhirnya Edgar harus menerima kepahitannya. Karena kalah dariku dengan menerima luka cukup fatal. Jika saja Edgar seorang musuh, bukan seorang gelar tinggi saja, kemungkinan bisa dibunuh secara tragis.


Tapi, ia adalah seorang Pangeran Ketiga yang masih kecil dan akan naik jabatan di tahun akan mendatang, untuk itu aku berikan kesempatan ini buat ia. Namun Paman Eric menanyakan keadaan dengan sihir yang aku pelajari selama ini.


"Kevin, kamu tidak lukakan?" tanya Paman Eric melihat keadaan dengan mengangkat tangan dan memegang pipiku.


Keadaanku, masih sehat dan tidak mengalami luka karena ada penyembuhan dari sihir angin membuat diriku masih segar bugar, "A-ku, ma– sih sehat Pa- man," ucapku menarik tangan Paman Eric memegang pipinya dengan kuat, dengan sengaja Paman Eric mengerjai aku.


Edgar masih terdiam, termenung memikirkan pertarungan sebelumnya, dimana Edgar masih belum bisa menganalisis peluru angin yang ia hadang dengan tombaknya. Walaupun tombaknya masih belum pecah, tetapi bilah tombak runcing menjadi bengkok dan tergores kasar.


Rantai yang dimiliki Edgar masih tersambung sama tombaknya, dan belum rusak. Masih bisa diperbaiki. Cuma keadaan Edgar sekarang yang masih melamun memikirkan ini terbatuk menundukkan kepalanya.


Setelahnya, Ayahku datang menghampiri kami bertiga yang masih berada di ring pertarungan ini, tanpa bersuara ataupun bunyi langkah kaki. Kedatangan Ayahku membuat misteri, padahal Ayahku pergi mengambil barang untuk mengetes kekuatan sihir dan kekuatan mana yang dimiliki kami.


"Sudah Eric, kasihan Kevin. Kau kerjain pipinya sampai merah tuh!" tegur Ayahku melihatku dikerjai oleh Paman Eric.


Paman Eric masih dengan ekspresi tidak pedulinya masih mengerjakan dengan perasaan senang dan lucunya. Mengerjai diriku sampai puas. Sampai akhirnya Ayahku menarik tubuhku, dengan sihir cahayanya.


"Eh, aku kemana ini?" bingungku.


Aku ditarik oleh Ayahku dari Paman Eric terbawa ke atas dan sekarang sudah ada di pangkuan tangan Ayahku, aku bersyukur bisa lepas dari pegangan pipi dari Paman Eric sangat menyiksakan. Aku tidak tahu pipiku menjadi merah dan berdenyut.


Paman Eric masih duduk mengerjaiku sebelumnya ingin marah tapi sudah ada Ayahku menghalanginya, "Arsen! Berikan Kevin padaku!" perasaan Paman Eric ingin mau marah.


Ayahku mengerutkan alisnya membalas omongan Paman Eric, "Tidak, kau mengkhawatirkan anakku, ketimbang anakmu sendiri!" balas Ayahku membawaku pinggir dari lihatan Paman Eric.


Dari balasan tersebut, Paman Eric lalu ketawa kecil hanya bercanda saja, "Janganlah, serius Arsen aku hanya bercanda saja. Jangan terlalu dipikirkan," Ketawa Paman Eric lalu beranjak dari ia duduk dan berdiri menghampiri Edgar untuk menyuruhnya berdiri.


Tapi aku mengamati Paman Eric menoleh kepalanya kepadaku, ia dengan menyipitkan matanya dan memberikan kode tangannya seperti ingin mencubit aku lagi. Sungguh meresahkan sekali Paman Eric kalau sudah mengerjai aku dengan cubitan pipinya seperti mencubit binatang marmut saja.


Dan aku hanya bisa menutup mata dan tidak ingin melihat tingkah Paman Eric yang nyeleneh tersebut.


Akhirnya Ayahku mengeluarkan sebuah barang berbentuk benda menyerupai mutiara yang dapat menentukan kekuatan sihir yang dimiliki seseorang, nampak dari wujudnya bening dan transparan. Tapi ini membawa kekhawatiran bagiku.


Benda itu dikeluarkan Ayahku dari cincin sihir yang dimiliki olehnya, "Kevin, Edgar. Kemarilah untuk memeriksa kekuatan sihir kalian," kataku Ayahku memanggil kami, "Untuk mengecek seberapa besar kekuatan sihir kalian, jadi jangan takut untuk memegangnya," sambung Ayahku kembali.


Awalnya respon dari mutiara ini sedikit mengolah dan, tidak lama setelahnya cahaya timbul dari dalam mutiara tersebut, memberikan seberapa besar kekuatan yang dimiliki oleh Edgar.


Cahaya yang dikeluarkan oleh Edgar berwarna putih menandakan ia berada di tingkatan mana kekuatan murid dan sihir berelemen api tingkat pertama. Untuk cincin yang dimiliki Edgar belum ada, karena belum menerima kekuatan tambahan dari cincin spirit.


Sedangkan diriku yang sudah memiliki merasa ingin menghindar dari mutiara ini. Namun, Ayahku sudah melihatku sedari tadi dengan wajah khawatiranku, "Kevin, kenapa dengan dirimu?" tanya Ayahku pura-pura melihat aku ingin menghindar.


Karena Ayahku sudah tahu dari pengamatan ia dari melihat sihir anginku, aku pura-pura ingin pergi dari sini, "Hmm, Kevin ingin pergi dari sini. Apa boleh Ayah," Cengkirku ingin lari dari sini.


Akan tetapi, Ayahku sudah mengetahui kalau aku sudah ingin menghindar, "Kevin, jangan kabur. Ayah tahu kamu pasti punya sesuatu yang kau sembunyikan!" lirik mata Ayahku tertuju padaku.


Tanpa berargumen panjang, aku lalu lari menuju pintu gerbang keluar dari tempat pelatihan pasukan Kerajaan Ernk. Ketika aku sudah mendekati pintu gerbangnya, soalnya aku tertangkap oleh Paman Eric, "Paman lepaskan Kevin, Paman … arghh!" akupun berontak di gendong oleh Paman Eric, dengan keras aku berusaha. Namun aku sudah dijepit oleh kekuatan api Paman Eric.


'Zack, gimana ini aku tidak mau diperiksa!' panggilku pada Zack, tetapi Zack hanya merespon sebentar.


'Aku tahu Kevin, kita bisa pasrah saja dibuat oleh kedua orang tuamu,' Zack sudah tahu tadi, cuma terdiam dan pasrah keberadaan dirinya akan diketahui oleh kedua orang tua ini.


Setelah aku terdiam lemas, dan tidak berdaya ketika sudah berada di genggaman Paman Eric, kemudian Paman Eric menuju Ayahku dengan perasaan lucunya melihat diriku menghindar. Di sisi lain Ayahku tidak mau membela dan menuruti kemauanku, disitulah aku disuruh untuk mengukur kekuatan sihirku, "Kevin, giliranmu sekarang. Jangan takut Ayah, dan Paman tidak akan memarahimu ataupun memakanmu," canda Ayahku yang tertawa melihat aku terpasrah.


Akhirnya, aku meletakkan telapak tanganku di atas permukaan mutiara. Di dalam pikiran sudah terbayangkan apa yang akan terjadi.


Habislah terbongkar rahasiaku, dan semua yang akanku sembunyikan akan dikeluarkan oleh mutiara pembawa sial ini.


Tiba-tiba mutiara ini mulai beraksi dan menimbulkan cahaya yang berwarna sangat terang dan akhirnya rahasiaku memiliki cincin spirit roh terbongkar.


Nging!


Suara sangat menyakitkan di telinga berbunyi dari mutiara yang terpancar oleh mutiara tersebut akibatnya. Paman Eric, Ayahku dan Edgar termundur dan membangkitkan kekuatannya untuk menahan gejolak suara yang menyakitkan telinga mereka. Dan aku awalnya digendongnya lalu dilepaskan oleh Paman Eric.


Disini wujudku bercincin spirit roh muncul dan Zack juga keluar dari sihir ruangnya. Efek dari mutiara yang dibawa Ayahku membuat aku harus memberi tahu keberadaan Zack dan identitasku memiliki cincin spirit roh ini.


Setelah bunyi bergejolak mereda, Ayahku dan Paman Eric juga mengeluarkan wujud dan cincin spirit yang telah dimiliki mereka. Karena masih belum bisa membuka mata, dan akhirnya mereka membuka matanya yang termejam tadi.


Ketika Ayahku membukanya mata, alangkah terkejut dan tercengang Ayahku, langsung bersiap waspada untuk menyerang Naga yang muncul di ring pertarungan yang luas ini, "Kevin! Kenapa Naga sebesar ini bisa berada di sisimu!" teriak Ayahku memanggilku untuk menghindari dari Zack.


"Aaaa!! … I– itu na- naga as– asli!!" tunjuk Edgar pada Zack.


Sedangkan aku berada di dekat Zack yang terbang hanya bisa menepuk jidatku, "Haduh, berantakan sudah semuanya," pikirku susah akan menjelaskan kepada mereka nantinya.


Dan Zack hanya bisa menunjukkan dirinya, "Sudah ditakdirkan, diriku ini bakalan berkenalan dengan mereka semua Kevin," Zack sudah terpikir.