
...Pesta Perjamuan Kerajaan Ernk (X) ...
...Edgar Ernk...
Mata yang masih tertuju padaku, membuat aku terdian saja tidak membuat aku gemetaran. Seusai itu orang tersebut berbicara, "Siapa kau! Apa yang kau buat kesini!" tegur orang dengan lantang.
Aku pun menyahutnya dengan terbata-bata, "Ekhmm, Kevin ke– kesini hanya in– ingin mengetahui tempat i– ini saja tidak. Berbuat macam macam kok. sahutku yang langsung terdiam.
Seketika orang itu jongkok, melihat tubuhku dengan membalikkan badanku. Sambil memegang ia melihat dengan serius, "Lah, ini Kevin kirain siapa yang masuk tanpa izin," ucap orang itu ialah Paman Eric. Yang berbicara seperti orang marah memberikan teguran padaku.
Aku hanya menyipitkan mata untuk melihat orang, dari rupa hingga wajah. Melainkan itu Paman Eric sendiri menghampiriku ke gerbang itu sendiri.
"Siapa itu Eric?" tanya orang di ring bertarung, bersuara memanggil Paman Eric.
Paman Eric kemudian menoleh ke belakang membalas tanyakan tersebut, "Anakmu Kevin!"
Orang tersebut masih belum percaya sama balasan dari Paman Eric, karena aku masih terdiam menyipitkan mata.
"Hah, benarkah itu anakku? Tidakkah Kevin sama Astrid?" Tanya kembali masih kurang percaya.
Paman Eric malah memukul dagunya, "Kau tidak percaya, sinilah kau lihat sendiri!" sesal Paman Eric menyuruh orang tersebut kesini menghampiri Paman Eric.
Tidak lama orang tersebut menyimpan pedang kayunya sebentar dan lalu mengambil handuk untuk mengelap keringatnya di tubuh. Paman Eric yang masih berada di depan wajahku, kemudian menyuruhku membuka mata, "Kevin, buka matamu! Jangan takut ini Paman."
Setelah menunggu suruhan itu, aku membuka mata dan menatap tubuh Paman Eric yang berotot dan kekar penuh dengan keringat, serta luka bekas pertarungan.
"Kevin, bagaimana kau bisa kesini?" tanya Paman Eric memikirkan aku kesini secara sendiri.
Pertanyaan Paman Eric aku kesini. Sekejap aku memikirkan untuk menjawabnya, "Sebenarnya … Kevin kesini dituntun sama peri kecil Bibi Reina. Dia ada belakang Kevin." jawabku sambil menunjukkan peri kecil di belakang tubuhku.
Sesekali aku menoleh peri kecil itu menghilang ketika aku sampai disini, "Eh, tadi ada? Kemana peri kecil ini?" gerutuku mencari peri kecil itu di sekeliling gerbang masuk.
Tanpa dirasakan olehku, aku melepaskan pegangan Paman Eric yang kuat, Paman Eric merasa yang aneh padaku dari genggaman tadi. Hingga mengamati tangannya, karena aku tidak sadarkan ia langsung beranjak berdiri pindah menggendongku secara tiba-tiba tanpa bersuara.
"Eh Paman? Kenapa Kevin di gendong?" tanyaku pada Paman Eric.
Paman Eric mendengarku, ia menjawab dengan nada biasa, "Tidak, Paman. hanya ingin saja menggendongmu," jawab Paman Eric.
Paman Eric berjalan menuju ring tempat bertarung, seusai mau ke sana, aku di sambut sama Ayahku juga yang telanjang dada juga dan berkeringat juga gara-gara berlatih pedang sebelumnya.
"Oh Kevin toh, kenapa ia ada disini?" tanya Ayahku mengusap kepalaku.
"Entah mana aku tahu, mungkin saja anakmu mau kesini kali?" jawab Paman Eric mengerut muka bingungnya.
Dari sini, aku dipindahkan lagi ke pangkuan Ayahku, sudah itu aku dibawa ke tempat ring bertarung tersebut. Saat sudah sampai barulah aku melihat anak ketiga dari Paman Eric yaitu Edgar Ernk.
Anak ketiga Paman Eric ini berumur 2 tahun lebih tua dariku, ia memiliki sihir api yang sama seperti Paman Eric, dan senjata yang dimiliki Edgar berbeda yaitu tombak runcing yang panjang mempunyai sebuah tali yang dapat dilemparkan serba diarahkan.
"Edgar," panggil Paman Eric.
Edgar kemudian merespon dengan cepat bergegas berdiri menghampiri Ayahnya.
"Ini Ayah, perkenalkan kawan untukmu nih, kau kenal?" tanya Paman Eric menanyai Edgar.
Edgar hanya merespon jawaban Ayahnya, namun ia memperhatikan wajahku. Sedangkan Perasaanku diperhatikan merasa Edgar ingin menjahiliku. Karena dari penglihatanku ia sudah memberikan senyum kecilnya.
"Iya, Yah. Edgar akan berkawan bersama anak Paman Arsen," sahut Edgar memiliki maksud yang tersembunyi dari ekspresi senyum kecilnya.
Aku pun merespon ke Zack secara hati-hati, takut dikira mempunyai gelagat aneh, 'Iya, Zack aku tahu ia orangnya seperti itu,'
Zack pun merasa juga ada yang perasaan samar-samar tentang Ayahku, 'Kevin, apa Ayahmu punya Aura Naga Cahaya yah?' tanya Zack ingin mengenal Ayahku.
Aku pun sudah tahu Ayahku memiliki aura Naga Cahaya dari novel yang ku baca sebelumnya, 'Iya, memangnya. Kenapa Zack? Apa aura ini mengganggumu?' jawabku menanyakan keadaan Zack.
'Tidak, aku cuma teringat sama masa lalu Naga Cahaya yang pergi berperang bersamaku, cuma ia pindah dari benua lain. Karena ada permasalahan denganku,' jelas Zack yang mengingat masa lalunya.
'Hah, permasalahan apa yang kau buat dulu Zack?' tanyaku kembali.
Zack menjelaskan awal mulanya permasalahan, 'Ceritanya aku, membuat kesalahpahaman sama Naga Cahaya, dulu nama ia adalah Ares, ia itu terkenal dengan super perfeksionisnya dalam sarangnya. Karena aku tidak sengaja menghancurkan sarangnya karena aku ingin melindungi wilayah Ras Naga, pas itu aku masih berkuasa di wilayah Benua ******* karena ia tidak menerima anjuranku ia marah denganku aki–'
"Paman Arsen" sela Edgar.
Seketika, aku teralihkan sama suara Edgar memanggil Ayahku dengan menanyakan namaku, "Nama anak Paman Arsen yang digendong ini siapa?"
Ayahku lalu, menarik pipiku. Karena Ayahku merasa diriku melamun melihat cincin sihir yang ada di jariku.
"Kevin, ada yang menanyakan namamu deh, coba kamu kenalkan pada pangeran ketiga!" suruh Ayahku.
Namun, mukaku masih di cubit, "Iya, Ayah. Aku tahu! Tapi janganlah cubit pipi Kevin," keluhku menarik tangan Ayahku.
Sesudah keluhanku, Ayahku menurunkan aku untuk menyapa Edgar, siapa sangka tubuh Edgar lebih tinggi dariku walaupun umurnya dibilang sangat tua, dariku. Aku percaya diri untuk bisa menutupi kekuranganku.
"Namaku Kevin Lucien, panggil saja namaku Kevin," salamku membungkukkan badan pada Edgar, karena ia adalah Pangeran Ketiga dari Kerajaan Ernk ini.
Barulah dilanjutkan lagi oleh Edgar, "Salam Kevin, memperkenalkan juga namaku Edgar Ernk, kamu tinggal panggil saja Edgar," balas salam juga dari Edgar dengan percaya dirinya ia menyodorkan tanganku untuk berjabat tangan.
Aku pun menerima jabat tangannya Edgar, dengan perasaanku yang tenang aku bisa berkenalan langsung dengan Edgar Sang Pangeran Ketiga yang akan hilang di Perang Suci nanti.
Menjabat tangan awalnya lancar saja, namun Edgar menggenggam tanganku dengan kuat, ketika masih dalam kondisi masih menjabat tangan. Aku tahu Edgar sengaja memprovokasi, karena ia menganggap diriku yang masih muda ini nyalinya ciut dan tidak memiliki sihir.
Provokasi Edgar sangat bagus di situasi ini, dengan begini aku bisa mencari muka dihadapan Ayah dan Paman Eric. Sehingga aku membalas jabat tangan Edgar tadi dengan sentakan angin.
Sss..
Sampai akhirnya, Edgar melepaskan tanganku dengan menghempaskan tangan ia. Walau tanganku masih bertahan, tapi di Edgar. Tangannya mengalami sobekan di telapak tangannya.
Paman Eric dan Ayahku terdiam melihat aku menyerang Edgar, namun mereka lebih baik tidak meladeni urusan anak kecil. Sampai disitu Edgar merasakan kesakitan lalu Paman Eric bergegas menuju ia untuk melihat keadaan tangan yang terkena serangan tidak terlihat tadi.
Untungnya saja Edgar tidak teriak terkena serangan angin, melainkan menahan rasa sakit di dalam hati.
Dan aku pun berbalik ke hadapan Ayahku, di hadapan Ayahku yang tinggi dan badan kejar dan berotot itu aku melihat Ayahku seperti orang mau marah padaku, karena melakukan sesuatu tidak sopan pada Pangeran Ketiga.
Namun berbeda apa yang aku pikirkan, Ayahku langsung mengusap kepala sambil berkata pada ditelingaku, "Bagus, kalau gitu. Cobalah kau bertarung dengan ia Kevin! Ayah ingin melihat reaksi anak sombong itu kalah darimu!" Bisik Ayahku menyuruh bertarung dengan Edgar.
Dengan senyumnya, Ayahku punya sesuatu yang ingin diberikan oleh Edgar, namun terhalang oleh Paman Eric. Ayahku tidak bisa memberikan pendidikan tata krama lebih baik pada Edgar.
Sesudah aku dibisikkan, tangan Ayahku menunjuk ke arah Edgar, "Kau lihat matanya, ia ingin masih tidak mau kalah Kevin!" ujar Ayahku dengan suara kecilnya.
"Hajar, saja!" lanjut Ayahku.
Entah kenapa Ayahku, semangat sekali menyuruhku. Aku tahu Edgar menatap dengan tajam sedari tadi ketika Paman Eric menghampirinya sebelumnya.