
...Pesta Perjamuan Kerajaan Ernk (IV)...
...Tujuan Tercapai....
"Eh, bukankah itu anaknya Putri Astrid yang sombongkan?" tanya bangsawan iri itu memperhatikan dari jauh dengan lirik mata ketidaksenangan.
"Jangan kau mengakali aku, untuk kedua kali. Akhirnya kita terjerumus ke Penjara Besar ini, kena kau semua!" bentak Ibu bangsawan iri itu memukul kawanannya.
"Pandai kali nuduh orang, bukannya kau kali memfitnah aku, jelas-jelas kau yang berkata dulu yah." Balasnya kawannya bangsawan iri itu menunjukkan tangan ke mukanya.
Plak!!
"Akh!?"
"Lancang kali mulutmu berkata, sini aku remas mulutmu!" tangkas Ibu bangsawan itu dengan geram mencengkram mulut kawanan bangsawan.
Saking tangkas Ibu bangsawan iri membalasnya, kawannya pun tidak mau kalah juga membalas dengan menjambak rambutnya Ibu bangsawan.
Pertengkaran terjadi secara terbuka tanpa memakai busana satupun mereka bertarung dengan semangat sampai tumbang di jeruji besi itu.
"Haha, sungguh miris sekali hidup kedua bangsawan itu, sudah telanjang. Masih juga mereka belum jera," lirihku menyindir mereka.
Mataku melihat adegan menggelikan, seketika membuat aku tertawa atas penderitaan yang mereka terima.
"Sini, aku buat perkelahian kalian jadi lebih seru, hihihi!" tertawaku.
Tanpa memikirkan nasib bangsawan iri itu, aku melepaskan pisau angin secara tidak terlihat untuk menyerang langsung ke rantai anj*ng buas yang tidak sabar mencabik mereka.
Crack!!
Rantai di leher anj*ng buas akhirnya pecah, tanpa apa-apa anj*ng buas langsung mengejar bangsawan iri.
Ngukk!! Ngukk!!
Grrrr!!
"Tidak, anj*ng buas itu lepas dari rantainya?!" desak kawan bangsawan itu terbaring melirik anj*ng buas mengejar mereka.
Tanpa sadar Ibu bangsawan yang mencakar muka kawan bangsawan sampai berdarah, lalu teralihkan sama pembicaraan kawannya.
"Jangan bohong kau kep*rat!! Akhhh!! Tolong lepaskan ini akhhh!! Kepalaku!!" Jerit Ibu bangsawan iri terkena terkaman anj*ng buas melompat mengigit kepalanya.
Anj*ng buas yang merasa perutnya lapar dengan air liur keluar terus dari mulutnya, langsung menerkam kepala bangsawan iri. Tidak lama kaki dan tangan bangsawan itu dicabik dengan keras sampai robek dari tubuhnya.
Srekk!!
"Akh!! Tu– buh– ku!! Akhhh…" teriak kesakitan Ibu bangsawan.
Anj*ng buas mencabik dengan sepuas-puasnya tanpa suruhan. Mereka memakan semua daging segar dari manusia hidup, sampai akhirnya Ibu bangsawan tewas mengenaskan dengan tubuh hanya menyisakan tulang saja.
Grrrr!!
Hauh…
Suara lahap anj*ng buas senang sama hidangannya.
Sedangkan kawanan bangsawan ir yang terselamatkan hanya terdiam di pinggir jeruji besi melihat jasad Ibu bangsawan iri mengenaskan dengan tubuh tercabik-cabik dan darah begitu banyak bersimbah di lantai jeruji besi yang tempati ia.
Kejadian ini langsung dilihat di tempat sampai membuat kawanan bangsawan iri ini terdiam, merinding dengan matanya penakutnya menangis tidak mau kejadian tersebut menimpanya.
"Hehe, kenapa kau ada di pinggir sini yah?"
"Akhh!!! S-si-apa, siapa ka– u!?" kekeh kawanan bangsawan melihat orang belakang jeruji besi yang menakutkan.
Kawanan bangsawan iri, tubuhnya gemetaran melihat sosok yang tidak ketahui datang menghampiri ia.
"Siapa kau? Hihi, kau tidak perlu tahu siapa namaku hihi!" ledekku.
"Yang penting bagiku sekarang adalah membunuhmu hihi!" senyumku.
Kawan bangsawan iri mendengar perkataan dariku, lalu berdiri dengan tubuhnya telanjang membalas perkataanku dengan amarah besar.
"Dasar b*jingan kau!! Karena kau semua!! Aku harus menerima nasib sialku ini b*jingan!!" ketus kawan bangsawan biru itu memegang jeruji besi itu dengan keras.
"Seharusnya, kau sadar diri dulu deh. Siapa orang yang memulai menyambar api kepada orang, akibatnya kau harus menerima sambaran api lebih besar lagi,"
"Diam kau b*ngsat!! Aku tidak rela menghadapi ini semua!! Pokoknya aku harus menyiksamu!!" balas kawan bangsawan iri itu dengan ketus.
"Haha, percuma saja. Kau itu hanya bangsawan sampah buangan orang haram saja, sekarang hidupmu melarat saja, mana ada orang peduli mending kau mati saja." Sindirku memegang wajah berdarah kawan bangsawan iri.
"Kau!! Sini kau,"
"Terimalah nasibmu." Selalu dengan tersenyum melihat ia mati.
Tanpa berlama lagi pisau angin langsung menebas lehernya kawan bangsawan iri itu tanpa disadari olehnya.
Slash!!
"Kau, apain kepalaku? Kenapa kepalaku berada di bawah kaki b*jingan ini?" cemas kawan bangsawan iri.
"Kau tu–"
Ngukk!!
Anj*ng buas langsung menerkam kawan bangsawan iri, mencabik seperti kejadian pertama tadi. Tanpa sadar ia melihat tubuhnya sendiri digigit dan dirobek oleh anj*ng buas.
Walaupun kepalanya sudah putus, ia masih sadar melihat tubuhnya sendiri dimakan, dan aku pun membiarkan anj*ng buas ini menyelesaikan semua permasalahan ini.
Kawan bangsawan iri itu melihat ke arahku dengan mata menangisnya tidak bicara. Karena kepalanya terputus.
'Tunggu ka–'
Aku hanya berjalan pergi meninggalkan jeruji besi mereka dengan memberikan senyum melirik mereka yang tewas mengenaskan oleh cabikan anj*ng buas. Dan sampai akhirnya kepala putus kawan bangsawan iri itu, akhirnya dimakan secara ganas oleh anj*ng buas. Walaupun banyak cakaran, tetapi mereka memakan dengan lahap.
'Akhirnya selesai juga memberantas bangsawan parasit' pikirku.
"Kevin!!" teriak Bibi Reina memanggilku.
"Waduh, aku harus mengejar, jangan sampai membuat Bibi curiga sama perlakuanku!?" cemasku.
Tidak selang panggilan itu aku berlari menuju Bibi Reina di lorong penjara lainnya.
"Bibi, Kevin disini! Kevin tersesat karena tidak tahu jalan lorong penjara ini hehe," sanggah berpura-pura merasa tersesat.
Bibi Reina pun lalu menghampiriku dan menggendongku.
"Maafkan Bibi yah Kevin. Kayaknya Bibi harus berjalan pelanlah, agar kamu tidak ketinggalan lagi," sambut Bibi Reina merasa bersalah.
"Iya Bibi, Kevin maafkan," jawabku singkat.
Tidak lama setelahnya, Bibi Reina melanjutkan perjalanan ke penjara lainnya. Dengan berjalan pelan-pelan menelusuri beberapa penjara yang terkenal, tidak lupa juga ia menyuruh beberapa pasukan penjaga penjara untuk menuntunku berinteraksi terhadap para tahanan lainnya.
...----------------...
Beberapa menit kemudian…
"Huft kenapalah, harus aku memberilan makanan terus pada mereka," keluh pasukan penjaga penjara memberikan makanan pada bangsawan iri.
"Nih, makanan untuk kalian!" suruh pasukan penjaga penjara itu makan.
Tiba-tiba, pasukan penjaga penjara melihat di dekat jeruji besi terdapat sebuah benda bulat menyerupai kepala orang. Awalnya ia tidak menghiraukan, tapi ia penasaran sama hal tersebut.
Karena selama ini ia memberikan makanan pasti orang di dalam jeruji besi ini berebut
"Akhhh, a-apa ini!? Ke– kenapa semua bangsawan dalam jeruji besi ini menjadi bangkai tak utuh!?"
Pasukan penjaga penjara tubuhnya, tiba-tiba terjatuh melihat bangsawan iri yang selama ini ia berikan makanan. Berubah menjadi mayat yang tewas mengenaskan terkena cabik-cabikan anj*ng buas. Oleh karenanya ia menjadi panik tidak bisa berkata, kemudian kawannya yang mendengar teriaknya menjemput ia.
"Ada Henry?"
"Kau kenapa teriak di Penjara Besar ini?" sambung temannya yang lain.
Henry, nama dari pasukan penjaga penjara yang selalu mengawasi jeruji besi milik bangsawan iri. Ketika ia ditanya kawanan yang datang, Henry hanya mengangkat tangannya menunjuk ke arah jeruji besi.
Kawanan Henry bingung sama keadaan Henry yang berubah menjadi takut, biasanya ia jahil ngerjain kawan yang bertugas di penjara. Sekali kawannya melihat tangannya Henry yang gemetaran ini mereka maju secara pelan melihat isi di dalam jeruji besi yang menakutkan bagi Henry.
Ketika mereka menghampiri jeruji besi, mereka alangkah terkejut dan histeris menutup mulut. Mereka tidak menyangka tubuh bangsawan iri yang mereka tangkap tadi seusai pesta perjamuan, yang ada mereka telah berubah menjadi potongan boneka yang tubuhnya terpisah dari tubuh.
Mereka pun cuma bisa terdiam melirik ke arah anj*ng buas yang memakan kepala kawanan bangsawan iri dengan lahap tanpa memandang sekitarnya.
"Sungguh tragis, nasib mereka." Ujar Kawan pasukan penjaga penjara menggeleng-gelengkan kepalanya melihat keadaan ini.
Grrrrrrrkkk!!
...----------------...
"Huaahh, akhirnya kita keluar dari Penjara Bawah Tanah Kerajaan Ernk ini! Apa Kevin puas berjalan-jalan dibawah sana?" tanya Bibi Reina menoleh ke hadapanku.
"Seru Bibi, Kevin bisa melihat para tahanan penjahat yang terkurung dalam penjara dan juga Kevin bisa berinteraksi bersama mereka, ketika mereka ada waktu senggangnya," jawabku.
Bibi Reina merasakan aku sudah puas untuk berjalan di penjara bawah tanah ini, tidak berlama-lama untuk bertahan di sana. Karena Bibi Reina di dalam pikiran Bibi Reina masih luas penjara tanah yang belum dijelaskan oleh ia. Takutnya Bibi Reina mengira nantinya kalau penjahat sudah bebas mereka akan mengincar Kevin.
Terus terang pikiran tersebut melayang di pikiran Bibi Reina, bahkan ia mempercepat penjelasan seperti di singkat-singkat. Yang jelas aku sudah mendata banyak tentang penjahat yang akan aku gunakan di masa mendatang.
Hingga keluar, Bibi Reina menyuruh pasukan penjaga penjara ini untuk merahasiakan kunjungan ia bersama anak dari sahabatnya berkunjung ke markas interogasi milik Bibi Reina. Dengan lirikan mata dan alis Bibi Reina memberitahu pada pasukan penjaga penjara ini secara diam-diam.
Padahal aku mengetahui ini dari mimik wajah Bibi Reina, yang penting sekarang bagiku adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang penjahat atau komplotan di dalam Penjara Kerajaan Ernk yang akan aku jadikan kawanan atau pasukanku.
Tidak lama setelah gerbang menuju penjara bawah tanah tertutup secara perlahan-lahan dalam keadaan secara senyap tanpa bersuara dari katrol ataupun gerbang tanah tersebut. Bisa dibilang Penjara Kerajaan Ernk ini sangatlah rahasia dan di jaga secara ketat. Awalnya aku melihat proses penutupan gerbang ini begitu senyap.
Tetapi, hanya setengah saja aku melihat gerbang ini tertutup, tanpa melihat secara lengkap. Aku digendong dengan keadaan terpaksa Bibi Reina membawa aku pergi dengan cepat tanpa menoleh ke belakang satupun membawa aku lari seperti ada bahaya yang mengancam.
Darr!!
Terdengar bunyi keras dari belakang sana, walaupun jaraknya agak jauh. Tapi aku mengetahui bahwa pintu gerbang ini jika tertutup rapat akan bergema nyaring dan terpaan anginnya.
Bibi Reina membawaku pergi menuju ruangan tengah dengan lelahnya terbungkuk-bungkuk membawa aku yang tergendong olehnya.
"Hah… hah… Kevin, kayaknya Bibi lelahlah membawamu dari Penjara Bawah Tanah sampai ke Ruangan Tengah ini jauh-jauh," kekeh Bibi Reina kelelahan.
Aku pun hanya celingak-celinguk memperhatikan sekitarnya yang sepi, dan ruangan begitu senyap.
"Hmm… Bibi sepertinya bisalah istirahat dulu sebentar, sepertinya Kevin ingin ke lapangan pelatihan pasukan penjaga ada di mana yah, Bibi? tanyaku sembari memukul pelan tangan Bibi Reina.
Bibi Reina pun terduduk di sofa lalu memperhatikan aku.
"Kevin ingin kesana?"
Kepalaku menganggukkan dengan semangat memejamkan mata.
Bibi Reina hanya tersenyum dan mengelus rambut putihku yang lebat.
"Baiklah, Bibi. Tidak akan menuntunmu lagi, tetapi sekarang Bibi akan memakai sihir saja," usul Bibi Reina bilang padaku.
Seusai usulan itu, Bibi Reina kemudian membangkitkan Sihir anginnya berupa peri kecil dari elemen air yang seperti peri nyata. Namun, peri kecil ini tidak bisa berbicara padaku, melainkan hanya bisa didengarkan sama Bibi Reina saja.
Bibi Reina membisikkan peri kecil itu, sambil melirikkan padaku untuk membilang pada peri kecil untuk menuntun jalannya. Peri kecil kemudian meresponnya dengan sayap dan badannya memberikan ucapan salam dengan elegan.
Setelahnya peri kecil pergi terbang mendekati pipiku dengan jentikan sayap dan matanya seolah-olah ingin berkenalan denganku. Tanpa rasa aku merasa agak risih sehingga keluarlah Aura Naga Angin itu sedikit untuk membuat peri kecil itu segan.
Alangkah terkejut Peri kecil menatap tatapan mataku menyerupai Mata Ras Naga, kemudian ia memundurkan tubuh. Lari dengan ketakutan mengepakkan sayapnya berlari ke atas kepala Bibi Reina untuk bersembunyi.
Siapa sangka, hanya di gertak sedikit saja sudah membuat peri kecil ini takut dengan terbirit-birit. Apalagi melihatnya secara nyata. Bibi Reina merasa curiga sama diriku dengan berpura-pura menanyakan keadaan peri kecilnya.
"Kenapa kamu berlari menujuku?" khawatir Bibi Reina melihat peri kecil buatannya ketakutan melihatku.
Aku hanya terdiam meratapi Peri kecil itu untuk tidak membongkar aura tadi. Kekhawatiran Bibi Reina ini membawa ia mengintrogasiku, dari kepala sampai ke bagian bawah. Bibi Reina dengan mata seriusnya berpikir kenapa peri kecil merasa ada sebuah ketakutan besar menimpa dirinya.
"Bibi, katanya mau menuntunku bersama Peri kecil ini,"
Bibi Reina pun akhirnya merasa rasa curiganya terbongkar malah menuju ketawa kecil.
"Eh, iya hehe, maafkan Bibi. Peri kecil tolong antar Kevin menuju tempat yang aku suruh tadi!" suruh Bibi Reina pada Peri kecil buatannya.
Sampai akhirnya, peri kecil ini memberanikan dirinya untuk menghampiri diriku sekali lagi. Tidak lama Peri kecil ini tidak berkutik apa-apa diriku dan langsung menuntunku dengan perasaan takut. Seolah-olah ia merasa hawa menakutkan datang padaku.
Selesai sudah, akhirnya aku bisa berpisah sama Bibi Reina. Hingga tujuan aku telah aku dapat yang aku ingin untuk hari ke depan.
"Bibi, sampai jumpa kembali. Kevin ingin pergi ke lapangan pelatihan pasukan dulu!" salam ku melambaikan tangan pada Bibi Reina yang bersandar pada kursi sofa yang empuk di ruang tengah.
Tidak lama aku pergi dengan senyum senang bersama peri kecil.
Bibi Reina melirik padaku saat pergi meninggalkan Ia sendiri. Ia sedari tadi sudah melihat aku dari jauh, kemudian memikirkan apa yang tadi dilakukan Kevin saat berinteraksi bersama beberapa tahanan penjahat yang kemauan ia untuk berbicara.
"Entah, kenapa aku merasa ada sesuatu janggal sama interaksi Kevin sama tahanan penjahat 182 dan 201 yaitu Alerik dan Bran," pikir Reina mengingat ia berada di Penjara Bawah Tanah sebelumnya.
"Apa aku akhir-akhir banyak pikir berlebihan atau stres yah?" cemas Reina memegang dahinya yang merasa pusing memikirkan segalanya.
Lalu, ia menggeleng kepalanya dan beranjak dari sofa empuk itu.
"Aku tidak tahu pikiran anak kecil itu seperti apa,"
"Tapi aku akan mengawasi ia mulai hari ini!" teguh Reina berjalan menuju ke ruangan lain dengan tatapan serius memikirkan.
Tuk…
Tuk…
Tuk…
***
'Kevin, apa yang kau lakukan sama beberapa penjahat di tahanannya tadi?' tanya Zack di sihir cincin.
Zack melihat bagaimana caraku berinteraksi sama beberapa penjahat yang aku tandain untuk dibebaskan di tahun akan datang, makanya Zack terheran sama tingkahku.
'Kau tahu? Aku akan gunakan mereka sebagai apa?' tanyaku kembali.
'Tidak!?'
Aku tersenyum dan bilang kepada Zack secara terang-terangan.