Reincarnation Of The Light Family'S Windsword Mage

Reincarnation Of The Light Family'S Windsword Mage
Episode 21 - Pesta Perjamuan Kerajaan Ernk (II)



...Pesta Perjamuan Kerajaan Ernk (II) ...


Kedatangan seorang bangsawan yang membawa anaknya, menjadi perhatian oleh bangsawan lainnya yang melihatnya. Hal yang tertarik ini menjadi sebagian bangsawan bertanya-tanya siapa orang yang datang terlambat ini.


Sekira-kiranya adalah bangsawan pengusaha yang datang, melainkan Ayahku dengan Kelvin datang dengan pakaian sederhana nampak elegan. Aura yang dingin, sangarnya, membuat sekeliling bangsawan meminggirkan dirinya. Pesona Ayahku baru ini aku lihat seperti orang dingin.


Dari tatapan dan mukanya saja seperti orang datar, apalagi Kelvin yang mirip dengan Ayahku. Tidak heran bahwa setiap anak ada yang mengambil cetakan orang tuanya atau cerminan sifat orang tuanya.


Bangsawan melihat ini ada sebagian memberikan penghormatan pada Ayahku dan ada yang sebagian memberikan salam, dan sapaan. Karena sepengetahuan Ayahku adalah pendekar pedang cahaya yang terkenal di Benua Euforia begitu juga dengan Paman Eric, sesama kawan yang berkelana melakukan penumpasan penjahatan dan melakukan eksploitasi.


Sama-sama berasal dari Akademi Sheri yang berada di bagian barat laut, Benua Euforia. Terkenal akan pendidikan pedang yang sangat keras dan penuh perjuangan. Makanya, rata-rata Akademi Sheri dapat menghasilkan calon-calon pendekar pedang yang sangat kuat dan teguh.


Sampai dinilai oleh seluruh orang-orang di Benua Euforia sebagai akademi nomor 2 terbagus untuk pendidikan pedang. Tetapi, masih ada akademi yang dinilai lebih bagus daripada Akademi Sheri. Akademi itu sangat misterius dan siswa yang diterimanya sangat sedikit, begitu juga rintangan untuk penentuan calon murid baru disana sangat sulit. Akademi itu adalah Akademi Sherk.


Akademi ini sangatlah misterius oleh kalangan orang banyak, makanya belum banyak orang yang tidak mengetahuinya. Namun, dari novel kubaca cuma beberapa siswa yang beruntung saja bisa masuk dan dapat bertahan sampai lulus. Sisanya menyerah akibat tidak tahan akan pendidikan yang keras dan kakak kelasnya suka melakukan perundungan pada orang lemah.


Karena aku belum mengetahui fakta ini, lebih baik kedepannya aku memutuskan untuk melewati misteri ini.


"Hoii, kepala dingin. Sinilah kamu!" ledek Paman Eric memanggil Ayahku.


Ayahku yang berada dibawah merasa kesal dengan mengerut dahinya melihat ke atas Singgasana Raja. Tapi Paman Eric malah tambah ketawa melihat kesalnya.


Ayahku kemudian naik ke atas untuk memberikan salam penghormatannya, begitu juga Kelvin mengikuti Ayahku di belakang.


"Salam untuk Raja Kerajaan Ernk atas Pembukaan Pesta Perjamuan Kerajaan Ernk ini, saya Arsenio mengucapkan selamat atas kejayaan ini," salam dari Arsenio yang senyumnya terpaksa menyalami tangan Paman Eric.


Paman Eric melihat Ayahku, hanya tertawa karena tidak bisa menahan melihat ekspresi dinginnya terpaksa harus mengeluarkan kata-kata.


"Terima kasih banyak, Tuan Arsenio. Lain kali sering-sering berkunjung ke Kerajaan Ernk untuk merendahkan hati dinginmu yang terdalam," jawab Paman Eric sambil meledek Ayahku.


Akhirnya, tidak lama Paman Eric berpelukan pada Ayahku.


"Kau itu sebagai kawan seperjuangan dan kawan sejatiku selama ini. Kau melupakan aku saja karena aku hanya menjabat sebagai Raja di kerajaan ini, hah Arsenio!" keluh Paman Eric berpelukan sama Ayahku.


"Maafkan aku, Eric. Aku bukan melupakan kamu, tapi aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku yang harus aku bereskan," terang Arsenio yang agak terbawa perasaan sedih.


Setelah berpelukan lama, akhirnya mereka melepaskan pelukan tersebut.


"Sebagai penembusanku. Gantinya kau harus bertarung denganku memakai pedang kayu!" Tantang Paman Eric menunjukkan jari telunjuk kepada Ayahku dengan percaya dirinya.


Ayahku yang awalnya terheran, akhirnya menerimanya dengan senang.


"Aku terima, kalau kalah. Kau harus kasih aku jam tangan edisi terbaru ini!" taruh Arsenio dengan senyum.


"Baik aku terima, kalau kau kalah juga. Aku meminta permata diamond ungu!" putus Paman Eric juga tidak saling kalah sama taruhan Ayahku.


Keduanya saling beradu tatapan percaya dirinya. Bibi Reina yang merasa ini tidak bagus dilihat oleh anak-anak, sehingga Bibi Reina berinisiatif membawaku keliling Istana Kerajaan Ernk.


"Eric, aku dengan Kevin. Minta izin untuk pergi keliling Istana Kerajaan dulu yah," pinta Bibi Reina menegur Paman Eric.


Paman Eric pun merespon dengan bilang kepadaku.


"Boleh, silahkan saja Reina," ucap Paman Eric memberikan izin tersebut.


Tidak lama, Bibi Reina membawaku pergi dari Aula Kerajaan ini. Tidak lupa aku menyampaikan salamku pada Ibu dan Ayah.


"Ayah, Ibu Kevin pergi dulu sama Bibi Reina!" salamku dengan melambaikan tangan pada Ayah dan Ibuku.


Ayah dan Ibuku juga menyahutku dengan melambaikan tangannya dan juga memberikan senyum padaku. Tidak dengan Kelvin, kakak ini hanya menatapku sekejap kemudian mengalihkan pandangannya.


Karena aku sadar, tatapan kakak ini. Aku ingin membalasnya lagi, tapi keburu sudah turun dari Singgasana Raja.


"Kevin, mau rute yang mana dulu ingin dilewati?" tanya Bibi Reina padaku.


"Terserah Bibi saja, mau bawa Kevin kemana saja," jawabku yang pasrah dibawa kemana-mana.


Bibi Reina yang mendengarkan jawabanku, kemudian ia senang.


"Kalau gitu, rute pertama kita adalah Istana Kerajaan Ernk," ucap Bibi Reina dengan semangat.


Bibi Reina membawaku dengan melewati para bangsawan yang tengah berdansa di iringi oleh musik klasik dan roman, yang begitu candu sehingga suasana pesta perjamuan ini terasa begitu tenang dan tertib.


Walaupun Bibi Reina tidak menghiraukan keadaan sekitar, ia tetap percaya dirinya tidak akan terpengaruhi sama alunan musik ini. Karena bagi Bibi Reina alunan musik ini sangat membosankan, tidak menarik hasrat Bibi Reina bergejolak.


Sampai akhirnya Bibi Reina keluar dari Aula Kerajaan itu dibantu Pasukan Penjaga membuka gerbang di samping Aula Kerajaan. Seusai dibuka Bibi Reina membawa aku ke dalam sebuah semak rahasia yang bisa menuju ke Istana Kerajaan Ernk secara cepat tanpa harus melewati beberapa jalan yang jauh.


Semacam jalan pintas, aku harus berpeluk dari Bibi Reina agar tidak terkena sama tumbuhan merambat di semak itu. Sampai aku keluar dari semaknya, aku merasa kepalaku penuh dengan dedaunan kering yang tertempel di kepala.


Begitu dengan Bibi Reina, dedaunan keringnya tertempel di gaunnya, sangat banyak berampah.


"Kevin, Bibi turunkan kamu dulu yah. Bibi mau membersihkan gaun, Bibimu ini tertempel beberapa daun kering." ucap Bibi Reina sambil menurunkan aku kemudian membersihkan gaunnya dengan mengibasnya.


Kepalaku yang terasa penuh sama dedaunan kering, kemudian aku memakai sihir angin untuk membersihkan kepalaku.


"Huh, bersih juga akhirnya," hembusku.


Bibi Reina yang masih daritadi membersihkan gaunnya dengan lama. Aku langsung saja menggunakan sihir angin untuk membersihkan tanpa memakai izin ataupun ucapan apapun.


Tidak lama, sihir angin itu membersihkan gaun Bibi Reina dengan cepat, tanpa tertinggal dedaunan kering satupun yang tertempel di gaunnya.


Bibi Reina terkena semburan anginku, ia pun menutup matanya agar tidak terkena. Setelah selesai Bibi Reina membuka matanya melihat keadaan gaunnya telah bersih seperti semula.


"Kevin, apa ini, sihir angin milikmu?" tanya Bibi Reina yang masih bingung dengan keadaan.


"Iya, Bibi. Memangnya ada apa dengan sihir angin Kevin?" jawabku rada bingung juga Bibi Reina.


Suasana bingung tersebut lalu menjadi canggung terdiam sebentar. Dan Bibi Reina membuka topik barunya.


Setidaknya, aku tahu bahwa Bibi Reina ini penasaran sama kekuatanku dengan sengaja mendekatiku malu-malu. Padahal nampak jelas di wajah dan sikap Bibi Reina yang mudah bergaul padaku yang baru kenal sebentar.


Walaupun ini menyusahkan bagiku, tapi aku gunakan kesempatan ini untuk memancing Bibi Reina peduli padaku.


Di pikiran Bibi Reina.


Apa aku dicurigai tidak yah, sama anak kecil ini. Baru pertama kali aku lihat anak ini bisa mengeluarkan sihir kuat, sampai bisa menyerang orang bangsawan yang kuat, tadi.


Aku masih berusaha untuk membongkar, kekuatan anak kecil ini. Agar aku bisa manfaatkan ia kedepannya, walaupun anak orang tapi sebisa mungkin. Aku harus mengangkat ia menjadi anak angkatku.


Pikiran Bibi Reina memiliki maksud untuk berkenalan dengan Kevin secara jauh, sehingga Bibi Reina berusaha mengajak Kevin jalan-jalan mengelilingi beberapa tempat Istana Kerajaan Ernk.


Aku dibawa berjalan sama Bibi Reina, awalnya dari Taman Kerajaan Ernk yang sangat luas di sini Bibi Reina menjelaskan semua tentang Taman Kerajaan Ernk. Selanjutnya, aku berjalan lagi ke tempat Istana Kerajaan Ernk yaitu di tempat ruang tamunya yang besar seperti tempat penyambutan besar.


Dimana setiap interior ruangan ini berisi tulisan-tulisan kuno prasejarah Dunia Euro yang masih tersembunyikan, sampai aku ingin mencatat tulisan ini. Tetapi terganggu oleh penjelasan Bibi Reina berbicara terus layaknya pemandu wisata.


Setelah di ruang tamu, aku menelusuri semua di Istana Kerajaan Ernk sampai bertemu beberapa pasukan penjaga yang berjaga setiap saat. Namun, ketika aku berjalan keluar dari tingkat atas. Tidak sengaja aku bertemu dengan Pangeran I, yaitu Pangeran Charleston.


"Ibu, anak kecil siapa yang Ibu bawa?" tanya Pangeran Charles pada Bibi Reina melihat beliau membawa anak kecil.


"Charles, ini anak dari sahabat Ibumu, perkenalkan nama anak kecil ini Kevin," jawab Bibi Reina sambil memperkenalkan.


Karena aku tahu ini adalah sebuah etika formal setiap memperkenalkan diri, aku harus menjabat tangan.


"Mohon maaf, Pangeran Charles. Nama saya Kevin Luci–"


Tanpa apa-apa tubuhku sudah di sambar dengan aura ketidaksenangan dari Pangeran Charles ketika aku menjabat tangannya, tanganku yang begitu kecil ini harus menahan aura ini. Tapi bagiku, aku harus melaluinya.


"Pangeran Charles, apa Pangeran tidak puas dengan kehadiranku di Istana Kerajaan Ernk ini. Dan merasa tidak senang, jika aku dekat dengan Bibi Reina." Tangkasku dengan cepat menyadari Pangeran Charles.


Tangkasan aku membuat Pangeran Charles terdiam, tanpa sadar Bibi Reina merasakan perlakuan tidak enak pada putra pertamanya.


"Apa yang kau lakukan pada Kevin, Charles!" tegur Bibi Reina melepaskan tangan Pangeran Charles.


Pangeran Charles pun terpukul pada tangannya, lalu ia sadar.


"Tidak, Ibu. Aku hanya bersalam saja sama Kevin," kilah Pangeran Charles menyahut Ibunya dengan nada keras.


Bibi Reina merasa geram, lalu menyahutnya kembali dengan sergahnya.


"Kau, kira Ibu bodoh apa! Kau melakukan penyiksaan pada tangan anak kecil ini dengan aura sihirmu. Kau lihat tidak!" sergah Bibi Reina dengan keras membentak Pangeran Charles.


Bibi Reina berusaha menunjukkan tanganku yang merah dan sakit, dilakukan oleh Pangeran Charles. Padahal aku hanya berpura-pura saja untuk memancing sifat Pangeran Charles keluar.


"Tapi, Ibu anak itu hanya berpura-pura nangis! Dan mengapa Charles di salahkan!" sanggah Pangeran Charles berusaha meyakin Ibunya.


"Kau jangan bohong untuk beberapa kali Charles! Kau sudah banyak bermain wanita di belakang Ibu dan kau sudah menyakiti anak kecil yang Ibu bawa sekarang. Kau ingin berbuat ulah lagi sama Ibu, siap-siap aku buat kau babak belur di sini!" bentak Bibi Reina dengan keras memukul tubuh Pangeran Charles.


Pangeran Charles mendengar bentakan Bibi Reina akhirnya terdiam karena merasa sadar bahwa ia banyak bermain wanita. Dan tidak ingin menyahut lagi Pangeran Charles mengalah dariku.


Saking kesalnya Bibi Reina sama putra pertamanya, ia menggendongku untuk pergi dari hadapan Pangeran Charles.


"Kemarilah Kevin, kita lanjutkan keliling kita lagi. Jangan pedulikan Pangeran Charles, anggap saja ia angin lewat," suruh Bibi Reina menyuruhku untuk mendekat dirinya.


Dan akhirnya, aku digendong kembali sama Bibi Reina meninggalkan Pangeran Charles yang terdiam menahan kesal, Bibi Reina yang tidak memperdulikan ini kemudian aku memberikan sebuah provokasi pada Pangeran Charles di belakang.


'Nah, rasakan ini pengkhianatan!' Celaku mengacungkan jari tengah ke Pangeran Charles.


Pangeran Charles merasa geram dan dendam dengan diriku, tapi ia tidak bisa menyerangku karena masih di kekanggan Bibi Reina.


'Tunggu kau Kevin, akan ku cabik tubuhmu itu di lain hari Kevin, huftt Kevin!' jerit amarah dalam batin Pangeran Charles mengatakan nama aku berkali-kali.


Aku mendengar aura pembunuhan dari seseorang pengkhianatan ini membuat aku menjadi senang untuk melakukan provokasi lagi.


'Aku tunggu kau pengkhianatan, yang ada aku akan bongkar kasusmu yang penggelapan perdagangan manusia di Kota Cyrilo ini, hihihi,' balasku dalam batin menyahut Pangeran Charles.


Tiba-tiba, Pangeran Charles tersentak berhenti berbicara dan menolehku lagi ke arahku. Aku hanya memberinya senyum jahat pada Pangeran Charles jika saja ia berani melakukan sesuatu padaku.


Yang ada aku akan membongkar kasus penggelapan perdagangan manusia yang baru-baru ini Pangeran Charles lakukan pada bulan sekarang.


Pangeran Charles lalu terduduk dan tercengang, bagaimana masalah ini bisa diketahui oleh anak kecil. Padahal ia sudah menutup ini rapat-rapat dari publik dan masyarakat, tetapi Kevin mengetahui permasalahan ini.


Tidak lama setelah menghadapi Pangeran Charles tadi, aku berkeliling ke ruang singgasana yang asli dan megah. Disambut juga dengan beberapa halangan pasukan berjaga. Terkesan seperti tempat ini penuh dengan pasukan penjagaan setiap saat, kalau misalnya musuh ingin keluar. Apakah ia bisa mencari celah dengan penjagaan ketat ini.


Terkadang aku berpikir setiap pasukan penjaga ini berjaga terus setiap hari tanpa mengenal lelah, dan sampai ditugaskan untuk di lapangan. Tetapi aku belum melihat sedikitpun Pelayan Kerajaan Ernk ini, apa dalam penyamaran atau beristirahat di dalam kamar.


Akan tetapi, aku merasa sekeliling terasa seperti diawasi beberapa orang secara jauh mengamati kami. seolah-olah penjagaan ini secara diam-diam seperti seorang penjaga yang sudah terdidik profesional.


'Kevin, kenapa kau tadi bilang pengkhianat pada orang yang belum kau kenal itu?' tanya Zack dalam cincin sihir.


Seketika Zack berbicara padaku di dalam cincin ruang, sehingga membuat aku teralihkan pikiranku tentang Pelayan Kerajaan Ernk yang mencurigakan tadi.


'Ekhmm. Sepertinya, mulutku ceploslah Zack,' sanggahku yang tidak ingin membahas Pangeran Charles pada Zack.


Zack mendengarkan sanggahan dariku, malah menambahkan ia penasaran penuh.


'Tidak mungkin, mana ada orang bisa menceploskan berkata kurang ajar pada orang yang kurang kenal. Yang pasti orang itu punya maksud berkata seperti itu,' lirih Zack yang merasa ada maksud terselubungkan dariku.


Aku merasa Zack benar yang dikatakan secara lirih, sehingga aku merasa seperti bersalah tidak ingin menceritakan pada Zack. Tetapi ini lebih melenceng karena Zack bingung jalau misalnya aku menceritakan kisah nyata Pangeran Charles di masa lalu.


Jadinya aku di bilang sebagai seorang pengawur cerita. Oleh karena itu, aku harus berpikir secara singkat untuk menceritakan pada Zack agar ia mudah mengenalnya.


'Gini Zack,'


'Sebenarnya, Pangeran Charles aku panggil Pengkhianat itu …,"