Reincarnation Of The Light Family'S Windsword Mage

Reincarnation Of The Light Family'S Windsword Mage
Episode 31 - Pesta Perjamuan Kerajaan Ernk (XII) Berlanjut



...Pesta Perjamuan Kerajaan Ernk (XII)...


...Berlanjut...


Edgar merasa fisiknya masih kuat, berusaha menyuruhku untuk menyerangnya terlebih dahulu, akan tetapi aku hiraukan. Karena, ia juga masih menyimpan sihir apinya sebagian yang berada di tangannya. Misalnya aku mengeluarkan serangan maju, tidak memikirkan langkah dan akurasi serangan. Maka aku akan termakan sama jebakannya.


Karena aku belum mempunyai senjata, aku berusaha melindungi tubuhku dari tombak milik Edgar tersebut, 'Janganlah maju, Kevin! Aku rasa orang itu sengaja menyuruhmu untuk maju duluan,' saran Zack memberitahu kepada aku, bahwa ini sebuah ancang-ancang Edgar.


Zack memperhatikan gerak-gerik Edgar yang mempunyai niat tersembunyi, ia melihatnya dari gerakan dan postur tubuh menyimpan sebuah serangan sihir tersembunyi. Walaupun Zack berada di cincin sihir, ia dapat melihat dan merasa pendamping bertarung dengan sengit.


'Kau harus hati-hati! Aku tahu, bocah itu mempersiapkan sesuatu!' ujar Zack, setelahnya ia bilang kepadaku lagi, 'Kalau bisa, Kevin pancing ia melemparkan tombaknya! aku ingin melihat sihir apa yang disimpan!' sambung Zack kembali menyuruhku.


Aku mendengarkan segala omongan Zack berikan, aku berterima kasih pada sudah membantuku. Dan akupun tidak ingin bertarung dengan Edgar begitu lama.


Kamuflase angin, keluarlah…


Dan aku menghilang dari pandangan Edgar.


...----------------...


Di luar ring pertarungan Paman Eric berdiri merasa ada yang tidak beres dengan Kevin yang menghilang begitu saja dari pengawasan, "Arsen, aku harus menghentikan ini!" cetus, Paman Eric merasa tidak beres pada Kevin. Namun, Paman Eric di halangi oleh Ayahku dengan tangan kirinya mengangkat memegang dadanya Paman Eric.


"Jangan, biarkan aku melihat ini secara nyata!" tolak Ayahku.


Paman Eric merasa jengkel sama penolakan dari Ayahku lalu berkata, "Ini sudah melanggar kewenangan dalam pertarungan, Arsen. Jika ini terus berlanjut! Apa kau mau bertanggung jawab!" marah Paman Eric memegang tangan Ayahku untuk melepaskan dirinya.


Ayahku hanya merespon dengan meredam amarah Paman Eric dengan melirik tajam ke Paman Eric, "Iya, aku yang akan tanggung jawab dan kau jangan ricuh permasalahan ini!" balas Ayahku dengan kesan marah, "Inilah konsekuensi yang Edgar harus terima jika ia meminta bertarung, janganlah kau berhentikan mereka yang lagi di puncak bertarung. Biarlah mereka mencari pengalaman dan pengetahuan cara bertarung nyata!" sambung Ayahku menjelaskan konsekuensi yang harus diterima.


Demikian penjelasan tersebut, membuat Paman Eric merasa benar apa yang dikatakan Ayahku, ia memalingkan mukanya dengan rada kesal meredam emosinya, "Ckk…" sesal Paman Eric membalikkan badannya dan kembali ke bangku pengawas pertarungan.


Ayahku hanya melirik sedikit ke Paman Eric membalikkan badannya, sebelumnya Ayahku terlalu memancarkan Aura Naga Cahaya untuk mengancam Paman Eric untuk diam sehingga Paman Eric tidak berkutik, sama urusan ini.


Aku harap kau bisa, Kevin. inilah kejamnya dunia pertarungan. Jika kau tidak bisa mandiri dan tidak ingin tahu tentang Dunia Euro. Maka kau akan menjadi orang terburuk di antara orang berilmu.


Pikir Ayahku memberi dukungan dalam batinnya. Walau, ia merasa aku bisa melawan Edgar. Lucunya Ayahku bisa mengetahui tubuhnya yang menghilang dengan mata kuning naganya menyala.


...----------------...


Edgar merasa was-was terhadap sekeliling ring pertarungan, karena ia tidak merasakan kehadiran diriku yang bersembunyi menyerupai sebuah angin hening. Edgar melihat sekeliling dengan tatapan serius dan waspadanya, sambil merasa sekeliling. Ia juga tidak lupa memegang tombaknya dengan erat, namun aku pancing dengan meniup angin sekeliling tubuhnya agar ia bisa merasa hembusan angin biasa.


Hush…


Angin sekitar berhembus membawa suasana di ring pertarungan menjadi tegang dan hening, tidak kemungkinan membuat angin ini menjadi aman malahan sebuah peringatan. Edgar merasa angin ini sebuah sihi dariku ia tidak bisa tenang dengan bertarung secara diam-diam dan menghilang, "Dasar pengecut, tampakan diri kau! Jangan hanya menghilang terus!" tantang Edgar, kesal terhadap sihir dimiliki olehku.


Hal ini membuat aku menjadi senang ia menantangku, dan aku akan mencoba kemampuan serangan baruku yaitu gelembung angin dan seterusnya aku membuat sekitarnya tercengang dengan adanya gelembung angin.


Edgar melihat sekelilingnya kedatangan sebuah gelembung angin biasa yang ditiup oleh anak kecil di Kota Cyrilo, ia teralihkan pandangan sama gelembung angin tersebut. Sesampainya gelembung angin mencapai posisi Edgar.


"Eh?!"


Boom!!


Gelembung angin pecah membuat ledakan angin di sekitar ring pertarungan, sehingga Edgar terhempas dari posisi tengah ring pertarungan lalu terpojok dengan tombaknya ia tancapkan ke lantai ring tersebut.


Zack mengapresiasi kemampuan serangan yang aneh ini, "Bagus, tapi aku baru lihat. Kemampuan gelembung angin ini, bisa membuat bocah itu sampai terhempas," puji Zack, "Untung saja ia tidak terpental," tambah Zack.


Memang ini kemampuan baru aku dapat dari mengerjakan Misi Tahap Penuntasan oleh Art, sekilas aku melihat status dan hadiah aku dapatkan. Kemampuan sebuah keberuntungan dan keberhasilanku dalam mengerjakan misi ini.


Aku ingin mencoba-coba membiasakan kemampuan ini agar aku dapat terbiasa. Aku gunakan kesempatan, sebisa mungkin walau membuat Edgar jadi pelampiasannya, 'Kevin, aku sudah lihat, ia sudah menggunakan sihir api pelindung tubuhnya dari ledakan angin tadi. Aku sudah mengira bahwa tingkat api masih dikategorikan rendah,' pesan Zack menilai Edgar sebelumnya.


Pesan yang disampaikan oleh Zack membuat aku merasa terbantu dan disinilah aku mulai beraksi, 'Zack, saatnya mode bertempur!' Ujarku berpindah untuk menyerang Edgar.


Edgar dalam situasi tengah lengah, berusaha mengalihkan pikiran kacau kembali semula tanpa sadar aku datang menghampiri ia.


"K– kkau!"


Blar!!


Tinju anginku, ingin memancing Edgar kembali bangkit, namun dengan tangkas Edgar menghindar. Setelah Edgar menarik rantai tombaknya, "Kevin, aku tidak akan biarkan kau!" desak Edgar tertahan sama tinju angin.


Tombak Edgar terlepas lalu terayun di belakang tubuhku, dengan sadar aku menundukkan tubuh dan terlupakan aku Edgar memiliki sihir api yang bisa digunakan.


Burrrr!!


Semburan api dengan panas melayangkan ke hadapanku, dan aku berusaha berlindung dari semburan apinya. Edgar masih kurang puas sama kekuatan melemparkan tombak yang runcing dilapisi oleh apinya menuju ke arahku.


Splash!!


Tombak api runcing Edgar melayang tepat diarahku, "Benteng pelindung angin terbentuklah!"


Buum!!


Tombak api dari Edgar menimbulkan dentuman tabrakan kekuatan yang cukup keras membuat telingaku berdengung di dalam benteng angin tersebut. Tombak milik Edgar terpental ke belakang karena masih belum tembus sama bentang angin kemudian ia menggantikan serangannya.


"Rasakan ini Kevin!!" gerutu Edgar.


Edgar dengan kedua tangannya menyalakan sihir apinya lalu menempelkan kedua tangannya ke bawah, dengan tatapan senang ia merasa yakin sihir apinya dapat mengenai diriku.


Tidak lama tanah ring pertarungan berubah menjadi sebuah duri api tumbuh di bawah, aku awalnya meremehkan apinya Edgar hanya sebatas penguatan senjata tombaknya. Tapi ia juga bisa gunakan sihir apinya dengan akurat, "Sial! Kalau begini terus, aku harus membuat Edgar menyerah cepat!" desakku yang tidak tenang dengan situasi tertekan.


Edgar merasa puas dengan sihir duri apinya bisa menjangkau areaku yang jauh dari ia. Sehingga ia dengan geli hatinya ia merasa kemenangan yang cukup memuaskan, "Terimalah ini Kevin!" Sergah Edgar dengan mengejutkan.


Kemudian Edgar menambah kobaran api liar keluar mengarahkan padaku semua. Serangan sihir api ini membuat aku terperangkap di ambang hawa panas yang kuat.