
...Pesta Perjamuan Kerajaan Ernk (IX) ...
...Perkiraan...
'Jangan lagi kau ngingat yang tadi tuh Zack. Jadi malu aku memikirkan tuh,' tegurku pada Zack yang mengingat kejadian pasukan penjaga penjara sebelumnya.
Zack tertawa terbahak-bahak di dalam cincin sihirnya, 'Makanya, jadi orang tuh janganlah ragu untuk mencoba hahahah," tawa Zack terngiang-ngiang, 'Kalau misalnya aku tidak bantu Kevin, mungkin sudah heboh tuh. Hahaha." sambung Zack lagi.
Aku pun tidak tahan mengingatkan kejadian tersebut, tapi Zack terus mengulas ini, "Untungnya, aku bisa selamat dari kecurigaan Bibi Reina, kalau tidak. Pasti aku sudah diinterogasi dengan serius," ujarku dengan muka datar melirik ke cincin sihir.
Zack lalu menjawab kembali, "Tetap saja, tuh. Bibi Reina mencurigaimu, walau kau sudah pergi jauh dan tidak memikirkan ia lagi."
Aku mendengar jawaban Zack dengan santai aku berkata, "Ah, bodo amatku. Biarkan saja Bibi Reina curiga atau tidak, tapi aku bisa menyampaikan tujuanku disini," senyumku memamerkan keberhasilan pada Zack.
Zack hanya terdiam, kemudian bersuara, "Eleh, mau pamerkah nih?!" cibir Zack merasa ia tidak berguna.
Balasan, "Iya…"
Seketika aku tertawa bersama Zack, karena saking bahagia merasakan satu sama lain bisa membantuku banyak dalam melewati rintangan ini. Peri kecil yang menuntun kami berjalan ia hanya bisa bingung dengan keadaan yang ketawa sendiri, padahal ia ingin tahu apa yang lucu diketawainku.
...----------------...
"Haauucuh, ehm. Ada yang ngomonginku dari belakang nih!" sesal Reina yang terbatuk saat duduk. Karena ia lagi melakukan penyelidikan terhadap Kevin.
Setelah bersin tadi, Reina lalu terfokus kembali menatap pasukan penjaga penjara yang ia suruh tadi dengan lirikan tajam dan serius.
"Jadi, gimana. Kalian mengantar Kevin kesana, apa ada yang mencurigakan di mata kalian," ujar Reina yang terdengar jelas dan tegas menanyakan pasukan penjaga penjara tersebut.
Dengan tatapan tajamnya, sambil bersandar di kursi dan kakinya satu mengangkat ke atas lutut, membawa hawa sekelilingnya menjadi tegang. Pasukan penjaga penjara yang berdiri di depan Reina cuma tertunduk kepalanya, dan tidak berani menatap wajah Reina yang tegas.
"Kami jujur, Ratu. Kevin hanya di penglihatan kami. Ia hanya berkeliling di penjara utama dan banyak melakukan interaksi dan bersosialisasi bersama para tahanan di dalam penjara," jelas pasukan penjaga penjara dengan jujur dan lantang menjelaskannya.
"Ia juga, ramah kepada tahanan lain. Dan juga tahanan lain itu berbagi cerita tentang kehidupan tahanan. Selama di penjara ini," tambahnya.
Spontan, Reina langsung memikirkan penjelasan dari pasukan penjaga penjara. Ia mengerutkan wajahnya sambil memikirkan ini, walau bibirnya di gigit. Tapi Ia merasa belum puas sama kecurigaannya.
"Kevin, tidak macam-macamkan sama kalian?" tanya Reina kembali dengan muka rada marah.
Pasukan penjaga penjara menjawabnya, "Tidak, Ratu. Kevin baik sekali dengan kami, walaupun kami mengikuti di belakang ia tidak melakukan hal-hal yang tidak mencurigakan di penglihatan kami." papar kawan pasukan penjaga penjara.
Bibi Reina lalu menghela napasnya, ia tidak merasa janggal lagi pada Kevin. Setelah pasukan penjaga penjara memberikan penjelasannya. Kemudian Reina menyuruh mereka kembali bertugas, "Baiklah, aku berterima kasih pada kalian, silahkan kalian kembali bertugas ke divisi kalian masing-masing."
Lalu, pasukan penjaga penjara mendengar ini langsung memberikan hormatnya dengan membungkuk badan, akhirnya membalikkan badannya tanpa bersuara satupun. Sampai mereka pergi menjauhi Reina.
Seusai mereka pergi jauh, Reina memanggil kembali orang kepercayaan untuk bertanya tentang hal ini, "Siris, apa kau yakin mereka tidak berbohong selama kau mengamati mereka di belakang?"
Siris seorang asisten pembunuh, milik Reina menjawabnya dengan liriknya yang fakta, "Iya, Ratu. Mereka menjawab secara fakta, walau Siris merasa ada sebagian yang janggal pada mereka. Tapi mereka bisa percaya diri menjawab, berarti bisa kita pasti bahwa tidak ada tindakan yang membuat mereka curiga." jelas Siris yang panjang untuk Reina.
Bibi Reina pun merasa lega, tapi dipikirkan ia sesuatu janggal membuat ia berpikir berlebihan terus pada Kevin. Sampai akhirnya ia menjelaskan pada Siris kenapa ia tertarik pada Kevin, "Kenapa, yah. Kevin, itu dihadapanku punya aura yang berbeda dari anak seusia lain. Dan aku juga merasa bahwa ia mempunyai pola pikir yang berbeda dari anak kecil seperti sudah pikiran layaknya orang dewasa,"
Siris hanya menjadi mendengar baik sekaligus memberikan saran pada Reina, "Ratu, jika saja, itu menjadi fakta. Sebaiknya Ratu bisa menjaga interaksi Kevin menjadi baik dan juga menjalinkan hubungannya dengan ia secara baik, dengan begini bisa jadi ada timbal balik yang akan dilakukan Kevin untuk Ratu di hari lain," saran Siris memijat kepala Reina karena tahu ia melihat tuannya pusing.
"Misalnya, jika Kevin punya sesuatu yang diinginkan. Maka ia akan mencari Ratu untuk membantu ia mengerjakan sesuatu yang kita tahu, dari sini Ratu bisa memberikan bantuan atau arahan pada Kevin. Dengan begini rasa kepercayaan Kevin pada Ratu akan bisa terjalin dan terjaga, jika Ratu berprasangka buruk terus sama Kevin, yang ada malah Kevin merasa risih dan dicurigai terus." tambah Siris.
Reina pun langsung mengerti apa yang disarankan oleh siris.
"Jadi, begitu yah. Siris," pikir Reina merasa saran dibilang Siris benar untuk dilakukan ke depannya.
Siris pun melanjutkan lagi, "Iya, Ratu. Siris cuma meramalkan saja, kemungkinan Kevin akan meminta bantuan di tahun akan datang pada Ratu, entah itu bantuan sebuah membuat komunitas ataupun membangun kekuatan sedari dini. Niscaya saja Kevin akan menjelaskan ini semua pada Ratu, jika ia ingin melakukan ini." lanjut Siris.
"Jika saja, itu ramalan meleset tapi, Siris bisa melihat ini dengan Translucent eye magic." sambung Siris masih kurang yakin dengan kekuatan matanya.
Reina masih senang ia mendapatkan saran dan pencerahan dari Siris, walaupun ia sering merasa kurang yakin sama kekuatan matanya. Ia masih bisa menghargai kekuatan mata Siris.
"Tidak apa, Siris. Aku yakin ramalanmu akan terjadi di hari lain, suatu saat nanti," lirih Reina yang lembut menyemangati Siris.
Akhirnya Siris dan Reina berbicara panjang di kursi sofa ruang tengah, sambil memijat tubuh Reina, Siris juga berbagai cerita hidupnya di sebuah desa tempat kelahirannya.
...----------------...
Dan kembali lagi ke kami, perjalanan yang banyak kami lewatin dengan santai dan pelan. Kami akhirnya sampai di sebuah tempat lapangan pelatihan pasukan penjaga.
Sesampainya di tempat itu, aku mengetuk pintu dan mengucap permisi untuk masuk ke tempat tersebut, agar dikira tidak melakukan tindakan macam-macam.
"Permisi, Kevin. Ingin masuk untuk melihat tempat pelatihan ini, mohon izin." salamku mau masuk ke dalam.
Namun disana tidak ada satupun menyahutku, cuma ada terdengar suara gesekan pedang sja yang berbunyi. Awalnya aku kira sudahlah mereka menyahutku, jadi aku membuka pintu gerbang tersebut dengan pelan. Sampai aku masuk aku melihat di sana terdapat tiga orang yang latihan beradu pedang kayu dan satunya hanya menonton.
Ketika aku melangkah dari pintu gerbang yang tidak berbunyi engselnya, secara tiba-tiba aku dilayangkan hunuskan pedang kayu yang terlempar. Untungnya aku bisa menghindari ke samping dengan reflek cepat.
'Gila, aku baru saja sampai disini sudah dilayangkan pedang terbang, sampai hancur tuh terkena gerbangnya,' ujarku kaget menoleh ke belakang pada Zack sampai peri kecil saja bersembunyi di kepalaku dengan perasaan takut.
Zack melihat bilang padaku, 'Mungkin Kevin, bukan tamu yang diundang kali, main masuk saja,' pikir Zack memikirkan pedang itu terlempar.
'Iya, betul juga. Aku masuk ke dalam pun ada mengetuk pintu dan mengucapkan permisi, apa tidak kedengaran di telinga mereka?' tanyaku memikirkan tindakanku sebelumnya.
'Bisa ja–"
"Siapa kau? Beraninya masuk tidak diizinkan oleh kami!" sela orang tersebut dengan lantang.
Aku terkaget ketika dengan tubuh masih menghadap ke belakang melihat pedang kayu itu hancur, sekejap kemudian ada bayangan tinggi besar dan badannya kekar menghampiriku di belakang. tetapi, aku merasa orang ini tengah berdiri dengan lirikan matanya tertuju padaku yang bertubuh kecil ini.
Lirikan mata ini membuat aku tidak bisa tahu siapa orang ini, sampai aku memikirkan ini dalam batinku.
'Siapa orang ini!?'