Reincarnation Of The Light Family'S Windsword Mage

Reincarnation Of The Light Family'S Windsword Mage
Episode 30 - Pesta Perjamuan Kerajaan Ernk (XI) Pertarungan Sengit!



...Pesta Perjamuan Kerajaan Ernk (XI)...


...Pertarungan Sengit!...


Awalnya, aku hanya ingin memberikan sebuah balasan kecil pada Edgar akibat provokasinya ketika menjabat tangan sebelumnya. Namun yang dipikirkan Ayahku adalah penyelesaian masalah ini dengan bertarung dengan Edgar.


Memang otak bertarung pendekar tombak harus diselesaikan seperti ini, jika tidak maka musuh akan semakin mudah memakanmu. Dengan begini musuh akan segan dan tidak berani melakukan provokasi dan intimidasi padamu.


Ingat dunia sihir adalah tempat dimana orang punya kekuatan kuat ialah menjadi penguasa, dan tidak berpatokan pada kekayaan dimilikinya. Pasalnya orang kuat pasti punya cara untuk mencari kekayaan dengan sumber daya dan material yang ia dapatkan.


'Bagus juga pikiran Ayahmu, mending lawan saja tuh bocah sombong!' suruh Zack memancing diriku untuk bertarung.


Aku masih tertahan untuk tidak berkata pada Zack, sampai Ayahku mendekati diriku. "Jangan takut Kevin, Ayah disini. Menang dan kalah anggaplah biasalah, jadikan ini sebuah latihan untukmu," kata Ayahku sambil berangan-angan tangannya ke membelai wajahku. "Jadi jangan takut, inilah tes yang Ayah uji padamu. Jika kau menang Ayah akan…" bisik Ayahku menarik daun telingaku.


Terdengar bisikan kecil Ayahku memberi suatu yang misteri, dengan hadiah cukup besar membawa aku semangat untuk bertarung. Walaupun pertama kalinya Ayahku di dunia lain mendukungku, tapi aku gunakan kesempatan ini.


"Ayah aku ingin sekali bertarung dengan ia!!" Teriak Edgar menunjukku dengan jari telunjuknya, karena merasa masih belum puas akan provokasinya.


Paman Eric mendengar kata yang terlontar dari Edgar membuat ia ingin marah, "Tidak, Ayah tidak mengizinkan kau bertarung sembarangan dengan anak seusia kecil ini!"


Paman Eric, tahu akan kebiasaan Edgar kalau hatinya berasa belum puas ia akan semakin berontak untuk menuruti kemauan, tidak tertahan memakai omongan Paman Eric merasa geram ingin memukul Edgar.


Namun, ditahan oleh Ayahku yang cepat menangani kemarahan Paman Eric pada Edgar. "Biarkan ia bertarung Eric, kau bisa lihat. Kevin bersiap untuk bertarung dengan Edgar." Noleh Ayah pada dirimu merasa yakin untuk membawa bertarung dengan Edgar.


Awalnya Paman Eric masih ragu-ragu sama omongan Ayahku, tatapan takut akan terjadi suatu hal terbayang dalam pikiran Paman Eric. Ayahku memberikan senyum kecil pada Paman Eric untuk membilang bahwa ini tidak akan ada apa-apa.


Paman Eric memalingkan mukanya dari Ayahku, kemudian memejamkan matanya. "Edgar, silahkan kau bertarung dengan Kevin, asalkan. Kau jangan keras-keras menyerangnya!" putus Paman Eric, tegas dalam suaranya.


Edgar mendapatkan izinnya dari Ayahnya, sombongnya ia berdiri dengan perasaan percaya dirinya yang tinggi merasa bahwa ia akan menang dalam pertarungan ini. Ia mengambil tombak senjata idamannya dengan kekuatan api yang masih menyambung dalam sarung tombak tersebut.


"Aku akan mengalahmu, Kevin!" ucap Edgar siap memegang tombak rantainya sudah tersambung di tangannya.


Akupun, memutuskan untuk berdiam diri saja, memikirkan celah untuk melawannya. Walaupun ia kuat dan berusia 2 tahun, aku harus berhati-hati melawannya. Karena ini pertama kalinya, aku bertarung sesama manusia di dalam sebuah ring pertarungan.


Dan aku, melangkah maju untuk masuk dalam ring bertarungan. Edgar yang bersiap melakukan pemanasan tubuhnya sambil meregangkan tangan dan kakinya, sedangkan aku memikirkan angin sekitar yang masih ada. Sampai dengan serangan yang ingin dilemparkan.


Ayahku sebagai wasit datang ke tengah ring pertarungan dengan membawa sebuah bendera, Paman Eric selaku pengawas dalam pertarungan bersiap di sisi ring pertarungan dengan mengawasi kami. Aku merasa pertarungan sepertinya lebih sengit atau malah ke arah lebih menjatuhkan seseorang.


Pokoknya bagiku harus tenang dan jangan terpancing emosi, lebih utamakan keadaan dari pada suasana. "Aku harus siap!" batinku dalam hati.


Setelahnya Ayahku, menatap ke kiri dan kanan melihat aku dan Edgar sudah siap bertarung, tidak lama. Ayahku menanyai kami. "Sudah siap?" tanya Ayahku.


Edgar yang sudah siap dengan tombak yang digenggam dengan erat dan kuda-kuda yang bagus membuat posisinya menjadi kokoh tidak tertampak celah kelemahan pada diriku.


Aku hanya berdiri tegak membaca gerakan, bagaimana pola serangan yang akan Edgar lakukan, hanya sebuah perkiraan bahwa ia akan maju menyerangku dengan tombaknya. Aku cuma bersiap saja menghalau dengan kekuatan sihir anginku.


"Siap Paman Arsen!" teriak Edgar yang tersenyum menantikan pertarungan ini dimulai.


Terus Ayahku menoleh padaku yang terlamun. "Kevin! Apa kau siap!" tanya Ayahku yang keras.


"Jika sudah siap semua, pertarungan dimulai!" ujar Ayahku mengibaskan bendera menandakan pertarungan dimulai. Sampai Ayahku mundur untuk menjaga ring pertarungan untuk aman dan terkendali.


Edgar yang sudah menantikan, tanpa apa-apa ia melangkah maju dengan cepat menuju hadapanku.


Strak!!


Edgar melepaskan serangan tombaknya menggoreskan badanku, sayangnya ia mengores sebuah perisai angin yang aku belum sebelum pertarungan ini dimulai. Ia mulai geram sama perisai angin ini, ia termundur sepuluh langkar dan memberikan rantai api untuk menghancurkan perisai angin.


Rantai api yang memiliki bagian runcing di bagian atasnya menyerangku dari depan perisai dan belakang aku juga. Walau api yang Edgar masih tingkatkan kecil, tapi ia sudah lincah mengontrol arah rantai ini untuk mengikuti arah aku menghindar.


Aku terus menghindar dari rantai api yang mengikutiku, karena Edgar membuat aku tersudutkan pada garis pinggir yang mengartikan aku kalah pada ia aku hindari dengan sihir angin.


Srash!!


Tebasan angin aku keluarkan, untuk menghalau rantai api yang mengikuti aku terus, tanpa sadar tebasan angin membuat debu disekitar. Dan aku lupa bahwa aku terpancing sama rantai yang melekat pada tombak Edgar.


Hingga tombak Edgar tertuju padaku. "Gerbang angin terbentuklah!!" Desakku yang mengetahui arah datangnya tombak Edgar.


Dan benar aku mengira, tombak Edgar datang melaju ke arah gerbang angin itu terbentuk.


Buum!


Ledakan tombak Edgar membuat gerbang angin yang berlapis 3 tembus dan hampir mengenai diriku. "Cuma segitu saja Kevin kekuatan anginmu? Kalau bisa kau puaskan aku dengan kelemahanmu!!" ledek Edgar.


Aku masih ingin menyimpan mamaku yang banyak ini dengan melihat arah gerakan sama serangan yang Edgar lakukan, sebagian aku telah mendapatkan dan sebelumnya belum. Lalu, Edgar menarik kembali tombaknya dan melompat tepat aku berdiri dibawahnya.


Boom!!


Sampai disini Edgar melayangkan beberapa pukulan tombaknya ke arahku, cuma aku berusaha menghalau dengan tebasan angin. Dan aku melihat celah yang sangat terbuka di bagian dadanya. Inilah saatnya giliran aku menyerang.


Dor!!


Peluru angin aku lepaskan untuk mengenai ke bagian dadanya Edgar, namun Edgar cekatan melindungi bagian dadanya dengan tombaknya lurus. Peluru angin yang bertekanan tinggi membuat Edgar terhempas dari jarak agak jauh dari hadapanku.


Aku merasa tubuhku seperti ngap-ngapan, karena merasa inilah pertarungan sengit yang aku maukan. Begitu juga Edgar yang terhempas menghela napasnya dengan cepat merasa kesakitan di bagian dadanya. Walaupun tidak terkena, kekuatan tekanan angin akan mempengaruhi angin sekitar menjadi sebuah massa.


"K– kau, Ke– Kevin. Lumayan kau bi– bisa mengenai di– diriku!" gerutu Edgar yang terbata-bata membungkus badannya merasa serangan yang terkena olehnya.


Aku tidak boleh memikirkan keadaan, tapi aku memastikan tubuhku tidak mengalami luka ataupun memar dari senjata tombak yang aku terima. Walaupun sungguh menyebalkan bagiku ini sebagai penyihir penyerang jarak jauh, harus berhadapan dengan pendekar jarak dekat. Itulah sebabnya penyihir bisa kalah di pertarungan, ini.


Zack melihat pertarungan aku dengan Edgar, Zack merasakan bahwa aku terlalu mensia-siakan waktu. 'Kevin! Kau terlalu membuang waktu untuk memikirkan banyak hal!' Keluh Zack di dalam cincin sihir. 'Gunakan kesempatan, jangan memikirkan terlalu banyak hal. Jika kau begini terus, kau akan mati di medan perang!' lirih keras Zack menyuruhku untuk berbenah diri.


Aku tahu ini, cuma aku tidak ingin maju. Jika aku maju secara sembarangan dan gegabah, maka aku akan termakan oleh umpannya. Aku tahu sifat Edgar.


"Sinilah Kevin, maju! seranganlah aku!!" suruh Edgar yang sombong masih merasa dirinya kuat dari segi fisik.