
...Pesta Perjamuan Kerajaan Ernk (XIII) ...
...Kalah! ...
Sebelumnya, ketika aku masih berada di dalam benteng angin yang terhimpit oleh duri api yang panas di sekeliling tempat tersebut, Zack menegur untuk segera cepat perpindahan dari ring pertarungan, 'Pindah, Kevin! Kalau kau disitu terus, bakalan jadi manusia terpanggang di tengah panas api berkobaran,' tegur Zack menyuruhku pindah.
Aku tahu Zack menyuruhku lalu aku menyahutnya, 'Iya aku tahu, biarkan aku melihat Edgar merasa puas dulu menyerangku!' Zack kemudian membalas lagi, 'Kau nih nekat atau cari mati di tengah api nih?'
Aku menjawab dengan resah, 'Sudah, lihat saja apa yang aku lakukan Zack, jangan khawatirkan tindakanku,' resahku membilang Zack, setelah aku menjawab Zack terdiam dan memperhatikan apa yang aku lakukan.
Usai ribut antara aku dan Zack, Edgar langsung melampiaskan sihir kobaran apinya kepadaku dengan perasaan senang melihat derita orang. "Terimalah ini Kevin!" Suara Edgar menyergahku dan aku berpindah dengan membuat kloning tubuh palsuku membuat Edgar merasa diriku terbakar dan terkurung di dalamnya. Akan tetapi aku menggunakan langkah bayangan angin untuk terbang ke atas ring pertarungan dengan wujud tidak terlihat menyatu dengan angin.
'Gimana Zack, apa kau bisa melihat tindakanku secara nyata ini?' tanyaku untuk Zack dengan bergaya memamerkan kemampuan anginku. Zack hanya menjawab dengan singkat saja, 'Biasa saja,' jawabnya.
Aku awalnya senang berubah muram mendengarkan jawaban Zack, 'Kau tuh yah, tidak bisa memuji aku karena ke–'
'Sudah, lihat saja Edgar dibawah sana. Puas sekali melihatmu terbakar di dalam sihir apinya,' sela Zack mengalihkan omonganku sebelumnya.
'Huh, baiklah kalau begitu ….'
Setelah menghela napas, aku mulai fokus kembali menatap Edgar dibawah ring pertarungan, sedangkan aku berada diatasnya. Aku bisa menatap Edgar dengan ekspresi yang senang akan derita diterimanya. Tetapi, ia tidak tahu bahwa itu adalah tubuh palsuku. Sementara Ayahku hanya terdiam saja mengetahui bahwa itu bukan aku, dan Paman Eric menjadi pengawas terlalu memikirkan kecemasan begitu banyak.
Edgar bergegas menghampiri tubuhku yang terdiam saja terkena luka bakar, dengan mengacungkan tombaknya. Edgar menyentuh tubuh palsuku dengan tombaknya, "Apa ini sungguhan?" tanya Edgar menekan tubuh palsuku dengan tombaknya.
Tidak lama Edgar merasa keanehan pada tubuh palsuku, "Sial, ini tipuan!!" Dan tubuh palsu yang menyerupai diriku meledak.
Boom!!
Edgar dengan cepat memundurkan dirinya, karena sudah tahu akan terkena tipuan tersebut, "Terlambat sedikit saja, mungkin aku akan terkena ledakan untuk kedua kali," gerutu Edgar resah akan hal menimpanya sebelumnya.
Usai bertahan Edgar tetap bersiap mencariku di sekitar ring pertarungan, dan aku layangkan beberapa beberapa peluru angin dari atas, Edgar sudah mengetahuinya bersiap dengan memutarkan tombak api dan sedikit beberapakan tebasan pada peluru anginku. Tangkas dan gesitnya beberapa peluru angin berhasil ia hindari dengan posisi yang luas.
Namun, Edgar melompat ke atas mendapat tempat persembunyianku, "Sini kau, Kevin! Jangan jadi udang dibalik batu!" Erang Edgar melompat mengayunkan tombaknya ke arah wujudku yang menghilangkan.
Dengan cepat aku mengeluarkan pisau angin terbang di belakang dan di depan Edgar.
Sret!!
Edgar tidak berhasil mengayunkan tombaknya padaku, melainkan ia harus berlawan dengan pisau angin yang terbang secara sembunyi.
Zack pun langsung merespon, 'Karena kau melontarkan peluru angin secara banyak, maka kemungkinan arah peluru itu ditembak membuat Edgar mengetahui posisimu,' jelas Zack, 'Secepatnya mungkin kau harus mengalahkan ia, jika kau membiarkan ia terus bertarung maka kau akan larut dalam buaian ia. Karena tubuh penyihir dan tubuh pendekar tombak memiliki perbedaan secara kekuatan dan fisik,' sambung Zack.
Dan aku menjawab pada Zack, 'Iya aku akan mengalahkan Edgar secepatnya!'
Apa yang dikatakan oleh Zack adalah benar, aku memakan banyak waktu untuk melawan Edgar dan membiarkan ia menjadi semakin kuat dalam pertarungan satu lawan satu. Karena aku terlalu ragu untuk melawannya aku langsung saja maju tanpa memikirkan banyak hal lagi.
Edgar yang turun dari bawah segera menebaskan tombaknya ke beberapa pisau angin kembali menyerangnya secara berulang-ulabg, tanpa sadar Edgar di target olehku terkena peluru angin kembali.
Edgar dengan serius menerima serangan ini dengan memutarkan tombaknya. Peluru pertama diterima oleh Edgar dan berhasil dihindari oleh Edgar, dilanjutkan kembali peluru kedua yang dilontarkan begitu keras berhasil juga walau tubuhnya masih bergetar dan peluru ketiga ditambah kecepatan tekanan angin dan peluru ketiga dengan tekanan kecepatan sangat tinggi melaju dengan cepat. Aku lontarkan kembali.
Edgar merasa yakin untuk menghindarinya, menerima secara langsung tanpa sadar, tombaknya tidak mampu menahan tekanan dari dorongan peluru angin hingga tombaknya terhempas dari ring pertarungan dan Edgar terdorong ke belakang dengan terpental keras.
Edgar terpental dengan tubuhnya langsung keluar dari ring pertarungan, sekujur tubuhnya menerima beberapa luka dan tangannya ada yang patah terkena peluru angin berkecepatan tingginya berdentum sama tombaknya.
Dan aku masih berada dibawah dengan tubuh sedikit kelelahan karena banyak mengeluarkan mana untuk memperkuatkan tekanan pada peluru angin dengan memberikan kekuatan mana membuat aku merasa tenang.
Sampai disini Ayahku mengangkat bendera dan menyatakan akulah pemenangnya, tapi bagiku sekarang adalah menuju Edgar yang terpental tadi. Begitu juga Paman Eric menghampiri Edgar.
Edgar terbaring dengan lemah meringis kesakitan dengan tangan kanan dan kaki kirinya mengalami patah tulang, "A– ayah … ta- tangan Edgar!!" ringis Edgar kesakitan.
Namun, Paman Eric berkeinginan membawa Edgar ke kamarnya, namun aku mencegatnya, "Jangan Paman, biarkan Kevin menyembuhkan Edgar! Biarkan ia tergeletak disini!" cegatku.
Paman Eric yang terlanjur di cegatku kemudian ia percayakan padaku walaupun sebagian ia ingin berkata, "Kalau bisa sembuhkan ia secepatnya mungkin Kevin!" pinta Paman Eric. Dengan merasakan anaknya terluka parah.
Tidak lama aku menyembuhkan Edgar dengan kemampuan keberkahan angin untuk menyembuhkan beberapa yang ia Terima, Paman Eric memegang matanya Edgar untuk tidak melihat penyembuhan ini takutnya ia menjadi lebih panik dan tidak tenang. Dan Ayahku di belakang dengan kedua tangan melipat di dadanya melihat perilaku menyembuhkan Edgar.
Perasaan Ayahku yang tampak seperti datar seolah tidak ada rasa senang, aku hiraukan dan ingin lebih fokus sama Edgar. Aura angin di sekitar mulai mengelilingi tubuh Edgar serta mulai meresap ke dalam tubuhnya Edgar.
Edgar masih menangis tersedu-sedunya, akhirnya mulai tenang dengan kondisinya sedikit-sedikit membaik. Paman Eric melihat kemampuan penyembuhan yang cepat ini merasa tercengang dengan menatap diriku masih tidak percaya di umurku segini bisa melakukan sihir penyembuhan.
Sampai sini, Edgar sembuh dengan kembali seperti sedia kala. Walau tubuhnya masih tergeletak terbaring lemah, Edgar masih belum percaya tangan kanan yang patah, kemudian ia mulai mengerakkan tangannya dengan lancar dan untuk kaki kirinya juga ia mulai bisa menghentak dan berdiri.
Setelah Edgar memeluk Ayahnya dengan perasaan senang dan ada derita sedikit yang ia terima, tapi berbeda denganku. Malah di elus kepalaku, tapi wajah Ayahku menyimpan sebuah tanda tanya untuk aku. Mungkin Ayahku ingin interogasi kekuatan sihir angin, "Kevin nanti habis ini, Ayah ingin memeriksa kekuatanmu yah," ucap Ayahku memberi senyuman lain.
Dan aku menjawabnya, "Iya, Ayah." Jawabku singkat tapi sudah tahu apa yang Ayahku ingin lakukan.