
Di kota Folance ada perserikatan lain selain serikat pemburu atau guild pemburu, yakni serikat ksatria atau guild ksatria. Berbeda dengan guild pemburu yang fokus pada berburu monster dan menjualnya pada klien, guild ksatria melakukan pekerjaan mereka hampir mirip seperti tentara bayaran.
Para Ksatria guild juga berbeda dengan ksatria kerajaan atau tentara kerajaan yang memiliki jam wajib kerja melayani kerajaan. Ksatria guild memiliki waktu pekerjaan yang lebih bebas, pekerjaan mereka akan di mulai sejak mereka mengambil misi dan membuat kesepakatan dengan klien mereka.
Misi mereka itu seperti misi pengawalan, misi penjagaan tempat atau pun misi penyerangan, semuanya akan menjadi deal tergantung pembayaran dan kesepakatan antara ksatria guild dan klien mereka.
Dan ketiga Ksatria pengecut itu adalah bagian dari guild ksatria tersebut.
"Selamat datang di rumahku."
Setelah beberapa menit di kereta, kami pun sampai.
**
"Perkenalkan, Namaku adalah Defian Homura, aku adalah pemilik perusahaan Palos yang berpusat di kota Folance."
Perusahaan dagang Palos, hampir semua warga kota Folance tau siapa mereka. Satu-satunya perusahaan dagang yang menjadi pemasok barang terbesar di kota ini, baik itu impor maupun Ekspor.
Aku tidak terlalu paham bagaimana sistem perdagangan itu, tapi dari yang kulihat rata-rata para pemilik toko dan beberapa warga kota jika sudah membicarakan perusahaan Palos tak pernah kurasakan perasaan negatif di sana.
Jalur perekonomian kota Folance ada di bawah kekuasaan mereka. Tak kusangka ternyata pemiliknya adalah putra tuan tanah ini sendiri.
Tidak sengaja aku bergumam. "Aku baru tau, bahwa pemilik Palos ternyata adalah putra Marquis Homura."
Sekarang, semuanya jadi terasa wajar, sebagai putra tuan tanah yang baik tentu saja ia akan melakukan apa pun untuk meningkatkan kualitas wilayahnya.
"Ahahaha ... aku memang tidak pernah mempublikasikannya, cukup dengan melihat kota ini makmur dengan usaha yang telah kulakukan sudah cukup untuk membuatku senang."
"A-ah ... ya, aku juga, perkenalkan Namaku Adel dan dia adalah Valeria, lalu ini Zoro." Kataku sambil menunjuk mereka berdua "Terimakasih atas undangan ke rumahmu tuan Defian."
Entah kenapa aku malah jadi gugup. Padahal seingatku aku tidak pernah menganggap baik semua bangsawan selama ini.
(Master, kau hanya memiliki anggapan buruk tentang bangsawan dari cerita Novel di duniamu itu)
Ah, ya ... aku belum pernah bertemu bangsawan yang sebenarnya, kecuali Varlort dan Liliard. Tidak ... mereka bukan bangsawan tapi penyihir. Jadi, aku benar-benar belum pernah bertemu dengan keluarga bangsawan.
"Tidak perlu terlalu gugup, aku hanya putra kedua, bukan pewaris sah. Sejak berdagang menjadi Hobiku, aku membangun perusahaan ini dengan bantuan keluarga dan yang lainnya untuk memakmurkan Folance."
"Aha ... aku tidak gugup, i-ini hanya reflek saja."
Saat ini, kami sedang berada di ruang tamu mereka, duduk di atas sofa mewah dan suguhan teh untuk aku dan Vale. Zoro yang tidak paham akan pembicaraan tidur di pangkuan Valeria sambil diusap-usap olehnya. Yah ... intinya karena mereka berdua tidak paham mereka hanya diam sambil bermain-main kecil.
Dan di hadapanku, duduk tuan Defian dengan butler Jason yang berdiri di belakangnya. Mereka berdua sepertinya tidak mempermasalahkan sikap Vale dan Zoro jadi aku bersyukur.
Huuhaaahhh ... aku menarik napas dan melepaskannya perlahan. Baiklah, ini saatnya untuk berbicara serius, hilangkan gugupmu Adel!
"Sebelum melanjutkan yang tadi, Tuan Defian ... boleh aku tau kenapa kau sengaja melepaskan ketiga orang itu di kota ini?"
Defian dan Jason terkejut dengan pertanyaanku dan menatapku seolah tidak percaya.
"Oh ... bisa kau jelaskan padaku dari mana asal tuduhan itu?"
"Hm ... sederhana saja, ketiga orang itu terus saja membanggakan diri hanya karena berasal dari ibu kota seolah-olah hanya itu satu-satunya senjata mereka agar di takuti oleh lawan mereka, yang berada di luar kota. Ancaman seperti itu tidak akan berlaku selama mereka berada di ibu kota. Melihat betapa lemahnya mereka, menandakan betapa malasnya mereka dalam bekerja, aku yakin mereka sama seperti parasit bagi ibu kota yang padat penduduk.
Pertanyaannya, kenapa anda sebagai salah satu dari perusahaan terkenal menyewa mereka sebagai ksatria penjaga anda lalu denang sengaja melepas mereka yang sudah seperti parasit ke kota Folance ini?"
Aku sudah memikirkannya beberapa saat yang lalu, memang tampak mencurigakan dan terlihat seperti bukan kebetulan butler itu menemukan kami tepat setalah kami menyelesaikan ketiga ksatria pengecut itu.
"Wow... kau punya kepala yang tidak sesuai dengan anak seumuranmu."
"Hehe ... ini salah satu point_ ah, bukan tolong jawab pertanyaanku!"
Tidak sesuai dengan anak seumuranku, kulirik Valeria dan kuberpikir bahkan sudah tidak sesuai dengan anak yang lebih tua dariku.
(Wajar saja, kau adalah pria 27 tahun master)
Rasanya sakit setelah kau mengatakan kenyataan itu, Alpha.
Setelah menyeruput segelas teh Defian menjawab "Aku hanya melakukan sesuatu seperti pembersihan. Itu demi kemakmuran negara ini juga, sampah masyarakat seperti mereka perlu disingkirkan."
Sampah masyarakat kah? Mungkin aku sedikit tidak setuju dengan caranya yang menjebak orang lain, tapi kurasa aku setuju dengan menyingkirkan ketiga pengecut itu.
Dan satu lagi yang tidak aku setujui "Tapi kau hampir membahayakan orang lain seperti kami!"
"Soal itu, sebenarnya aku sudah mengirim Jason untuk mengawasi mereka. Namun sepertinya Jason sudah tidak perlu lagi menghentikan mereka yang kurang beruntung karena bertemu dengan kalian."
Jadi butler itu memang sudah mengawasi kami sedari awal. Sepertinya aku kurang fokus pada saat itu sampai-sampai melewatkan keberadaannya.
Baiklah, jadi ini hanya sebuah konspirasi kecil dari putra bangsawan untuk membersihkan para sampah masyarakat. Kurasa sudah tidak ada lagi yang ingin aku sanggah.
"Hm ... baiklah aku paham. Lalu, tentang kompensasinya."
"Ah, ya sebuah rumah toko kan? Perusahaanku punya sebuah Ruko kosong di kota, kau bisa memakainya untuk tinggal sambil menjual produk dagang kami. Kita bisa mengatur soal kontrak dan_
"Ah ... soal itu kau bisa membicarakanya dengan ... ibuku." Hanya satu sosok ibu yang terpikirkan olehku, Ernha.
"Ibumu?"
"Ya, kami sedang mencari rumah baru sekaligus toko untuk tempat usaha."
"Hm ... apa kepandaiannya menjahit? memasak? Mengurus rumah atau ladang? Atau membuat souvenir atau sesuatu yang unik dan kreatif? Atau hal lain yang sedikit orang tau? Atau apa pun lah ... " rasa antusias muncul di wajah Defian.
"Ia pandai memasak. Ibuku pandai membuat makanan enak hanya dari bahan makanan biasa yang mudah di dapat."
Aku sedikit takut saat menjawab pertanyaan antusiasnya.
"Ooh ... kalau begitu, mungkin rumah makan atau kedai makan kecil lumayan cocok, pandai memasak dan mungkin juga mengenal banyak bahan makanan, tapi ... memperhitungkan soal karyawan mungkin sebaiknya dari yang lebih kecil dulu, namun di sisi lain sebagai pemilih bahan makanan mungkin dapat menjadi bagian dari agen. Menambahkan perkiraan jalur pasokan dari barat yang kadang lambat saat musim hujan, dengan menambah satu lagi cabang toko yang akan di buka, perlu_....."
Diawal ia tampak berpikir dengan tenang, lalu semakin lama semakin bersemangat sampai sudah tidak jelas lagi apa yang ia ucapkan. Melihat tingkah yang seperti itu, sekarang aku benar-benar paham, pria ini seratus persen berbakat sebagai pedagang.
Kenapa aku berpikiran begitu? Karena Defian benar-benar memperhitungkan segalanya, sampai-sampai keringatnya bercucuran hanya karena berpikir.
"Ee ... tuan?"
"Aah ... ya, maafkan aku, aku jadi terbawa suasana. Hahaha ...." Defian tertawa sambil mengelap keringatnya dengan sapu tangannya "Ngomong-ngomong, kalian berdua bukan anak kecil biasa kan?"
"Apa maksudmu?"
"Menggunakan sihir yang tidak biasa dan teknik pedang sederhana yang dapat mengalahkan ksatria dewasa, serta binatang sihir langka, sudah jelas kalian bukan anak-anak biasa."
"Tuan Defian, apa anda ingin membuatku mulai berpikir buruk tentang anda."
"Tidak tidak, aku tidak bermaksud menggunakan kalian, menangkap kalian, memaksa kalian menjadi budak petarungku atau hal buruk apa pun yang selevel itu. Tidak ada maksud buruk sama sekali, meskipun itu mungkin saja bernilai ribuan Natt jika di jual ... tidak, tidak aku mencintai tanah Folance dan rakyatnya tidak mungkin aku melakukan itu."
"Kau baru saja menginginkannya." Gerutuku kesal.
"Aku hanya ingin menyarankan sesuatu, sekitar 1 setengah bulan dari sekarang Akademi Raflesia akan mulai membuka pendaftaran baru mereka, dan sekitar 3 minggu lagi kafilah dari perusahaan kami akan berangkat ke ibu kota. Aku bisa memberikan kalian tumpangan gratis."
"Ooh ... Akademi Raflesia."
"Ya, sebenarnya aku ingin memberikan surat rekomendasi untuk kalian, tapi andai saja aku bisa hahaha .... aku hanya putra kedua bangsawan jadi, gelar bangsawanku tidak berarti apa-apa di dalamnya."
Tapi kau adalah pedagang besar tuan Defian.
"Bagaimana menurutmu?"
Orang ini, ia memang tidak punya maksud buruk tapi sifat serakahnya sebagai pedagang sangat jelas sekali.
"Hm ... Val?" tanyaku akan pendapat Valeria.
"Kuserahkan pada Adel saja, Vale akan terus mengikuti Adel."
Akademi Raflesia, aku tidak tau apa pun soal nama itu, selain rumor tentang itu adalah akademi terbaik di kerajaan Airylia. Memulai rute kehidupan di akademi, apakah akan menyenangkan?
"Ehm ... terimakasih atas tawaranmu, tapi aku perlu waktu untuk berpikir."
"Baiklah aku mengerti ... kalau begitu ini akan menjadi akhir pembicaraan kita."
Tak terasa, aku sama sekali belum menyentuh teh di gelas yang pelayan Defian suguhkan. Sementara teh Vale dan Defian sudah habis. Jadi setelah Defian memaksaku untuk menghabiskan teh ku kami berpamitan untuk pulang. Sebelum itu, Defian menyerahkan sebuah surat yang menyatakan kepemilikan atas Ruka yang hendak ia berikan sebagai kompensasi.
Aku sempat lupa betapa krusialnya jika membuat janji tanpa kontrak atau bukti yang pasti. Mungkin hampir saja aku akan menjadi korban tipuan meraka, jika saja Defian sengaja tidak mengingatkanku.
Dan kejujurannya itu membuatku heran kenapa Defian sangat baik pada kami sampai bersedia menyerahkan salah satu Rukonya. Apa ia punya maksud tertentu? Yah, aku tidak bisa mempercayai pria ini sepenuhnya.
Tetapi yang terpenting sekarang, aku akan menggunakan keuntungan yang kudapatkan darinya dengan baik terlebih dahulu.
"Hei, Adel. Aku malah berharap kau melupakan soal tawaranku ke akademi Raflesia tadi, dan bekerja denganku sebagai asistenku."
"Maaf, tidak terimakasih."
"... baiklah, aku tidak akan memaksa."
Aku tidak tau apa yang ia pikirkan, mungkin saja ... ia kagum dengan kejeniusanku, fufufu ...
(Ingat umur aslimu master!)
Ugh, tidak perlu kau ingatkan Alpha.
Setelah semua urusan selesai, kami meninggalkan mansion mewah milik Marquis Homura dan kembali ke kota Folance.
**
"Val, apa kau menyukai sihir?"
"Ya, aku menyukainya apalagi ketika aku memperlihatkan sihirku pada Adel. Kenapa Adel bertanya begitu?"
"Bagaimana dengan belajar dan mempraktekan sihir tanpa diriku?. Maksudku, Vale akan belajar sihir dengan orang lain sementara aku belajar berpedang dan beladiri lain dengan orang lain juga, bagaimana menurutmu?"
"Hmm ... aku lebih suka belajar bersama Adel."
"Aah ... begitu ya, baiklah."
Bertanya pada Valeria sepertinya tidak memberikanku jawaban sama sekali. Jawaban atas kebingunganku ini.
Apa yang akan aku lakukan setelah di tendang keluar dari mansion Varlort yang sekarang ku tinggali.
Apakah aku akan memulai perjalanan mengelilingi dunia? Aish... memikirkannya saja sudah keren banget.
Apakah aku akan memilih untuk masuk ke akademi, dan menyesuaikan diri dengan anak seumuranku? Sungguh, bagiku yang sudah menjalani sekolah selama 12 tahun belajar di kelas itu terasa membosankan.
Atau ... hidup tak jelas dengan mengikuti arus yang membosankan.
Entahlah, aku butuh seseorang untuk membantuku mencari jawaban.
Apa kau bisa membantuku?
***
.
.
.