Re Life In Arlogia

Re Life In Arlogia
Bab 20 : I m ten years now



Lizardon seekor monster berbentuk persis layaknya komodo hanya 2 kali lebih besar dari komodo biasa, berjalan mengikuti deretan ikan mati yang tersusun di sepanjang jalannya. Rawa berlumpur itu adalah habitat hidupnya sehingga tak ada yang perlu ia cemaskan saat menemukan banyak makanan yang anehnya di sebarkan di sekitar rumahnya. Lagi pula ia hanyalah monster biasa yang tidak punya akal dan dengan mudah masuk ke dalam jebakan.


Saat ia memakan ikan terakhir yang berada di bawah pohon, sebuah jaring yang tersembunyi oleh lumpur dan daun terangkat dari bawah kakinya, menjebaknya dan mengangkatnya ke atas. Terkejut dengan yang dialaminya monster itu berusaha memberontak, mencakar-cakar dengan kakinya menggigit-gigit tali dengan giginya yang setajam hiu serta meludahkan asam berbahaya untuk dapat lolos. Tapi usahanya sia-sia, karena pada akhirnya ia mati dengan sebuah panah besi yang melesat menembus tengkoraknya.


"Yay! Kena!"


"Yeaa, Nerhy berhasil."


Hari ini kami sedang menjalankan misi perburuan yang sudah ke sekian kalinya. Misi kali ini adalah untuk memburu seekor Lizardon dan mengambil kulitnya.


Untuk memburu monster berbahaya seperti Lizardon, kadal raksasa dengan rahang kuat dan gigi mematikan, cakar tajam serta liur beracun dengan asam yang tinggi perlu setidaknya satu serangan fatal yang langsung membunuhnya. Karena kami membutuhkan kulitnya, kami tidak bisa menyerang dan membunuhnya dengan pedang yang hanya merusak kualitas kulit. Maka dari itu, bagi pemburu strategi serta perangkap itu perlu.


Bersembunyi di balik batu besar ada Lina, Valeria, Zoro dan Nerhy yang baru saja memanah Lizardon. Melihat Lina dan Valeria yang bersorak membuatku dan Yopi yang bertugas menarik tali untuk mengangkat Lizardon itu juga ikut tersenyum.


Kami berlima sudah membagi tugas masing-masing untuk perburuan Lizardon ini. Pertama Valeria memperkuat tali tambang yang kami gunakan agar sekuat kawat besi dan juga tahan asam dengan sihir Enchant biasa yang bersifat sementara. Dibantu oleh Yopi dan Lina mereka bertiga mengikat tali membentuk jaring dan mengatur jebakan dengan menyembunyikannya di lumpur dan daun.


Sementara itu aku dan Zoro menyebarkan ikan sebagai umpan, aku sendiri yang mengusulkan ini karena aku tidak ingin kemungkinan terburuk Lizardon muncul tiba-tiba dan menerkam mereka. Karena aku satu-satuya yang paling kuat disini, bukan sombong.


Berdua bersama Yopi, aku menarik tali jebakan saat Lizardon berdiri di bawah jaring dengan mengaktifkan infinity magic [Power up] dan Yopi menggunakan sihir penambah kekuatan yang mirip dengan [Power up] yang sudah ia latih tiga tahun ini. Kemudian Nerhy melancarkan serangan membunuh dengan panahnya, dan tepat mengenai kepalanya.


"Oke, bawa kemari monster itu Yopi, sekarang giliranku."


Terakhir, Lina dan Nerhy akan menguliti bangkai Lizardon itu. Untuk Nerhy, sebagai pelayanku aku tau itu sudah kesehariannya saat mengolah daging di dapur. Tapi Lina, kudengar ia mendapat pengajaran dari ibunya yang juga seorang pemburu.


Namun tetap saja, berapa kali pun aku melihatnya sebagai mantan orang dari dunia modern menyaksikan gadis 13 tahun memutilasi dan menguliti seekor komodo raksasa dengan pisau penuh darah di tangan kecilnya, itu tampak sangat sadis.


"Ugh ... "


Aku lebih memilih melarikan diri dari pada melihat mereka berdua bekerja.


"Selesai."


Proses menguliti selesai, sekarang tersisa setumpuk daging, organ dan tulang penuh darah di atas tanah, kami tidak membutuhnya. Sebenarnya, bagian dalam tubuhnya juga punya nilai jual, sebagai racun, obat dan bahan untuk alkimia. Tapi karena menjijikan, kami lebih memilih membuangnya.


"Sekarang, ayo kembali ke guild!!" kata Yopi dengan semangat.


Nah, tiga tahun sudah berlalu sejak pertama kali aku mengenal mereka, sejak misi pertama kami menangkap kelinci, sejak hari pertama kami membuat grup pemburu yang dipimpin oleh Yopi. Sekarang kami sudah mencapai rank E dan sebentar lagi akan naik ke rank D. Nama grup kami adalah Bluestorm.


"Baiklah, 3500 Natt dan 75 reward point, selamat! grup Bluestorm kalian sekarang naik ke rank-D."


""Yeaa ...""


Seperti biasa, kak Dola si resepsionis guild mengurus penyelesaian misi kami. Setelah menyerahkan kulit Lizardon dan kartu Id pemburu kami kak Dola memberikan uang dan reward serta mengumumkan kenaikan rank pemburu kami. Sekarang kami semua resmi sebagai pemburu rank-D.


"Lagi, lagi kalian menjadi pemburu rank D termuda di kota ini." kata Kak Nina yang baru saja selesai mengurus pemburu lain.


"Hehe ..." Yopi tertawa malu.


"Tentu saja, karena kami jenius, haha." Lina malah berlagak sombong dengan gaya yang imut.


"Tapi, Semua itu berkat Adel." kata Yopi sambil merangkul bahuku.


"Ya, kalau saja, Adel tidak ada. Ini pasti akan sulit."


"Ya, ya ... Adel yang terbaik."


"A-aku hanya membantu ..." melihat bagaimana mereka memperlakukanku, aku jadi malu.


Tanpa ikut berkomentar Nerhy, Alpha dan Zoro juga ikut tersenyum.


**


Memang, tiga tahun sudah berlalu. Dalam grup Bluestorm kami yang sekarang sudah berusia tiga tahun, aku adalah yang paling muda 10 tahun, dan Nerhy adalah yang paling tua 16 tahun. Dan di dalam grup ini juga, point reward-ku adalah yang paling tinggi dan Nerhy adalah yang paling rendah.


Kenapa bisa begitu? yah tentu saja karena Nerhy tidak bisa setiap waktu ikut mengambil misi. Sebagai pelayan Nerhy harus melakukan pekerjaan rumah seperti pergi belanja ke kota dengan Moris ayahnya atau membantu Nerhy di dapur dan membersihkan rumah.


Aku tidak bisa memintanya untuk meninggalkan pekerjaannya, melihat betapa giatnya Nerhy melakukannya. Sungguh, aku sangat bersyukur memiliki Nerhy dan keluarganya sebagai keluargaku juga.


Setiap hari, kami mengambil misi perburuan kadang hanya berempat kadang berlima dengan Nerhy. Dan di setiap misi itu, entah berapa kali bahaya serupa terjadi seperti misi pertama kami, menangkap kelinci. Tentu, aku langsung bertindak cepat membunuh monster yang dapat membahayakan teman-temanku.


Niatnya, aku ingin membagikan hasil dari monster itu pada mereka semua, tapi mereka menolak. Yopi dengan bijak berkata padaku "monster itu adalah hasil buruanmu, Adel membunuhnya untuk melindungi kami. Jadi sudah semestinya uang dan reward pointnya milik Adel" katanya.


Begitulah bagaimana aku bisa menjadi rank-D lebih dulu dari mereka semua.


"Ayo kembali ke markas."


Telaga dan air terjun tempatku berlatih dulu, sudah menjadi tempat berkumpul kami semua. Tidak ada yang merasa aneh sejak aku menyebut "tempat ini adalah markas kita". Mungkin karena mereka semua masih anak-anak, perasaan ingin bermain lebih tinggi dari pada memikirkan hal yang rumit. Yopi dengan mudahnya setuju dan kami semua bersorak.


Dan masih menjadi markas kami selama tiga tahun ini.


"Semuanya, hari ini aku akan memasak sop daging yang kita buru kemarin." kata Nerhy sesaat kami sampai di markas.


"Baiklah, kalau begitu aku dan Adel akan cari kayu bakar." kata Yopi sambil merangkulku.


"Aku juga ikut." kata Zoro


"Ka-kalau begitu, kami berdua akan membantu Nerhy." kata Valeria.


"Siap." Lina semangat seperti biasa.


Seperti inilah keseharian kami, terkadang kami berburu, kumpul dan bermain atau saat Nerhy senggang kami akan memasak dan makan-makan. Terkadang kami juga berlatih tanding untuk melatih skill pertempuran kami.


Ketika ia sudah mencabut rapier itu dari sarungnya, pedangnya tidak akan pernah meleset dari targetnya. Andaikan ia terus melatih tekniknya itu, aku yakin Lina akan menjadi salah satu pendekat pedang hebat dari kota Folance.


Sementara itu Aku dan Yopi, kami punya cara masing-masing dalam menggunakan pedang. Meskipun Yopi agak lambat dalam memahami gerakan, sebagai pengguna great sword atau pedang besar sepertinya ia mengikuti jejak ayahnya. Sedangkan aku, yah ... aku punya banyak variasi.


"Baiklah, saatnya makan."


Masakan Nerhy selesai dan kami pun menyantapnya dengan lahap, di atas meja kursi kayu yang sudah lama kami buat di bawah pohon di pinggir telaga.


Telaga ini, meskipun berada di dalam hutan kami tak perlu cemas monster akan datang menyerang. Karena aku sudah memasang barier di lingkup sekitar sini. Aku membuat rune dan lingkaran sihir yang akan aktif secara terus menerus dan menyembunyikannya di balik batu dan di dalam tanah. Selama Barier itu aktif, kami akan tetap aman.


**


Hari itu adalah salah satu dari waktu latihan kami dan kebetulan mister Poli dan Kadhan sedang senggang sehingga mereka menyempatkan waktu untuk melihat hasil latihan kami.


Latih tanding antar aku dan Yopi, dilakukan di tanah lapang tidak jauh dari telaga. Selain Mister Poli dan Kadhan yang menonton ada Lina, Nerhy, Valeria dan Zoro yang sedang beramalas-malasan di atas pangkuan Valeria.


Kami akan bertarung 5 rondo dengan aku yang menggunakan Siliverum dan Yopi menggunakan great sword kesayangannya. Dengan aba-aba "Mulai!" dari mister Poli pertarungan kami dimulai.


Keuntungan dari menggunakan greatsword adalah kekuatan pedangnnya yang besar tapi karena beratnya ayunan pedangnya tidak secepat pedang biasa. Siliverum ku, selain kemampuannya dalam menyerap sihir hanyalah pedang biasa dengan bilah ganda, yang panjangnya kurang dari 1 setengah meter. Akan tetapi di bandingkan greatsword Yopi yang hampir 2 meter melebihi tinggi badannya sendiri, pedangku lebih cepat.


"Aahh ... aku kalah." dan pertarungan di selesaikan dengan kemenanganku dan skor 3-2.


"Kali ini, aku yang menang!" aku bersorak.


"Selanjutnya, Valeria dan Nerhy!" kata Kadhan. "Ayo majulah, aku ingin kalian menunjukan hasil latihan kalian."


"Ooh ... latihan dari mantan ksatria memang beda." sindir mister Poli.


"Ini untuk kebaikan mereka."


Kadhan mengatakan pada kami semua, wajib untuk dapat menguasai penggunaan belati atau pun pisau. Sebagai mantan Ksatria kerajaan sepertinya memiliki senjata cadangan untuk keadaan darurat tampaknya menjadi suatu hal yang sangat penting. Demi keselamatan pribadi serta tim, begitulah yang Kadhan katakan pada kami.


Aku, Yopi dan Lina tidak ada masalah dengan itu karena kami pengguna pedang. Tidak begitu sulit untuk menggunakan belati sebagai senjata.


Tapi, Valeria adalah penyihir dan Nerhy adalah pemanah keduanya adalah penyerang jarak jauh, sangat rentan bagi mereka jika tiba-tiba musuh menyerang dari dekat. Sebelumnya ia juga sudah pernah membawa mereka ke dalam hutan untuk membunuh monster hanya dengan membawa belati.


Dan begitulah, alasan Kadhan meminta keduanya untuk berlatih tanding untuk menunjukan hasil latihan mereka, dengan menggunakan belati.


""Baiikk ..."" dan jawaban malas terdengar dari mereka berdua. Sepertinya keduanya sudah sangat menyukai serangan jarak jauh.


**


Mister Poli dan Kadhan adalah guru kami yang mengajarkan bagaimana cara bertarung, kecuali Valeria. Kedua pengguna pedang itu hanya mengetahui sedikit tentang sihir jadi mereka tidak bisa mengajarkan Valeria tentang sihir.


Lalu siapa guru Valeria? Valeri juga punya dua guru yang mengajarkannya tentang sihir mereka adalah Alpha dan Rogue kakeknya Valeria.


Valeri memang mempunyai bakat untuk menjadi penyihir. Di awal belajar sihir dengan Alpha Valeria sudah dapat mengontrol aliran mana di dalam tubuhnya dengan mudah. Entah karena bawaan rasnya yang setengah elf atau ajaran dari kakeknya yang juga seorang penyihir. Dan ternyata, Rogue memang belum mengajarkan sihir pada Valeria.


Setelah Alpha menjelaskan tentang teori sihir pada Valeria menurut buku sihir yang pernah ku baca. Valeria mampu menguasai semua jenis sihir elementail seperti api, air angin dan tanah. Akan tetapi hanya sebatas dalam jumlah kecilnya saja. Ia hanya dapat membuat varian serangan dari elemen angin saja.


Kemudian setelah menemui Rogue dan ia setuju untuk mengajari Valeria ternyata ia lebih berbakat untuk menjadi seorang Enchanter, kata Rogue.


Enchanter adalah sihir yang dapat menambahkan sifat fisik atau mengubah kekuatan pada mahluk hidup dan benda mati. Rata-rata para enchanter hanya dapat bertarung di dalam tim saja sebagai suporter. Tapi mengukur dari kekuatan sihir yang dimiliki Valeria, Rogue yakin jika cucunya itu berlatih ia bisa menjadi enchanter yang hebat dan tidak ada masalah dalam bertarung solo.


Mengikuti saran Rogue Valeria pun berlatih agar dapat menjadi Enchanter seperti yang kakeknya harapkan.


"... dan pemenangnya adalah Nerhy." kata Kadhan setelah sesi latih tanding berakhir dengan skor 4-1.


"Meskipun Vale pintar menggunakan sihir enchant, kamu masih tetap saja kesulitan menggunakan belati." komentarku pada Vale.


"Ehehe ... maaf, aku masih takut melukai Nerhy." Valeria, ia masih memiliki sifat feminimnya.


"Tidak apa-apa, lain kali aku akan membantumu membiasakan membunuh monster dulu." Kataku.


Valeria berbeda dengan Nerhy dan Lina, mereka berdua sadistik.


"Terimakasih, Adel."


Saat hari sudah mulai sore kami pun kembali ke markas, istirahat, ngobrol dan tertawa. Lalu menyantap makanan yang di buat para gadis. Begitulah keseharian kami yang tenang dan damai. Aku ingin ini dapat berlangsung selamanya, tapi aku tau itu tidak mungkin.


"Andai saja ..."


Aku memandang, pemandangan langit sore dari atas batu di air terjun ini sangat indah. Sudah lima tahun aku disini dan sekarang ...


"Tuan, apa kau ... sudah memberitahu mereka? tentang itu." tiba-tiba Nerhy menyahutku dari belakang.


"Tentang itu? ohh... aku ... belum memberitahukannya."


"Tuan Adel ... aku ... Nerhy akan tetap mengikutimu dan semuanya pasti akan mendukung, jadi tolong jangan tunjukan wajah sedihmu."


"Terimakasih, Nerhy ... aku hanya merenung ... tak terasa sebentar lagi, tinggal sebulan waktu ku disini."


"Jangan katakan itu! aku tidak ingin mengingatnya." Nerhy sedikit membentak dan ku lihat matanya mulai berair.


"Tenang saja aku akan melewatinya dengan mudah."


Benar, tinggal sebulan lagi sebelum aku di usir dari mansion. Sebelum Varlort datang kemari, atau memang begitulah yang seharusnya.


...***...