Re Life In Arlogia

Re Life In Arlogia
Bab 23 : Ksatria pengecut



"Oi bocah apa yang kalian bicarakan, ayo cepat serahkan saja senjata dan perlengkapan kalian."


Hari ini, aku dan Valeria baru saja selesai membeli senjata baru dan ketika kami baru keluar tiga preman ini mengancam agar kami memberikan senjata kami pada mereka. Sekali pun mereka adalah ksatria resmi dalam nama, mereka tidak ada bedanya dengan bandit.


Dan ditengah itu semua, bukannya takut atau pun gentar, Vale malah berkeinginan mengetes senjata barunya. Berdiri dengan gagah, dalam tubuh kecilnya yang imut Valeria mengangkat tinggi staf sihirnya, Rugo.


"[Telekinesis]!"


Rugo bercahaya keemasan menerima aliran mana dari Valeria. Udara menjadi berat, batu-batu kerikil mulai terangkat, beberapa tong kayu di sisi pinggir jalan itu juga terangkat, semua benda terangkat melayang di udara.


"Yatta... aku berhasil mengangkatnya tanpa menyentuhnya." Valeria senang dengan keberhasilannya, tapi sepertinya musuh tidak senang sama sekali.


"A-apa yang coba kau lakukan?!" kata salah seorang yang sepertinya pemimpin dari mereka bertiga "Oi hentikan bocah sialan itu!" Dua orang maju dengan pedangnya, target mereka adalah Valeria.


"Zoro jangan biarkan mereka mendekati Vale!"


"Siap!"


Dengan menggunakan pedang biasa aku bersiap untuk menahan satu orang di sisi kanan dan Zoro juga berubah ke seukuran anjing menahan yang satu lagi yang datang dari sisi kiri. Setelah mengapraisal mereka sejenak, Alpha mengatakan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menggunakan sihir, jadi ini tidak akan sulit sama sekali.


Kami bersiap menyerang.


"Haa!"


Tapi sepertinya itu tidak perlu, karena batu-batu kerikil itu menyerbu mereka berdua yang penuh dengan bukaan. Valeria menyerbu habis kepala dan bagian atas tubuh mereka dengan batu kerikil yang terus berputar-putar.


Tidak ada kesulitan yang kupikir akan muncul di wajah Vale, batu kerikil yang berotasi tak berhenti menghujani mereka, bergerak di udara dengan mulus menyerang mereka dari setiap titik buta, Kedua preman itu tidak punya pilihan lain selain melindungi mata mereka yang terus saja menjadi target.


Valeria mengerakkan semuanya, bagaikan itu adalah bagian dari tubuhnya. Kemudian dengan tong kayu itu, ia menghantam mereka sampai terjatuh.


""Argh""


"Bocah sialan!!"


Pemimpinnya maju dengan pedangnya yang terangkat, mengincar Valeria. Tanpa perlu membalas makiannya aku maju menghadapinya.


KLANG


Pedang kami beradu.


"Kau berani melawanku yang seorang ksatria ini, Bocah!"


Mengambil kuda-kuda membungkuk dengan pedang yang sudah siap untuk ku tebas, aku menargetkan pedangnya berniat untuk membuka sikap pertahanannya. Aku akan meyerangnya saat itu juga.


"Mengancam orang lain untuk mendapatkan barang mereka, kalian tidak ada bedanya dengan bandit."


Tetapi tidak seperti yang kuharapkan, ia sempat menghindar dan mengatur ulang kuda-kudanya. Caranya bergerak benar-benar tampak seperti pro. Preman ini, cukup pandai menggunakan pedang.


"Hah ... kalau begitu rasakanlah pedangku ini!"


Mungkin ia memang seorang ksatria, bayaran. Yang bekerja dari uang para klien mereka. Kuakui pria ini memang kuat, tapi ia masih jauh lebih lemah dari mister Poli dan Kadhan.


KLENG


Lambat.


SYUT


Setelah berhasil memberinya sayatan dari pedangku, aku menepis pedangnya sampai terlepas dari tangannya, menendangnya sampai terjatuh telentang, melompat lalu berdiri tepat di atas dadanya dengan ujung pedangku di lehernya.


"Rasakanlah pedangku." Mengulang ancamannya barusan aku memberikannya senyum dan mata merendahkan dari seorang bocah.


""Bos!"" Dua orang itu bangkit lagi, ingin menyerangku.


"Hiaa!" Tapi di sana ada Vale yang dengan sihir telekinesisnya mengangkat dua tong kayu itu dan menjatuhkannya tepat di atas kepala mereka berdua.


""Argh""


Keduanya tumbang dengan benjolan besar di kepala mereka, sekarang tersisa sang pemimpin.


"Siapa kalian sebenarnya! Tidak mungkin bocah biasa biasa mengalahkan kami yang seorang ksatria dari ibu kota_"


"Kutebak! Kau hanya ksatria pemalas yang tidak becus dan tidak pernah meninggalkan ibu kota!"


"A-apa! Jangan seenaknya bicara bocah!" Dia emosi dan hendak bangkit berdiri, kuhentakkan kakiku di dadanya untuk menjatuhkannya lagi "Ugh"


"Dunia luar penuh dengan orang kuat seperti kami, membanggakan diri hanya karena datang dari ibu kota, bajingan pengecut sepertimu yang menargetkan anak-anak tanpa mengetahui apa-apa sebaiknya tidur saja di penjara."


"Sialaannn!!!"


"Zoro, kau belum dapat bagian bukan."


Niatnya memang aku meminta Zoro untuk melindungi Vale, tapi ternyata tidak perlu karena sihirnya Vale bekerja dengan baik.


"Okee..."


Kemudian Zoro berubah menjadi sebesar anjing buldog dan duduk di atas ksatria pengecut itu. Ia melakukannya dengan baik, dan sambil bersenang-senang menginjak tubuh ksatria itu sambil mengancamnya dengan cakar tajam Zoro.


"Hiyaahh ... Aku berhasil, Adelll ... Rugo, terbaik."


Staf sihir Rugo, aku tak mengira Vale akan dapat menguasai dengan baik dalam waktu singkat, pada pemakaian pertama. Aku saja butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan Siliverum.


Bukan hal yang mustahil bagi Vale untuk menjadi penyihir yang jenius di masa depan, semua hanya masalah waktu. Jadi terpikirkan olehku, andai saja Valeria lahir sebagai anak pertama keluarga Magstain, andai saja aku dan Vale bertukar tempat sejak lahir. Aku yakin, ia pasti sudah_


"Adelll .... Terimakasih."


Ah, sebaiknya aku tidak perlu memikirkan itu.


"Benar, master tidak usah sampai memikirkan itu, kau harus bersyukur." Alpha tiba-tiba muncul di depanku.


"Adel, memikirkan apa?" tanya Vale.


"Tidak ada."


"Ia baru saja memikirkan Vale."


Oi, jangan seenaknya saja membocorkan isi pikiran mastermu!


"Ouhh ..." datang dan melompat padaku, Valeria memelukku. "Aku juga memikirkan Adel."


"Hhh..."


Ya ... aku bersyukur Vale tidak lahir di keluarga Magstain sehingga aku dapat bertemu dengannya sekarang. Coba saja kalau ia lahir di keluarga itu, jadi putri pertamanya Varlort dan Liliard, mungkin suatu hari aku malah akan bermusuhan dengannya.


"Permisi ... izinkan aku untuk meminta maaf sebelumnya."


Tiba-tiba, suara berat mengejutkanku dari belakang, membuatku menoleh dan berpikir.


Butler?


Itu satu-satunya yang terpikirkan olehku ketika melihat bapak berkumis ini menghampiri kami. Siapa dia? Apakah pakaian pelayan yang mirip butler itu memang baju kerjanya? Atau Cuma baju biasa yang mirip dengan pakaian butler.


"Apa kau teman-teman mereka?" aku waspada sambil menunjuk pada ketiga pengecut itu.


"Bukan, tapi sayalah yang menyewa mereka, mohon maafkan saya atas keributan yang mereka sebabkan."


Aku sedikit terkagum.


Ia menundukkan kepalanya padaku saat meminta maaf kemudian cara bicaranya yang dengan sedikit ekspresi dan juga posturnya yang terlalu sopan, sikapnya itu membuatku gugup dan bingung ingin berkata apa.


"Sebagai kompensasi atas kekacauan ini, saya akan mendengar permintaan anda."


Aku bisa meminta sesuatu sebagai kompensasi? Tapi apa ia bisa mewujudkannya. Ada satu hal yang sering terpikirkan olehku untuk beberapa hari ini. Kan kucoba untuk tanyakan.


"Satu Rumah dengan toko di kota, apa kau bisa mewujudkannya?"


"I-itu ... sepertinya permintaan anda cukup besar juga." Kata butler itu sambil merogoh kantung bajunya "Mohon maaf, tapi kurasa sekantung_"


"Aku bisa mewujudkannya."


Suara orang asing lainnya terdengar datang dari belakang si butler. Pria muda dengan sisiran rambut rapi dan pakaian yang tidak biasa, alias mewah, berjalan kemari dengan senyuman manis.


"Tuan? Anda tidak perlu datang kesini." Sepertinya dia adalah tuan dari Butler.


"Aku hanya sedikit penasaran kenapa kau begitu lama, Jason." Ia menghampiri Butler bernama Jason itu "Dan seperti yang kuduga terjadi sedikit keributan di sini."


Lalu melihat ke arahku.


"Datanglah ke rumahku, lalu kita akan berbicara di sana."


"Baiklah."


Tidak ada alasan untuk menolaknya, malah akan lebih baik jika aku berhasil mendapatkan apa yang ku minta.


Rumah dan Toko, aku sudah membicarakannya dengan semua orang di mansion sebelumnya. Bahwa aku berencana untuk mencarikan mereka rumah setelah meninggalkan mansion ini. Walau pun mereka ingin menolak dengan alasan tidak ingin merepotkanku, mereka tau aku pasti tetap akan melakukannya. Jadi aku mengizinkan mereka untuk membantuku.


Nah, sepertinya sekarang aku sudah mendapatkannya.


Setelah mengikat ke tiga ksatria pengecut itu, kami bertiga aku Vale dan Zoro mengikuti arahan dari butler itu dan naik ke kereta kuda mewah mereka. Di pimpin oleh pria muda bersisiran rapi yang menunggangi kudanya, kami menuju sebuah mansion mewah di salah satu bagian kota Folance.


Pria itu, apa ia putra bangsawan?


***


.