Re Life In Arlogia

Re Life In Arlogia
Bab 17 : Gangguan saat misi



Kuberharap semuanya berjalan lancar dan aman tanpa ada gangguan sedikit pun. Tanpa perlu bertarung dan melarikan diri dengan nyawa taruhannya. Tapi tetap tak semuanya akan berjalan sesuai rencana.


Di awal tidak ada masalah.


Dengan teliti dan cerdas meraka memasang beberapa jebakan untuk Kelinci tanduk. Perangkap jaring, perangkap kurungan kotak, perangkap tanah berlubang serta perangkap lain yang sudah mereka pelajari selama pelatihan. Meskipun ini adalah praktik lapangan pertama mereka mereka melakukannya dengan benar dan serius.


Sedangkan aku berperan sebagai adik polos yang hanya dapat membantu sedikit sesuai permintaan mereka.


"Bagaimana menurutmu Adel, jebakan-jebakan ini pasti akan menangkap banyak kelinci tanduk."


"Ya... Yopi, kak Lina dan Vale memang hebat." kataku dengan semangat, menunjukan ekspresi palsu wajah seorang bocah.


"Hm, hm."


Mereka memang hanya anak-anak, mendengar pujianku Lina langsung merasa bangga dan senang lalu tersenyum-senyum sendiri. Yopi juga, ekspresinya sangat yakin akan jebakan itu begitu juga dengan Vale.


Melihat mereka, aku jadi sedikit merasa bersalah. Bukan karena pujian itu tapi karena apa yang telah aku lakukan. Ada banyak kesalahan dan kecerobohan kecil saat mereka memasang perangkap di tanah, pohon dan yang lainnya.


Mereka hanyalah anak-anak yang baru belajar dan mereka tidak menyadari semua itu, karena merasa kasihan aku membantu mereka dengan menggunakan sihirku secara diam-diam.


Seperti saat mereka menyambung dan mengikat tali, ikatan itu bahkan masih lemah dan mudah putus. Aku memperbaiki semuanya dengan diam-diam menggunakan manipulasi aliran magis di udara.


Mungkin Yopi dan Lina tidak menyadari itu tapi aku ragu tentang Valeria. Sepertinya ia melihatnya, tapi ia tidak paham apa yang aku lakukan.


"Adel?" Valeria bertanya penasaran.


"Aku memperkuat jebakannya." kataku.


"Oooh ..." Valeria kagum.


Anak-anak memang mudah di manipulasi, begitulah kata orang dewasa.


Kami berempat bersembunyi di balik bangkai pohon kayu besar berharap sambil menantikan seekor kelinci datang dan masuk ke dalam perangkap.


"Ahh! itu dia!." pekik Yopi.


"Ssst... diam Yopi!." Bentak Lina.


"Maaf, maaf ..."


Satu Kelinci tanduk telah masuk ke dalam perangkap mengikuti aroma makanan kesukaannya, buah yang mirip wortel. Dia tertangkap dalam jaring, lalu Yopi segera menarik jaring dengan tali jerami yang sudah ia siapkan sebelumnya.


Sangat kreatif, semua jaring dan perangkap yang mereka buat, bahannya sangat sederhana beberaa helai kayu dan tali-tali jerami. Meskipun mereka hanyalah anak-anak, aku kagum.


Ternyata ilmu dan taktik pemburu berbeda jauh dengan petualang yang berburu monster yang ku tau dari beberapa novel yang pernah kubaca. Petualang dunia lain yang ku tau berburu monster dengan pedang dan sihir mereka, mereka bertarung. Sedangkan pemburu lebih kepada taktik dan perangkap, meskipun ada banyak juga pemburu bar-bar yang mengejar dan menyerang buruannya.


"Lihat! ada satu lagi di sana." Lina menunjuk dengan antusias dan suara pelan.


"Ya, disana juga ada!" Valeria juga melihat kelinci tanduk yang lain.


Setelah satu kelinci tanduk berhasil ditangkap beberapa kelinci tanduk yang lain juga ikut mendekat.


Misi adalah permintaan akan kelinci tanduk hidup-hidup. Katanya daging kelinci tanduk ini termasuk salah satu daftar daging enak dan biasanya permintaannya adalah memburu daging kelinci tanduk tidak masalah dibunuh, tapi sekarang pelanggan memintanya hidup-hidup. Apa mereka hendak menernakkan kelinci dan membuatnya berkembang biak didalam kandang buatan mereka?


Mungkin saja, untuk lebih mempermudah mereka mendapatkan kelinci tanduk, mereka hendak membuatnya menjadi ternak.


"Wah ... kelinci tanduknya semakin banyak, lihat, lihat." Yopi semakin antusias melihat pemandangan dimana satu persatu kelinci tanduk keluar dari balik semak dan masuk ke perangkap.


Aneh, ini jelas tidak normal.


Ada lebih dari 10 kelinci tanduk dan mereka semua berlari.


"Master!" kata Alpha dengan keras di dalam kepalaku.


"Ya! Mapping!"


Dan, hasilnya sesuai dengan dugaanku.


Pada radar map milikku, sekitar 30 meter dari titik kami berada terdeteksi dua puluh titik putih yang kutebak adalah kelinci tanduk sedang dikejar oleh seekor monster yang lebih besar dengan lambang titik merah. Satu persatu dari kelinci tanduk menghilang dari radar yang berarti berhasil di lahap oleh monster tersebut. Kurasa aku tau monster apa yang mengejar kelinci tanduk ini.


Bukan hanya manusia, kalian para monster juga menyukai daging kelinci bertanduk ini? haha ... hewan kelinci memang populer.


"Banyak sekali, kelincinya imut-imut ..." kata Lina.


"Ya, ya ... bulu putih mereka aku ingin menyentuhnya." kata Valeria.


Yopi, Lina dan Valeria mereka tidak tau ada bahaya yang datang dari depan. Pemandangan yang mereka lihat sekarang hanyalah sekumpulan kelinci putih bertanduk melompat-lompat kesana kemari. Aku tak ingin menghapus wajah gembira mereka dengan rasa takut saat monster itu tiba-tiba muncul.


Jadi, aku harus bertindak sebelum monster itu datang.


"Vale sudah tidak tahan, Vale ingin mengelusnya!" Tiba-tiba Valeria berlari ke sana, sebelum aku sempat berdiri dan mengejarnya.


Hey!!!


karena terkejut aku tak sempat meneriakkannya.


"Valeria curang, aku mau ikut juga ..." Lina pun juga, ia berlari keluar mengikuti Valeria.


"Yah, kalau begitu aku juga, ayo Adel." Yopi juga berdiri, dan mengulurkan tangannya untukku.


Aku masih membeku karena terkejut mereka mendahuluiku.


Monster itu sudah semakin dekat dan semakin banyak kelinci yang keluar dari balik semak-semak.


"Wah, kelincinya semakin banyak." kata Valeria, bersamaan dengan Alpha yang memperingatiku


"Master!!"


Pada saat itulah, Valeria yang sedang mengikuti dari mana asal kelinci, tiba-tiba terjatuh lesu menyadari sesosok monster mulai mengintip dari balik semak. Kaki dan tangannya gemetar ketakutan melihat seekor monster rubah hitam sebesar harimau menunjukan barisan gigi tajamnya yang berliur dan mata kuningnya.


Grrrraaurr


"Hiii ..."


"Tidak! tak kan kubiarkan itu terjadi."


[Fly Booster][Power Up][Take, Siliverum!]


Dalam waktu kurang dari satu detik, aku melesat terbang, mengambil pedang perakku Siliverum dari penyimpanan dan menebas rapi leher sang rubah memisahkan kepala dan tubuhnya dan mendarat dengan sempurna dibelakang rubah tanpa noda darah sedikit pun.


Seperti adegan di film anime action di mana pemeran utamanya menebas musuh dengan pedang dan berpose dingin setelahnya, aku membayangkan diriku seperti itu.


Valeria, selamat. Kubersyukur aku masih sempat.


"Vale, kamu baik-baik saja kan?"


Segera aku menghampiri Vale, meletakan pedangku di tanah dan meraih kedua bahunya. Ia masih gemetar dan matanya menatap ke dalam mataku, sangat dalam dan kusadari kesadarannya belum pulih sepenuhnya.


"Vale!"


Kira-kira seperti apa kami terlihat? anak SD berpacaran yang saling menatap satu sama lain layaknya hendak berpelukan? Tak ada hubungannya dengan itu dan tak mirip sama sekali.


Meskipun memang benar, Vale langsung memelukku setelah kesadarannya kembali dan menangis di dadaku.


"A-aku ... Hua ... whaa ... hiks, hiks. Aku takut ... hiks, hiks ..."


Kami masih anak-anak jadi jangan samakan ini dengan adegan mesra di film-film romance dewasa.


"Sudah tidak apa-apa, aku disini."


"Huaa ..."


Valeria terus menangis, terduduk sambil memeluk diriku yang lebih pendek darinya. Air matanya bercucuran membasahi bajuku dan suara tangisannya lepas sampai ke dalam hutan.


"Huaa ..."


"Whaa ..."


"Kenapa kalian juga ikut menangis? ya ampun."


Lalu ketegangan ini berakhir dengan semua orang menangis, kecuali diriku. Ayolah, bukankah kalian semua lebih tua dariku?


*


Hari sudah mulai sore saat mereka semua selesai menangis. Aku membawa mereka untuk duduk beristirahat di bangkai pohon sementara aku memotong dan memanggang seekor kelinci tanduk sebagai makan siang yang terlambat.


Mereka mengatakan bahwa mereka membawa bekal masing-masing di tas sihir tapi aku menolak mereka untuk mengeluarkannya dan memasakkan daging panggang kelinci ini.


"Adel, ternyata pandai memasak, sama seperti mama."


"Tidak juga, aku hanya terbiasa melakukan ini saja kak Lina. Aku masih belum bisa memasak di dapur seperti mamamu."


Untung saja aku masih menyimpan beberapa garam yang kugunakan untuk makan selama pelatihanku di hutan dulu. Jadi kami tidak harus makan daging tawar tanpa rasa, tapi ternyata tidak seperti yang kubayangkan.


"Hmm ... lezat." kata Lina.


"Enak ... aku mau tambah." Yopi langsung mengambil sepotong lagi.


"V-vale juga mau tambah." Valeria mengambil dengan malu-malu.


"Tinggalkan untukku." Lina cemas dagingnya habis.


Daging kelinci ini sudah terasa manisnya tanpa diberi tambahan rasa apapun dan malah jadi semakin lezat saat aku hanya menambahkan garam.


"Hahahaha... " dan aku tertawa melihat kelucuan mereka.


Saat sedang berkumpul seperti ini, aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku, kehangatan. Aku sudah merasakan ini sebelumnya. Ini layaknya kehangatan sebuah keluarga.


"Ngomong-ngomong soal tadi, Adel ... kamu kuat sekali! membunuh rubah itu dalam satu tebasan Adel mirip seperti ayah!" Yopi bersorak antusias. Ayahnya adalah pemburu juga dan ia sangat mengagumi ayahnya saat bekerja sebagai pemburu.


"Iya, gimana caranya Adel bisa secepat itu? aku tak sempat melihat Adel berlari karena cepat sekali." Lina juga terkagum.


Sebenarnya aku tidak berlari Lina, tapi terbang. Aku ingin mengatakan itu tapi tiba-tiba Valeria berlari kearahku.


"Adel, maafkan Vale ... maafkan Vale, kalau saja Vale tidak berlari kesana, Adel tidak akan ..." ia menundukan kepalanya meminta maaf sambil menangis.


"Tidak apa-apa, aku tidak marah, yang penting Vale selamat." Aku tersenyum dan meraih bahunya, memintanya untuk melihat perasaan tulusku.


Valeria memelukku, sambil memejamkan mataya dan berkata "Mata Adel tidak menakutkan lagi, tidak menakutkan. Monster itu lebih menakutkan." ia melepaskan pelukannya "Terimakasih sudah menyelamatkan Vale."


Aah ... tidak mungkin aku bisa menang melawan mata indah dan keimutan itu. Aku tersenyum pahit dan mengatakan "sama-sama"


*


Beberapa saat setelah acara makan kami selesai, mentari sore sudah mulai tenggelam ke arah barat. Sebentar lagi malam akan datang, dan monster yang lebih berbahaya para penguasa malam akan berkeliaran. Sekarang sudah saatnya bagi kami untuk pulang.


Karena kekacaun tadi siang ada cukup banyak kelinci tanduk yang masuk ke perangkap kami. Lina dan Vale bersegera untuk menyelesaikan beberapa tas jerami yang kurang untuk membawa semua kelinci tanduk.


Ada lebih dari 10 kelinci tanduk, tapi kami hanya mengambil 10 dan melepaskan yang lainnya. Sepuluh kelinci tanduk itu, aku yang memilihnya agar jumlah jantan dan betinanya seimbang. Jadi, ada 5 betina dan 5 jantan.


Aku juga menyimpan mayat monster rubah yang ternyata bernama Madfox ke dalam sihir penyimpananku. Mereka memang melihatku menggunakannya, tapi karena terlalu rumit untuk menjelaskannya kukatakan ini rahasia.


Dua dari kami membawa 2 kelinci tanduk dengan 2 tas jerami lalu dua lagi, aku dan Yopi membawa 3. Jangan tanya kenapa kami tidak menggunakan tas sihir penyimpanan untuk membawa kelinci-kelinci ini? Alat sihir itu tidak dapat menyimpan mahluk hidup di dalamnya.


"Apa semuanya sudah siap? Lina, Vale tidak ada masalahkan dengan kelinci tanduk kalian?"


"Tidak, tidak ada masalah."


"Tidak ada."


"Baiklah, kalau begitu ayo kita pulang."


Yopi, Jiwa pemimpinnya terlihat jelas, memimpin kami pulang pergi dengan Yopi memimpin di depan dan aku berjaga di belakang kami kembali ke kota, menuju Hunter Guild.


***