Re; Sekai

Re; Sekai
Episode 4.2



Perlahan cahaya memasuki mata Keiichi di antara kegelapan, dan ia perlahan melihat gorden hijau mengelilingi dirinya. Perban memenuhi kepala Keiichi sedikit menutup pandangnya, tubuhnya serba kesakitan oleh lebam dan bengkak. Sekali Keiichi menarik napas, bau desinfektan memenuhi paru-parunya. Seketika ia tahu dirinya berada di rumah sakit.


“Keiichi…”


Suara yang familiar terdengar di telinga Keiichi, ia baru sadar tangannya telah hangat didekap oleh pipi kakaknya Maria yang terlihat khawatir menatapnya.


“Kakak…”


“Keiichi? Kau bangun! Syukurlah... Oh tuhan, kau begitu berkeringat tadi, dan… kau menangis di tidurmu...”


Keiichi sadar keringatnya telah banyak turun dari dahinya dan kain yang dipegang Maria begitu basah hingga bisa saja jika diperas turun deras air dari kain tersebut.


“Aku… aku mimpi buruk…” Ucap Keiichi, dan Keiichi menerka-nerka apa yang baru saja dimimpikannya, Aekilis? Raja kegelapan? Apa dia tengah bermimpi komik yang pernah dibacanya?


“Aku seperti ada di sebuah anime, dan ada adegan sedih di dalamnya.”


“...”


Maria terdiam menatap Keiichi tidak sesuai ekspektasi Keiichi setelah mendengar jawaban bodoh tersebut, setelah dirinya diisi dengan kelegaan, seakan pikiran lain memenuhi kepalanya.


“Kakak…”


Keiichi memegang tangan kakaknya, “Aku tidak menepati janjiku, kau pasti marah bukan?”


Maria menggelengkan kepalanya, “Kasumi dan gurumu sudah menceritakannya...” Sekali lagi Maria terdiam setelah berucap pendek menjawab Keiichi, seakan dia kehabisan kata-kata sebelum terucap lagi kalimat untuk menyelesaikan ucapannya, “Ini bukan salahmu.”


Lalu tiba-tiba Keiichi keluar dari kasurnya, dan Maria dengan panik menghentikan Keiichi, “Keiichi! Apa yang kau lakukan?!”


“Aku ingin tahu kondisi mereka… Aku pasti sudah berbuat sesuatu yang begitu parah makanya kakak jawabnya seperti itu!”


“Kondisi siapa? Kau juga sama parahnya dengan mereka… Sudah sini, kau butuh istirahat, jangan bikin gara-gara… atau… atau… huaa….”


Maria tiba-tiba menangis, dan Keiichi menghentikan langkahnya keluar dari kamar rumah sakit.


“Aku tak bisa melindungimu… Oh tuhan, aku telah kehilanganmu sekali, dan sekali lagi kau hampir kehilangan nyawamu...”


“Kakak…”


“Lagi-lagi aku jauh darimu, lagi-lagi aku tidak bisa melindungimu… Apalagi? Apalagi yang akan terjadi dengan tanpa sedikitpun aku mampu melindungi adikku satu-satunya?”


“Kakak!”


Keiichi memegang pundak kakaknya.


“Tenanglah kak, aku tidak akan lagi…”


Maria memeluk adiknya, “Jangan tinggalkan aku lagi…”


Keiichi benar-benar tertegun dengan reaksi Maria. Dia berharap Maria akan marah dengan kedua tangan di pinggangnya membentaknya tanpa ampun. Lalu dipaksanya Keiichi menghadap para orang tua sambil menekukan kepalanya. Namun, yang dilihatnya adalah sosok Maria yang benar-benar ketakutan, memeluknya seperti benar-benar takut kehilangannya. Keiichi merasa begitu sesak di dadanya, dia benar-benar tak ingin membuat kakak yang disayanginya terlihat begitu menyedihkan seperti ini.


“Keiichi… kakak akan melindungimu, apapun taruhannya...” Bisik Maria dengan samar-samar sambil terus memeluk adiknya.


***


Keiichi dan Maria pulang dengan taxi dengan uang yang dikirimkan nenek yang tidak bisa menjenguk Keiichi karena pinggangnya yang encok. Di langit yang gelap, Maria memecah suasana sepi, bertanya seakan iseng terhadap Keiichi sambil memulainya dengan nada riang.


“Jika kau harus memilih, kota ini dengan seluruh penduduknya atau aku, kau akan memilih siapa?”


Keiichi menatap Maria, matanya terlihat serius dan ucapan keluar dari mulutnya, “Tentu saja kakak.”


“Tapi kau mengorbankan paman, nenek, teman-temanmu? Apa itu tidak masalah bagimu.”


“Aku hanya dekat dengan kakak.”


Maria tersenyum mendengar jawaban tersebut, tapi perlahan ia menelan ludahnya yang terasa pahit.


“Kalau kakak bagaimana?”


Tiba-tiba keringat bercucuran dari dahi Maria sebelum ia membersihkan dengan sapu tangannya, “Apa ACnya kurang kencang kak?” Ucap Keiichi sambil mengubah setting AC di taxi yang mereka naiki.


Demikian bukan panas yang membuat Maria gelisah, melainkan pertanyaan tersebut.


Dia baru saja bertemu dengan dilema yang membuat hatinya kacau, yang membuatnya lupa akan marah dan meledak dengan tangis di hadapan Keiichi di kamar rumah sakit.


Maya, kawan Maria menjenguk Keiichi, dan dia membawakan kabar buruk perihal Keiichi.



“Maria kau dengar kabar penembakan di pusat distrik malam? Seorang yakuza menembak dengan membabi buta sebelum ditembak mati oleh polisi!”


“Aku… tidak mendengar berita.” Ucap Maria masih memandang Keiichi, memegang tangannya yang masih lemas.


“Ini sepuluh tahun lamanya kota kecil kita ini terdapat konflik, dan kau tahu? Di gorong-gorong, juga peternakan, hewan-hewan tergeletak mati. Badan mereka dipenuhi dengan lubang, dan tidak terlihat sesuatu memakannya. Apa ini hanya ulah iseng belaka?” Maya masih mencoba menarik perhatian Maria, tapi tak terlihat Maria tertarik dengan berita yang diceritakan Maya.


Terdapat keheningan di antara mereka berdua, sampai akhirnya Maya membuka maksud pembicaraannya dia di sini: “Ibuku ingin bertemu dengan kalian berdua.” Ucap Maya yang terlihat canggung, hilang sikap riang dan blak-blakannya. Ia memutar-mutar rambutnya yang dibuat keriting menandakan dia grogi, kebiasaan yang Maria cukup tahu mengenai sahabatnya ini.


“Ibumu? Ada apa dengan Ibumu, Maya?”


Maria terlihat tertarik, dia merasa tidak enak ketika melihat Maya jadi canggung setelah berupaya berbicara padanya. Dilepas tangan Keiichi, dan Maria memusatkan perhatiannya pada kawannya ini yang malah membuat Maya semakin grogi.


“Kau tahu, ughh, aku malu mengatakannya. Tapi Ibuku seorang pendeta, dan dia sekarang tinggal di kuil di atas gunung, tempat biasa kita festival.”


“Ibumu yang memimpin tarian para Miko?!”


Maria berbicara sambil meninggikan suaranya, mencoba membuat suasana riang seperti mood yang dicoba dibangun oleh Maya sebelumnya, namun apa yang dilakukannya malah membuat Maya semakin merunduk.


“Ya, dan ibuku tertarik dengan kondisi Keiichi…”


“Apa dia tertarik dengan orang yang hidup kembali.”


“Ya… seperti itu. Aku tahu ini aneh, tapi dia percaya ada sesuatu pada adikmu. Ah, tapi bukan berarti dia benar…”


Menaikan kepalanya, tiba-tiba ia melihat Maria berubah air mukanya. Ia tidak lagi tersenyum, tapi menunjukan wajah seram yang tak pernah diperlihatkan pada Maya. Insting Maria mengatakan kawannya ingin mengucapkan kabar buruk mengenai Keiichi, “Maya, selesaikan ucapanmu.”


“Ahh… Aku tahu kau akan marah. Tapi, walau benar adikmu adalah keajaiban, ibuku barangkali orang gila. Nah, dia bilang adikmu kerasukan roh jahat seperti apa yang terjadi di kota ini pada jaman dulu.”


“Kau bilang, orang yang terbaring di kasur ini bukan adikku?”


“Bukan, ibuku yang bilang begitu, Maria-chan… Nah, dalam legendanya suatu hal yang sama pernah terjadi di kota ini, orang yang hidup kembali membawa roh-roh jahat lainnya menuju kota dan memba--”


“Maya, kau mau bilang Keiichi membawa petaka? Makanya kau tadi cerita berita-berita aneh tersebut?!”


“Bukan aku yang bilang, tapi ibuku! Oh tuhan, Maria, kau suruh aku selesaikan omonganku bukan?”


“Maria! Benar-benar aku tak bermaksud buruk. Tapi ada baiknya kalian bertemu dengan ibuku…”


“Tidak…”


“Maria… aku tahu Keiichi tidak sama sekali kerasukan setan. Benar-benar kupikir dia gila! Makanya, kita buktikan. Ibuku, tentu karena delusinya, untuk mencoba hal sia-sia dengan mengusir setan dari tubuh Keii--”


“Keluar kau Maya! Aku benar-benar marah dan kecewa kau berkata ini padaku. Kau sama saja dengan Ryusuke!! Kau anggap Keiichi aneh bukan? Kau anggap Keiichi membawa petaka karena keanehannya, dan kau ingin membuatku berpisah dengan Keiichi. Keluar kau, keluar!!”


Maria mendorong mengusir Maya sambil dilihat keramaian yang tertarik oleh suara Maria yang berteriak-teriak bicaranya. Maya juga panik tak menyangka Maria kawannya selama ini begitu histeris terhadap ucapannya, “Maria… Ini demi kota ini Maria. Kau… Ah, tidak ada keajaiban yang datang tanpa konsekuensi, Maria!”


“Persetan dengan konsekuensi… Aku tak bisa melindunginya hari ini, tapi aku bisa melindunginya dari kalian…”


“Maria…” Berjalan Maya menjauhi Maria, dan terlihat Maria masih menatapnya dari kejauhan, “Kita masih berteman bukan, hei, Maria-chan!” Teriak Maya sambil di suruh jangan berisik oleh suster rumah sakit. Maria hanya terdiam tidak menjawab, dan ketika punggung Maya menghilang, Maria kembali ke kamarnya sambil menangis di depan tubuh adiknya yang masih tidak sadarkan diri.


Suara Line Maria berbunyi, maya mengirimkan pesan kepadanya: “Aku berjanji takkan mengusik hal ini lagi, tapi tolong jangan marah padaku…”


Maria tahu dia salah membentak satu-satu kawan terdekatnya tersebut. Dia, Maya, melakukan semua ini karena dia adalah seseorang yang jujur. Dia khawatir akan Maria juga Keiichi, tentu juga dengan ibunya, tapi Maria entah kenapa dipenuhi rasa kesal, seperti bila saja benar-benar terjadi sang ibu membahayakan nyawa adiknya. Jika saja memang yang berada di badan Keiichi adalah ruh jahat seperti yang diucapkan Maya, bukankah ini benar-benar mengerikan.


“Apa benar Keiichi bukan adikku. Ya, pagi tadi ia memasak. Lalu dia membuat babak belur hingga parah tiga laki-laki bersenjata.”


Pikiran Maria membludak dengan prasangka buruk dan tangis perlahan keluar mata Maria, sebelum tiba-tiba Keiichi mengeluarkan suara, “ugh…” dan tangis keluar dari mata Keiichi juga keringat membuat Maria menekan tombol memanggil suster dengan panik. Namun terdengar dari mulut Keiichi: “Aekilis maafkan aku… maafkan…”


Suara Keiichi terdengar begitu lirih, berat. Maria tidak tahu siapa yang disebutkan Keiichi, tapi dia tahu adiknya tersiksa dalam mimpi tersebut. Maria memegang tangan adiknya tersebut, menempelkan dalam pipinya, “Kakak di sini, Keiichi, kau tidak sendirian…”



Lalu di taxi tersebut, Maria tahu bahwa dia sudah berjanji akan melindungi adiknya. Bukan itu saja, mereka memang seharusnya melindungi satu sama lain. Apapun yang terjadi pada Keiichi, Maria takkan meninggalkannya. Mau kota ataupun dunia hancur bersamanya, pikiran yang kejauhan tersebut, memiliki jawaban yang seharusnya sama dengan adiknya yang begitu mantap menjawab akan memilih Maria.


Mengapa Maria begitu memusingkan hal ini? Mengapa dia begitu ragu? Apa jangan-jangan, dirinya juga diam-diam memiliki pikiran yang sama dengan orang-orang yang dianggapnya bajingan tersebut?


“Kakak?”


Tiba-tiba Maria terbangun dari renungannya, dan dia berucap dengan spontan.


“Keiichi, jika aku harus memilih kota, dunia apapun itu dan kau, aku akan memilihmu Keiichi!”


Ucap Maria dengan mantap sambil memandang tajam pada Keiichi, dan Keiichi kebingungan menjawab kakaknya tersebut, “Ini hanya pertanyaan permainan ‘bagaimana kalau’ saja bukan?”


“Ya, tentu saja, tapi aku begitu merasa bersalah berpikir sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Haha…” Ucap Maria, masih mengelap keringatnya.


Demikian terlihat Keiichi tidak terlalu bermasalah dengan jawaban Maria.


“Yah, tidak apa kok kak. Kau punya kak Maya, teman-teman klub panahan kakak, Nenek juga dekat dengan kakak, lalu aku dengar kau juga sedang dekat dengan pria, aku dengar semua itu dari kak Maya.”


“Aa… aku tidak dekat dengan siapa-siapa? Ya, Ryusuke itu ternyata tidak seperti yang kupikirkan!” Ucap Maria marah dengan wajah memerahnya.


“Haha… Kakak wajahnya merah banget.” Ucap Keiichi dan membuat Maria semakin mendumel, “Aaaah Maya dan mulut besarnya itu!”


Saat itu juga terbesit dari pikiran Maria, “Ah, dan kau juga bukan? Ada Kasumi yang sesungguhnya peduli denganmu, lalu Takeshi juga menjenguk bahkan mencoba memberi alasan kepada ibu guru, aku yakin pria berandal tersebut sebenarnya punya hati baik dan ingin berteman denganmu. Nenek pun, walau jarang berbicara denganmu, ketika kemarin kau mening… ya, dia menangis dengan penuh penyesalan karena belum sempat dekat denganmu…”


“Tapi semuanya tidak sepantaran dengan kakak. Temanku besok bisa siapa saja, hubunganku dengan kawan-kawan begitu mudah berubah lewat waktu, tapi mau waktu dan tempat berubah, aku hanya punya satu kakak.”


Ucapan Keiichi terdengar entah mengapa terdengar dingin di telinga Maria. Pandangannya ketika berucap itu seakan jauh memandang sesuatu di ingatannya.


Belum lama Keiichi menjawab omongan kakaknya, mobil taxi berhenti di depan rumah Keiichi. Hujan rintik-rintik tengah turun saat itu. Maria menyuruh Keiichi tetap di mobil selagi Maria berlari masuk ke rumah mengambil payung.


...


Namun kembali dengan payung besar di tangannya, Keiichi sudah tidak ada di dalam mobil.


“Keiichi? Pak supir, adik saya--”


“Nona, adik anda tadi berlari mengejar sesuatu ke arah sana,” Sambil menunjuk ke arah taman, “Eh, hei! Nona bayar dulu!”


Maria berlari meninggalkan supir tersebut. Dia merasakan firasat buruk, dan jantungnya berdebar begitu kencang. Apa yang dikejar Keiichi? Bukankah seseorang bernama Takeshi juga bercerita Keiichi mengejar sesuatu yang membuatnya tertabrak truk?


“Keiichi!”


Teriak Maria, dan ia melihat bekas jejak di antara lumpur di taman. Maria ikuti jejak tersebut, sampai jejak tersebut mengarah pada gang di antara gedung-gedung. Gang gelap, dengan karung-karung sampah. Di kejauhan ia lihat Keiichi dengan basah dan perban yang memerah di kepalanya.


“Keiichi! Apa yang kau lakukan, eh?”


Di hadapan Keiichi terdapat gadis kecil, wajah pucat seperti boneka porselen, mata biru bersinar, dengan rambut blonde dan perban dengan bercak darah seperti Keiichi. Dia memeluk boneka yang sobek di antara perutnya mengeluarkan busa. Maria melangkah pelan-pelan mendekati Keiichi, dan tiba-tiba langkahnya terhenti, seakan sesuatu membuatnya tidak bisa bergerak.


“Ayah…”


Ucap gadis kecil tersebut melihat Keiichi, tangannya menunjuk pada mayat anjing yang dipenuhi lubang.


“Sesuatu petaka akan membunuh seisi kota, dan semua orang yang kau sayangi.”


“Siapa kau?” Ucap Keiichi, “Mengapa kau menyebutku ayah?”


“Kau harus menghentikannya, Ayah. Lalu, dia!” Ucap gadis itu menunjuk Maria, “Dia membawa baumu.”


“Kakak!” Keiichi baru sadar sang kakak di belakangnya, tapi terlihat Maria tidak mampu bergerak, begitupula menggerakan bibirnya, lalu pandang Keiichi kembali ke gadis tersebut sambil berkata, “Siapa sesuatu yang akan membuat celaka? Hei!”


Tapi sekali ia menoleh kembali, sudah menghilang gadis tersebut dari pandangan mereka berdua. Perlahan Maria kembali bergerak, dan kakinya terasa begitu lemas hingga terjatuh Maria di antara genangan air. Keiichi segera berlari ke arah Maria, dan mengangkat Maria di antara genangan air tersebut. Maria menatapnya, “Keiichi, apa yang barusan kulihat?”


“Bukan apa-apa kakak.”


“Apa yang baru saja kudengar? Petaka? Celaka?”


“Hanya ilusi. Kakak baru saja terbangun, ya, kau pasti kelelahan menemani aku tadi.”


Maria tahu apa yang dilihatnya dan dirasakannya. Sesuatu yang lain dari dunia ini. Ucapan Maya membayangi pikirannya.


Benarkah? Pikiran liar memenuhi kepalanya, Benarkah Keiichi membawa petaka bersamanya?


“Ya semua ini hanya ilusi, aku terlalu lelah. Bisa kau tolong kakak jalan? Aku lupa bayar taxi tadi…”


Keiichi mencoba membangunkan Maria, menopangnya dengan pundaknya. Sedangkan Maria dengan pandang lesu menatap di antara genangan air, melihat refleksi dirinya dan Keiichi, berucap berkali-kali, mencoba menyangkal pikiran liarnya dan apapun yang terjadi tadi,


“Semuanya hanya ilusi… aku terlalu lelah… tidak ada apa-apa, semuanya akan baik-baik saja…”


Maria melihat ke arah Keiichi, “ Semuanya akan baik-baik saja bukan Keiichi?”


“Semuanya akan baik-baik saja…”


Demikian, jawaban Keiichi terlihat tidak mantap diucapkannya. Maria menyelidiki wajah Keiichi yang kemudian terlihat membuang mukanya, tak ingin mata kakaknya mengintrogasinya lebih jauh. Maria memutuskan untuk menghentikan berbicara dengan Keiichi perihal semua ini.