
Hujan rintik-rintik turun di pagi hari, pada waktu itu meringkuk Ryusuke dengan wajah memucat di kasurnya. Keringat deras berjatuhan dari dahinya, dan visual aneh bermunculan di kepalanya: Darah, manusia-manusia yang tertusuk di suatu palang, langit kemerahan, orang-orang yang merangkak di tanah, rambut hitam panjang yang memenuhi lantai, dan seorang anak bermata merah berteriak “Ayah… ayah…”
“Ryusuke, kau masih tak enak badan?” Ucap sang Ibu dari bawah tangga dengan suara TV yang keras, “Mau dimintai izin? Aku tahu kejadian kemarin pasti berat bagimu? Apa mau kubawa kau ke dokter?”
Ryusuke tidak menjawab, dan sang ibu menghela napas, mencoba berpikir alasan untuk absen anaknya lagi. Sebelumnya padahal sang ibu cukup kegirangan anaknya diwawancara kemarin di depan rumah, apalagi kepala sekolah menghubungi untuk memberi penghargaan kepada anaknya. Tapi jika bolos seperti ini, bisa jadi momen-momen anaknya akan jadi basi.
Selagi menelpon, sang ibu melihat ke arah piagam basket anaknya yang juara regional tahun lalu. Dia begitu bangga pada anaknya, bagaimana seorang berandal yang selalu bermasalah kini menjadi anak berprestasi bahkan pahlawan di kota kecil ini. Sang Ibu mengabaikan pikiran isengnya, menelpon sang guru anaknya izin.
Tak lama sang ibu menyetel berita di tv lokal. Dia mengecek waktu, lalu kembali ke dapur, mengecek lagi televisi. Tiba-tiba muncul berita soal sang anak, dan sang ibu menyetel suara tv keras-keras.
“Ryusuke! Nak, kau masuk TV!!”
Sekali lagi, tak terdengar Ryusuke membalas teriakan sang ibu, dan kemudian telpon berdering. Saudara, tetangga, dan suami yang bekerja menelpon sang Ibu, rumah begitu ramai saat itu oleh suara TV dan suara Ibu yang bicara layaknya ibu-ibu ngerumpi.
Beberapa menit kemudian setelah semuanya selesai, sang Ibu mulai membawakan makan pagi dan minum ke kamar Ryusuke, dan terdengar Ryusuke berlari ke WC dan muntah dengan suara muntahan yang begitu mengkhawatirkan.
“Ryusuke!! Serius, aku akan telpon dokter!!!” Sang Ibu teriak di depan kamar mandi, kemarin memang Ryusuke memprotes keputusan ibunya membawanya ke rumah sakit, “Kau sakit nak!”
“DIAM!!” Teriak Ryusuke spontan, “KALAU KAU TERIAK LAGI, KUBUNGKAM MULUTMU!!”
Tidak ada jawaban, dan sang ibu sambil menangis membersihkan makanan yang berjatuhan di lantai dan turun ke dasar lantai sambil mengeluh anaknya yang tidak tahu diuntung, “Aku benar-benar marah! Dengar itu Ryusuke!!” Ucap sang ibu ngambek sambil membawa tas dan payungnya.
Baru mau membuka pintu, tiba-tiba pundak sang ibu dipegang oleh tangan yang begitu dingin.
“Ibu…”
Terlihat Ryusuke dengan wajahnya yang begitu pucat memutih, sedangkan matanya memerah seakan terkena iritasi parah. Masih terlihat kotor bajunya belepotan oleh muntah, dan liur yang turun dari bibirnya.
“Maafkan aku ibu...”
“Ryusuke, oh tuhan…” Sang ibu memegang dahi Ryusuke, dan tidak terasa suhu tubuh Ryusuke, “Kau benar-benar sakit, ini parah! Ah, ibu tidak jadi pergi. Kita panggil dokter yah, ibu siapkan bubur untukmu…”
Sang ibu terburu-buru ke dapur, selagi Ryusuke melewati ibunya. Dia menuju pintu keluar yang masih terbuka, melihat ke luar jalan sambil melirik ke kiri dan ke kanan, kemudian menutup pintu tersebut, menguncinya.
Perlahan hujan gerimis tersebut berubah menjadi begitu lebat dengan guntur yang begitu dahsyat. Rumah Ryusuke yang berisik oleh televisi tak lama menjadi senyap dan sunyi.
***