
Di sekolah sendiri ramai pembicaraan mengenai Keiichi yang hidup kembali, banyak yang skeptis sampai keramaian memenuhi jendela. Mereka tidak begitu yakin, tapi jelas bocah pendek yang setinggi pundak kakaknya yang atletis itu terlihat rupanya di depan gerbang.
Satu per satu teman sekelas Keiichi mulai ramai dengan perasaan ingin tahu kecuali sang ketua kelas, Kasumi, yang kini sedang menyiapkan karangan bunga untuk dihias di meja Keiichi.
Dia marah setelah mendengar kawan-kawan membuat rumor yang terkesan bercanda yang dianggapnya tidak lucu.
Mereka jelas tidak melihat jasad Keiichi secara langsung, bahkan tidak ada yang mau menemaninya ketika harus berkunjung, dan kini seenaknya mereka berani berucap yang tidak-tidak. Kasumi menghiraukan keramaian bodoh tersebut dan menyiapkan vas bunga yang telah di bawanya dari rumah.
Kasumi lalu pergi menuju kamar mandi untuk mengambil air untuk vas bunganya, dan ketika kembali, ia melihat keramaian di depannya.
Prang!!
Pecah vas bunga tersebut terlepas dari tangannya, namun tak satupun mata tertarik pada suara yang cukup keras itu.
“Keiichi…”
Kasumi terbengong tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pria kecil dengan rambut berantakan di hadapannya. Seseorang pucat di peti yang kemarin Ia lihat di peti kini berada di hadapannya, bernapas, hidup.
...
“Benar-benar kau hidup kembali Keiichi!”
Ucap salah satu pria di kelasnya. Pria tampan dengan anting di telinganya itu begitu asing di ingatan Keiichi. Apakah mereka pernah berteman, tapi jelas dalam ingatan Keiichi, dia tidak pernah dekat dengan seseorang-pun di kelasnya.
“Kau seperti Yesus Keiichi! Bahkan bangunnya lebih cepat.”
“Kalau lebih tiga hari Keiichi sudah jadi abu!”
Dalam obrolan tersebut, Keiichi tidak mencoba masuk dalam obrolan mereka. Mereka heboh terhadap jawaban akan harapan mereka yang ternyata berada di luar ekspetasi. Berita yang terkesan bohong ternyata benar-benar terjadi, suatu keajaiban yang muncul dalam kehidupan membosankan mereka.
Di kejauhan, Keiichi lihat sosok tiga anak yang terlihat seperti berandalan dengan luka-luka di sekujur tubuhnya yang menatapnya kesal dengan kaki yang dihentakan keras dan kemudian berteriak.
“Kau pasti berpura-pura, kamu pingin buat kami dan boss terlihat buruk kemarin!!”
Anak-anak mulai memandangi tiga anak tersebut, dan entah mengapa mereka tidak berusaha membela Keiichi dan hanya terdiam.
“Kalian ini berisik semuanya, padahal mana mungkin seseorang hidup setelah mati? Bodoh!”
Namun beberapa berbisik sambil memperlihatkan foto jasad Keiichi yang kemarin difoto beberapa anak di depan sekolah, bagaimana foto itu benar-benar terlihat asli dan mengerikan. Dalam bisik itu mereka berkata: “Aih, mereka sebenernya gak pengen bersalah aja udah bikin Keiichi celaka.”
“Eh ngapain kamu bisik-bisik! Woi jangan cabut?!”
“Hei!”
Keiichi berteriak di hadapan mereka. Bocah-bocah itu awalnya terlihat senang bahwa sosok yang tengah dihinanya kini menanggapi mereka, tapi seketika mereka menatap matanya secara langsung, tatap ngeri Keiichi seakan membuat kaki mereka membeku.
“Jangan bikin gara-gara, kalau ada urusan langsung hadap aku saja.”
“Aaa… apa kau bilang Keiichi? Ma.. mau kau kita bikin babak belur lagi?”
“Kau bikin aku babak belur?”
Sedikit Keiichi mengingat bahwa dua hari yang lalu ia bertengkar dengan kakaknya karena perbuatannya yang berkelahi dengan teman sekelasnya. Dan Keiichi berucap “Ahh!” sambil menepuk tangannya, “Oh iya kalian yah!”
“Apa maksudmu apa bilang seperti itu? Woi!”
Belum selesai mereka saling bicara, tiba-tiba keramaian di kelas Keiichi pecah oleh suatu sosok besar. Kepala botak, matanya yang merah, dan kakinya yang gemetar.
“Keiichi… Ini benar kau Keiichi?”
Ucap pria besar tersebut, dan tiba-tiba tiga bocah itu segera berdiri tegak memberi hormat.
“Boss!!”
Keiichi langsung sadar, pria di hadapannya adalah sosok yang dibicarakan kakaknya yang dituduh telah membunuh Keiichi, pentolan nomor wahid di sekolahnya, Takeshi.
Keiichi tidak menjawab, dia terdiam menatap pria besar ini dan mampu merasakan tidak ada kesan jahat pada pria yang memiliki wajahnya mengerikan ini.
“Keiichi, bisa kau ikut ke atap denganku?”
Anak-anak mulai berbisik, berucap bahwa Keiichi akan dihabisi karena membuat mereka panik dan frustasi. Beberapa berbisik tentang ide mencoba memanggil guru, tapi tidak terlihat mereka semua tergerak untuk benar-benar melakukannya.
“Tak setelah pelajaran saja?” Ucap Keiichi, “Sebentar lagi bel bukan.”
“Aku tak bisa menunggu selama itu.” Ucap Takeshi dengan wajah memerah dan tangan yang tergenggam erat seakan ingin menonjok seseorang di hadapannya.
“Baiklah.”
Keiichi berdiri dan berjalan didampingi Takeshi yang kemudian dibuntuti tiga bocah berandal di belakangnya. Dari kejauhan pula Kasumi hanya bisa melihat mereka dari kejauhan sembari membersihkan beling di lantai lorong sekolah.
***
Kelas sudah dimulai. Sang guru yang kini sedang mengabsen murid-muridnya menatap ke arah meja Keiichi yang kosong dan terheran-heran oleh kehebohan di ruang guru mengatakan sang murid yang masih hidup. Ia ingat benar sebagai orang yang tidak segera pulang hari itu, melihat bersama guru dan murid-murid lain jasad Keiichi di depan gerbang. Tak mungkin orang selamat dengan luka seperti itu, pikir sang guru.
Dalam absen, sang guru pun memutuskan untuk melewati nama Keiichi. Sedangkan saat itu sang ketua kelas, Kasumi, tidak bisa fokus dengan keadaan di kelas.
“Kasumi? Oii!”
Sang guru mendekati Kasumi dan menepuk buku absennya di kepala Kasumi.
“Ah ya!”
“Kau tidak apa? Aku memanggilmu dari tadi malah kau tidak jawab.”
Kasumi berpikir soal Takeshi yang menyeret Keiichi. Perasaan bersalah memenuhi benaknya, bagaimana Kasumi bersama kawan-kawan menjauhi Keiichi selama ini yang dianggapnya menjadi penyebab Keiichi meninggal. Ia ingat ketika kata-kata temannya terlontar di depan Keiichi yang sedang bermain bersama Kasumi: “Ayahmu penipu! Dia tipu ayahku, bawa semua duit semua orang! Makanya ibumu juga bunuh diri bukan?”
Saat itu barangkali adalah saat terberat bagi Keiichi yang baru saja ditinggal ibunya, keluarganya tinggal jauh dan Keiichi hanya tinggal berdua dengan kakaknya walau sesekali terlihat neneknya berkunjung.
Kasumi dan kawan-kawan yang dekat dengan Keiichi bukannya membantu, malah memutuskan untuk menjauhi Keiichi, bukan saja karena mereka setuju tentang apa yang dilakukan ayah Keiichi adalah kejahatan yang pantas untuk dipermalukan, tapi juga karena tak ingin terseret dalam perundungan kawan-kawannya yang lain.
Demikian, ia lihat Keiichi begitu tangguh menghadapi hal tersebut, dia melawan para perundungnya walau perlawanannya tidak pernah membawa hasil. Semakin hari semakin keras, dan melihat Keiichi tidak terpengaruh, Kasumi perlahan melihatnya sebagai sesuatu hal yang normal.
Sebagai kota kecil, mereka para perundung Keiichi bertemu lagi di SMP. Beruntungnya Keiichi mengikuti klub baseball yang memiliki sifat kekeluargaan yang tinggi membuat Keiichi dilindungi oleh para seniornya yang tidak tahu menahu soal kondisi Keiichi. Melihat itu Kasumi sebagai seorang yang gelisah melihat perlakuan kawan-kawannya terhadap Keiichi cukup mampu bernapas lega, perasaan bersalahnya perlahan menghilang, namun hal itu tidak berlangsung lama.
Tidak lama setelah itu, tepatnya ketika mereka menginjak kelas 2 SMP, di tengah musim panas yang tengah-tengah puncaknya terik matahari, terjadi insiden yang membuat semua orang memutuskan untuk tidak memedulikan Keiichi…
Lalu tiba hari ketika Keiichi meninggal.
Kasumi begitu patah hati apalagi mendengar keterlibatan seorang berandal yang juga turut berkontribusi pada kematian Keiichi.
Pada saat itu terlintas suatu pemikiran paling mengerikan dalam kepalanya, bahwa mereka semua, Kasumi dan kawan-kawan, terlibat dekat dalam kematian Keiichi. Mereka membiarkan semua kekejian berlangsung pada kawannya. Pembiaran, entah mengapa, terasa seperti tindakan yang secara tidak langsung membunuh Keiichi.
Di hari kematian Keiichi, Kasumi di grup line kelasnya mencoba menghubungi kawan-kawannya untuk membuat memorabilia, sebuah poster dengan foto kawan-kawan dan kata-kata untuk Keiichi bahwa mereka merindukannya. Namun kata-katanya tidak terhiraukan dan kalah oleh video kematian Keiichi, dengan kata-kata jijik dan mengerikan yang keluar dari chat mereka. Barang yang Kasumi bawa ke pemakaman Keiichi adalah kebohongan, kata-kata yang ia buat sendiri tanpa memedulikan perasaan kawan-kawannya.
Pada hari itu, ketika dia bertemu wajah dingin Keiichi, Kasumi berjanji sambil menangis pada dirinya sendiri untuk tidak berdiam diri. Dia tidak kuat lagi, dia tidak ingin melihat ada kawannya lagi tersiksa seperti Keiichi!
Lalu kenyataannya ternyata kini dia malah ada di sini. Duduk, memimpin salam pada sang guru, menunggu namanya dipanggil, tanpa melakukan apapun pada Keiichi yang dirinya tengah diseret ke atas atap oleh orang terlibat dalam kematian Keiichi dan barangkali sedang dipukuli sampai bonyok.
Keringat turun dari dahi Kasumi, kacamatanya menguap oleh napasnya yang memanas dan menggebu-gebu. Kasumi sudah tidak kuat dan dia memutuskan untuk berdiri.
“Pak Guru! Boleh saya izin, perut saya sakit sekali...”
“Kebelet Kasumi?” Ucap salah satu kawan diikuti tawa teman-teman Kasumi.
Kasumi memerah malu, dan melihat Kasumi yang memang terlihat pucat sang guru pun membolehkan Kasumi izin.
Kasumi langsung keluar, perlahan menjauhi kelas dan ia mulai berlari di lorong, lalu menaiki tangga, sampai akhirnya sambil mencoba mengambil napas yang terengah-engah, ia lihat Keiichi tergeletak di lantai dengan tiga berandal di sekitarnya yang membawa pemukul kasti.
***