
Ryusuke merokok di tempat arcade dengan kesal menendang game Tekken yang dimainkannya, “Game sampah!” ucapnya setelah kalah berkali-kali.
Entah mengapa dia begitu tidak mood. Dia begitu ingin mendekati Maria, dan dirasanya perhatian Maria, gadis cantik idola di sekolahnya tersebut yang begitu ia suka hampir luluh padanya. Tapi betapa mengerikannya, adik gadis yang disukainya mati dengan tragis di depan pagar, tiba-tiba esoknya bernafas lagi dan berjalan biasa tanpa suatu tanda-tanda dirinya telah tertabrak suatu truk yang melindasnya dan membuat seisi perut tersebut berceceran.
Bayang-bayang traumatis itu memenuhi kepala Ryusuke, dan tiba-tiba saja dia menjadi begitu emosional ketika melihat Maria. Ia tidak bisa memandang keanehan dan keganjilan dalam hidupnya, dan hal itu membuatnya resah.
“Brengsek.” Semakin kesal Ryusuke ketika perasaan tersebut makin mengisi hatinya, “Aku terlihat seperti orang jahat di sini.” Ucapnya, sebelum pesan Line terlihat dari Maya.
“Kau membuat Maria marah bukan! Aku juga kena getahnya!!” Tulis Maya, sambil menambah stiker mengejek.
“Kau juga membuatnya marah bukan?” Tulis Ryusuke, “Jangan salahkan aku kalau begitu.”
Lalu tiba-tiba pesan Maya membuatnya cukup terkejut, “Mau minta maaf bareng-bareng ke Maria? Aku pikir soal adiknya bukan urusan kita.”
Ryusuke duduk, tidak segera menjawab, tapi menghirup rokoknya perlahan sambil menghembusnya. “Ahh, Maria-chan.”
Dia ingat di tahun pertamanya memasuki SMA, Maria melihatnya merokok di belakang kelas, dan ketika gadis-gadis ketakutan oleh pria yang dikiranya berandal, Maria berteriak memarahinya, “Kau pemain basket, Ryusuke Taguchi bukan? Kau berbakat, rokok itu akan memakan bakatmu!”
Ryusuke berdiri, mencoba mendominasi Maria, tapi ia tidak terlihat bergerak ketakutan ketika temannya bubar, “Taguchi-san, kau ku jamin bisa menjadi kapten tahun depan, aku pintar menilai seseorang, dan aku berbicara seperti ini karena aku peduli denganmu.”
Ucapan tersebut begitu terngiang di kepala Ryusuke yang segera membuang rokoknya. Saat itu dia tidak tahu menahu soal Maria apalagi soal adiknya yang berandal seperti dirinya. Lalu seperti ucapan Maria, dia menjadi seorang kapten di tahun ke-2nya. Entah bagaimana, dia kembali merokok sekarang, dan dengan mudahnya terpancing marahnya pada Maria.
“Ahh…” Ucap Ryusuke, “Aku benar-benar tokoh jahat di cerita ini.”
Lalu Ryusuke menulis membalas, “Ya, mari minta maaf ber…” Belum selesai dia menulis, ia mendengar seseorang menembakan pistol ke atap gedung arcade.
“Tiarap, semuanya tiarap!!”
Ryusuke melihat di antara kolong lantai, orang-orang yang tiarap itu ditembak. Darah dan isi kepala mengotori lantai.
“Oh tuhan… oh tuhan…” Ucap Ryusuke, dan terlihat orang di sebelahnya berlari sebelum ditembak dari belakang.
“Kurang ajar, mau lari!” Teriak pria misterius berpistol itu yang kelihatan sedang mengisi peluru.
Pada saat itu tiba-tiba terdapat dorongan kuat dari batin Ryusuke, “Aku akan mati kalau diam saja. Ya, lawan, lawan!”. Ryusuke berdiri dan mendorong mesin ke arah pria berpistol tersebut yang menghindar, lalu peluru berjatuhan dari pistolnya. Langsung Ryusuke memutar, dan menyergap pria di hadapannya.
Kaget bukan main Ryusuke melihat pria ini berpakaian polisi lengkap dengan mata yang memerah menyala, tapi dia tidak memiliki waktu untuk berpikir melihat empat mayat di sekitar kakinya. Dia mendorong dan mendekapnya, membuatnya terjatuh.
“Semuanya!! Serang pria ini!!” Ucap Ryusuke yang membuat anak-anak muda lainnya juga ikut-ikutan memegang tangan polisi misterius ini. Beberapa melepaskan pistol dari tangannya dan menendangnya jauh-jauh.
Bernapas lega Ryusuke, sampai tiba-tiba perasaan perih mengisi dadanya. Sesuatu menembus dadanya.
“Ahh…” Ryusuke melepaskan dekapnya dari pria misterius di hadapannya, dan menjauh. “Hei kau tidak apa-apa?” Ucap salah satu pria yang melihat noda darah di seragam Ryusuke, sedangkan saat itu sang polisi terlihat tidak sadarkan diri.
Ryusuke membuka kancing bajunya perlahan, dan di dadanya terdapat noda hitam di antara kulitnya. Tidak ada bekas luka, tapi jantungnya berdetak begitu kencang.
“Ughh….”
Keringat deras mengalir dari dahinya, dan ia merasa ingin muntah. Ryusuke segera berlari ke arah WC, meninggalkan keramaian tersebut. Ia keluarkan semua isi perutnya, dan ketika ia membasuh wajahnya di wastafel dan melihat ke kaca, ia lihat matanya memerah.
Merah terang seperti polisi yang dilihatnya tadi.
*BERSAMBUNG*