Re; Sekai

Re; Sekai
Episode 5.2



Deras hujan turun dengan petir keras yang membuat gadis-gadis di ruangan berteriak ketika guntur mengisi gendang telinga mereka. Demikian, hal itu berbeda dengan kelas Maria yang tengah ramai sendiri membicarakan sesuatu tanpa mempedulikan gejolak petir yang menerangi ruangan dalam beberapa saat, kebanyakan dari mereka melihat layar handphone, melihat kabar bagaimana salah satu kawan mereka melakukan aksi heroik ketika sedang melakukan aksi bolos sekolah.


“Ryusuke, putra berprestasi di sekolah menengah atas Reitaku, tiga hari lalu melakukan aksi heroik dengan menghentikan polisi pengidap gangguan jiwa yang menembak massa secara brutal di tempat rekreasi.” Ucap salah satu reporter di layar handphone dan muncul Ryusuke yang baru saja keluar dari rumahnya, membuat mereka yang menonton semakin ramai kegirangan, “Bagaimana pendapat saudara mengenai aksi heroik yang anda lakukan?” Ucap sang reporter.


“Saya…” Ucap Ryusuke dengan wajah yang terlihat pucat, “Benar-benar spontan saja… Maaf, saya benar-benar tidak enak badan untuk melanjutkan…” Ryusuke saat itu segera mangkir dari layar membuat para penonton kecewa.


Ryusuke sendiri tidak terlihat di kelas sudah tiga hari lamanya pasca insiden, dan Maria yang juga ikut menonton kabar berita tv lokal merasa tidak enak dengan apa yang terjadi pada Ryusuke. Ya, benar-benar dia merasa Ryusuke kurang ajar kemarin mengenai pendapatnya pada Keiichi, tapi itu tidak sebesar apa yang dialami Ryusuke kemudian. Ia menghadapi seorang polisi brutal yang menembak kepala 4 korban di depan matanya sendiri. Jika saja ia tidak mengantar Maria, Ryusuke mungkin pasti masih ada di sini bercengkrama dengan kawan-kawannya.


Maria pun dengan pikirannya yang sudah lebih tenang dibanding tiga hari lalu mulai berubah dari tidak peduli sampai akhirnya benar-benar khawatir. Sebelum ini mereka benar-benar dekat, bagaimana pada akhirnya dia bisa begitu jahat seperti ini? Pikir Maria.


“Yukichi, apa kau tahu kabar Ryusuke?” Tanya Maria ke teman sebelah Ryusuke.


“Ah Maria-chan! Aku juga ingin tahu kabarnya, sudah ku-line gak dibales, kupikir dia bakal nyombongin diri di sini, di mana tuh anak?”


Lalu setelah bertanya ke sana ke mari tidak terlihat anak-anak mengetahui kabar Ryusuke.


Maria semakin khawatir, dan ketika wali kelas ingin mengutus kawan sebangku Ryusuke untuk memberikan tugas ke Ryusuke, Maria langsung mengangkat tangannya.


“Ibu, boleh saya yang mengantar lembar tugas ke Ryusuke?”


“Cieee,” Ucap salah satu anak, “Jujur akhirnya yah perasaanmu padanya, Maria?”


“Bukan! Aku hanya ingin berterima kasih... “ Ucap Maria sambil memerah wajahnya, berkali-kali Maria berpikir bagaimana Ryusuke berucap yang tidak-tidak mengenai adiknya untuk mengatur perasaannya agar merah merona di wajahnya kembali seperti sediakala.


Semua saling tertawa mengejek kecuali Maya yang terdiam terlihat khawatir.


...


Beberapa saat kemudian Maya berdiri di lorong depan ruang guru setelah bel berbunyi. Ia berpikir berulang-ulang apa yang ingin diucapkannya, sesuatu yang ia latih berkali-kali di depan kaca. “Maafkan aku Maria.” Ucapnya, tapi kurang meyakinkan. Dia tersenyum, memiringkan kepalanya, “Aku tidak bermaksud serius…” Lagi, ia tidak begitu yakin apa yang dilatihnya berkali-kali mampu melunakkan hati Maria.


Belum lama, tiba-tiba keluar Maria memegang lembar tugas yang baru saja diberikan sang guru. Maria melirik Maya, namun tiba-tiba ia membalikan badannya dalam wajah yang tidak nyaman, “Maria,” Ucap Maya, namun Maria masih membalikan badannya yang tiba-tiba memicu sesuatu dalam dada Maya yang melupakan segala yang dilatihnya, “Oh tuhan, sudah tiga hari dan kau masih ngambek!”


“Apa?!” Ucap Maria yang terpicu dengan teriakan Maya dengan sedikit tersinggung, “Kau ingin bicara soal Keiichi lagi bukan?”


Maya terdiam, dia mencoba mengulang-ngulang apa yang dilatihnya, “Bu—”


“Kau serius?” Ucap Maya terselip dari bibirnya, dia sadar ucapannya seperti seakan-akan dirinya percaya hal petaka itu memang akan terjadi mengenai Keiichi, “Ah, bukan itu maksudku…”


“Maya kau benar-benar berpikir Keiichi akan membawa bencana bukan?” Maria kemudian mencoba menolak badannya dari arah Maria, “Ryusuke juga sama, tapi setidaknya dia tidak mencoba merebut Keiichi dariku.”


“Oh tuhan, Maria, dengarkan aku!” Maya berteriak sambil memegang pundak Maria, seketika Maria membalikan badannya, ia terkejut melihat kawannya sudah menangis.


“Aku sungguh kesepian kau berhenti bicara padaku… Kumohon, dengarkan aku. Terserah setelah itu, kau mau musuhi aku, atau abaikan aku, dengarkan aku Maria…”


“Maya…”


Maria kemudian terlihat khawatir, dia mulai ragu untuk marah pada Maya, “Aku… apa yang mau kau bilang tadi…?”


“Aku ingin minta maaf… Aku ngaku aku salah soal adikmu. Aku bahkan bermusuhan dengan ibuku saat ini, ku bilang dia gila. Dengar? Sampai-sampai sekarang aku tinggal dengan ayahku.”


“Lalu ibumu?” Ucap Maria sambil terlihat dia menunduk dengan salah satu kakinya yang digeser ke kiri dan ke kanan, tanda positif bagi Maya bahwa hati Maria mulai terbuka, “Kau yakin dia sudah tidak mau apa-apain Keiichi?”


“Enggak! Tak selangkahpun kubiarin dia dekati adikmu!” Ucap Maya sambil menjulurkan tangannya, “Maafin aku yah? Aku tahu kamu pasti galau soal keadaan adikmu, aku gak bisa bayangin Maria, tapi aku tahu betapa berharganya Keiichi bagi kamu saat ini. Maafin aku sekali lagi, aku gak sadar posisimu saat itu...”


“Maya…” Maria menggenggam tangan tersebut dan langsung memeluk Maya sambil merengek menangis, “Mana bisa aku gak maafin kamu… Uwaaa... Aku juga minta maaf, entah kenapa aku marah sama semua orang yang ngomongin Keiichi... bahkan sampai Ryusuke juga yang udah susah-susah anterin aku. Entah kesurupan apa aku...”


“Maria…”


Mereka berpelukan lama sekali sambil menangis satu sama lain sampai sadar keramaian yang lewat mulai memperhatikan mereka. Dengan ingus meler dan mata juga wajah yang memerah mereka saling melepaskan diri mereka. Masing-masing merasa lega, dan tak lama mereka tersenyum satu sama lain.


“Jadi kamu habis klub langsung ke tempat Ryusuke?”


“Ya, mungkin bareng Keiichi.”


“Aku ikut kamu yah. Ryusuke kan juga kawanku.” Ucap Maya, dan Maria mengiyakan.


Pada saat itu Maria berjalan terlebih dahulu selagi Maya mengeluarkan jimat dari kantungnya. Jimat tersebut terlihat mengeluarkan aura kehitaman dari pandangan Maya, dan perlahan keringat menuruni dahi Maya dengan segala firasat buruk di kepalanya.