Re; Sekai

Re; Sekai
Episode 1



Maria marah. Menggenggam handphonenya, dia segera berjalan melangkah keluar dari sekolahnya.


Kawan-kawannya memandang dari jendela lantai dua, melihat gadis berambut pendek tersebut berlari dengan cepat keluar pagar. Padahal waktu itu baru saja bel berbunyi tanda istirahat dan tertinggal bekal Maria masih terikat di meja mereka yang saat itu tengah berencana makan siang bersama.


Siang itu Maria malah harus menemui guru tempat adiknya Keiichi belajar, Sekolah Menengah Reitaku yang bersebelahan pagar dengan gedung tempat Maria belajar.


Sudah sekian kalinya Keiichi mengacau, dan selalu dalam alasan yang sama: Keiichi membrontak ketika dipicu marahnya dan selalu berujung dengan kekerasan. Dan sampai pada ruang kantor guru, apa yang Maria liat tak lain adalah wajah bonyok Keiichi dan kerahnya yang sudah robek. Di sebelahnya adalah teman-teman sekelasnya yang juga sama babak belur, dua orang, dan terlihat sepertinya mereka baru saja mengeroyok Keiichi.


"Maafkan kami!"


Maria memegang kepala Keiichi, memaksanya membungkuk terhadap sang guru juga teman sekelasnya. Sang wali kelas, ibu Serizawa, yang telah terbiasa dengan tindakan Keiichi kini dengan wajah khawatir beberapa kali mengelap keringat di kepalanya.


"Kau tahu Keiichi, kau sudah merepotkan kakakmu bolak-balik karena tidak ada wali kalian yang mampu ke sini... Dan alasanku selama ini tidak memberi hukuman berat ke padamu karena nilaimu yang bagus, aku tahu kau bukan anak berandal, kau masih punya harapan-"


"Mereka!!" Keiichi menunjuk ke kawan sekelasnya, "Mereka semua yang ***! Mereka yang memulai mendorongku dan hina-hina keluarga kami! Dan mereka boleh hina aku, tapi tidak akan aku diam jika mereka hina keluargaku, hina kakak!"


"Keiichi!"


Maria berteriak dan mata membara Keiichi seketika terpadamkan. Sang guru menghembuskan napas.


"Maafkan kami Bu Guru, setelah ini Keiichi tidak akan lagi-"


"Begini... Kau sudah mengatakan itu berkali-kali, dan juga tugas kami sebagai guru bukan hanya membimbing, tapi juga melindungi murid kami. Kau tahu, bukan hanya dua orang ini, tapi ada satu temannya yang patah tangannya akibat ulah Keiichi?"


"Keiichi! Kau!!"


"Tentu aku cukup tahu sebagai gurunya, Keiichi tak mampu menahan amarahnya dari apa yang kami simpulkan setelah bimbingan konseling selama ini, dan kami tidak tahu menahu cara membimbing Keiichi karena kejadian yang sama tetap terjadi. Orang tua takkan senang jika aku melepas Keiichi begitu saja, sudah terlalu banyak kejadian."


Setelah ucapan itu di antara mereka terdapat hening sementara, Maria dan Keiichi tahu bahwa mereka tidak akan mendapatkan kelonggaran kali ini, hingga sang guru memecah keheningan tersebut dengan berdeham sekali.


"Nah, Maria, kakak Keichi, aku bertanya padamu dan meminta kau bertanya pada wali kalian untuk mempertimbangkan Keiichi mendapati perawatan psikiater, dan jika tidak, aku harap Keiichi harus siap menanggung skors selama 2 bulan, demikian permintaan orang tua korban."


"Dua bulan?"


Keiichi diam saja, tapi Maria tahu dua bulan cukup membuat Keiichi sangat ketinggalan pelajaran, itu sama saja tidak menaik kelaskan Keiichi.


"Karenanya, jika Keiichi atas persetujuan wali memutuskan opsi pertama, saya bisa memohon pada orangtua teman Keiichi yang patah tangannya untuk tidak menuntut hal-hal yang mampu merugikan masa depan Keiichi..."


"Baik..." Maria bicara menghadap ibu guru, "Saya akan konsultasikan dengan Nenek."


"Bagus. Nah, Keiichi."


Keiichi memandang guru wali kelasnya, matanya sinis penuh kebencian. Bu Serizawa menurutnya cukup tahu duduk perkaranya, tapi dia tidak pernah peduli. Tak sekali ia melihat secara langsung perlakuan kawan-kawannya terhadapnya, tapi sang guru tidak membiarkannya. Pada saat-saat seperti ini Ibu Guru Serizawa hanya menyalahkannya.


"Aku tahu kau bukan yang memulai, tapi kaulah yang paling banyak membuat kerusakan. Jika kau tak belajar dari hal ini, kau tidak akan bisa masuk ke dalam lingkungan masyarakat. Kau harus tahu, kami para guru peduli padamu."


Omong kosong, pikir Keiichi. Jika saja tangan sang kakak tidak lagi memaksanya memberi hormat tunduk, dia tidak akan melakukannya ke pada gurunya, apalagi pada teman-teman sialannya. Tapi Keiichi tetap juga melakukannya, dan setelahnya mereka diperbolehkan ke luar ruangan. Sampai di luar, Maria menjitak kepala Keiichi.


"Keiichi..."


Maria terlihat marah, sedikit dari air matanya keluar.


"Bisakah kau tidak buat gara-gara."


"Kakak, tapi-"


"Mereka yang bikin-"


"Bisakah kau diam kali ini saja dan dengar ucapan kakak!!!"


Maria berteriak, membuat orang di sekitar kaget dan mulai memandangi mereka berdua.


"Kakak sama saja."


"Apa? Apa kau bilang?"


"Kakak sama bangsatnya dengan mereka semua!"


Keiichi berlari di lorong, diteriaki guru yang lewat ia tidak peduli. Maria masih menangis. Ia merasa tidak bisa berbuat apa-apa pada adiknya ini.


***


Kepal Keiichi selalu berdarah.


Semenjak kecil kepal itu selalu berada di wajah seseorang.


Dia bereaksi begitu cepat sesekali terdapat orang yang mengejek almarhum ibunya.


"Di mana ibumu Keiichi? Ah, ibumu tidak peduli padamu bukan!"


Satu tangan meninju perut.


"Keiichi ayahmu meninggalkanmu karena malu punya anak sepertimu."


Satu tangan meninju mulut.


Namun yang pertama kali ditinjunya adalah kaki polisi di rumahnya.


Keiichi waktu itu masih kelas 5 sekolah dasar. Ketika baru saja pulang dari sekolahnya, ia melihat seonggok mayat bergelantungan pucat di ruang tamu.


Ibu Keiichi bunuh diri dengan menggantungkan leher di kipas rumahnya. Wajahnya telah memucat dengan lalat yang mulai berkumpul.


Saat itu pertama kali Keiichi menatap rupa kematian, dan dirinya tidak bereaksi terlalu berlebihan, sedikit ia pucat pasi karena kaget terdapat kaki yang melayang. Waktu itu kematian begitu asing di alam pikirannya, ia tidak begitu memahaminya, dan perlahan Keiichi sudah berjalan masuk ke dalam ruang kecil tersebut.


Keiichi tidak menelpon polisi atau melakukan apapun untuk ibunya, malah kemudian dia ke ruang makan, memakan nasi dan lauk sisa tadi pagi yang belum dibersihkan. Kemudian dia menonton televisi, serial ksatria baja hitam yang tayang sore setelah sekolah, membelakangi mayat sang ibu sampai Maria datang setelah kegiatan klub panahannya dan kemudian berteriak penuh dengan perasaan horror.


"Ibu! Ibuuu!!"


"Kakak."


"Keiichi? Oh Keiichi..."


Maria memeluk Keiichi sesaat, dan terheran melihat Keiichi yang sedang menonton televisi. Tapi tak sempat ia berpikir yang aneh-aneh, segera Maria telpon nenek, sebelum akhirnya ia teringat nomor telpon polisi yang asing di kepalanya.


Tak lama polisi datang. Maria masih menangis memeluk Keiichi yang masih datar mukanya tidak berkata apa-apa.


Sang polisi dengan pihak medis datang mencoba menurunkan tubuh ibu yang sudah kaku itu, sampai Keiichi membrontak dari pelukan Maria.


"Mau kau apakan Ibu!"


Baru kali itu Keiichi terlihat begitu mengerikannya dengan mata yang membara, raut mukanya seperti setan. Ia membuat kepalan tangan, berlari memukuli kaki polisi yang berada di atas kursi mencoba menurunkan Ibunya yang kemudian kehilangan keseimbangannya dan jatuh.


"Keiichi!"


Maria mencoba menarik Keiichi, dan ia lihat wajah seram Keiichi tersebut ternyata merupakan ekspresi ketakutan.


"Mereka mau bawa kemana Ibu! Ibu masih... Ibu masih..."


Di kepala Keiichi ibunya masih hidup. Ibunya yang selalu lesu tergeletak di ujung ruangan, menatap televisi dengan tatap kosong, berlari kencang ketika telpon berbunyi menyangka tentang kabar sang ayah yang tengah pergi keluar negeri membawa aset keluarga untuk investasi dan tak kedengaran lagi kabarnya. Dia selama ini telah pucat sebelum tergelantung. Dia sediakalanya ibu selama ini menurut Keiichi.


"Ibu sudah mati!"


"Ibu be-"


"Keiichi dengar kakak, Ibu sudah!!"


"Tidaaak!!!"


Keiichi berlari kencang keluar rumah menangis, menembus polisi yang berjaga di luar, dan terus berlari tak tentu arah.


Hari itu, nenek dan Maria mencari Keiichi yang menghilang sampai fajar tiba. Maria berteriak sambil menangis di tengah kota yang mulai ramai dengan lampu neon, manusia-manusia berdasi, dan orang-orang asing bertato yang terlihat menakutkan. Kakinya capek, dan nenek yang ikut bersamanya memutuskan untuk memaksanya kembali, menyuruh kerabat dekat untuk melanjutkan pencarian. Keiichi saat itu seakan hilang ditelan malam hari.


Maria semalaman menangis dalam pelukan Nenek sampai akhirnya ia tertidur pulas dalam perasaan yang begitu kosong dan takut akan ditinggal sendirian.


Keesokan harinya, ketika upacara dan prosesi mayat dilakukan, Keiichi pulang dengan badannya yang sangat kotor. Maria dengan pakaian serba hitamnya segera memeluk Keiichi. "Maafkan kakak dek, maafkan..."


Dan Keiichi berkata dengan tangis tersedu-sedu,


"Adek akan jaga kakak... Kita akan selalu bersama, tidak seperti Ibu dan Ayah, Adek gak akan tinggalin kakak..."


***


Bel sekolah berbunyi tanda pulang. Maria matanya masih hitam membasah setelah menangis. Teman-temannya mendekati Maria, salah satunya gadis berambut pirang dengan kulit sawo matang bernama Maya, berucap padanya "Kau harus sesekali tidak peduli dengan adikmu."


"Dia butuh bantuanku."


"Tidak, tidak selalu. Kau gadis SMA Maria! Dan masa kehidupanmu cuman dipenuhi dengan adikmu saja. Kau bisa bermain, bukan segera pulang menyiapkan makan, adikmu pasti juga sudah bisa melakukannya. Kau harusnya berkencan, bukan menemani adikmu disaat senggang dan lain-lainnya. Ah, ya, karaokelah bersama kami!"


Walau mereka berbeda pendapat, Maria selalu merasa rileks mendengar ucapan temannya Maya. Walau jelas Maya bukan anak yang bisa disebut 'anak baik-baik' dalam streotipe para guru karena sering membolos dan berulah, dia adalah kawan yang selalu menemaninya semasa kecil, bahkan masa-masa ketika ditinggal oleh ayah hingga ibunya dan berbagai kondisi terburuk yang pernah Maria alami selalu ada Maya di sebelahnya. Sikapnya yang riang dan selalu optimis seakan selalu memotivasi Maria untuk tetap semangat menjalani hidup. Mendengar Maya berkata ini padanya, Maria tidak mampu menolaknya.


"Ya betul tuh," Ucap teman yang lain, "Kau bisa gila kalau tiap hari galau seperti ini terus."


Dalam kepala Maria, ia juga masih merasa kesal dengan adiknya yang mengejek dia seorang "***" setelah apa yang selama ini Maria perbuat padanya. Mungkin ada benarnya, sekali saja, ia akan tinggalkan adiknya sendirian.


Sebelumnya, dia atau Keiichi akan menunggu di depan gerbang satu sama lain. Tapi Maria ragu Keiichi yang baru saja cabut dari sekolahnya akan menunggu dia sekarang ini, dan pasti, seperti biasanya Keiichi akan pulang malam karena ngambek. Dan akhirnya Maria mengangguk mengiyakan.


"Yes! Maria mau ikut Karaoke!!"


Teman-temannya bersorak, bahkan salah satu pria yang disukai Maria, Ryosuke, seorang kapten baseball sekolahnya bersorak bersama-sama juga. Maria tersipu malu ketika Ryosuke memegang tangannya dengan kasual, berusaha meyakinkannya.


"Benar lupakan adikmu, kau harus sekali-kali main bersama kita."


Dan sedikit, Maria lupa akan masalah adiknya. Sedikit, dia merasa menjadi gadis SMA sebagaimana umumnya.


***


Sudah pukul 5.


Keiichi menunggu di depan gerbang, tapi tak kunjung Maria datang. Ia ingin meminta maaf dan merasa ucapannya tadi keterlaluan terhadap kakaknya. Ia telah bersumpah untuk tidak menyakiti hati kakaknya, walau demikian ia selalu melakukannya. Benar-benar tidak tahu diri, tidak tahu diuntung! Pikir Keiichi.


Sudah 20 menit. Apa kakak sedang ada urusan dengan gurunya? Pikir Keiichi.


Tak lama ia memandang di ujung jalan, tiba-tiba terdapat penampakan aneh. Seorang anak gadis kecil berambut kuning, menggunakan perban yang menutupi sentengah wajahnya dengan merah darah di daerah sekitar bibirnya. Wajah tersebut begitu familiar, Keiichi mencoba mengingatnya, sampai tiba-tiba sebuah tangan memegang pundak Keiichi.


"Oi, Keiichi."


Terdengar suara berat, penuh amarah, suara yang familiar bagi Keiichi.


***


Pulang dari karaoke, Maria makan taiyaki bersama teman-temannya.


"Kubilang apa! Suara Maria bagus bukan?"


"Hei, hei, habis ini mau ke foto bersama?" Salah satu menunjuk ke foto booth.


Maria masih tersipu malu tidak berkata apa-apa di sebelah Ryosuke yang terlihat begitu semangat mengajaknya main. Tapi seketika ia merasakan perasaan tidak enak, dan segera Maria melihat jamnya.


"Teman-teman, sepertinya aku balik aja deh."


"Ahhh, gak seru kau Maria!"


"Aku harus masak, adikku..."


"Adikmu bisa bikin makan sendiri, percayalah, bukan waktumu merawat adik seperti ibu-ibu begitu."


Dan Ryosuke memegang tangan Maria.


"Bagaimana kalo habis foto bareng? Nanti kuantar kau pulang naik motorku."


Maria hampir menganggukinya, sampai bunyi handphonenya berbunyi. Nomor sang nenek.


Maria mengangkatnya, dan tiba-tiba matanya membuka lebar. Tangan satu menutup mulutnya. Waktu seakan terasa lambat, dan pandangannya buyar menggelap. Teman-temannya perlahan menghilang. Dan apa yang ia ketahui adalah dirinya yang tengah berlari begitu kencang tidak memedulikan apapun. Di belakang, Ryosuke dan Maya mengikuti tingkah temannya yang aneh meninggalkan kawan-kawannya yang lain.


Tak lama, Ryosuke dan Maya mendengar suara teriakan yang begitu kencang di dekat sekolah mereka. Mereka tahu itu suara Maria dan segera dengan panik menuju ke arah sumber teriakan itu.


"Oh tuhan, Maria..."


Di situ mereka lihat darah yang tumpah di jalan, sebuah truk yang penyok, dan tubuh yang hancur. Kepala pecah mengeluarkan isinya, badannya memelintir, tangannya patah lemas dalam sudut yang janggal. Dan dipangku mayat mengerikan itu oleh Maria yang memeluknya begitu erat, kepalanya meraba-rabai tubuh yang sudah dingin dan dipenuhi darah berbau amis.


Petugas berusaha menenangkan Maria, mereka ingin segera menyelesaikan tugasnya, tapi Maria seperti orang sinting menampar tangan mereka, begitu pula teman-temannya. "Jangan sentuh kau sialan! Keiichi!! Keiichi bangun!!"


"Maria..." Maya menangis melihat keadaan Maria yang begitu tragis.


Dan tahu Keiichi tidak menjawab, sekali lagi Maria berteriak memekik, teriakan membuat hati pendengarnya remuk, teriakan yang seakan seperti ibu yang kehilangan anak yang sangat disayanginya.


"Kau berjanji takkan tinggalkan Aku Keiichi..."


"Kau berjanji..."


Berkata dengan lemasnya, kemudian tak lama Maria tidak sadarkan diri.


***


Keiichi terbangun di ruangan putih.


Ia menengok ke kiri dan ke kanan, tidak ada apapun di sekitarnya, sampai tiba-tiba seorang wanita misterius bergaun serba putih berada di hadapannya, menggagetkannya.


"Keiichi, selamat datang!"


Suara tersebut menggelegar seisi ruangan, hampir-hampir memecahkan gendang telinga Keiichi.


"Kau, Keiichi, aku memohon padamu untuk melakukan sesuatu untukku..."


"Hah...?"


Pada saat itu, Keiichi telah tahu bahwa dia bukan berada di dunia yang sama.