
“Keiichi, kamu loncat saat itu bener-bener karena takut denganku?”
Ucap Takeshi dengan wajahnya yang memucat. Pertanyaan itu adalah kata yang keluar dari mulutnya seketika mereka menginjak atap sekolah. Terlihat tiga bocah yang membuntutinya kini telah pergi entah kemana.
Mendengar itu Keiichi memahami bahwa pria di hadapannya merasa begitu bersalah terhadap kematiannya di hari lalu. Dia menginginkan kedamaian dan jawabannya akan mengakhiri penderitaan pikirnya.
“Aku bisa jawab, tapi bisa gak kamu janji sesuatu buatku?”
Terlintas sesuatu di kepala Keiichi, dia ingin menyudahi hal yang membebaninya di hari-hari kemarin. Takeshi mengangguki permintaan Keiichi.
“Bisakah kau buat anak buahmu itu untuk tidak mendekatiku lagi? Ya, aku tahu aku juga turut bersalah. Aku ingin kau sebagai seorang bos mereka menyudahi semua ini.”
Ucapan dan tatap Keiichi seketika berubah, dia tidak terlihat seperti apa yang kawan-kawannya ucapkan, seorang yang sinis, pemarah dan kurang ajar. Yang ia lihat kini seakan seorang yang lebih dewasa dari usianya, berbicara dengan bahasa yang tiba-tiba sopan terhadapnya.
“Jika itu yang kau inginkan.”
“Jawabanku, kau tidak melakukan kesalahan sama sekali. Aku melihat seorang berjalan di depan mobil dan meloncat untuk menyelamatkannya. Tapi mereka semua bilang, aku hanya berhalusinasi.”
“Jadi benar semua jawabanku saat itu?”
Keiichi menganggukinya dan terlihat Takeshi menatap langit sambil menghembuskan napas dalam-dalam menandakan suatu kelegaan yang teramat.
“Aku hanya ingin bertanya, ingatkah kau tentang apa yang kuucapkan saat itu? Ciri-ciri gadis di balik jalan?”
Takeshi menggaruk kepalanya, dan teringat ucapan Keiichi saat itu, “Gadis berambut pirang dengan perban di kepalanya, aku ingat kau bilang seperti itu.”
“...” Keiichi terdiam, dan tiba-tiba dia mengingat sesuatu, mulut gadis itu bergerak dengan pelan mengucap sesuatu pada dirinya yang tengah mendorong dirinya.
Tapi apa? Mengapa Keiichi merasa saat-saat itu penting bagi darinya?
“Boss!!”
Tiba-tiba muncul pria dengan baju yang robek-robek dengan napas yang terpotong-potong.
“Tempat nongkrong kita diserang, mereka sekarang nunggu boss untuk segera ke sana.”
Takeshi terlihat ragu untuk melanjutkan obrolannya dengan Keiichi atau segera pergi.
“Kita ngobrol lagi setelah ini, dan aku akan membawa kawan-kawanku kemarin untuk saling bermaafan. Itu cukup bagimu?”
“Cukup.”
Takeshi pergi bersama pria yang menjemputnya. Namun tiba-tiba ia merasakan perasaan buruk mengikuti langkah Takeshi yang menjauhi dirinya. Suara seret pemukul kasti di lantai, tiga pria yang membuntuti mereka tiba-tiba muncul dari balik pintu setelah tahu Takeshi takkan melihat mereka.
“Keiichi… Gara-gara kau kami kena marah. Boss yang bocor mulutnya menceritakan semuanya. Dia bilang kami yang menyeretnya untuk menjahilimu, dan kau tidak tahu betapa kacaunya rumahku saat ini. Dan lihat kini, kau hidup lagi. Benar-benar kau dendam pada kami hah?”
Tiba-tiba dua orang di antara mereka bergerak dengan seksama mengelilingi Keiichi. Terlihat tubuh ketiga lawannya lebih kuat dan cepat dibandingkan dirinya, sedangkan tubuh Keiichi yang baru bangkit dari kematian begitu lemah dan ringkih dibanding sebelum dia mengalami kecelakaan.
“Akan kubuat kau benar-benar babak belur, sialan. Persetan dengan boss, pecundang sialan itu.”
Lalu pemukul kasti bergerak mengarah ke arah Keiichi. Keiichi sekali lagi seperti kejadian bola baseball tadi pagi, mampu melihat arah pemukul kasti, bahkan tepat di mana tempat pemukul itu akan mendarat di antara kepalanya. Namun dalam waktu yang tiba-tiba tengah melambat, Keiichi tidak mampu menggerakan tubuhnya, seakan tubuhnya terikat oleh tanah yang ia jejaki. Berat, begitu berat hingga ia tahu secara pasti betapa kerasnya pemukul itu akan mengenai tempurung kepalanya.
Tak lama Keiichi sudah berada di lantai dengan pelipis kepalanya yang berdarah. Kaki mengikuti menendang perut Keiichi, dan perlahan kesadaran Keiichi menghilang.
Seketika itu, ingatan samar-samar Keiichi muncul. Musim panas, terik matahari yang membuatnya berusaha menghalangi cahaya itu dengan menggerakan topinya. Papan hasil memperlihatkan hasil imbang, penonton menggebu-gebu memberi semangat. Di antara mereka terdapat kakak dan nenek terlihat dari tempatnya berdiri, di lain tempat, kawan-kawan yang tidak memedulikannya kini menyoraki dan berdoa untuknya. Tak lama bola terlempar ke arahnya, satu, dua, dan kesempatan terakhir. Dirinya merasa mantap akan arah bola, kecepatan, dan keputusan pelempar telah mampu diprediksinya. Namun tangannya terasa begitu sakit, sesuatu yang ia sembunyikan pada kawan-kawannya, hingga ia tidak benar-benar merasa fokus pada apa yang dihadapinya kini. Dalam detik-detik krusial itu, dia mencoba mengayunkan pemukul kastinya keras-keras. Tapi tangannya tak mampu menahannya, membuat pemukul kasti itu melayang ke arah pitcher lawan.
Kekacauan muncul di lapangan. Kaki Keiichi lemas, pandangan perlahan menghilang tertutupi keringat yang turun deras memenuhi kepalanya. Ia masih sempat mengelap keringat tersebut sampai tiba-tiba berubah sosok di hadapannya. Perempuan kecil berambut pirang mengucapkan sesuatu yang diingatnya sangat jelas: “Ayah, bangun!”
***
“Hentikan semua ini! Kalian gila apa?”
Keiichi terbangun perlahan dengan wajahnya yang menyentuh lantai panas. Terlihat di hadapannya seorang gadis berkacamata, si ketua kelas yang ia lupa namanya, menarik pundak berandal yang baru saja membuatnya bonyok saat ini.
“Kalian pingin bunuh Keiichi? Kalian pingin bunuh lagi dia?”
“Kurang ajar!”
Gadis itu dipukul dengan kerasnya di arah wajah dan kemudian terjatuh sambil terciprat darah di lantai.
“Aahh… ahhh…”
Gadis itu mulai bangkit dan terlihat hidungnya membengkok mengucur darah. Para berandal ini terlihat panik melihat perbuatan yang mereka lakukan, mereka berkelahi dengan Keiichi adalah hal biasa, tapi memukul seorang anak teladan di kelasnya? Tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk lari dari tanggung jawab ini.
“Kau, kau sendiri yang salah Kasumi! Menghalang-halangi begitu!”
Melihat gadis di hadapannya terluka mencoba melindunginya, tiba-tiba kepala Keiichi memanas, dadanya berdegup kencang. “Bajingan.” Ucap Keiichi. Ingatan asing menyusup di antara kepalanya, seorang gadis yang mati di hadapannya, “Bajingan kalian semua.” Ucapnya lagi.
“Udah bangkit kau Keiichi? Mau kubik--”
Belum selesai berandal itu bicara, kepal Keiichi sudah sampai pada wajah berandal tersebut. Terpental dia sampai menabrak pagar, hampir-hampir terjatuh, langsung tak sadarkan diri.
Kepal Keiichi berdarah, gigi berandal tersebut tersangkut di antara tangannya.
“Aaaaaa!!!” Teriak berandal lainnya sambil mengayunkan pemukul kastinya ke arah Keiichi, demikian tangan Keiichi menangkap pemukul kasti tersebut, dan tangan lainnya menangkap kepala pria di hadapannya, membantingnya dengan keras ke lantai.
“Bangsat… bangsat…!”
Berandal terakhir berteriak ketakutan, ia keluarkan pisau lipat dari celananya.
Di hadapannya kini adalah seorang dengan darah di kepalanya. Tangannya yang satu berdarah dengan gigi kawannya yang perlahan rontok ke lantai, yang satunya lagi jejariannya terlihat bengkok setelah menangkap pemukul kasti yang keras. Dia menutup matanya, dan berteriak sambil mengambil menodongkan pisaunya lalu berlari ke arah Keiichi.
Tapi langkahnya terhenti, tangannya tak bisa digerakan. Keiichi menangkap pisau itu, membiarkannya menusuk pergelangan tangannya, dan kemudian menangkap berandal tersebut. Menindihnya, lalu memukulnya.
“Maafkan aku Keiichi , agh!!”
Matanya bengkak, dipukulnya lagi, pelipisnya berdarah, dipukul lagi, mulutnya terbuka, dipukul lagi hingga dibuat rontok giginya. Tidak terlihat Keiichi puas dengan semua itu, dia ingin benar-benar melihat orang di hadapannya merasakan seluruh kemarahannya.
“Bajingan! Baji--”
Tiba-tiba pukulnya terhenti, Kasumi memeluknya dari belakang.
“Hentikan Keiichi, hentikan!”
Keiichi menatap gadis dibelakangnya, dan Kasumi melihat mata Keiichi yang memerah, begitu mengerikan. Demikian, dalam ketakutan teramat, gadis tersebut masih mencoba mengatakan sesuatu untuk menenangkan pria kesetanan di hadapannya, “Aku tidak apa-apa, lihat, sudah tidak mimisan lagi! Mereka semua sudah pingsan, kalah.”
Tak lama Keiichi mulai menghela napas lagi. Rasa sakit perlahan memenuhi kepalanya, tangannya, dan perutnya. Terakhir kesadarannya kembali, dan dia lihat gadis di hadapannya, ia ingat siapa dia. Sosok di masa kecilnya, seorang gadis berkacamata yang menjauhinya, dia menjadi ketua kelas kini, anak teladan, dan satu-satunya yang datang ke pemakamannya.
“Kasumi-chan?”
Dan Keiichi melihat sekitarnya, pria yang tidak sadarkan diri yang tergelantung hampir jatuh, sosok yang wajahnya bertemu lantai, dan pria babak belur yang kini ditungganginya.
“Aku melakukan ini semua?”
Kasumi mengangguk sambil menangis, tangannya masih menahan hidungnya yang sebenarnya masih berkucur darah.
“Kau tidak apa?”
“Ya, tapi kau Ke--”
“Syukurlah...”
Perlahan setelah mengucapkan hal tersebut, Keiichi kehilangan kesadarannya kembali.
***