
Keiichi melihat darah berwarna biru mengalir dari tangannya, seseorang di hadapannya telah tidak berkepala dari tebasan pedang Keiichi, dan senyum keluar dari mulutnya menyaksikan momen-momen tersebut. Tiga puluh tahun, berbagai rintangan yang telah dihadapi, telah banyak kematian dan pengorbanan dan akhirnya ia mampu menebas kepala orang yang akan membawanya kembali.
Kenyataannya, tidak ada apapun yang terjadi terhadap dirinya kecuali sorak ramai orang di belakangnya.
“Dengan ini… dengan ini kita terbebas…!”
Keiichi melihat kerumunan di belakangnya, pasukan iblis dan manusia menjatuhkan pedang mereka. Setelah itu seorang gadis dengan tanduk di kepalanya dan mata merah yang menyala di antara gelap ruang datang melewati Keiichi, mendekap tubuh tidak berkepala tersebut, menangisi kematian seorang musuh.
“Aekilis, apa benar kita sudah mengalahkan ayahmu?”
Ucap Keiichi terhadap perempuan berjubah dengan mata merah menyalanya yang masih mendekap jasad ayahnya. Nada Keiichi terlihat penuh dengan kebingungan di mata Aekilis, seakan ia berekspetasi sesuatu setelah semua ini.
“Keiichi, benar-benar aku mengetahui siapa orang yang baru saja kau kalahkan. Seluruh kekuatan dari tempat ini telah sirna.”
Keiichi menatap ke arah gadis tersebut dengan pandang lelah, menyadari bahwa semua ini belum selesai.
“Keiichi, kau tahu bukan apa yang harus kau lakukan?” Ucap gadis tersebut sambil mengambil sebilah pisau dari tubuh ayahnya. “Hanya orang terkuat yang mampu memimpin kami…”
“Aekilis…”
“Pekerjaanmu belum selesai, menebas kepala seorang tiran tidak menghentikan penderitaan di dunia ini, pahlawan…” Aekilis berdeham sekali, bermaksud membenarkan, “Raja kami…”
Dia mempersembahkan sebilah pisau hitam dengan ukiran huruf higelpolic menandakan simbol kekuasaan, terlihat kerumunan pendamping Keiichi menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
“Keiichi, kau adalah pahlawan manusia…” Teriak seorang mengenakan gaun putih penuh dengan noda darah di belakangnya, “Kau mengkhianati umat manusia jika kau melakukannya.”
Keiichi mengambil bilah pisau tersebut dan mengangkatnya tinggi-tinggi, seluruh pasukan iblis menunduk hormat pada Keiichi, diikuti kerumunan manusia yang kebingungan tentang apa yang baru saja mereka saksikan.
“Hormat pada raja baru kita, Keiichi!”
Tiba-tiba tangan kiri Keiichi digenggam oleh Aekilis, dan Keiichi berucap pada gadis di sebelahnya itu.
“Aku akan menyelesaikan semua ini…”, mata Keiichi perlahan memerah dan perlahan belati tersebut bersatu dengan tangannya, lalu dibalasnya ucapan tersebut dengan manis, “Dan aku berjanji akan mewujudkan keinginanmu Keiichi…”
…
Sekali lagi pandang Keiichi menatap darah mengalir di antara tangannya, kali ini Keiichi menangis. Sebilah belati tanda kekuasaannya menghunus perut seorang gadis yang dikenalnya. Aekilis, dengan wajah penuh kesakitan, berbisik pada Keiichi, “Dengan ini semua berakhir, sayangku.”
“Aekilis, apa yang baru saja…”
“Tidak apa-apa sayang, semua akan baik-baik saja...”
Aekilis dengan lemas membaringkan tubuhnya ke arah Keiichi yang segera Keiichi tangkap dengan dua tangannya melepas belati tersebut. Penuh dengan kebingungan, suara langkah kecil berjalan di belakang mereka.
“Ayah?”
Keiichi menatap di belakangnya, seorang anak kecil dengan sebuah bola mata merah kecil yang bersinar di antara kegelapan menatapnya. Seketika itu juga, kesadaran Keiichi perlahan menghilang, seakan kegelapan menenggelamkan pandangnya.