
Bel sekolah berbunyi, dan terlihat Keiichi sendirian di mejanya. Setelah insiden Keiichi yang berhasil membuat babak belur para berandal, kawan-kawan yang membuat meja Keiichi ramai, melupakan fakta bahwa Keiichi baru saja hidup kembali dan menjauhinya kembali. Keiichi entah mengapa lebih menyukai kondisi ini karena dia bisa fokus pada pikirannya.
“Ayah…”
Dia terngiang-ngiang ucapan “Ayah” yang diucapkan sang gadis. Mata birunya, rambut pirang keemasan yang menyilaukan mata, dan perban mengelilingi kepalanya, mengapa terasa begitu familiar di kepalanya? Pikir Keiichi bertanya-tanya. Maria yang juga melihatnya tidak berkata-kata lebih lanjut walau Keiichi kadang memancing pembicaraan mengenai apa yang mereka lihat, seakan ia menganggapnya ilusi belaka dari kecapaian dia menunggui Keiichi di rumah sakit.
Entah mengapa penampakan kemarin membuatnya dipenuhi perasaan tidak enak, seperti perasaan harus melakukan sesuatu, tapi apa? Pikir Keiichi.
Setelah hari itu, Keiichi mulai melakukan push-up, sit-up, dan segala jenis olahraga ringan dan entah mengapa memberikan sugesti positif pada pikirannya. Apa ini yang dirinya inginkan? Apa dia harus mempersiapkan diri akan sesuatu? Mempersiapkan dari apa? Dari petaka macam apa? Keiichi ingin mengabaikan perasaan paranoid ini.
Dia hanya ingin hidup santai dan berbahagia dengan kakaknya tanpa mempedulikan petaka yang diucapkan gadis misterius tersebut.
Dalam bengongnya Keiichi terbangunkan oleh bel sekolah, dia mulai mengambil tas dan memutuskan untuk pergi ke tempat klub panahan kakaknya sambil membawa payung. Di perjalanan tiba-tiba terdengar teriakan suara gadis di belakang badannya.
“Keiichi!” Ucap Kasumi, perempuan dengan plester di hidungnya tersebut setengah berlari mengejar Keiichi, namun terlihat keringat deras sudah memenuhi kepalanya, “Tunggu… hah…hah...”
“Kayaknya kamu baru lari dari kelas ke lorong deh, udah ngos-ngosan gitu.”
“Aku tak terbiasa berlari… Lagian, jalanmu cepat sekali!” Ucap Kasumi sambil menepuk pundak Keiichi.
Tiga hari ini walau sekelas menjauhi Keiichi, Kasumi yang mengaku di depan kelas telah diselamatkan Keiichi berusaha mendekati Keiichi dan berbicara kasual dengannya, dan lama-lama mereka bisa berbicara rileks satu sama lain. Beberapa bahkan mulai membicarakan mereka berdua, namun Kasumi memutuskan untuk tidak peduli demikian juga dengan Keiichi.
Hal yang sama juga terjadi pada Takeshi, dua hari lalu dia datang dan bersama kawan-kawannya meminta maaf di kelas sambil menunduk, “Keiichi, jika sekali saja ada lagi yang mencoba menyentuhmu, akan kubunuh dia.” dengan suara lantang yang membuat semua bulu bergidik. Demikian, Takeshi tidak terlihat tampangnya hari ini.
“Kau mau ke tempat kakakmu lagi?”
“Ya, dia katanya mau latihan untuk persiapan lomba regional tahun ini. Mau lihat? Barangkali kau tertarik untuk pilihan klub tahun depan.”
“Bolehkah?”
“Tentu saja. Aku sering kesana menonton, mereka gak protes, malah pengen banget kita nonton karena kekurangan anggota.”
Tak lama mereka sudah ada di ruangan klub panahan yang tak butuh waktu sepuluh menit karena betapa dekatnya gedung panahan dengan gerbang masuk SMA Reitaku. Keiichi yang datang langsung dikelilingi anak panahan, “Keiichi! Jadi beneran tuh berita? Wah ajaib bener nih anak.” salah satu berteriak, “Padahal aku liat loh kejadiannya pas pulang latihan.”
“Woi Oda-kun, bego! Kapten bilang jangan pernah nyebut kejadian itu!”
“Ups…” Oda menutup mulutnya sebelum perhatiannya teralih pada perempuan di sebelah Keiichi yang terlihat malu-malu memasuki gedung, “Loh ini siapa? Pacarmu?”
“Bu… bukan!” Ucap Kasumi setengah berteriak, wajahnya memerah dan membuat anak-anak yang melihat reaksinya cengengesan.
“Kita habis ini kan mau ke SMA, aku ajak Kasumi, barangkali pengen ikut nanti, ya kan Kasumi?”
“Iya!!”
“Nah, omong-omong kakak ada di mana yah?” Ucap Keiichi ingin menyudahi para senior yang menggoda mereka.
“Ah, Maria, dia sedang ganti baju, cuman latihan bentar tadi. Katanya pengen nganterin tugas ke temennya yang sakit. Ah, daripada nontonin kita, bagaimana kalo kalian berdua nyoba panahan?” Oda tiba-tiba berbicara seperti itu sambil menarik lengan Keiichi.
“Eh? Bolehkah? Tapi kayaknya aku sibuk...” Ucap Kasumi ragu dan grogi, kakinya menghadap pintu keluar ingin kabur, tapi para senior perempuan yang memang butuh anggota memaksanya masuk, “Jangan takut dek, panahan itu asik sumpah.”
Keiichi pun ikut masuk. Dia sebelumnya selalu menonton kakaknya panahan dan bahkan berniat masuk sebelum akhirnya sibuk dengan kegiatan baseballnya. Demikian, dia belum pernah melontarkan anak panah satupun walau beberapa kali diajak oleh kawan-kawan Maria.
“Nah, Kasumi-chan, ini namanya chest guard untuk perempuan apalagi yang sedang berkembang sepertimu wajib mengenakan ini.” Para gadis mengelilingi Kasumi, dan ketika mereka memasangkan chest guard dan mengencangkannya, Kasumi berteriak, “Kyaaa!!”
“Kalo memang lagi berkembang agak sensitif.” Ucap Oda dari kejauhan, yang langsung diikuti teriakan para anggota perempuan, “Pelecehan seksual kalo kamu yang ngomong!”
Oda lalu memberikan busur ke Keiichi, “Nah, aku tahu kau sering lihat kakakmu panahan. Coba, aku mau lihat posisimu. Ah, omong-omong jangan tarik tali busur tanpa panah, nanti bisa patah busurnya, nih.” Oda sekaligus memberikan panah.
Keiichi berdiri, dan tiba-tiba ia bisa melihat target begitu dekat walau jarak target tersebut berada pada kisaran 20 meter.
Tak jauh dari Keiichi, Kasumi terlihat kesusahan memegang busur yang besar dan berat. Tangannya gemetar selagi ia susah payah menarik busur.
“Nah tadi kau bilang namamu Kasumi kan? Boleh aku panggil nama depanmu saja Kasumi-chan? Nah, tangan yang memegang busur kalau bisa jangan terlalu kencang dipegang, nanti bergetar tanganmu. Lemas saja. Lalu arahkan sedikit ke atas dari target.”
Kasumi tak kuat, belum juga mengarahkan tembakannya, ia langsung menembakan panah tersebut sambil menutup matanya.
“Wahh, hebat Kasumi-chan!” Ucap sang senior perempuan selagi menyuruh Kasumi membuka matanya, terlihat tembakan Kasumi mengenai target walau sangat jauh meleset dari tengah, “Kau berbakat Kasumi! Banyak member baru bahkan tak mampu sampai ke target.” Sang senior berkata sambil berbinar-binar matanya, “Kau harus masuk panahan pokoknya, pasti 2-3 bulan kujamin kau sudah jago!”
Selagi Kasumi tersipu malu dengan segala pujian, terdengar teriakan Oda, “Wow, tidak mungkin! Beruntung sekali kau Keiichi!!”
Anak panah mengenai tengah target dalam tembakan pertama, “Beginner’s luck!!” ucap Oda, sebelum Keiichi mengambil anak panah lagi. Terlihat kuda-kuda Keiichi begitu rapih, matanya tajam menatap target, tidak terlihat gemetar pada tangannya ataupun segala kesalahan pemula lainnya. Oda seakan melihat atlet olimpiade panahan di hadapannya.
“Keiichi!” Teriak Maria dengan pakaiannya yang telah rapi, dan karena teriakan tersebut tiba-tiba segala perhatian menuju Maria, “Kalian semua bisa-bisanya merayu adikku bahkan teman adikku juga!”
“Maafkan kapten! Tapi mereka juga mau mencoba, kan? Kan?” Ucap Oda, dan Kasumi mengangguk-ngangguk sambil tersipu sedangkan Keiichi terlihat sudah melepaskan anak panahnya.
“Keiichi, aku ingin ke tempat teman dulu sama Maya, apa bisa kau supermarket dulu? Sebentar saja, habis itu aku menyusul.” Ucap Maria sambil memberikan list belanja ke Keiichi, “Dan kalian teruskan latihan, lalu Oda, aku tahu kau yang memaksa anak-anak ini panahan tanpa pemanasan, bagaimana kalau mereka cedera? Nah hukumannya, kau tahu kan special drill yang kusiapkan untukmu? Lakukan dua kali lipat. Semuanya janji perhatikan Oda yah!”
Setelah terlihat kakak beradik sekaligus Kasumi keluar, salah satu anggota perempuan menepuk pundak Oda yang masih terlihat kesal, “Oda-kun, apa benar apa yang kulihat itu?”
“Apa?” Tengok Oda ke arah tunjuk juniornya, dan terlihat dua anak panah mengenai tengah target di tempat Keiichi berdiri.
***
Hujan mulai reda dengan beberapa rintik gerimis dan genangan air di sekitar jalan. Maria dan Maya yang mengenakan payungnya sudah berada di depan rumah Ryusuke, memencet bel namun tidak terlihat ada seseorang yang menanggapi bel mereka. Maria kemudian melirik ke arah rumah Ryusuke, hari saat itu sudah cukup sore untuk menyalakan lampu, tapi terlihat rumah Ryusuke gelap gulita.
“Maria… Balik aja yuk.”
“Lah, Maya ada apa?”
“Enggak, kayaknya rumahnya kosong deh.”
“Coba kuteken lagi belnya.”
Tiba-tiba bunyi “bzzz!” terdengar dan terlihat suara keluar dari tempat bel yang dibunyikan Maria, “Siapa di depan?”
“Suara Ryusuke! Maya, gimana cara jawabnya?”
“Itu teken lagi, terus bicara depan… ugh…”
Maya terlihat memegang perutnya dan meludah di jalanan, “Kau tidak apa Maya?”
“Jawab Ryusuke itu udah nunggu dia, aku gak apa.”
Maria menekan tombol dan melihat ke arah kamera di depan tombol tersebut, “Aku Maria, kau bisa lihat aku? Aku bawa lembar tugas, sama… mau periksa keadaanmu Ryusuke.”
“Sebentar…” terdengar suara langkah ke arah pintu dan suara kunci pintu yang sedang dibuka, dan tiba-tiba Maya muntah di jalan.
“Maya! Ah, kau pasti sakit. Tunggu aku bilang Ryusuke, mungkin dia punya ob--”
“Maria, jangan…” Maya memegang baju Maria, “Jangan ke sana...”
“Ah Ryusuke!”
Ryusuke terlihat di balik pintu, matanya menyala merah, wajahnya begitu pucat. Maya yang melihat itu segera bergidik, bulu kuduknya berdiri, terlihat jimatnnya terasa begitu panas di kantungnya dan ia segera berteriak ke arah Maria.
“Maria Lari!”
“Maya kamu kenapa sih!”
Dari keributan di depannya, tiba-tiba suara keluar dari bibir Ryusuke dengan suara yang begitu serak.
“Ayah?”
***
“Keiichi? Hei, Keiichi?”
Keiichi terlihat menghentikan langkahnya menuju supermarket, matanya terlihat terbuka lebar dengan wajah yang tiba-tiba memucat. Kasumi yang melihat hal tersebut langsung merasa khawatir, “Kau tidak apa-apa Keiichi?”
“Kasumi, kau pulang duluan…”
“Ada apa? Eh, Keiichi!”
Keiichi berlari meninggalkan Kasumi. Saat itu telah keringat deras turun dari kepala Keiichi. Dia berpikir betapa bodohnya dia meninggalkan kakaknya.
“Kakak…” Teriak Keiichi dalam kepalanya, firasatnya begitu buruk hingga-hingga ketika ia berhenti berlari untuk mengambil napas tangannya penuh dengan gemetar.
Keiichi entah mengapa mampu merasakan perubahan dari udara sekitarnya yang seakan menunjukinya jalan menuju arah kakaknya. Keiichi tanpa bertanya lebih lanjut mempercayai semua itu, dia tidak memiliki waktu untuk berpikir keras kecuali mengikuti seluruh instingnya.
“Bodoh, lari kau kaki!” Keiichi mencoba memaksa kakinya berlari lagi, dan lama kelamaan kakinya melambat, betapa ia merasa begitu absurd bahwa badannya yang sempat mati ini begitu lambat.
“Ughh…”
Bayangan di kepalanya seakan melihat darah, merah, bahkan hingga baunya yang khas seperti besi, firasatnya semakin menjadi-jadi.
“Bangsat!!”
Dia hanya bisa berdoa tidak terjadi apa-apa pada kakaknya, bahwa semua firasatnya salah.
Akan tetapi Keiichi tahu, bahwa ada sesuatu yang begitu buruk, di tempat yang tengah ia tuju.
*Bersambung