
Bau amis memenuhi hidung Ryusuke seketika ia terbangun. Matanya menatap ke arah kakinya yang kini bergelinang oleh darah yang pasang surut dan di kejauhan adalah lautan darah dengan jasad-jasad dan potong-potongan tubuh yang mengerikan.
“Lihat, lihat apa yang dia lakukan…”
Terdengar suara lirih. Suara tersebut keluar dari mulut seorang pria yang berjalan di kejauhan lautan darah. Pria berbadan tegap tinggi dan satu tanduk di kepalanya langsung menaruh perhatian Ryusuke. Namun yang paling mencolok adalah rambut pirang pria tersebut yang begitu panjang lurus terbasahi oleh lautan darah.
Sosok misterius berkulit pucat dengan baju jubah gelap tersebut berjalan mendekati Ryusuke yang tiba-tiba kehilangan kendali tubuhnya.
“Ayah tinggalkan kita semua. Dia, seorang mesias yang menjanjikan keselamatan, telah merenggut harapan yang merupakan segala-galanya bagi kita, anak-anaknya...”
Tiba-tiba gambar-gambar misterius memenuhi kepala Ryusuke, seorang wanita yang terbunuh, badan-badan anak kecil yang tergeletak di lantai bergelimang darah, tempat-tempat yang terbakar api biru, peperangan dan lautan darah yang dilihatnya kini.
“Kami hancur, terbunuh, dan terlantar-kan…”
Pandangan misterius tersebut menghilang dari bayangan Ryusuke dan tiba-tiba pria misterius tersebut sudah ada di hadapan Ryusuke. Begitu tinggi pria tersebut hingga pria tersebut harus menjongkok untuk mereka mampu mensejajarkan kepala mereka.
“Tempat kami menjadi lautan darah, dan satu-satunya yang tertinggal di antara kami... hanya amarah dan dendam.”
Pria tersebut menaruh jemari panjangnya di dagu Ryusuke sambil menatapnya dengan pandangannya yang intens.
“Kau tahu, di antara manusia lain yang kurasuki, aku melihat benang takdir padamu. Aku tahu kau dan ayah terlibat dalam jalinan takdir. Karenanya aku bahagia sekali kita bertemu dalam waktu yang begitu singkat. Kini akhirnya aku mampu bertali takdir dengan Ayah karenamu. Oh, Ryusuke, kita telah menjadi satu.”
Mulut Ryusuke terbuka perlahan, “Ini mimpi… ini semua mimpi buruk.” Ucapnya sambil menangis.
“Barangkali kau harus terbangun untuk mendengarkanku?”
***
Ryusuke terbangun, sadar bahwa pipinya menyentuh lantai kayu yang dingin di lorong rumahnya. Lampu mati, hujan begitu deras dengan petir yang menyambar sesekali menyilaukan ruangan. Dug, dug, dug! Suara keras mengisi rumah tersebut, di ruang di bawah tangga terlihat pintu bergetar sesekali.
Jantung Ryusuke berdetak kencang, ingatan yang terakhir kali ia ingat adalah berdiri di belakang ibunya. Apa yang terjadi pada Ibu dan dirinya setelah itu? Seakan ia mengetahui jawaban tersebut, tapi pikirannya langsung menepis jawaban-jawaban terburuk sampai akhirnya ia buka pintu ruangan tersebut.
“Ibu!” Ucap Ryusuke shock melihat Ibunya yang tergeletak di ruangan tersebut memunggungi dirinya. Terlihat sang Ibu dengan pundaknya yang penuh luka terikat oleh lakban dalam posisi seperti bayi meringkuk. Mengetahui Ryusuke membuka pintu, sang Ibu langsung menangis dan mengamuk menggerakan badannya dan semakin terbuka lukanya sampai tiba-tiba tangan Ryusuke menutup pintu tersebut dengan sendirinya.
Seketika ia tahu sesuatu mengambil alih badannya.
Badan Ryusuke lalu bergerak ke arah kamar mandi dan melihat ke arah kaca. Terlihat dirinya bermata merah, pucat sekali wajahnya dan tersenyum menatap dirinya sendiri.
“Tenang Ryusuke, aku tidak akan membunuh Ibumu. Aku punya titik lemah pada seorang Ibu, tapi tentu dengan kondisi bahwa kau bisa membawaku menuju tempat tujuanku.”
“Kau benar-benar tolol atau apa? Bener-bener kamu ingin tahu ini mimpi atau bukan? Baiklah!”
Badan Ryusuke perlahan bergerak ke arah dapur dan mengambil pisau.
“Oy, mau ngapain! Sialan! Sialaan...”
Tangan Ryusuke terangkat menggenggam pisau tersebut dan tangannya yang satu lagi di atas meja. Lalu dengan cepat menancapkan ke tangannya sendiri.
“AAAAHHHH!! Ah….”
Perlahan darah keluar dan Ryusuke mulai mampu menggerakan badannya sendiri. Rasa sakit yang memuncak dirasakan oleh Ryusuke membuatnya berteriak diikuti guntur petir yang menyamarkan teriakannya.
Tangis dan ingus keluar dari hidung Ryusuke, dan perlahan ia mampu mengambil napas. Ryusuke mencoba mencabut pisau di tangannya, namun rasa sakit yang begitu dahsyat membuatnya menyerah sebelum suara keluar dari kepalanya.
“Sekarang kau percaya ini bukan mimpi?”
“Ya… ini bukan mimpi...” Ucap Ryusuke, sambil air liur menetes dari bibirnya, “Tolong hentikan semua ini…” Ucap Ryusuke menangis memohon.
Rasa sakit perlahan menghilang dari Ryusuke, sekali lagi sesuatu misterius di tubuhnya ini mengambil alih tubuhnya dan melepaskan pisau di tangannya dengan begitu mudahnya. “Kau hanya harus mengikuti semua perintahku, Ryusuke.” Ucap dirinya sendiri sambil mengambil perban di kotak P3K dan membalutnya di tangannya.
“Oh Ryusuke, aku belum mengenalkan diriku sendiri, namaku Syn, dan aku ingin kau mencari ayahku, Enlil, atau para manusia menyebutnya--”
Belum selesai bicara tiba-tiba suara bel pintu berbunyi.
“Hmm…” Makhluk bernama Syn tersebut mendekati alat interkom, terlihat di gambar tersebut dua orang gadis dengan pakaian sekolah terlihat membelakangi kamera setelah menekan tombol, “Siapa di depan?” Ucapnya.
“Aku Maria, kau bisa lihat aku? Aku bawa lembar tugas, sama… mau periksa keadaanmu Ryusuke.”
Ryusuke terkagetkan oleh penampakan Maria, “Tolong, tuan Syn, jangan sakiti dia!”
“Hei aku tahu orang ini…”
“Kumohon…”
“Dan bau ini… Ayah… Ayah!”
Langsung berlari Syn ke arah pintu, dan membukanya, bersuara dengan suara yang begitu serak: “Ayah...”