Re; Sekai

Re; Sekai
Episode 3.2



Kringg…. Kringg….


Maria terbangun oleh weker di sebelahnya dengan mata yang sembab. Dia kini berada di ruangan yang telah lama ia tidak kunjungi. Sebuah kasti dan sarung baseball yang tergantung di meja, poster ksatria baja hitam, buku-buku pelajaran yang berantakan.


Maria teringat bahwa dia tidur di sebelah adiknya setelah menceritakan tentang siapa saja yang datang ke pemakamannya. Saat itu Maria langsung tidur terlelap karena kelelahan yang tidak terasa selama ini seperti menyiapkan jejamuan, menemani jasad Keiichi, sampai mengusir orang-orang yang mencoba mengganggu adiknya.


Demikian ketakutannya muncul lagi,


“Keiichi!”  Teriak Maria melihat Keiichi di sebelahnya telah hilang.


Maria langsung meloncat keluar dari kasur, dan keluar dari kamar ia mencium bau masakan. Maria segera turun, dan terlihat Keiichi sedang memasak di dapur.


“Keiichi?”


Terlihat Keiichi dengan lincahnya membalikan omelet di penggorengan, dan ia memandang ke arah Maria tanpa mempehatikan tangannya yang lincah tersebut.


“Kakak? Ah, nasi sudah siap kak! Ini aku sedang buatkan bekal. Kupikir kakak tidak akan bangun, weker di kamar kakak kan lebih awal?”


Maria tidak ingat Keiichi pernah memasak untuk makan pagi, apalagi membuat bekal. Keiichi yang ia tahu selama ini selalu terbangun telat, dengan perasaan enggan pergi untuk kegiatan klubnya di awal pagi. Jika Maria ada kegiatan camp musim panas, Keiichi selalu enggan memasak sesederhana telur ceplok dan nasi dan makan mie instan seharian.


“Keiichi, kau bisa memasak?”


Ucap Maria sambil duduk di belakang meja, di situ telah terlihat ikan panggang, telur omelet, dan sup miso.


“Eh?” Ucap Keiichi sambil melihat ke arah Maria, “Apa aku belum pernah masak selama ini?”


“Tidak pernah, mie instant mungkin?”


Keiichi tersenyum melihat Maria, “Aku diam-diam belajar masak kak, kan ada tata boga di sekolah.”


Dan belum Maria mencoba mengambil lauk sambil terbengong, tiba-tiba terlintas pikiran di kepalanya, “Keiichi!”


“Iya kak?”


Maria melihat dua bekal di dapur yang sedang ditata Keiichi, “Jangan bilang kau ingin ke sekolah hari ini.”


“Aku sehat, kau sudah dengar dok--”


“Tidak boleh! Kau… kau baru saja ma… terkena kecelakaan! Nanti bagaimana kalau kau kelelahan? Terus… terus…”


“Tapi aku ingin sekali sekolah.”


“Kakak bilang tidak boleh!”


Tak lama mereka saling berdebat tentang keras kepala Keiichi untuk kembali ke sekolah. Maria dan Keiichi dalam perdebatan tersebut perlahan mulai lupa terhadap kejadian yang lalu, seakan hari ini adalah pertengkaran yang biasa mereka lakukan setiap hari. Dalam hati, Maria merasakan kelegaan yang teramat sangat bahwa dia masih bisa melakukan hal ini, berdebat dengan adiknya.


“Kalau begitu kau berjanji untuk tidak ikut kegiatan olahraga dan klub!”


“O... oke...”


Keiichi mengiyakan ucapan kakaknya.


Pada saat mereka memulai makan pagi, Maria mulai memiliki banyak pertanyaan yang tiba-tiba saja muncul dalam benaknya, seperti mengapa Keiichi tidak datang ke klub dan apa yang terjadi di kelas Keiichi? Apa perkelahian di kelasnya ada kaitannya dengan keadaan di kelas Keiichi?


Tapi Maria memutuskan untuk tidak menanyakan persoalan yang berat dan teringat tentang poster memoriam pemberian kawan-kawan Keiichi.


“Ah, Keiichi, aku lupa memberikanmu ini!”


Maria mengambil kertas di tas gendongnya yang berada di ruang tamu.


“Kawan-kawanmu membuatkanmu ini. Mereka pasti sangat bahagia kau kembali.”


Sambil berucap seperti itu, wajah Keiichi terlihat datar menatap kertas kerinduan yang dibuatkan temannya padanya.


“Keiichi? Kau tidak apa?”


Keiichi terbangun dari renungnya dan mencoba tersenyum menatap Maria.


“Mereka pasti akan kaget melihatku di kelas nanti.”


***


Keiichi menjadi pemandangan paling menarik di kota kecil ini, orang-orang menatapnya dengan janggal, beberapa melirik dari pagar, bahkan berteriak saling memberi tahu bahwa Keiichi, orang yang kembali dari kematiannya, kini berjalan di perumahan mereka.


“Nak Keiichi! Sudah, nanti saja sekolahnya, kita ngobrol-ngobrol di sini. Nanti kukasih kau ikan tangkapanku! Sini, bapakku yang sudah tua ini ingin tahu rasanya mati seperti apa!”


Teriak salah satu nelayan yang bertetanggaan dengan kakak beradik ini, dan makin lama makin banyak yang bersahutan memanggil Keiichi, namun Keiichi hanya bisa meminta maaf dan lama kelamaan mulai tidak menghiraukan mereka.


Tak lama mata Maria tertarik pada koran lokal yang tergeletak di depan pagar rumah seseorang. Dengan meminta maaf terlebih dahulu, entah pada siapa, Maria membuka gulungan koran tersebut dan terlihat foto Keiichi yang menutup matanya karena terang flash kamera wartawan di hari lalu.


“Di kota kecil begini ada apa-apa tanpa koranpun semuanya sudah tahu kak...”


Maria melihat Keiichi yang tidak terlihat terpengaruh oleh keramaian yang mengelilinginya, bahkan pada koran yang memuat gambarnya. Terlihat saat itu Keiichi seakan sibuk dengan pikirannya sendiri.


...


Keiichi sendiri sebenarnya dalam pergulatan batin mengenai apa saja yang terjadi kini. Dia bangun begitu pagi dan terasa begitu bugar. Tiba-tiba saja dia merasa ingin membuat masakan seakan dia telah melakukannya setiap hari.


Betul kata Maria, dia tidak pernah memasak, dan bagaimana Keiichi bisa begitu familiar dengan semua ini?


Ketika mandi, ia lihat tubuh kurusnya itu mulus dan bersih, akan tetapi ia mengalami kegusaran, seperti perasaan janggal bahwa ia harus segera melatih badannya jika tidak mau celaka. Ia tidak tahu alasannya, entah mengapa seperti terdapat naluriah di kepalanya yang tak mampu ia pahami.


“Keiic…”


Lalu mengingat persoalan di sekolahnya seperti suatu ingatan pahit yang telah lama ia tinggali.


Gambar-gambar yang diberikan kakaknya seakan membuatnya muak. Ia mengingat sedikit-sedikit betapa beratnya setiap hari ia harus menjalani sekolah, tapi ingatan itu sekali lagi seakan bukan ingatan yang baru-baru ini terjadi, tapi terasa lampau sekali.


Selama mengingat perasaan sakit dalam benaknya, ia mengingat cahaya matahari, suara sorak, dan tangannya yang sakit. Begitu familiar, spesifik, tapi ia tidak mampu mengingatnya.


“Keiichi!”


“...! Kakak?!”


Maria memegang pundak Keiichi yang kini berjalan sambil termenung.


“Kau belok ke mana? Sekolah di situ.”


Baru Keiichi sadar bahwa ia berjalan tidak mengikuti langkah Maria. Jalanan yang selalu ia langkahi setiap hari sekali lagi terasa begitu asing, pikirannya mencoba mengingat-ngingatnya dengan seksama. Kini dia mencoba membaca-baca jalan, setelah ini ada lampu lalu lintas, tempat cukur, cafe, taman bermain, lapangan baseball sekolahnya. Melewati semua itu seakan ingatannya kembali perlahan-lahan, ketika dia berlarian ke sana ke mari saat kecil, pergi belanja, berlari di pagi hari. Ingatan yang perlahan muncul membuat Keiichi semakin percaya ada yang salah dengan kepalanya.


“Kau tidak apa kan? Keiichi kau kelihatan pucat...”


“Tidak ap..., eh?”


Keiichi merasakan sesuatu, jantungnya berdetak kencang, ia bisa merasakan angin melintas di antara kulitnya membawa suatu kejanggalan yang tidak ia rasai sebelumnya, dia merasakan sesuatu melintas begitu cepat ke arah mereka berdua yang kini tengah berjalan di dekat lapangan sekolah. Lalu terdengar suara dari kejauhan yang mendadak menjadi begitu keras di telinga Keiichi, “Minggir!!”.


Mata Keiichi terbuka lebar, tangannya bergerak dengan cepat ke arah wajah Maria, dan “Bruakk!!!” Keiichi sudah terjatuh di depan Maria.


“Keiichi!!!”


Maria panik melihat ke arah Keiichi, tapi terlihat di tangan Keiichi yang ternyata telah menangkap bola kasti.


“Kau tidak apa Keiichi?” Maria langsung memegang tangan Keiichi. Maria tahu bahwa menangkap bola secara langsung bisa membuat tangan Keiichi cedera, tapi tidak terlihat bengkak atau lebam pada tangan Keiichi.


“Tidak apa kakak...” Keiichi bangun, membersihkan debu di bajunya sekolahnya, dan melihat ke arah dua anak SMA yang sedang berlatih memukul mendatangi mereka berdua dari kejauhan.


“Woiii, maaf! Kalian tidak apa-apa?!” Berteriak mereka, Maria kesusahan mendengar mereka karena jarak mereka yang masih jauh, tapi entah bagaimana Keiichi mampu mendengarnya dengan jelas.


“Kali—“ Belum Maria ingin teriak memarahi, tiba-tiba terasa angin kencang melewati badan Maria. Keiichi melempar bola tersebut dari kejauhan dan sampai bola tersebut ke arah dua pemain baseball yang kesusahan menangkap bola tersebut.


“Sudah kak tidak apa, mereka sedang latihan untuk kompetisi musim panas nanti.” Ucap Keiichi sambil memegang pergelangan tangannya, dan ia merasakan kejanggalan dalam hatinya terhadap bola kasti tersebut.


“Omong-omong bagaimana kau bisa menangkap bola tersebut? Bahkan aku yang biasa melihat panah tidak bisa melihatnya. Hei, Keiichi?”


Keiichi terlihat pucat, ia memegang dadanya, dahinya dipenuhi keringat. Gambaran terik panas matahari, lapangan hijau, dan seorang pitcher di hadapannya memenuhi kepala Keiichi.


“Keiichi kau pucat... Kau serius ingin kembali sekolah?”


“Ah, tidak apa kak, aku... mungkin capek karena kaget sama bola tadi. Ah, aku lewat sini yah kak, gak usah nganterin aku sampe pager!!”


Keiichi melangkah lebih cepat dari langkah kakaknya mengikuti anak-anak berseragam sama dengannya. Maria ingin mengejarnya sebelum tangan Maya memegang pundaknya.


“Pagi, Maria…”


“Maya!”


Maya melihat anak yang tengah berlari itu. Sosok yang ia lihat keluar dari peti mayat kemarin dalam perasaan tidak percaya.


“Keiichi benar-benar hidup yah…”


“Maya, ada apa? Mengapa wajahmu pucat seperti itu?”


“Bolehkah nanti, kau dan adikmu, kita mengobrol bersama pulang nanti?”


Maria melihat wajah kejanggalan dalam wajah kawannya itu. Ekspresinya yang selalu ceria terlihat begitu serius hari ini. Dan terlihat Maya menggenggam jimat di tangannya, menggeggamnya erat sampai bergetar tangannya itu.