
Bel sekolah berbunyi, dan Maria berteriak penuh ngeri mendengar kabar adiknya sekarang berada di rumah sakit melihat handphonenya yang baru saja ia nyalakan setelah selesai kelas.
“Tenang Maria!” Ucap Maya, “Tidak ada kabar dia meninggal.”
“Tapi…”
“Ryusuke!!”
Terlihat pria tersebut terlihat enggan menghampir dua gadis ini.
“Bisa kau antar Maria?”
“Ugh, baiklah.”
…
Tak lama mereka sudah berada di jalan dengan izin wali kelas. Maria memeluk Ryusuke dari belakang dengan penuh kecemasan, tapi Ryusuke memegang tangan Maria, mengarahkannya ke pinggangnya.
“Kau tahu Maria, barangkali tidak pas aku berbicara seperti ini, tapi adikmu yang hidup lagi itu terdengar begitu aneh di telingaku.”
“Maksudmu?” Ucap Maria berteriak, kesusahan mendengar Ryusuke di antara angin kencang karena motor Ryusuke yang ngebut.
“Yah kau tahu lah, aneh, abnormal, janggal, freaky. Kau mau kusebut apalagi biar paham?”
Maria tiba-tiba memukul punggung Ryusuke, “Hentikan motor ini!” Teriaknya.
“Hei, kalau kau keberatan, nanti saja sampai rumah sakit.”
“Tidak, hentikan!”
Ryusuke menghentikan motornya, dan Maria langsung melepas helmnya, memberikannya pada Ryusuke.
“Aku salah, kupikir kau orang yang lebih baik dari ini. Aku jalan saja dari sini.”
“Hei… aku sudah baik-baik loh mengantarmu ke sini.”
“Terima kasih!”
Maria dengan sinis lalu meninggalkan Ryusuke dan memanggil taksi.
“Heh, pelacur.” Ucap Ryusuke berbisik sambil menaruh rokok di bibirnya, “Tidak tahu diuntung, ah… tidak moodkan aku sekarang, apa aku bolos saja hari ini?”
…
Maria turun dari taksi sambil menangis, dia benar-benar kecewa pria yang disukainya bisa-bisanya berbicara seperti itu perihal adiknya. Tapi dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal tersebut, adiknya kini tengah berada di rumah sakit. Di pesan yang diterima dari wali kelas Keiichi, adiknya dikroyok oleh berandal yang sama kemarin hari. Mereka semua masuk rumah sakit dalam luka serius.
“Oh tuhan tolong hamba, tolong Keiichi…”
Memasuki tempat rumah sakit, ia melihat seorang gadis dengan kapas yang terikat di hidungnya, dia tahu gadis itu, seseorang bernama Kasumi, sang ketua kelas, yang mengunjungi pemakaman Keiichi. Mereka bertatap mata, lalu Kasumi langsung menghampiri Maria setengah berlari.
“Kakak Keiichi!”
“Kasumi… kau di sini karena Keiichi?”
“Keiichi… kau ingin melihatnya? Aku bisa mengantarmu.”
“Ya, tolong!”
Mereka bersama-sama pergi ke arah ruangan Keiichi, dan Kasumi memecah keheningan di antara mereka, “Keiichi… Keiichi menolongku.”
“Dia tidak sedang berkelahi dengan berandal itu?”
“Ya, awalnya mereka mengeroyok Keiichi…”
“Kurang ajar!”
“Lalu aku mencoba menghentikan mereka, tapi mereka malah memukulku… Dan Keiichi bangun, dia menjauhkan mereka dariku, memukuli mereka, dan seperti kesetanan… Keiichi tidak berhenti walau mereka sudah tidak sadarkan diri.”
“Tapi kau tidak apa kan?” Maria melihat hidung gadis tersebut, dia tahu hidung patah akan membekas.
“Aku tidak apa! Tapi mereka yang dipukuli Keiichi...”
Mereka melewati ruangan yang terlihat tiga orang yang babak belur parah, beberapa dari mereka terlihat babak belur parah di wajahnya. “Itu mereka.” Ucap Kasumi.
“Ya…”
“Tapi Keiichi lebih kecil dari mereka.”
“Dan mereka membawa senjata, aku bahkan tidak tahu apa yang kusaksikan…”
Lalu tak lama sampai mereka di ruangan di mana Keiichi dirawat. Kedua tangan dan kepalanya diperban. Terlihat Keiichi tertidur pulas dengan sang wali kelas di sebelahnya.
“Maria-san.”
“Ibu guru… Kau ingin aku minta maaf?”
Mereka terdiam sesaat, dan sang wali kelas melihat ke arah Kasumi yang masih memegang hidungnya.
“Maria-san, aku tahu ceritanya, begitupun Keiichi yang kini gegar otak. Demikian orang yang berkelahi dengan Keiichi, satu di antara mereka masih tak sadarkan diri, salah satu patah rusuknya, dan satunya lagi babak belur parah. Mereka semua harus mendapatkan perawatan intensif panjang dibanding Keiichi.”
Maria yang mendengar itu tahu nasib Keiichi di sekolah begitu gelap. Apalagi setelah kemarin dia bertemu para orang tua sinis tersebut walau tahu anak mereka berandal. Tapi air muka sang wali kelas tidak terlihat sedang menceritakan kisah buruk.
“Tapi Takeshi dan Kasumi sudah menjelaskan perkara kejadiannya, mereka jelas-jelas mengeroyok Keiichi. Dua di antara mereka membawa senjata, dan bahkan melukai murid teladan kami.”
“Jadi… kau akan membiarkan Keiichi?”
“Bukan aku yang membiarkan, tapi keputusan orang tua mereka setelah mendengar semua perkara ini dariku. Mungkin setelah ini kau bisa meminta maaf pada mereka.”
“Terima kasih bu guru!” Maria memberi hormat ke sang wali kelas, dan sang wali kelas memegang pundak Maria.
“Tapi kau sebagai Kakak harus bisa membawa Keiichi menjauhi dunia kekerasan ini. Tuhan sudah berbaik hati mengembalikan Keiichi di antara kita, jangan biarkan sesuatu merengutnya lagi.”
Setelah berkata seperti itu, sang wali kelas keluar dari ruangan sambil juga menarik tangan Kasumi. Sebelum keluar Kasumi memberi hormat bungkuk mendalam ke Maria dan Keiichi sebelum mengikuti sang ibu guru.
Terlihat saat itu Keiichi masih bernapas dengan suara nyaring keluar dari mulutnya.
“Keiichi…” Ucap Maria sambil memegang tangannya, “Kau berjanji untuk tidak berkelahi lagi…”
“Kau berjanji untuk tidak meninggalkan kakak lagi… Kenapa kau melakukan ini ke kakak…”
***
Malam hari tiba, tak jauh dari rumah sakit terdapat distrik dipenuhi lampu-lampu neon tempat kehidupan malam tiba. Angin kencang menyusuri tempat itu, diam-diam membawa sesuatu yang lain, mahluk jahat yang terhempas di antara kegelapan.
“Ayah… Ayah...”
Suara yang serak, sosok tersebut seakan seperti seorang anak kecil yang mencari orang tuanya.
Dia berada di suatu gorong-gorong, suatu mahluk seperti cairan yang bergerak menyelinap di antara sampah-sampah yang tumpah. Cairan itu menangkap tikus, mengikat kaki-kakinya hingga ia tidak bisa bergerak, lalu perlahan memasuki mulutnya.
“Ayaaahh…” Teriak sang tikus.
Tikus menangkap seekor kucing, menggigitnya, dan suatu tentakel keluar dari lubang-lubang di badannya. Lalu dia menyambar ke anjing, dan terakhir terdapat sosok orang mabuk dengan banyak tatto di sekujur tubuhnya di gorong-gorong yang jatuh. Sang anjing mendekatinya dengan wajah heran.
“Ayah?”
Seorang mabuk itu dengan kakinya menyeret anjing itu menjauh, “Huss… huss…”
“Kau bukan ayah!”
“Ehh? Apa aku baru saja mendengar anjing bicara *hicks*?”
Lalu tiba-tiba tubuh anjing itu terbuka, dengan daging-daging yang tumbuh menjadi sesuatu yang lain. “Gyaaa!!! Tolong!!!” Pria mabuk itu berteriak seketika tubuh anjing itu menutupi cahaya lelampuan di sisi kota kehidupan malam itu.
Mendengar teriakan itu, beberapa mencari tahu, melihat, dan di situ hanya terlihat mayat anjing dan sang pria mabuk yang berdiri sambil memegang sesuatu di pinggangnya.
“Hiii!” Orang yang tadi mencari tahu berteriak melihat sosok di hadapannya mengeluarkan pistol.
“Ayah?” Pria tersebut mengarahkan pistol ke arah orang-orang yang melihatnya, Dor! Orang itu rubuh, dan keramaian yang melihatnya mulai berlarian. Sosok tersebut menikmati kekacauan ini. Ini pertama kalinya dia merasakan kenikmatan pertama kali dia menginjakan kakinya di dunia ini.
Dia tidak sabar untuk bertemu ayahnya, sosok yang sudah terlebih dahulu datang ke dunia ini.
*CHAPTER 3 END*